Monday, 19 February 2007

Telur pindang

Pengin rasanya makan telur pindang, tapi nyari daun jambu di sini nggak nemu. Untung waktu itu mbak Esther pernah posting resep telur pindang menggunakan teh. Akhirnya nyontek deh. Terimakasih ya mbak Esther. Cuma aku nggak pake teh tubruk tapi teh celup (yang penting teh to?).


Bahannya: telur rebus 6 biji, kulit bawang merah, 1/4 sdm kunyit bubuk, 2 lembar daun salam, 1 batang sereh, 1 teh celup dan 1/2 sdm garam.  


Telur dipukul-pukul sampai retak tapi nggak sampai mengelupas. Terus masukkin ke panci, kasih air, dan masukkin semua bahan lainnya. Rebus dah. Sekali-kali aku aduk biar merata warna dan rasanya. Angkat kalau kulit telur sudah berubah warna.


Waktu itu aku tanya mbak Esther, berapa lama ngrebusnya supaya gempi (keras) kayak telur semur Betawi atau telur gudeg Yogya. Kata mbak Esther kalau mau keras kayak gitu, telurnya harus direbus 3-4 jam. Lha aku kan nggak sesabar mbak Esther, jadi 1 jam sudah aku angkat. Malah tadinya seperempat jam mau aku angkat karena sudah laper. he...he...he.....


Rasa: Enak. Penampilan: nggak jelek kan? Ada bekas-bekas garis-garis retak. Orang-orang Belanda yang melihat telur pindangku ini terkagum-kagum. Mereka bilang: "Mooi....." (cantik).  Kata Leo kayak marbel (marmer). Siapa dulu dong gurunya.....Terimakasih ya mbak Esther.......  

Sunday, 18 February 2007

It's so you....

Leo mengatakan kalau aku dalam hal "maintenance" termasuk murah. Lha nggak murah gimana, wong perhiasan yang melekat di tubuhku cuma cincin kawin (kalau bukan cincin kawin, aku juga mungkin nggak bakalan pake cincin).


Aku nggak bisa pake anting atau giwang baik emas apalagi imitasi. Kupingku alergi sama logam. Pernah pake giwang berat cuma 1 gram tapi terus infeksi berat. Akhirnya harus dioperasi. Biaya operasinya malah lebih mahal daripada harga giwangnya. Jadi kapok juga akhirnya. Dokter juga menyarankan aku untuk tidak pake perhiasan di kupingku, daripada infeksi malah repot. Selain itu aku juga kurang demen pake gelang dan kalung. Nggak tahu kenapa, kok rasanya risi gitu ya.


Kalau di Indonesia memang kadang pake sedikit perhiasan seperti kalung ketika harus ke kondangan. Itupun pake acara dipaksa dulu oleh ibu atau teman-teman. Katanya biar rada memper, wong namanya mau njagong. Di sini nggak pernah pake begituan karena memang selama ini nggak pernah terima undangan-undangan kayak gitu. Lha wong kalau ada acara dinner diundang company tempat Leo bekerja, semua orang pake baju santai kok. Kalau perlu mereka malah cuma pake T-shirt dan jeans dan tidak ada orang yang peduli. Jadi aku tidak merasa ada kebutuhan untuk memakai perhiasan, dus.... yang berarti nggak ada kebutuhan beli barang begituan. Jadi yo memang betul, kata Leo aku ini dalam hal "maintenance" termasuk murah.


Saking jarangnya beli perhiasan (di sini malah nggak pernah sama sekali), aku pernah terkaget-kaget ketika suatu kali mengetahui mahalnya harga-harga perhiasan tersebut. Lha wong cuma sebuah cincin saja kok harganya bisa ratusan bahkan ribuan Euro. Belum lagi harga kalung dan tiara. Lha itu yang beli juga siapa gitu, kok mau-maunya beli barang yang mahalnya kayak gitu. Terus penghasilannya berapa gitu. Apa nggak takut dirampok kalau pake perhiasan kayak gitu. Masih banyak lagi keheranan yang meliputi otakku. 


Keherananku ini aku ungkapkan ke Leo:


"It's so expensive........ and you cannot even eat it"


Leo tertawa mendengar komentarku tentang mahalnya harga cincin yang aku lihat. Dia bilang:


"It's so you!!!!!!!"


"Elho..... kok it's so me. Why is it so me??????????"


"It's so obvious, your priority is not far from food and eating"


"Lho, kalau bukan itu, terus apa dong??????"


Ketika dulu aku mengucapkan: "Sudah muahalnya setengah mati, nggak bisa dimakan lagi", terus terang aku juga lupa, apakah aku mengucapkannya dengan sadar, atau keluar secara otomatis dari mulutku. Jangan....jangan memang aku ngucapkannya di bawah sadar, jangan....jangan Leo memang betul kalau my priority nggak jauh dari hal makan-memakan. Jangan....jangan....


Note: gambar yang aku pasang di sini aku ambil waktu kami berada di Portofino, Italia. Bingung aku kok banyak amat boat dan yacht di sana. Orang kaya itu ternyata suka tempat beginian to. Toko-tokonya jual barang-barang yang harganya mahal. Ada satu toko di sebelah kiri (nggak kelihatan di gambar), yang menjual perhiasan. Harganya gila-gilaan. Aku nggak berani ambil gambar di toko tersebut, takut ditangkep. Yang mahal bukan saja toko perhiasan saja, tapi juga toko-toko lain seperti toko tas, baju dsb. Maklum yang dijual barang-barang ber-merk kayak Louis Vuitton dan sejenisnya. Bahkan cafe saja kok jualannya muahal banget. Kehadiran yachts itu menurutku yang bikin daerah tersebut jadi mahal. Kami sampai nggak berani masuk cafe karena tahu harganya muahal. Untung kami bawa sandwich, kalau enggak bisa kelaparan.   


 


 


 

Saturday, 17 February 2007

Papa kapan akan bercerai dengan mama?

Bapaknya kaget setengah mati ketika ditanya anaknya yang masih SD dengan pertanyaan seperti itu.


Perasaan pernikahannya aman-aman saja, dia dan istrinya nggak neko-neko, nggak bikin affair wong nggak ada duit buat bikin affair (karena katanya bikin affair is costly, bener nggak nih?).


Punya anak semata wayang saja, dia dan istrinya sudah suenengnya setengah mati. Lha kok tiba-tiba ditanya kapan mau cerai. Yang nanya anaknya lagi. Tapi dia memang melihat wajah anaknya betul-betul kelihatan pengin tahu. Dia terus tanya anaknya:


"Kenapa kamu tanya seperti itu?"


"Soalnya di kelas, yang punya ayah ibu yang masih belum bercerai cuma aku saja. Teman-teman lain bapak ibunya sudah bercerai" Hah? Ternyata itu to masalahnya.


Itu adalah cerita guru bahasa Belanda saya di kelas (tentu saja pake coro Londo, wong namanya kursus boso Londo kok).  Dan ini kisah nyata.


Kalau dipikir-pikir, jawaban anak tersebut membuat kita prihatin kan? Apakah begitu tingginya tingkat perceraian di Belanda? Karena penasaran, aku coba gugel (dibantu oleh Leo karena dia juga pengin tahu) tentang jumlah perkawinan dan perceraian. Akhirnya kami memperoleh data dari Biro Pusat Statistiknya Belanda. Total perkawinan pada tahun 2005 adalah 72.263 sedangkan total perceraian pada tahun yang sama adalah 31.905. Perbandingan antara perceraian dan pernikahan sepertinya hampir 1:2, tapi tentu saja tidak semua perceraian yang terjadi pada tahun 2005 merupakah hasil pernikahan pada tahun yang sama.


Tapi kalau menurut data di sini yang ditulis oleh H.M. Pragt dengan menggunakan data tahun 2001, menyebutkan bawa 1 DARI 3 PERNIKAHAN BERAKHIR DENGAN PERCERAIAN. Cukup memprihatinkan bukan? Jadi pertanyaan polos yang diajukan anak guru boso Londoku kalau dipikir-pikir yo cukup masuk akal kalau melihat tingkat perceraian di Belanda yang cukup tinggi. Ini cuma data menikah dan cerai lho ya, belum termasuk data yang samen leven atau samen wonen (living together) yang kemudian berpisah.  


Yang menarik lagi adalah tabelnya (lihat tabel yang juga saya pasang di sini). Terlihat bahwa presentasi perceraian yang tertinggi terjadi ketika usia perkawinan sekitar 5-9 tahun. Mungkin saja ketika usia pernikahan sudah mencapai kisaran tersebut (terutama 7 tahun kali ya?), pasangan mengalami kejemuan. Ketika usia perkawinan masih di bawah 5 tahun, bau-bau honeymoon masih ada, jadi tingkat perceraian masih lebih rendah (maklum sudah mulai berantem-berantem). Ini juga dugaanku kok, pake ilmu kira-kira.


Setelah usia pernikahan lebih dari 9 tahun, tingkat perceraian makin turun. Mungkin sudah tahu watak pasangan masing-masing, sudah paham tingkat kengambegan pasangannya, jadi pernikahan sudah mulai stabil.


Anehnya dari tabel tersebut, tingkat perceraian naik lagi ketika usia pernikahan antara 25 sampai dengan 30 tahun. Lha aku kan bingung. Aku tanya Leo:


"Lha wong ya sudah oma-oma en opa-opa kok malah cerai to. Lha itu kenapa?" Dia jawab:


"Pada usia pernikahan segitu, biasanya orang sudah mulai masa pensiun. Konsekuensinya mereka (pasangan) lebih sering ketemu. Ternyata mereka baru tahu bahwa selama ini pernikahan mereka sebetulnya ada yang nggak beres. Jadi bercerailah mereka"


Usia pensiun di Belanda adalah 65 tahun (baik pegawai negeri ataupun swasta). Kalau orang menikah usia 35 tahun, jadi ya paslah kalau setelah 30 tahun kemudian, seseorang berusia 65 tahun. Terus aku bilang ke Leo:


"Kalau analisismu atau mungkin dugaanmu bener, jadi mendingan untuk menghidari perceraian, orang nggak usah pensiun saja ya supaya nggak sering ketemu"


"Lha kalau memang itu alasannya, ya betul nggak usah pensiun biar pasangan nggak sering ketemu supaya nggak sering berantem. Tapi mosok orang kok nggak pensiun. Aku saja kalau punya duit banyak pengin pensiun kok sekarang, nggak perlu nunggu waktu pensiun"


Bagi yang tahu masalah ini, silakan berbagi. Mungkin malah ada yang tahu data dari Indonesia atau negara-negara lain?  


  

Sunday, 11 February 2007

I thought, there would be half of ayam....

Sudah kondang kawentar-wentar diantara keluarga, kerabat dan teman-teman kalau Leo nggak suka makan daging ayam. Alasannya sederhana, katanya rasanya sepo alias hambar.  Malah lebih ekstrim lagi dia bilang rasa ayam Londo kayak rubber (kayak pernah makan karet saja dia itu).


Belum lagi menurut dia kalau pembiakan ayam di Belanda tidak ayami alias tidak menghargai hak-hak asasi ayam. Lha wong khutuk (anak ayam) yang baru menetas cuma nunggu waktu 6 minggu kok sudah dipotong. Belum lagi kabarnya karena ternyata antibiotik disinyalir bisa menggemukkan ayam dengan waktu cepat, para peternak menyuntikkan antibiotik supaya ayamnya cepet gede. 


Pembiakan ayam Londo sudah kayak ayam industri, diternakkan besar-besaran. Satu peternak bisa punya ribuan yam. Lha gimana Belanda dengan penduduk 16 juta jiwa, jumlah ayam bisa mencapai 60 juta. Padahal nggak semua orang jadi peternak to.


Aku pernah lihat di tivi tentang industri ayam. Lha kok ratusan ayam digantung gitu di sebuah alat kayak ban berjalan. Kayaknya menunggu untuk proses selanjutnya. Langsung channelnya aku pindah, wong ora tego. Padahal kalau dipikir aku ini yo phobi sama ayam, tapi tetep saja nggak tego kalau ngelihat ayam dibegitukan. Jadi memang bener Leo, industri ayam di Belanda tidak menghargai hak-hak asasi ayam. 


Berhubung Leo nggak suka makan daging ayam, aku ya akhirnya bisa dikatakan hampir tidak pernah masak pakai daging ayam. Wong aku sendiri juga kurang suka kok ayam Londo, memang bener dia, rasa ayam Londo menurutku sepo (hambar), nggak seperti ayam kampung. Cuma ini menurutku lho ya, mungkin bagi orang lain akan berpendapat berbeda.


Walaupun Leo nggak suka daging ayam, tapi dia gemar banget makan soto. Cuma ya bukan soto ayam tapi soto daging cincang. Menurutku soto daging lebih gurih daripada soto ayam.


Karena Leo suka makan soto, maka ketika kami pulang kampung, aku ajak dia untuk makan soto. Kebetulan waktu itu kami berada di Semarang. Aku ngajak juga keponakanku (cucu budeku) untuk makan soto di soto Bangkong. Komentar keponakanku:


"Lho bukannya om Leo nggak suka ayam? Kok diajak makan soto Bangkong?" Aku bilang, ya gampanglah nanti. Kebetulan saudara sepupuku nelpon sebelum kami berangkat. Aku ngajak dia untuk gabung makan siang di soto Bangkong. Komentarnya sama:


"Lho bukannya Leo nggak suka ayam, kok kamu ajak makan soto ayam sih" E... lha dalah, ternyata kabar kalau Leo nggak suka ayam sudah menyebar sak antero Semarang to. Aku jawab:


"Nanti aku yang makan ayamnya. Yang penting dia bisa ngrasain rasa asli soto ayam"


Akhirnya kami rame-rame berangkat ke Bangkong. Tapi sebelumnya, aku sudah kasih tahu Leo kalau soto ayam yang akan dimakan menggunakan ayam kampung, jadi rasanya lebih enak daripada ayam industri.


Setelah sampai sana, kemudian kami pesan soto, es jeruk, dan sebagainya.  Bahkan Leo pengin nyoba makan soto dengan cara "tradisional" (maksudnya nasi dan sotonya dicampur dalam satu mangkok, atau nasi tidak ditaruh di piring secara terpisah). Nggak berapa lama, pesanan datang, termasuk soto  pesanannya Leo.


Ketika Leo memperoleh sotonya, dia malah bingung dan tanya:


"Lho ini soto ayam?"


"Lha iya. Lha ya ini soto ayam. Emang kamu maunya kayak apa?" Jawabku sambil ngambilin suwir-suwiran daging ayam dari mangkoknya Leo yang aku pindah ke mangkokku.


"I thought, there would be half of ayam in my bowl...."


Ha...ha...ha.... kami semua tertawa. Jadi selama ini, dia membayangkan kalau yang namanya soto ayam itu, ya ayamnya gede (Emangnya Londo kalau makan ayam harus gede porsinya). Lha kok tahunya yang namanya soto ayam, ayamnya cuma berupa suwir-suwiran ayam yang sporadis.  


Sambil makan sotonya, dia berkomentar:


"So, tukang-tukang soto in Indonesia only use one ayam for hundreds of bowl ya?" Ha...ha...ha... kalau dipikir memang betul. Karena yang penting kan duduh (kuah) nya soto sudah bau ayam, sedangkan satu ayam kalau disuwir-suwiri rak yo jadinya banyak. Tapi dia meneruskan:


"No wonder Javanese has less problem of heart attack compared to European and American. Lha wong satu ayam disuwir-suwir buat orang sekampung" Ha...ha...ha...


Foto yang aku pasang di sini adalah foto buatanku. Memang ada ayamnya, tapi cuma sedikit, hanyak untuk kepentingan foto. Isinya sih soto daging cincang.  

Thursday, 8 February 2007

Lha kok yo pada pinter-pinter cari suami to.....

Siang itu aku sedang di depan komputer. Ada telepon. Ternyata dari seorang teman yang tinggal di Perancis. Panggil saja namanya Esti. Aduh senang sekali rasanya ditelpon dari Prancis.


Sebagai informasi, blio ini orangnya cerdas, ramah, grapyak dan berpengetahuan luas. Bagi seorang kuper kayak aku, tentu saja seneng ditelpon blio karena bisa tanya-tanya macem-macem termasuk apa saja issue yang sedang ngetrend garis miring berkembang belakangan ini. Blio bisa bercerita dengan segala analisis yang masuk akal tentang berbagai hal, dari mulai poligami, politik internasional, masalah lingkungan, agama, harga tomat, kondisi buruh pabrik, domestic workers sampai dengan masak-memasak beserta resepnya. Wis komplit pokoknya.  


Kali ini Esti bilang kalau sedang kesal. Lha aku nanya: "ono opo? emang knape kesel?" Akhirnya mengalirlah cerita blio. Jadi ternyata, dia akhir-akhir ini mengikuti diskusi blog atau malah milis (lha malah aku wis lali, milis yang dia ikuti apa ya namanya?) tentang perkawinan campuran. Maklum blio menikah dengan orang Prancis, jadi yo harus tahu berbagai hal tentang perkawinan campuran.


Intinya dalam diskusi itu, sekarang ini ternyata sedang ada semacam trend bahwa banyak perempuan |ndonesia yang menikah siri dengan orang asing. Sebelum menikah mereka melakukan perjanjian pra nikah tentang pemisahan harta. Jadi kalau akhirnya mereka bercerai, masing-masing pihak tidak bisa meng-claim harta pasangannya. Dia bilang:


"Sekarang ini kok kayak artis saja, pake perjanjian pra nikah segala. Lha kalau misalnya mereka kaya nggak pa-pa, wong ya enggak. Kalau untuk urusan bisnis aku malah bisa ngerti. Lha wong tujuan perjanjian pra nikah itu sekarang sudah beda. Kok kayaknya pernikahan sekedar ngomongin harta thok"


"Lho kalau mereka memang maunya ada perjanjian pra nikah, mbok ya biarin. Lha wong di Belanda juga banyak kok yang pake perjanjian pra nikah dan mereka biasa-biasa saja tuh. Setahuku di Belanda perjanjian pra nikah bisa dipakai untuk perlindungan bisnis" kataku. Setelah minum air putih beberapa teguk, aku melanjutkan:


"Jadi misalnya nih, aku punya bisnis dan pinjam bank. Terus perusahaanku bangkrut, maka yang disita cuma hartaku saja. Nggak bisa pengadilan menyita hartanya Leo. Dengan begitu, kami masih bisa bertahan hidup karena Leo nggak punya tanggung jawab untuk melunasi utangku. Setahuku kayak gitu hukum di Belanda. Mungkin di Indonesia juga sama"


"Lho kalau itu aku yo mudeng, paham betul. Itu kan untuk kepentingan bisnis. Yang aku permasalahkan bukan itu"


"Lha terus apa?"


"Sekarang ini, perjanjian pra nikah banyak yang digunakan untuk mengeruk harta pasangan. Jadi ada semacam trend atau apalah namanya dimana ada perempuan-perempuan Indonesia menikah dengan orang asing dengan perjanjian pra nikah. Selama menikah, si perempuan berusaha untuk membeli rumah dan sebagainya atas nama dia tapi dengan duit suaminya. Kan tahu sendiri, orang asing nggak boleh beli tanah atau rumah di Indonesia, yang boleh cuma hak pakai, bukan hak milik. Jadi tentu saja pembelian itu pasti atas nama sang istri. Jadi kalau mereka bercerai, pihak perempuan akan tetap memiliki rumah tersebut. Yang mengherankanku adalah pemilikan harta itu yang jadi tujuan, bukan pernikahan itu sendiri"


Aku berusaha mencerna apa yang dia katakan. Dia meneruskan:


"Kalau tujuan pernikahan adalah untuk memperoleh harta pasangan, itu kan ya memalukan. Lha wong sebelum nikah nggak bawa apa-apa, tapi setelah cerai bisa punya macem-macem harta. Kita kan harus tahu diri dong, wong dulu sebelum nikah nggak bawa harta, selama nikah kita menuntut dibelikan macem-macem kayak rumah perhiasan dll dari pasangan kita dan setelah cerai malah kaya. Apa itu tujuan pernikahan? Cuma sekedar mengumpulkan harta, mengeruk harta dari pasangan? Gimana coba kalau kayak gitu? Memalukan kan? Padahal esensi pernikahan itu kan cinta, kasih sayang, saling menghargai, saling menghormati, tepo sliro, care dsb. Lha ini kok malah gimana caranya ngeruk harta. Memalukan kan? Gimana kalau kayak gitu?"


Sebetulnya otakku sedang tidak koncreng saat itu. Antara sadar dan tidak aku berkomentar (wong dituntut berkomentar kok waktu itu):


"E...lha kok yo podo pinter-pinter to mereka itu nggolek bojo (cari suami).  Apalagi bojo yang sugih (kaya) bisa beliin rumah dsb..... Lha kuwi terus piye carane gitu...."


Mau tidak mau Esti jadi tertawa dan bilang: "Lha iyo.... kok yo podo pinter-pinter nggolek bojo sugih...ha...ha...ha..." 


Aku senang karena dia bisa rileks. Lha wong dia waktu cerita spanning betul. Mungkin dia mengharapkan komentarku dengan menggunakan analisis kritis (maklum aku dulu orang LSM, jadi yo harus kritis biar disebut LSM). Ternyata komentarku kok cuma sak gitu saja. Sorry ya Es.....


  

Saturday, 16 December 2006

Pengin masak pake buah, ada ide?

Pengin rasanya masak pake buah. Apa ya? Ada ide? Yang jelas setelah search internet, sudah punya 3 resep yaitu: ikan nanas (aslinya sih ayam kuluyuk tapi berhubung Leo nggak makan ayam dan aku nggak suka ayam Londo, akhirnya diganti ikan), daging sapi saus plum dan ikan mangga. Yang dua sudah dicoba dan menurut kami enak, yang satu belum nyoba karena kebetulan nggak punya ikan walaupun punya mangga satu biji. Pengin satu lagi masak pake apel atau semangka atau melon atau apalah gitu, yang penting ada buahnya. Biar rada aneh gitu lho


Pengin nih bikin makanan yang bertema. Misalnya koken met fruit (cooking with fruit), oost ontmoet west (east meets west), dan koken met kokos melk (serba bersanten maksudnya) dsb.


Siapa saja yang punya ide, tolong kasih tahu ya. Thanks sebelumnya.

Pengin masak pake buah, ada ide?

Pengin rasanya masak pake buah. Apa ya? Ada ide? Yang jelas setelah search internet, sudah punya 3 resep yaitu: ikan nanas (aslinya sih ayam kuluyuk tapi berhubung Leo nggak makan ayam dan aku nggak suka ayam Londo, akhirnya diganti ikan), daging sapi saus plum dan ikan mangga. Yang dua sudah dicoba dan menurut kami enak, yang satu belum nyoba karena kebetulan nggak punya ikan walaupun punya mangga satu biji. Pengin satu lagi masak pake apel atau semangka atau melon atau apalah gitu, yang penting ada buahnya. Biar rada aneh gitu lho


Pengin nih bikin makanan yang bertema. Misalnya koken met fruit (cooking with fruit), oost ontmoet west (east meets west), dan koken met kokos melk (serba bersanten maksudnya) dsb. Kalau yang serba bersantan kayaknya banyak pilihan ya.


Siapa saja yang punya ide, tolong kasih tahu ya. Thanks sebelumnya.