Wednesday, 28 February 2007

Big plate but small portion

Leo menjuluki restoran-restoran mahal dengan kalimat: "Big plate but small portion. After finishing your meal, you have to go to Mc Donalds because you are still hungry"


Restaurant kayak gini biasanya harganya muahal tapi porsinya kuecil. Nggak cocok buat porsi working class atau kuli kayak kami. Sudah harganya bikin sakit jantung, porsinya nggak cukup untuk mengobati sakit kantong dan jantung. Makin mahal harga di suatu restoran, makin kecil porsinya, itu kata Leo.


Bulan lalu perusahaan tempat Leo bekerja menyelenggarakan dinner untuk staffnya. Biasalah ini dinner tahunan. Yang dipilih adalah restoran yang menurut kami cukup mahal harga menunya soalnya hidangan yang keluar sesuai dengan ungkapan Leo: "Big plate but small portion"


Sebelum makan, semua staff yang berusia 50 tahun plus diminta untuk membuka botol champagne dengan menggunakan pedang. Leo bilang:


"This makes me feel old. Kenapa sih harus ada istilah 50+. Itu namanya diskriminasi"


Walaupun sambil ngomel, dia maju juga beserta 4 orang lainnya. Leo berhasil membuka botol dengan pedang panjang dengan sekali sambit. Terus isinya muncrat keluar... cuurrrrrrrrrrrrrrrrrrr.... Akhirnya setiap orang dikasih segelas champagne walaupun kami nggak minum. Gelasku aku kasih Andre yang kebetulan duduk di sebelahku. Aku nggak tahu, champagne jatahnya Leo siapa yang minum.


Di meja tersedia roti kayak french bread. Disediakan juga dua macam saos yaitu olive dan tomat yang dirajang lembut. Yang jadi masalah adalah porsinya kecil banget. Ada dua wadah dan masing-masing wadah cuma tersedia beberapa potong roti. Meja kami berisi 13 orang, akhirnya setiap orang saling tunggu karena nggak ada yang berani memulai. Setelah ada seseorang yang berani memulai, yang lain mengikuti. Tapi kemudian tidak ada yang berani mengambil lagi karena takut yang lain nggak kebagian.


Hidangan pembuka akhirnya datang. Leo dan aku memilih salmon asap yang didalamnya diisi mbuh apa gitu. Rasanya sih ada mayonaise nya. Aku sudah kelaparan, jadi yo wis nggak mikir, itu dibumboni apa. Yang penting makan. Cuma sebetulnya waktu hidangan tersebut keluar, aku sudah was-was. Lha gimana nggak was-was, wong salmonnya ukuran kuecil tapi piringnya guedenya sak ho-hah. Pasti hidangan selanjutnya nggak akan jauh berbeda.


Hidangan selanjutnya datang setelah setengah jam. Tiap orang dikasih gelas kecil berwarna cairan coklat. Di permukaan cairan tersebut mengambang beberapa irisan jamur merang yang dirajang tipis banget. Dick yang duduk di seberang Leo bilang:


"De soep is niet slecht.... ok.... het is lekker...."(supnya nggak jelek, enak kok). Sandria, istrinya menimpali:


"Menurutku sih ini bukan sup, tapi bouillon (kaldu)" Aku bilang:


"Lho ini sup to? Volgens mij is het water...."(menurutku sih air).


Lha gimana nggak disebut banyu (air), wong sop kok isinya cuma cairan bening thok, nggak ada isinya apa-apa kecuali beberapa irisan tipis jamur yang kemambang (mengapung). E... begini to kalau orang kaya makan. Dikasih banyu thok kok sudah cukup puas. Rasanya memang enak, tapi kalau untukku yo kurang kalau cuma kayak gitu.


Hidangan utama keluar lebih lama lagi. Ada kali kalau 2 jam-an. Kami semua sudah kaliren alias kelaparan. Lha gimana nggak kaliren, wong untuk persiapan makan malam biasanya tiap orang tidak makan siang atau makan siang cukup sedikit. Sambil menunggu untuk mengisi perut, kami minum en minum en minum.... akhirnya aku bolak-balik ke wc. Wis jan nggak cocok restoran priyayi kayak gitu untukku yang tarafnya kuli...eh...kuli saja enggak, wong aku ini pengangguran.


Hidangan utama berupa steak bagi yang non vegetarian. Bagi yang vegetarian dikasih hidangan lain. Steaknya kok rada merah gitu ya, jadi mau makan rasanya kurang tego. Tapi terus terang, hidangan ini adalah porsi terbesar dibandingkan dengan hidangan lainnya. 


Selain steak, dikasih pula kentang. Cuma ya itu sekali lagi. Lha wong semeja orangnya 13 kok dikasih kentang cuma dua mangkok. Ukuran mangkoknya kayak ukuran mangkok soto, jadi bisa dibayangkan kan isi kentangnya cuma seberapa. Kentangnya berbentuk bulat-bulat kecil. Itu lho kayak bentuk fruit cocktail, diameternya sekitar 1 senti-an.


Hidangan penutup keluarnya juga lama. Semua orang sebetulnya sudah capek, perasaan semua obrolan sudah diomongin.  Pasti semua orang pengin nunggu sampe hidangan penutup untuk menghormati yang sudah susah payah mengorganisasikan semuanya.


Hidangan penutup adalah soesje (kue sus) yang di dalamnya diisi es krim rasa vanila. Menurutku rasanya tidak istimewa. Rasanya biasa-biasa saja kayak es krim beli di Lidl (supermarket murah yang tersebar di Eropa). Bahkan ada es krim di Lidl yang jauh lebih enak daripada itu. Aku nggak bisa menghabiskan es krimku karena terlalu manis (wong aku sudah manis, kok dikasih manis lagi. he...he...he...). Akhirnya jatahku aku kasihkan Leo.


Begitu selesai makan es krim, kami langsung pulang. E.. enggak ding, semua orang minum kopi dulu sebelum pulang. Takut di jalan nggak bisa buka mata karena sudah malam. Aku sendiri milih minum coklat hangat karena nggak bisa minum kopi. Yang penting matak bisa dibuka.


Di jalan aku bilang sama Leo:


"Kalau nggak kemalaman, kita bisa mampir ke Mc Donalds ya. Cuma wis ngantuk" Leo bilang:


"Kita memang terlalu tua untuk begadang kayak gini...."


Lha wong makan kok lama banget. Mulai jam 18.30 dan selesai jam 23.30. Lha makan cuma sak gitu saja kok butuh 5 jam. Kami rasanya capek banget, angop (menguap) berkali-kali.


Hari Senin atau dua hari kemudian sepulang Leo dari kantor, dia bilang:


"Tadi di kantor Dick minta maaf karena dia ngambil kentangnya 3 biji. Harusnya tiap orang jatahnya 2 biji karena saking kecil porsinya"


"Ha?!?!?!?!?!?! 2 bija ya??????? aku ngambilnya malah 5 biji jé..... aduh....sorry......"


Catatan: aku nggak sempet motret semua hidangan, wong sudah kaliren. Jadi begitu makanan datang, langsung tak emplok atau minum (untuk sopnya eh...airnya), nggak nunggu lama-lama.  

Sunday, 25 February 2007

Jadi seleb....

Kalau mbak Ine dan mbak Estherlita menjadi seleb menurutku sudah wajar dan lumrah. Wong blio-blio ini pakar kuliner top yang artinya di dunia persilatan kuliner sudah dikenal secara luas.


Lha kalau aku jadi seleb? Menurutku kok ya rasanya belum pantes gitu, soalnya kalau bikin cake hampir selalu ambleg, bikin bolu kukus yang harusnya ngakak malah mingkup alias mengkeret, en kalau nggoreng brambang kadang masih belum bisa kemripik bagus (alias mlempem).


Tapi suatu hari, aku dihubungi oleh mbak Riana, salah satu moderator NCC. Blio menanyakan apakah NCC boleh menayangkan suratku di website NCC. Dulu aku memang pernah bercerita tentang pengalamanku bikin tiramisu kepada members. 


Lha aku yo bolah-boleh saja, wong itu cuma crito kalau aku pernah bikin tiramisu pake resepnya NCC dan hasilnya uenak bianget. Sekedar crito thok, nggak ada tips and tricks dll seperti yang biasanya diutarakan oleh para member. Malah tiramisunya nggak sempet difoto karena sudah keburu habis (maklum Leo dan aku nggak bisa ngelihat tiramisu dianggurin). Kata mbak Riana, memang cerita pengalaman member yang dibutuhkan. Akhirnya ditayangkanlah suratku ini oleh moderator NCC di website barunya (catatan: NCC punya 3 website). Malah pake foto segala, padahal seumur-umur belum pernah aku masang fotoku di MP, eh...lha kok ini dipasang di website NCC. 


Setelah ditayangkan, ada yang bercanda:


"Waduh....sekarang jadi seleb...."


Lho aku sekarang masuk golongan seleb to? Lha baru tahu. he...he...he... Ketika melihat gambarku di website tersebut, Leo bahkan berkomentar:


"You are becoming famous now....." 


Lho aku terkenal to sekarang? Kalau gitu aku mau cari bolpen dulu ah, siapa tahu ada yang minta tanda tangan. Kalau mau minta tanda-tangan antre dulu ya.....Wis jan norak tenan......jadi seleb sekali saja, noraknya nggak ketulungan. Lha wong ya belum pernah terkenal, ya gini-ini, norsek banget pokoknya. ha...ha...ha.... 


Bagi siapa yang pengin membaca critaku silahkan klik disini. Terimakasih ya NCC yang sudah membagi ilmu yang sangat bermanfaat untukku.


         

Friday, 23 February 2007

Anda masuk kategori mana?

Sekitar 23 tahun yang lalu ketika aku masih duduk di bangku kuliah tingkat 2, seorang dosen mengajukan 4 pertanyaan sebagai pengantar kuliahnya. Para mahasiswa diminta untuk menjawab dalam hati. Sang dosen memberi pertanyaan dan konteksnya. Terus terang aku masih ingat pertanyaan dia daripada inti kuliah tersebut (isi kuliahnya wis lali kabeh dari A sampai Z).


Di sini aku akan berusaha menjawab semua pertanyaan sang dosen. Bagi siapa saja yang tertarik, silahkan ikutan menjawab setiap pertanyaan tersebut berdasarkan konteksnya. Atau bisa saja menjawab langsung pertanyaan yang menyangkuti diri kita.


Intinya tentang kategori manusia (mungkin kelas sosial lebih tepat istilahnya) dalam hal makan. Marilah kita mulai:


1. Hari ini kita makan atau tidak ya?


Konteks: untuk mereka yang penghasilannya tidak menentu setiap harinya, seperti pemulung, tukang becak, pedagang informal dsb.


Jawab: Tergantung. Kalau hari ini dapat rejeki ya makan, kalau tidak ya harus puasa. Kalau hari ini hasil memperoleh kardus di tempat sampah cukup banyak, berarti bisa dijual  dan bisa beli nasi bungkus. Jadi bisa makan. Kalau hari ini dapat makan sisa yang dibuang di sampah oleh orang-orang kaya yang tidak menghargai makanan (tidak tahu bagaimana bersyukur), ya dimakanlah makanan yang sudah masuk sampah itu (bisa diteruskan sendiri, karena aku nggak tega untuk meneruskan saking menyedihkannya).


2. Hari ini masak apa ya? Hari ini makan apa ya?


Konteks: pertanyaan ini ditujukan bagi mereka yang biasanya punya penghasilan tetap (lebih pasti tiap minggu atau bulannya dibandingkan dengan kategori 1), ada uang untuk berbelanja untuk beli bahan makanan.


Jawab: Tahu goreng, ikan bakar, sate, rawon, nasi goreng, urap, gado-gado, rendang, gulai, lasagna, bakmi goreng dll (silahkan mengabsen sendiri sesukanya).


Catatan dari Sri: aku termasuk kategori ini. 


3. Hari ini makan dimana ya?


Konteks: Pertanyaan ini ditujukan bagi mereka yang sudah punya uang berlebih. Jadi kalau males masak, mbok ya tiap hari ke restaurant juga bisa wong namanya duit ada.  


Jawab: Ayam goreng Mbok Berek, Gudeg Bu Citro, Bakmi GM, Pizza Hut, Restoran-restoran di hotel-hotel berbintang, Arirang, Il Punto, dll (silahkan diabsen sendiri sepuasnya).


Catatan Sri: aku tidak bisa masuk golongan ini. Harga makanan yang dijual di restaurant  Belanda khususnya dan Eropa pada umumnya sangat muahal, jauh lebih mahal dibandingkan dengan di Amerika. Apalagi setelah guilders berubah menjadi euro, rasanya harga-harga mencekik. Jadi nggak mungkin kami pergi ke restaurant setiap saat. Capek nggak capek, aku atau Leo harus masak kalau pengin makan. Kami ke restaurant hanya pada saat-saat yang penting seperti hari ulang tahun perkawinan. Kondisi ini tidak saja terjadi pada kami tetapi juga dialami oleh keluarga-keluarga lain di Belanda (paling tidak teman-teman kami mengalami hal yang sama).


Kelupaan: aku dulu lupa tanya dosenku. Waktu kuliah dulu, aku hampir tiap hari beli makan di warteg (maklum anak kos). Jadi artinya aku dulu selalu makan di luar. Apakah waktu itu aku bisa dikategorikan pada level ini?


4. Hari ini makan siapa ya?


Konteks: sudah jelas


Jawab: Rakyat!!!


Catatan Sri: Ngggak perlu catatan, wong sudah jelas.  


 

Thursday, 22 February 2007

Gaya pamernya anak-anak....

Aku punya pakde dan bude yang tinggal di sebuah kota kecil di Jawa Timur. Mereka punya 8 anak dan anak-anak mereka sebagian besar sudah menikah dan sudah memiliki anak-anak pula. Artinya pakde-budeku ini sudah punya cucu-cucu.


 


Sebagian besar anak-anak dan cucu tersebut tinggal dan bekerja di Jakarta. Hanya putri tertuanya yang tinggal di sebuah desa tidak jauh dari rumah pakde-budeku ini. Dia menikah dengan seorang petani yang sangat baik dan santun. Pasangan ini dikaruniai seorang anak laki-laki yang cakep dan cerdas sekali. Panggil saja namanya Alif.


 


Setiap Idul Fitri, semua anggota keluarga berkumpul di rumah kakek nenek mereka. Rumah pakde budeku betul-betul penuh setiap lebaran tapi rasa gembira dan suka cita selalu menyertai mereka pada hari yang fitri ini. Maklum kumpul-kumpul begitu biasanya cuma terjadi setahun sekali.


 


Anak-anak juga sangat menikmati masa-masa berkumpul dengan saudara-saudara sepupu mereka. Bermain, bercanda, bersuka ria bersama-sama. Kalau ada yang berantem juga wajar, tapi biasanya sih anak-anak cepat berdamai. Selain itu mereka juga saling suka pamer dengan gaya kanak-kanak. Kebetulan usia mereka juga hampir sama, kalau nggak salah antara 6 sampai dengan 8 tahunan (memang ada juga yang masih bayi atau balita, tentu saja mereka nggak ikut bermain dengan anak-anak kisaran usia tersebut). Alif waktu itu yang terkecil, bahkan belum 6 tahun tapi sudah bisa menangkap pembicaraan saudara-saudara sepupunya yang lebih besar. Begini nih pembicaraan mereka, seperti dituturkan budeku. Satu anak berkata:


 


“Papaku punya mobil baru. Warnanya putih, bagus lagi….” Yang lain menimpali:


 


“Tapi papaku punya mobil Kijang. Gede mobilnya, jadi bisa muat banyak….” Dijawab yang lain:


 


“Tapi papaku mobilnya lebih mahal…..”


 


“Emang berapa harganya?.......”


 


“Ya nggak tahu, tapi mobil kayak gitu kata papa mahal harganya….”


 


“Tapi tetap saja mobil papaku yang paling baru…..”


 


“Tapi kan mobil papaku bisa muat banyak orang…..”


 


Akhirnya terjadilah debat tentang betapa hebatnya mobil-mobil papa mereka. Yang masih diam saja adalah Alif melihat perdebatan tersebut. Maklum, ayahnya tidak punya mobil walaupun punya sawah luas. Tapi memang dia nggak kekurangan akal, dia langsung nyeletuk:


 


“Tapi bapakku punya SEPUR!!!”


 


“Ha???? Punya sepur???? Yang bener? Sepur kereta api?” Semua saudara-saudara sepupunya kaget memandang dia.


 


“Iya, sepur, kereta api. Guede dan puanjang banget……bisa muat banyak orang….Bunyinya tut-tut-tut dan larinya kuenceng banget. Mobil-mobil berhenti kalau sepur bapakku lewat….”


 


Akhirnya semua saudara-saudara sepupunya memandang dia dengan takjub dan terkagum-kagum. Lha ya coba to, punya kok sepur, apa nggak hebat banget itu. Semua mobil yang tadinya dibangga-banggain, kalah semua sama sepur. Mereka pasti mikirnya terus butuh garasi seberapa, wong mobil saja garasinya gede kok, apalagi kok sepur. Tentu butuhnya nggak hanya sekedar garasi, tapi stasiun. Akhirnya mereka semua mendengar cerita Alif tentang sepur bapaknya dengan seksama dan mata berbinar-binar saking kagumnya.


 


Budeku yang mendengar dari belakang tertawa terbahak-bahak. Ketika aku dicritain, aku juga nggak bisa nahan tawa. Lha wong punya kok sepur, apa nggak hebat tenan. Wong Bill Gates saja yang orang terkaya di dunia nggak punya sepur kok, lha kok bapaknya Alif bisa punya sepur. Sepur itu kan gede, panjang, kokoh dan kalau lewat lha mbok ya mobil limousine yang mewah dan harganya muahal sekalipun harus berhenti, nunggu sepur lewat.


 


Sebagai catatan, di desa tempat Alif tinggal memang ada stasiun kereta api, walaupun kecil. Hampir setiap hari, dia diajak bapaknya untuk berjalan-jalan ke stasiun sehingga dia bisa melihat sepur. Jadi Alif bisa bercerita dengan lancar tentang sepur bapaknya ini, bagaimana bentuknya, bagaimana bunyi klakson sepur yang tut...tut...tut.....


 


Gambar yang aku pasang adalah sepur yang ada di museum kereta api Ambarawa. Museum tersebut juga merangkap sebagai stasiun.   

Wednesday, 21 February 2007

Merasa kaya dengan 1,59 yuro....

"Being rich" dan "feeling rich" adalah dua hal yang berbeda. Ada orang kaya tapi tetap saja merasa kekurangan, sampai bingung aku. Punya rumah mewah (nggak hanya satu), mobil mewah (ini juga nggak hanya satu), simpanan di bank sak ho-hah (saking banyaknya) dan sebagainya tapi tetep saja merasa dirinya belum kaya, merasa dirinya kekurangan, merasa resah gelisah kenapa hartanya masih di bawah orang lain. Jadi kaya itu relatif, menurutku dia sudah kaya, tapi menurut dia masih kurang kaya.


 


Tapi di lain pihak, ada orang biasa yang hartanya hanya sekedarnya tetapi merasa dirinya kaya, berkecukupan karena selalu bersyukur. Rasa syukur inilah menurutku kuncinya. Orang seperti ini lebih tenang hidupnya, tetap bekerja keras, jujur, terus meningkatkan taraf hidup dan tidak pernah lupa bersyukur.


 


Aku sendiri sebetulnya gampang kok kalau pengin merasa kaya. Modalnya cuma 1,59 yuro (maksudnya Euro) dan sudah merasa kaya. Nggak percaya? Silahkan baca pengalamanku berikut ini.


 


Sekitar 26 tahun yang lalu (tahun 1981) ketika aku masih duduk di bangku SMA kelas 2, aku diundang teman sekolahku di pesta ulang tahunnya. Nggak hanya aku saja sih yang diundang, tapi semua teman sekelas. Dia itu orang tuanya kaya (menurut ukuranku lho ya, mungkin menurut orang lain beda). Gimana nggak disebut kaya, wong dia itu orang tuanya punya perusahaan, punya pabrik,  punya rumah gede mewah magrong-magrong, punya mobil mewah nggak hanya satu, halaman rumahnya luas (saking luasnya bisa bikin untuk main sepak bola), belum lagi tamannya ditata bagus, mestinya ya punya pembantu banyak, tukang kebon, sopir dsb. Belum lagi kalau liburan ya ke luar negeri segala. Lha aku sendiri piknik ke Ancol saja sudah suenengnya setengah mati.    


 


Aku memutuskan datang pada pesta ultahnya karena aku lihat orangnya baik, nggak sombong. Kalau sombong, males aku datang walaupun misalnya diiming-imingi door prize.


 


Jaman dulu, walaupun orang kaya, pestanya ya biasa-biasa saja nggak kayak sekarang. Ada taart terus yang ulang tahun nyebul lilin, ada makan minum, snack, klethikan dsb seperti layaknya pesta ulang tahun. Acaranya ya biasalah selain makan minum, juga nyanyi, njoget (bagi yang mau) dengan diiringi musik dari tape recorder, dan ada permainan. Orang tuanya ngawasi dari kejauhan. Jadi ya persis acara ultahnya anak-anak SD jaman sekarang.


    


Ya namanya orang kaya ya, tentu saja hidangannya melimpah dan uenak-uenak tentu saja. Jadi yo pas lah dengan seleraku (wong aku ini dalam hal rasa cuma punya dua kategori kok: enak dan uenak bianget). Dari sekian banyak hidangan, yang paling menarik buatku adalah kripik kentang yang ada taburan kejunya. Wadahnya merah panjang, ada gambar kepala orang yang berkumis, judulnya atau merk kripik kentang tersebut adalah Pringles.


 


Waktu itu aku baru pertama kali makan kripik kentang yang judulnya Pringles. Menurutku sih enak. Dalam benakku, aku waktu itu berpikir: “Pasti harganya mahal, wong kentang kok dikasih keju. Kejunya saja rak yo sudah mahal mestinya. Mungkin belinya di luar negeri wong aku belum pernah melihat kripik kentang kayak gini dijual di warung”


 


Lha iyo to, kentang kok diiris-iris tipis dibuat kripik dan diulet sama keju. Lha di rumahku itu, paling pol kentang ya dibikin sop pake sayur buanyak banget supaya semua anggota keluarga kebagian, kalau ada tetelan ya dimasuki tetelan, kalau nggak ada ya cuma sop sayuran. Atau paling banter dibuat bergedel, pake telur satu biji biar waktu digoreng nggak ambyar. Lha ini kentang kok dimakan begitu saja. 


 


Aku waktu itu bersyukur, alhamdulillah, aku kok bisa ngicipi kripik kentang mahal, pake keju lagi. Kalau disuruh beli pasti nggak mampu. Wong aku dulu bisa jajan di kantin sekolah saja sudah bersyukur kok. Aku berpikir: “Kapan ya aku bisa beli kripik kentang kayak gini?”


 


Setelah lulus SMA, aku meneruskan kuliah. Tapi impian untuk beli Pringles masih ada dalam pikiran. Tapi tetap saja nggak pernah kebeli, lha wong uang saku bulanan cuma cukup untuk jajan di warteg. Maklum anak kos, jadi harus super ngirit, kalau perlu puasa. Kalau mau kripik ya tentu saja kripik singkong bukan kripik kentang luar negeri, wong kripik singkong saja menurutku uenak banget kok. 


 


Lulus kuliah aku bekerja, punya penghasilan sendiri, tapi tetap saja masih belum mampu beli Pringles. Maklum gaji LSM, jadi pas-pasan. Kalau dipaksain waktu itu memang bisa, tapi masih terlalu mewah buatku. Selain itu aku kan bergaulnya sama petani, buruh pabrik, pedagang informal, mosok aku beli Pringles, rak yo njegleg nanti.


 


Impian untuk beli Pringles itu masih terus berlangsung selama bertahun-tahun. Alhamdulillah, tahun 1998 aku waktu itu diparingi berkah, dapat beasiswa untuk sekolah di New Zealand, dibiayai oleh pemerintah NZ. Di sinilah aku akhirnya beli Pringles. Lha wong seingatku dulu, harga daging (terutama daging domba), susu, mertego, keju dan Pringles lebih murah daripada harga tahu, brambang, tempé dan sejenisnya.


 


Aku masih ingat, aku beli Pringles di New World, sebuah supermarket gede di NZ. Waktu aku lihat si Pringles nongkrong di sana, aku rasanya ingin berteriak: “Akhirnya!!!!” Aku ambil satu dan aku timang-timang. Terus ke kasa langsung aku beli (wong punya duit kok waktu itu walaupun nggak banyak).


 


Sampai di asrama, langsung aku buka, aku gigit dan kunyah satu persatu. Aku nikmati betul-betul kripik kentang satu ini, sambil bergumam:


 


“O……Begini to rasanya jadi orang kaya…..”


 


Jaman SMA dulu, hanya orang kaya yang bisa beli Pringles. Jadi kalau aku sekarang bisa beli Pringles, aku sudah termasuk orang kaya juga to? Bener to? Walaupun butuh waktu selama 17 tahun sebelum akhirnya aku merasakan menjadi orang kaya. Tapi nggak pa-pa lebih baik terlambat, daripada nggak pernah ngrasain “kaya” sama sekali.


 


Akhirnya sampai sekarang kalau aku pengin merasa kaya, aku beli saja Pringles. Cuma berhubung aku sudah makin sepuh, akhirnya nggak bisa makan kentang luar negeri ini sesukaku. Aku harus ingat kolesterol, belum lagi badan makin melar. Lagian kalau makan Pringles terusan juga mblenger kok. Dengan keterbatasan ini, aku paling makan Pringles 2 sampai 3 kali setahun. Paling tidak dalam setahun, aku 2 atau 3 kali merasa kaya. Cukup to?. 


 


Dua hari yang lalu aku lirik si Pringles ini di supermarket. Harganya 1,59 euro (sekitar Rp.18 ribuan), tapi aku saat itu sedang tidak kepingin merasa kaya, jadi ya nggak beli. Tapi ternyata sampai di rumah, aku bongkar stok makanan, aku nemuin Pringles masih dalam keadaan tertutup. Aku potretlah dia.    


 


Catatan: Aku bukan pegawai pemasaran Pringles. Suwer!

Monday, 19 February 2007

You make me very tired.....

Karena punya istri orang Indonesia, Leo juga belajar makan makanan Indonesia. Yang diadaptasi bukan saja rasa tetapi juga bagaimana cara orang Indonesia meracik makanan. Kata dia:


"Kalau masih salah-salah, nggak pa-pa kan? Aku kan masih orang Jawa amatiiiiiiirrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr"


Salah satu yang dipelajari adalah bagaimana cara meracik gado-gado, salah satu makanan kegemaran dia. Kalau sedang nggak males, setelah sayuran direbus, aku taruh tiap jenis sayuran secara berkelompok, nggak aku campur jadi satu. Maksudnya sih supaya enak dipandang dan mengundang selera. Aku nggak pernah masak gado-gado dengan bayam karena Leo nggak suka bayam sama sekali. Jadi aku masak sayuran yang ada saja. Ok, kita mulai meracik sekarang. Dia mengikuti apa yang aku lakukan. Aku bilang:


"First.... boontjes" aku mengambil buncis di piringku


"Ok.... boontjes...." dia menirukan apa yang aku lakukan, mengambil buncis dan ditaruh di piringnya.


"Then, wortel...."


"OK, second is wortel......."


"Now is bloemkol (kembang kol)...."


"OK, bloemkol...."  


"Brokoli....."


"OK, brokoli......"


"Then, tahoe......" Maksudnya tahu yang sudah dipotong kecil-kecil dan digoreng.


"Ok, tahoe....."


"Egg...."


"OK, eeg...."


"Then.... tauge...."


"OK, tauge....."


"Now is boemboe gado-gado....."


"OK, boemboe gado-gado....."dia ikutan menyiramkan bumbu gado-gado


"Then, brambang goreng..... This is the last step"


"OK, brambang goreng......" Lucu juga mendengar dia mengucapkan brambang goreng (bawang merah goreng).


"Now..... we mix.....!!!" Aku dengan tenang mencampur gado-gadoku tanpa rasa bersalah, tanpa merasa ada sesuatu yang kurang. Kalau kurang-kurang paling juga krupuk, bisa digigitlah secara terpisah. Tapi dia kelihatan sangat kesal melihatku.


"Uhhhhh....... you make me very tired....."


"Lho emang kenapa? Sudah dimakan, nanti nggak enak kalau kelamaan" Kataku kalem karena aku merasa tidak ada yang salah sama sekali dalam memberikan instruksi.


"What is the point?????? First is this, second is that, then this, then that, now is this, then that, finally is this and then suddenly you said: now we mix! So.... what is the point that you should be in the right order but finally you have to mix it??????? I have followed all the steps properly and then I have to mix it ?!?!?!?!"


Dalam hati aku juga pengin ketawa (terus terang baru sadar kalau selama ini aku nggak pernah berpikir sampai ke sana), tapi tetap saja aku nggak mau kalah. Aku bilang:


"Lho katanya kamu pengin belajar gimana orang Jawa meracik gado-gado....ya begini ini.  Ya nggak mungkin kok brambang goreng dan boemboe letaknya di bawah tapi buncis paling atas. Dimana-mana ya gitu stepnya. Nggak ada kok kroepoeknya di bawah wortel. Tauge itu selalu di atas, selalu letaknya terakhir sebelum disiram bumbu dan dikepyuri brambang goreng"


Padahal sih ada juga ya gado-gado yang paling atasnya justru telur, tapi waktu itu aku nggak mau ngaku.


"My God..... it's so complecated. Javanese tradition is so complecated....."


Dia kelihatan capek dan geleng-geleng kepala karena nggak mudeng. Ngapain susah-susah pake prosedur penataan kalau akhirnya dicampur juga. Sejak saat itu, dia nggak mau mengikuti prosedur, instruksi dan petunjuk (yang sangat bijaksana) dalam meracik gado-gado yang sudah aku ajarkan. Dia ambil suka-suka.  Satu hal yang dia masih ikuti adalah bahwa boemboe dan brambang goreng letaknya paling atas. Mungkin itu yang paling masuk akal dia. Aku amati, dia juga nggak selalu mencampur gado-gadonya, yang penting menyiram boemboenya rata di atas sayuran.


Ketika aku cerita ke temanku tentang hal ini, temanku bilang:


"Kamu yang gila... mbok biarin saja dia ambil suka-suka..."


"Lho ya nggak bisa, tauge itu selalu yang paling atas, nggak ada kok nyiram boemboe dulu baru ditaruh sayurannya, nggak ada kok......"


Biasa.... nggak mau ngalah.... he...he...he....


 

Telur pindang

Pengin rasanya makan telur pindang, tapi nyari daun jambu di sini nggak nemu. Untung waktu itu mbak Esther pernah posting resep telur pindang menggunakan teh. Akhirnya nyontek deh. Terimakasih ya mbak Esther. Cuma aku nggak pake teh tubruk tapi teh celup (yang penting teh to?).


Bahannya: telur rebus 6 biji, kulit bawang merah, 1/4 sdm kunyit bubuk, 2 lembar daun salam, 1 batang sereh, 1 teh celup dan 1/2 sdm garam.  


Telur dipukul-pukul sampai retak tapi nggak sampai mengelupas. Terus masukkin ke panci, kasih air, dan masukkin semua bahan lainnya. Rebus dah. Sekali-kali aku aduk biar merata warna dan rasanya. Angkat kalau kulit telur sudah berubah warna.


Waktu itu aku tanya mbak Esther, berapa lama ngrebusnya supaya gempi (keras) kayak telur semur Betawi atau telur gudeg Yogya. Kata mbak Esther kalau mau keras kayak gitu, telurnya harus direbus 3-4 jam. Lha aku kan nggak sesabar mbak Esther, jadi 1 jam sudah aku angkat. Malah tadinya seperempat jam mau aku angkat karena sudah laper. he...he...he.....


Rasa: Enak. Penampilan: nggak jelek kan? Ada bekas-bekas garis-garis retak. Orang-orang Belanda yang melihat telur pindangku ini terkagum-kagum. Mereka bilang: "Mooi....." (cantik).  Kata Leo kayak marbel (marmer). Siapa dulu dong gurunya.....Terimakasih ya mbak Esther.......