Sunday, 6 May 2007

Beda prei dan daun bawang...


Prei yang gede dan daun bawang yang kecil.

Dulu kalau nggak salah Ratna (atau yang lainnya ya?) pernah nanya beda prei dan daun bawang. Ini fotonya bu Ratna, silahkan diamati. Yang gede itu prei dan yang kecil daun bawang.

Kebetulan prei bagian hijaunya sudah dipotong, harusnya lebih panjang dari itu. Kadang malah ada prei yang jauh lebih besar daripada yang ada di gambar.

Daun bawangnya yang ada di gambar kebetulan yang pangkalnya bulat gede. Padahal sih biasanya dapat daun bawang yang pangkalnya lebih langsing.

Dulu aku kira prei dan daun bawang sama padahal beda. Menurutku (dan Leo), prei paling enak dibuat martabak dan lumpia. Rasanya lebih mantap. Tapi kalau untuk soto rasanya prei kok kurang cocok ya. Aku biasanya makan soto pake daun bawang yang masih mentah dan dipotong-potong.

Daun bawang (spring onion atau lente-uitjes) lebih langsing penampakannya. Kalau nggak salah nenekku dulu menyebut daun bawang dengan sebutan prei, padahal beda. Kalau ibuku menyebut daun bawang sebagai loncang (ini sih bahasa Jawanya ya?). Biasanya sih ibuku belinya nggak hanya loncang saja tapi loncang sledri.

Friday, 4 May 2007

Rendang tuna maksa

Ternyata melihat seseorang bikin rendang dan mempraktekkan sendiri hasilnya bisa berbeda. Memang jam terbang juga sangat mempengaruhi.


Hari ini aku pengin praktek bikin rendang tuna dengan menggunakan resep sederhana ibunya Devi. Ternyata hasilnya masih belum sempurna.


Ini benar-benar rendang tuna maksa. Gimana nggak maksa, resepnya pake daging 1kg, aku ganti pake tuna 265 gram (aku tambah kentang dan kacang merah). Salah sendiri!!!! Sudah gitu tunanya bukan tuna segar lagi tapi tuna beku beli di supermarket.


Karena takut hancur tunanya aku angkat dulu, begitu juga kentang dan kacang merahnya. Yang terjadi adalah bumbunya nggak meresap ke tuna, sedangkan tunanya juga nggak meresap di bumbu. Biasanya kan kalau pake daging sapi, bumbunya meresap di daging dan rasa bumbunya berasa daging. Kayak simbiosis mutualisma kan? Nah ini boro-boro kayak gitu.


Tapi ada kemajuan sih yaitu warna rendang sudah hitam. Rasa sudah mengarah ke rendang (walaupun belum sempurna), yang jelas bukan rasa rawon atau rasa gudeg lagi. Tapi masih harus belajar banyak sih.....


Beberapa kesalahanku adalah:


1. Mungkin jahenya terlalu banyak (100 gram jahe ternyata terlalu banyak). Lain kali kalau bikin dengan bahan daging 1 kg, aku akan kurangi jahenya.


2. Bumbu bubuknya mungkin terlalu banyak. Saking hotnya pengin rendang hitam, aku masukin bubuk palanya 2 sdt terlalu munjung.


3. Aku harus mengurangi lagi star anise nya. Kayaknya 1/2 sdt peres masih terlalu banyak. Lain kali cuma seujung sendok teh saja ah.


4. Bumbu bubuk aku masukin setelah santen. Ya salah!!! Lha gimana, wong namanya lupa.


5. Menumis bumbunya harus lebih lama lagi (tapi nggak gosong) supaya nggak langu.


6. Seperti biasa aku nyalahin santennya (Dasar!!!!). Santannya nggak pake merk Aroy-d tapi merk Tropical (lihat gambar). Lha punyanya cuma itu tadi. Ternyata walaupun santan merk Tropical kental banget, tapi sulit banget untuk menjadi kering. Beda dengan merk Aroy-d yang lebih gampang menjadi blondo (santan kering). Kesimpulan: lain kali aku harus beli Aroy-d kalau mau bikin rendang.


7. Ini nih yang penting: LAIN KALI AKU HARUS BELAJAR BIKIN RENDANG DAGING DULU, JANGAN COBA-COBA BIKIN RENDANG YANG LAIN KALAU YANG RENDANG DAGING SAJA BELUM BECUS!!!!! Baru setelah pinter, mau bikin rendang pasta atau rendang pizza atau rendang Pu Yung Hai atau rendang keju siapa takut!!!  

Software album foto terbaik




Idenya adalah mencetak foto langsung pada album. Selama ini foto-foto yang ada hanya menumpuk pada komputer atau kalaupun sudah dicetak, hasil foto tersebut cuma menghuni kotak sepatu karena males nempelin ke album.

Dengan software ini, foto-foto tersebut langsung dicetak di album sesuai dengan keinginan kita. Kita tinggal download (gratis) dari penyedia software, kemudian meminta mereka mencetaknya (kalau ini baru bayar).

Menurutku Hofmann (www.hofmann.es) adalah penyedia software pembuat album foto yang terbaik yang pernah saya temui (nggak promosi karena nggak dapat komisi). Aku sudah bikin 4 album foto tapi terus terang software yang terbaik yang sampai ini aku temui adalah milik Hofmann ini.

Aku sudah search berbagai penyedia software album foto misalnya produk keluaran Hema (www.hema.nl), Kruidvat (www.kruidvat.nl) dan Albertheijn (www.albertheijn.nl), Hofmann (www.hofmann.es), dan lain-lainnya. Menurutku dari sekian banyak provider, yang paling bagus softwarenya adalah Hofmann.

Hofmann bisa menyediakan software yang paling lengkap layout nya. Mau fotonya diletakkan dalam bentuk landscape, potrait, bulat, oval, bisa semua. Mau teksnya di atas, di bawah, di samping, di atas foto itu sendiri juga bisa. Mau satu halaman diisi 1 foto atau 28 foto bisa. Layout nya mau diubah dari bentuk oval ke bulat bisa, dari potrait ke landscape bisa semua. Bahkan kalau mau nambahin sendiri misalnya bikin bulatan di atas halaman album juga bisa. Mau ngurangi jumlah foto pada halaman tersebut juga bisa. Bahkan software terbaru ada mask-nya. Jadi kalau pengin foto kita dibingkai pake bintang atau dibikin kabur bagian luarnya juga bisa. Pokoknya suka-suka.

Selain itu Hofmann menyediakan juga berbagai kemungkinan layout cover. Mau fotonya full se-cover bisa, mau cuma setengah halaman bisa. Mau pake cover winter ada, mau pake cover yang aneh dan norak juga ada. Mereka juga menyediakan berbagai warna background. Mau yang putih mulus sampai yang hitam gelap ada. Jadi suka-suka kita mau milih yang mana.

Karena fasilitas yang disediakan cukup banyak maka software tersebut memang cukup besar yaitu 21 MB padahal bulan lalu cuma 16.5 MB(bandingkan dengan Albertheijn yang cuma 6.5 MB). Tapi software Hofmann lebih cepat untuk melakukan upload (aku sudah bandingkan dengan produknya Hema yang lama banget untuk upload). Sekarang bahkan jumlah halamannya berkisar antara 18 sampai dengan 78. Waktu aku pesen bulan lalu, software mereka hanya untuk 50 dan 70 halaman dan tidak ada program pake mask.

Mereka melayani tidak hanya Spanyol tapi juga EU dan negara-negara Eropa lainnya. Pelayanan ke negara-negara EU masih lebih murah daripada ke negara-negara non EU karena VAT nya nggak terlalu mahal.

Kalau mau bikin yang bagus, sebaiknya cari foto-foto yang bagus resolusinya. Soalnya sayang banget kalau enggak. Yang aku kurang suka adalah mereka pake kertas mengkilap. Maunya sih mewah. Cuma aku lebih suka album foto yang kertasnya tidak mengkilap. Ini sih masalah selera ya.

Sayang aku kurang bagus mem-foto album ini. Aslinya sih lebih bagus daripada foto-foto di bawah ini.

Ini beberapa layout yang mereka punyai. Album ini akan kami berikan kepada ibu sebagai album kenang-kenangan.

Thursday, 3 May 2007

Resep rendang sederhana tapi mantap.....




Selama ini aku selalu nggak bisa bikin rendang, rasanya selalu aneh, nggak jelas rasa kare atau gudeg. hi...hi...hi....

 

Mungkin karena pake santen kaleng (nyalahin santennya lagi. Dasar !! he...he...).

Suatu hari ada teman (Devi)tinggal di Den Haag yang ibunya datang berkunjung dari Jakarta. Beliau orang Padang dan pinter bikin rendang walaupun pake resep sederhana dengan bumbu-bumbu yang tersedia di sini. Akhirnya aku menimba ilmu dari beliau. Pergi khusus ke Den Haag hanya untuk berguru ilmu dari beliau (niat amat ya gue...). Dari situ aku belajar kesalahanku selama ini. Terimakasih untuk ibunya Devi dan Devi yang sudah bersedia untuk berbagi rahasia dapur.


Satu hal lagi adalah karena di sini nggak ada cabe giling, beliau menggunakan sambel oelek. Padahal aku dulu paling mencela sambel oelek bikinan Londo ini. Sambel kok cuma asin thok (beliau malah bilang nggak hanya asin tapi juga asem). Ternyata sambel oelek bikinan Londo cuma diperlakukan sebagai cabe giling, jangan diperlakukan sebagai sambel oelek.  Aku dikasih tahu Devi merk sambel oelek yang halus gilingannya. Ini nih resep beliau:


Bahan:


1 kg daging tanpa lemak (waktu itu pake biefstuk atau beef steak)


2  bawang merah, rajang (sekitar 50 gram)


1 buah sereh memarkan


1 lembar daun salam


7,5 sendok teh sambel oelek (bisa dikurangi kalau terlalu pedas)


1 kaleng santan kental (400 ml)


 


Bumbu halus:


1 bongkol bawang putih (55 gram)


2 ruas jahe (100 gram)


2 bawang merah (50 gram)


1 lembar daun jeruk


 


Bumbu bubuk:


2 sdt pala


1 sdt ketumbar


½ sdt peres pekak (star anise)


½ sdt peres kayu manis


Semua bahan bubuk ini dicampur dan dikasih air sedikit


 


Aku foto-in juga beberapa bumbunya, dasar kurang kerjaan.


 


Ini gambar bawang merah (4 biji) dan bawang putih (1 bongkol) yang digunakan. Pokoknya 2 bawang merah dirajang untuk ditumis dan 2 sisanya untuk dijadikan bumbu halus.


 



 


Jahenya pakenya segini. Waktu sampai rumah, aku ambil jahe dengan jumlah yang sama, dan aku timbang beratnya sebesar 100 gram. Kata ibunya Devi, jahenya harus banyak supaya enak. Jahe nggak bikin daging pahit. Dan ternyata memang benar.


 



 


Cara:


1. Potong daging memanjang  


 



 



2. Kemudian potong melintang




 


2. Panaskan minyak di wajan. Lihat banyaknya minyak.


 



 


 


3. Tumis bawang merah sampai harum. Bawang merah di sini gede (bukan red onion lho ya tapi brambang atau sjalot atau shallot). Jadi 2 biji brambang sudah banyak.


 



 


 




 


 

4. Masukkan bumbu halus dan tumis sampai harum. Ini nih bumbu halusnya. Diblender saja, maklum males nguleg atau nggiling.



 5. Masukkan sambel oelek 6 sdt dan tumis sampai betul-betul harum.


Merk ini nih yang dipake (bukan promosi, karena nggak dapat komisi). Gilingan cabenya alus. Tapi jangan lupa, rasanya asin. Jadi tidak perlu pake garam lagi rendangnya. Oh ya, karena sudah asem, nggak perlu asem kandis takut makin asem.



 


6. Masukkan daging dan aduk



 


7. Masukkan bumbu bubuk



 


8. Masukkan sereh dan daun kunyit serta daun salam


9. Masukkan santan. Ini merk santennya, pokoknya cari santan yang kental.


 





10. Jika kurang cabe tambahkan 1,5 sdt sambel oelek. Pokonya harus diicipi dulu.


11. Jangan lupa sering diaduk tapi jangan sampai hancur dagingnya.


 


Ini nih proses pematangannya:


 


Ini setelah dikasih santan, warnanya kayak gini



 


 


 


 


 


 


 


Terus setelah itu kayak gini:



 


Terus lama-lama jadi hitam. Kata Devi yang bikin hitam adalah palanya.



 


 


 


 


 


 


 


 


Kalau Leo sukanya yang kering banget sampai asat nggak ada airnya. Ini gambar yang sudah dikeringkan, tapi blondo (santan/kelapa kering) nya sudah habis duluan. Daging nya juga sudah banyak yang dimakan. he...he...he... Waktu itu sebelum dikeringkan, aku potong-potong kecil-kecil dulu supaya kalau dia makan nggak perlu pake pisau. Lha dia cara makan rendang kayak makan beef steak, harus pake pisau kalau dagingnya gede. Oh ya, walaupun diasatin, dagingnya nggak hancur atau keras. Tapi malah empuk enak.


Leo suka sekali rendang ini. Resepnya sederhana, tapi hasilnya mantap. Kata Leo: "I have to admit that she knows how to make rendang...she is very professional....het is erg lekker"


Lega aku akhirnya punya resep yang pas untuk dia (dan tentu saja untukku sendiri). Maklum selama ini kalau aku bikin rendang rasanya aneh padahal Leo sudah pernah makan rendang di Indonesia, jadi dia tahu persis rasa rendang yang enak kayak apa.


 


 


 


 


 


 


 


 


Ucapan terimakasih teriring untuk ibunya Devi, the chef.....


Wednesday, 2 May 2007

Koninginnedag


Aku sebetulnya naksir dengan pajangan piring-piring keramik ini. Tapi beratnya.....duuuuuhhh... selain itu mau ditaruh dimana coba wong rumahku kecil.

Ini aku posting, walaupun sudah telat. Lebih baik telat daripada enggak sama sekali kan?

Koninginnedag atau hari (ultah) ratu diselenggarakan tiap tanggal 30 April. Sebetulnya ratu Beatrix sendiri lahir pada tanggal 31 Januari tapi sejak dia memegang tahta, ratu Beatirx memutuskan untuk meneruskan tradisi Koninginnedag untuk diselenggarakan pada tanggal 30 April sebagai penghormatan kepada ibunya yaitu Ratu Juliana yang lahir pada tanggal 30 April (Setelah menyerahkan tahta kepada putrinya, Ratu Juliana kemudian berganti gelar menjadi Putri Juliana).

Hari ultah Putri Juliana (30 April) memang lebih tepat untuk dijadikan hari ratu karena April biasanya temperatur sudah mulai hangat karena lente (spring) sudah mulai datang. Keterangan lebih lanjut bisa dilihat di http://en.wikipedia.org/wiki/Koninginnedag

Biasanya pada Koninginnedag, rakyat Belanda merayakannya dengan berbagai acara. Salah satunya adalah dengan menyelenggarakan pasar loak (pasar kaget) dengan menjual berbagai barang yang sudah tidak digunakan lagi. Terus terang aku selalu suka dengan Koninginnedag karena biasanya ramai dan banyak atraksi.

Selain pasar kaget, ada juga misalnya komidi putar dsb. Heran aku, perasaan tiap desa dan kota biasanya punya atraksi ini. Terus kalau nggak ada koninginnedag atau pasar malam lainnya, barang-barang ini terus diapain saja coba. Mereka datangnya pake truk-truk gede banget.

Setiap koninginnedag di desaku selalu ada atraksi ini. Asyik terutama untuk anak-anak dan remaja.

Ini beberapa gambar yang aku ambil. Silahkan menikmati.

Tuesday, 1 May 2007

Persamaan mbak Agnes dan Leo....apa coba??????

Kemarin skype-an sama mbak Agnes. Baru pertama kali ngobrol, wong ketemu saja belum pernah.


Berhubung kami berdua orang Semarang, jadi bisa ditebak kan bahasa apa yang dipakai untuk berkomunikasi. Betul, bahasa Jawa, tapi lebih ke arah Semarang-an. Jadi yo gayeng gitu. Kata mbak Agnes:


"Awake dhewe kuwi ninggalke Semarang wis suwi, lha kok tetep wae ketok Semarangan-ne" (kita ini ninggalin Semarang sudah lama, tapi tetap saja kentara Semarangan-nya).


"Lha yo mbak, pancen wis ora iso ilang" (lha ya mbak, memang nggak bisa hilang)


Terus biasalah kami ngobrol ngalor-ngidul, mumpung gratis (ketahuan ya...he...he...he.... namanya juga skype to, jadi gratis...eh inclusief...harus dipake daripada bayar internet sebulan cuma buat ngimel thok. Halah alasan!!!).


Bapak-bapak nyingkir semua. Mas Karl kalau nggak salah mau ke dokter gigi, sedangkan Leo turun ke bawah nonton tivi. Mungkin  mereka tahu diri, emak-emak kalau sedang ngerumpi lebih baik jangan diganggu. he...he...he....


Kami bercerita tetang pengalaman hidup dll. Mbak Agnes cerita kalau perut sudah mulai mules. Katanya cuti hampir habis, rasane mules mau masuk kerja lagi. Aku ketawa mendengarnya. Aku bilang:


"Lha podho karo Leo, mbak. Mbiyen bertahun-tahun, dheke mesti diare nek Minggu mbengi. Dadi yo ora ming mules thok" (lha sama mbak kayak Leo. Dulu bertahun-tahun dia selalu diare kalau Minggu malam. Jadi nggak hanya mules saja). Mungkin aspek psikologis ya?


Mbak Agnes nanya:


"Leo kerjone opo to?" (Leo kerjanya apa?)


"Lha koyo (kayak) mbak Agnes, dadi (jadi) computer programmer, IT specialist"


"Dheke kerjone nang client opo nang kantore dhewe?" (dia kerjanya di client atau di kantor sendiri?)


"Yo loro-lorone. Ning biasane nang client" (ya dua-duanya, tapi biasanya di tempat client)


"Lha nek nang client yo aku bisa memahami nek dheke mules. Lha wong aku sing kerjo nang kantore dhewe wae mules kok nek bar cuti ngene. Opo meneh nang client" (lha kalau di tempat client sih aku bisa memahami kalau dia mules. Lha wong aku sja yang kerja di kantor sendiri saja mules kok kalau habis cuti gini. Apa lagi di tempat client"


Terus kami berdua tertawa bersama. ha...ha...ha.... Mbak Agnes kasih alasan kenapa bisa mules:


"Lha piye to, client kuwi kadang yo aneh. Jam songo jarene njaluk werno biru ukuran slawe, mengko jam telu wis bedo meneh, njaluk ukuran 3" (lha gimana to, client kadang juga aneh. Jam sembilan katanya minta warna biru ukuran duapuluh lima, nanti jam tiga sudah beda lagi, minta ukuran 3). Mbak Agnes meneruskan:


"Kandanono Leo yo, nek aku iso memahami nek dheke mules" (Kasih tahu Leo ya, kalau aku bisa memahami kalau dia mules)


Akhirnya kami menyudahi pembicaraan. Aku ke bawah dan kasih tahu Leo tentang pesannya mbak Agnes. Leo langsung tertawa dan setuju dengan mbak Agnes: pekerjaan mereka memang bisa bikin perut mules dan kadang malah diare. he...he...he...


Sekarang tahu kan persamaan antara mbak Agnes dan Leo.....


PS. Foto yang aku pasang adalah webcam yang lupa aku pasang waktu ngobrol sama mbak Agnes.  


 

Dapat kiriman dari Maryland....


Ada moisturizer, cute cup, gantungan kunci, penjepit kertas (magnet kulkas) dan kartu.

Hari ini seneng banget, aku dapat paket dari Sint Louis-Amerika. Jingkrak...jingkrak... Terimakasih ya mommy Nisa (Fitri Rahmani, http://fitrids.multiply.com). Muach....muach.... huggggssssss.....

Isi kirimannya: buku novel, moisturizer, magnet kulkas yang bisa digunakan juga untuk penjepit, gantungan kunci dan gelas kecil yang cute banget.

Tahu aja deh kalau aku sudah lama nggak baca novel. Mumpung spring, bisa baca di luar nih. Di sini udara masih kering banget, bikin kulit juga kering, jadi pasti aku pake tuh moisturizer nya. Moisturizernya dari almond dan honey. Baunya harum wangi enak sekali. Waktu aku coba ternyata langsung menyerap, jadi ternyata kulitku memang kering sekali padahal sudah berusaha pake pelembab selama ini. Nyobanya di wajah, eh...nggak boleh ya? Harusnya di tubuh ya?

Yang lainnya mau aku simpen sebagai koleksi. Tapi penjepit kertasnya dipakai deh, berguna kan.

Sudah lama pengin koleksi yang kecil-kecil yang cute-cute, cuma belum juga mulai-mulai. Sekarang sudah bisa mulai deh. Horeee.....

Lihat gambarnya ya....

Sekali lagi terimakasih mommy Nisa....huggssss...