Saturday, 31 March 2007

Pizza tonno (tuna)

Akhirnya kesampaian juga bikin pizza tuna. Padahal sudah berjanji pada diri sendiri untuk cuma masak ikan atau vegan (produk tanpa binatang baik itu daging, mentega, keju, susu, maupun telur). Maklum sehari sebelumnya sudah kebanyakan makan martabak yang full of eggs, jadi harus makan yang lebih sehat.


Tapi mosok pizza nggak dikasih keju babar blas. Apalagi masih punya persediaan 1 biji mozzarella dan sedikit keju parut Gouda. Jadi daripada kadaluwarsa, lebih baik dimanfaatkan. Halah....alasan!


Akhirnya cari resep pizza yang nggak pake telur. Kebetulan ingat dulu Lia yang sekarang sedang mudik ke Indonesia pernah posting resep pizza. Akhirnya, nyonteklah aku. Thanks ya Lia.


Yang sedikit berbeda adalah toppingnya. Kalau Lia kan pake sosis, aku pake tuna karena di sini sosis kebanyakan dari pork. Memang niatnya bikin pizza tonno (tuna). Jadi yang aku pake untuk topping adalah tuna (2 kaleng), mozzarela (1 biji. Menurutku kalau mau mantap sih 2 biji), paprika merah, jamur merang segar, terong (karena aku pernah makan vegetarian pizza di Italia dan mereka menggunakan terong, jadi pengin juga nih pake terong daripada terong di kulkas busuk nggak kemakan), saos tomat dan taburan keju Gouda parut. Sebetulnya mau dikasih red onion di atasnya, tapi kok sudah tinggi toppingnya. Jadi ya sudahlah nggak jadi.


Saos tomatnya sih bikin sendiri. Sederhana saja: tumis bawang putih dan bawang bombay, terus masukin tomat yang sudah dipotong kecil-kecil. Selanjutnya kasih pasta tomat, gula, garam, oregano, basil, dan lada. Wis itu thok.


Penampilan sih mungkin nggak terlalu bagus ya (maklum motretnya sudah malem. Halah...alasan lagi!). Tapi kata Leo sih enak. Rasanya lebih fresh daripada kalau beli di supermarket (tentu saja dong!). Apalagi waktu itu dimakan pake salad sayur dan buah. Jadi segar rasanya. Kalau buatku sendiri sih masih aku makannya pake sambel botol. Kalau nggak pake sambel, rasanya kok nggak mantep.


Seperti biasa Leo komentar kalau aku makan makanan Eropa pake sambel:


"Orang Indonesia itu kalau makan apa-apa kok selalu pake sambel atau cabe. Dari makan soto, martabak, risoles sampai pizza en pasta selalu ada sambelnya. Kalian kalau minum kopi apa ya pake sambel juga?????"


Halah....usil banget sih, wong ya dia makannya banyak gitu lho (walaupun tentu saja dia nggak pake sambel makannya). Pizza ini memang jadinya gede (aku pake loyang ukuran 31 cm) dan juga lumayan tebel (kayaknya sih toppingnya kebanyakan). Buat berdua nggak habis sekali makan. Akhirnya Leo bawa sisanya utuk lunch di kantor. Rekan-rekan sekerjanya ngiri melihat dia makan siang pake pizza yang harum baunya.  


Lain kali pengin bikin pizza tuna pake nenas. Pasti enak. Mau bikin pizza dengan topping rujak cingur belum tega. Takut nggak klopt rasanya.     

Thursday, 29 March 2007

Born as a millionaire's wife....

Waktu itu Leo sedang di depan komputer. Nggak tahu sibuk ngerjain apa. Aku bilang sama dia:


"Leo, I think......" Aku berhenti sejenak


"Ya??????......." dia ngomong tanpa memalingkan muka


"I think...... I was born as a millionaire's wife....."


"Sorry........what did you say?" Dia memandangku antara heran dan geli. Harusnya dia tidak perlu heran karena aku sering mengungkapkan pernyataan yang aneh-aneh.


"I think I was born as a millionaire's wife"


"How do you get that idea? How do you draw that conclusion? Yang aku tahu ada anak yang lahir dalam keluarga kaya, tapi aku belum pernah dengar ada orang yang lahir sebagai istri milioner"


Terus aku menjelaskan: "Soalnya gini. Aku ini kan nggak kerja, wong cari kerja di sini susah banget. Cari kerja sebagai clerk nggak bisa diterima karena aku sudah terlalu tua. Cari kerja sesuai dengan bidangku juga nggak bisa karena sektor tersebut sudah over supply"


Aku memang sempat frustrasi karena nggak bisa cari kerja di sini. Mau kerja yang simpel untuk memperlancar bahasa Belandaku, juga sulit nyarinya. Di sini orang digaji tidak hanya berdasarkan pendidikan dan pengalaman kerja tetapi juga umur. Jadi nggak heran kalau banyak ditemui kasir di toko atau supermarket (terutama kalau hari Sabtu) yang sebetulnya masih pelajar atau mahasiswa. Karena masih muda, mereka bisa dibayar murah. Buat mereka juga merupakan pekerjaan sambilan untuk menambah uang saku.


Sedangkan aku, usia sudah kepala 4, susah banget cari kerja kayak gitu walaupun misalnya aku mau dibayar seadanya. Peraturan ketenagaan yang cukup ketat membuat pemilik usaha nggak bisa main-main juga. Lebih slamet bagi mereka untuk cari tenaga yang masih muda yang bisa digaji lebih murah, daripada merekrut nenek-nenek kayak aku.


Mau cari kerja di bidangku juga susah banget. Bahkan sudah over supply. Mungkin suatu kali nanti aku akan cerita hal ini.


Ada seorang teman menyarankan aku untuk nglamar sebagai tukang pos atau tukang koran soalnya selain menyehatkan, juga menghasilkan uang. Di sini tukang pos memang biasanya naik sepeda. Cuma aku punya masalah dengan lututku. Kalau untuk ukuran Belanda, aku bersepeda terlalu lambat karena nggak bisa mengayuh sepeda dengan kencang. 


Belum lagi kalau winter, aduh... dinginnya kalau harus bersepeda. Belum lagi biasanya mulai herfst (autumn), cuaca sudah mulai nggak bersahabat: windy, cloudy, rainy, masih kadang ditambah foggy. Belum lagi kalau di tengah jalan turun salju basah, sampai di tempat tujuan aku biasanya basah kuyub. Kalau salju kering lumayan, bisa langsung dikibaskan, tapi kalau salju basah, rasanya dingin banget karena basah kuyub kalau naik sepeda. Walaupun pake jas hujan, tapi tetap saja to rasanya nggak nyaman.  


Kata Leo aku nggak bakalan cocok jadi tukang koran atau tukang pos. Bisa dipecat karena koran pagi yang harusnya nyampe pagi baru sampe di rumah pelanggan waktu malam hari karena aku nggak bisa nggenjot sepeda dengan kencang. Jadi ini bukan pilihan pekerjaan yang tepat untukku.


Karena aku nggak kerja, maka tentu saja aku harus mencari kesibukan. Akhirnya aku mendaftarkan diri sebagai member sebuah sport centre di desaku. Harganya nggak terlalu mahal (terutama untuk ukuran Belanda), 39 yuro per bulan dari Senin sampai Jumat dari jam 07.00 sampai dengan jam 17.00. Fasilitas cukup lengkap, ada alat-alat cardio dan power, ada indoor swimming pool yang suhunya tropis, ada lapangan tennis (out door dan indoor), ada lapangan squash, ada les (yoga, fifty fit dsb). Bahkan ada sauna dan steam bath. Semuanya inclusief. Perasaan yang nggak ada cuma lapangan golf dan pacuan kuda. Pokoknya jadi member di situ, serasa jadi orang kaya.


Aku teruskan ya pembicaraanku dengan Leo. Dia bilang:


"So.... karena kamu nggak kerja, apa relevansinya kamu born as a millionaire's wife?"


"Lha ya jelas gitu lho. Karena nggak kerja, aku kan punya waktu untuk fitness, untuk berenang, untuk manicure pedicure, untuk luluran, untuk leasure, untuk golf (padahal aku megang stick-nya golf saja belum pernah), untuk berpesiar dengan cruise ship, nonton concert di Vienna, belanja di Paris dsb dsb. Itu lho kayak yang dilakukan oleh istri-istrinya orang kaya. Yang jelas aku punya waktu untuk itu" Aku berusaha ngomong dengan muka serius.


"O....jadi kamu karena nggak kerja, kemudian merasa punya waktu untuk melakukan itu semua? Lha terus yang bayari siapa?" Dia juga berusaha ngomong serius walaupun aku tahu dia pengin tertawa.


"Lha ya itu. Karena aku terlahir sebagai istri milioner...... Now it depends on you...... tergantung sama kamu. Kalau aku sendiri sih sudah siap"  


"Excuseeeeee meeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee.........?!?!?! Lha kok kemudian bebannya ke aku????????"


"Elho..... gimana kalau enggak. A millionaire's wife kan tentu saja harus punya suami kaya to? Kalau suaminya nggak kaya, terus kan nggak bisa disebut sebagai millionaire's wife"


"My God................Sri, you really make me very tired............" 


PS. Gambar yang aku pasang aku ambil di sebuah desa, cuma aku lupa nama desanya. Itu salah satu gambaran tentang langit di Belanda. Biasanya sih lebih gelap dari itu kalau sedang cloudy.     

Wednesday, 28 March 2007

Martabak

Kemarin aku bikin martabak kulit lumpia. Awalnya sih karena hari Sabtu Leo dan aku pasar dan lihat prei dan daun bawang yang seger. Daun bawangnya yang ujungnya bulet gede, jadi memang mantep kalau dibikin martabak (walaupun kalau menurutku, prei jauh lebih mantep kalau dibikin martabak). Leo bilang:


"Itu ada lente ui (daun bawang) yang bagus en seger. Kalau dibuat martabak pasti enak"


"Kamu pengin martabak?"


"No. If you want to make martabak, itu lente ui yang bagus untuk bikin martabak karena cukup kuat rasanya"


Biasanya kalau dia ngomong "if you want....." sebenarnya dia sendiri juga pengin tuh. Aku sih lama-lama tahu kok trik dia. he...he...he... Akhirnya kami belilah daun bawang dan prei tersebut.


Berhubung sebetulnya dia nggak boleh makan banyak telur (karena kolesterolnya tinggi), maka martabak yang aku bikin aku banyakin prei dan daun bawangnya. Apalagi aku kasih bawang putih banyak sekali untuk menurunkan tekanan darahnya. Jadi deh martabak (berbau) telur. he...he...he.... Rasanya sih enak kok menurutku (muji sendiri). Dimakan pake sambal botol dan mentimun (males bikin acar).  


Bahannya:


250 gram daging cincang


8 siung bawang putih cincang (atau malah lebih kayaknya, soalnya ini juga untuk obat)


1 sdt bubuk kare


1 sdt lada


garam dan gula pasir


prei, bawang bombay, daun bawang (buanyak jumlahnya) dirajang


10 telor


20 lembar kulit lumpia yang gede (soalnya di sini kulit lumpia ada yang gede, medium dan kecil)


Minyak goreng untuk menumis dan menggoreng


Caranya: biasalah tumis bawang putih, masukkan daging cincang, terus bubuk kare, lada, garam, gula. Terus sisihkan.


Kemudian di wadah lain, kocok telur 2 butir, masukkin 1-2 sendok tumisan daging cincang tadi, tambah prei, daun bawang dan bawang bombay, kemudian diaduk. Taruh di atas kulit lumpia bagian tengah, terus dilipat kayak amplop. Langsung digoreng. Terus kocok telur lagi dan ulangi lagi seterusnya.


Kalau nggak salah sih 1 telur untuk 2 martabak. Pokoknya isinya dibanyakin preinya bukan telurnya. Jadilah kemarin kami dinner pake martabak dan mentimun (mau bikin salad lagi kumat malesnya). Tadi pagi masih 6 biji bisa untuk breakfast dan lunch ku.


Karena kemarin sudah makan daging dan telor banyak, maka for the rest of the week, aku harus masak ikan atau vegan (tanpa produk binatang baik itu susu, mentega ataupun telur).    


 


 

Sunday, 25 March 2007

Foto bolu gulung coklat


Nggak jelek kan? Kelihatan nyoklat.

Cerita lihat di http://cutyfruty.multiply.com/journal/item/33.

Tips mengatasi amblegnya pembuatan chocolate roll....


Pengin makan bolu gulung coklat yang bagus, tanpa ambleg or bantat? Cara: naik sepeda pergi ke snoepwinkel (candy shop), kemudian pilih bolu gulung yang diinginkan. Ada yang rasa strawberry, raspberry, chocolate dsb. Ambil satu, pergi ke kassa. Bayar 1 Euro. Pulang, masukkin sepeda ke gudang. Buka pintu rumah, kemudian bikin foto chocolate roll. Ini hasil fotonya. Foto-foto lainnya akan aku pasang di bagian foto ya. he...he...he....

 

Berawal dari gemeznya ngelihat bolu gulung buatan mommy Nisa (keluarga Rahmani). Ibu satu ini memang top banget. Punya baby yang masih imut, tapi masih bisa bikin macem-macem cake sambil merawat Nisa. Kata mommy Nisa, si mungil suka ngelihatin mommy kalau sedang baking. Bisa dibayangin nih, gedenya pasti pinter baking kayak mommy.

Mommy Nisa waktu itu nawarin aku gimana kalau dikirim dari sana. Lha aku mikir, mommy Nisa harus kerja berjam-jam untuk baking, terus ngepak, terus harus ke kantor pos, terus nunggu 2 mingguan baru nyampe. Setelah nyampe di Belanda, baru 5 menit sudah abis kami makan. Tenaga, waktu yang dikeluarkan oleh mommy Nisa nggak cucuk (nggak imbang) dengan waktu makan kami. Jadi ya dengan berat hati, tawaran tersebut aku tolak. Terimakasih ya  mommy Nisa sudah nawarin. Huggggggg....


Aku ini kalau disuruh bangsanya baking nggak pinter, sering amblesnya daripada jadinya. Mbuh itu kenapa, padahal semua petunjuk sudah diikuti, nggak boleh ini, nggak boleh itu, harus begini, harus begitu. Yo wis pancen nggak bakat, diapa-apain juga tetep saja ambleg.


Karena gemez pengin ngicipin bolu gulung inilah, aku akhirnya beli di candy shop. Leo sih sebetulnya tadinya nggak setuju kalau aku beli. Dia bilang biasanya rasanya terlalu manis kalau beli di toko, padahal aku nggak suka makanan yang terlalu manis (wong sudah manis.he...he...he...). Dia sudah khawatir saja, kalau aku nggak habis, dia yang harus jadi korban menghabiskan.


Cuma karena CV ku dalam hal per-baking-an menunjukkan kalau aku nggak bakalan diterima kerja di toko cake, akhirnya aku maksain beli. Wong namanya kepingin. Harga cuma 1 Euro bisa milih berbagai rasa. Gile murah amat. Padahal kalau bikin sendiri, biaya bahan dan energie jauh lebih mahal. Mengenai rasa? Aku kasih satu potong buat Leo. Kata dia:


"Voor een euro is het niet te slecht....." (untuk satu euro nggak terlalu jeleklah) 


 

Friday, 23 March 2007

Kopdaran sama mbak keluarga mbak Mutty di Zeewolde....


Aku sebetulnya bisa naik yang jam 8.56 dari stasiun Rotterdam Alexander, tapi berhubung aku pake kartu korting yang hanya bisa dipake setelah jam 9, maka aku cuekin saja kereta ini. Jadilah dia jalan tanpa membawaku. Aku tunggu kereta selanjutnya.

Berhubung dulu pernah jadi seleb, tentu saja nggak mengherankan kalau ada yang ngontak. Terus kami pengin kopdaran. Jadilah aku ke Zeewolde untuk jumpa fans (hi....hi....hi.... norak ya). Yang jelas kemarin aku ke Zeewolde untuk bertemu dengan mbak Mutty dan keluarga. Baru pertama kali ke Zeewolde dan baru pertama kali ketemu dengan mbak Mutty.

Dari rumahku ke Zeewolde harus gonta-ganti kendaraan sampai 4 kali (jadi total aku pake 5 kendaraan yang berbeda). Dari rumah naik bis, terus ganti metro, terus naik kereta dari Rotterdam Alexander, terus ganti kereta di Amersfoort ke Harderwijk, dari Harderwijk dijemput mobil oleh mbak Mutty, kalau enggak aku harus naik bis lagi dan jalan. Kalau nggak biasa gonta-ganti kendaraan bisa teler. Sampai aku bilang: "Mbak rumahnya kok jauh banget to" Lha embuh itu, rumah mbak Mutty yang jauh atau rumahku yang jauh. he...he...he...

Kebetulan mbak Mutty pinter masak, jadi aku kopen alias terurus. Begitu datang sudah digorengin lumpia. Makan siang pake ikan (dua macem lagi ikannya, cuma lupa namanya. Sing penting enak), sambel sereh yang uenak, lalap dan sayur blendrang (blendrang kan makin enak to kalau sudah 2 hari).

Terus aku ngajari mbak Mutty bikin account di MP. Padahal yang ngajari dan yang diajari juga sama-sama begonya. he...he...he...

Pulangnya malah sempat dibikinin martabak dan disuruh mbontot bawa pulang. Wis jan ngisin-isini alias memalukan. Datang nggak bawa apa-apa, perginya malah mbontot. he...he...he....Tapi kata Leo, martabaknya enak.

Terimakasih ya mbak Mutty atas penerimaannya yang hangat. Oh ya, nggak ada fotoku karena waktu aku yang di-foto, malah nggak terekam (dan aku juga lupa nge-cek waktu itu). Lha embuh itu, mungkin aku kurang fotogenik, jadi kamera saja takut moto aku.

Saturday, 17 March 2007

Kebablasan....

Aku heran betul, kenapa banyak orang Belanda yang muales banget mengucapkan huruf "n" pada akhir sebuah kata. Jadi misalnya kata "lopen" (berjalan), mereka mengucapkan "lope", atau "krimpen" (mengkerut), mereka ucapkan "krimpe" dan masih banyak lagi kata-kata yang berakhiran dengan "n" karena kata kerja mereka memang aku lihat menggunakan "en" pada akhir kata seperti zwemmen/berenang, geven/memberi, zingen/menyanyi, lezen/membaca,  dsb.


Ketika aku tanya Leo tentang hal ini, dia bilang "ya... itu kan sekedar dialek". Tapi buat aku yang orang asing, awalnya ya rada bingung juga walaupun lama-lama terbiasa. Cuma kok yo puelit (atau males?) banget to, wong ya cuma kurang 1 huruf saja kok nggak mau ngucapin. Lha mbuh itu, pelit sama males kok nggak ada bedanya.


Kosok balen atau kebalikan dengan orang Jawa yang sangat loma (generous?). Saking nggak pelitnya, wong Jowo suka banget ngimbuhi (menambahi) huruf terutama untuk menyebut kota. Misalnya menambahi huruf "m" pada kota yang berawalan huruf "B" sehingga tidak jarang orang Jawa mengucapkan mBlitar, mBandung, mBogor, mBekasi, mBanjar, mBojonegoro, mBanyuwangi dsb. Atau menambah huruf "n" untuk nJember dan nJombang. Bahkan Parti mengucapkan Jakarta menjadi nJakarta.  Wis....jan ngrusak kosa kata tenan. Tapi rumangsaku (perasaanku), penambahan huruf "m" tersebut membuat suatu kata menjadi luwes untuk diucapkan dan didengar.


Ketika kami pergi ke Blitar tahun 2004, aku bilang sama Leo kalau orang Jawa sering mengucapkan mBlitar instead of Blitar. Dia berkomentar:


"So........ we, Javanese, pronunce it as mBlitar instead of Blitar?"


Leo memang suka pakai istilah "we, Javanese" setiap kali ada hal yang menurut dia aneh atau lucu yang berkaitan dengan Jawa baik itu guyonannya atau hal-hal lainnya. Dari situ, Leo kemudian belajar mengucapkan kata-kata mBogor, mBandungan, mBekasi dsb.


Cuma kok begitu kami balik lagi ke Belanda, dia belajarnya te ver (too far) alias kebablasan. Tiba-tiba dia mengucapkan kota-kota di Belanda yang berawalan huruf B dengan menambahi huruf "m". Tiba-tiba dia bilang: mBreda, mBrabant, mBarendrecht dsb.


E...lha bahaya ini......aku harus nyetop ngajari yang salah kaprah. Rak yo pusing aku nanti kalau tiba-tiba dia mengucapkan ngAmsterdam untuk Amsterdam atau nDen Haag untuk Den Haag. Kalau kedengaran pihak IND atau Immigratie- en Naturalisatiedienst (Immigration and Naturalisation Service), jangan-jangan verblijfsvergunning (stay permit) ku dicabut gara-gara aku dituduh merusak kosa kata Londo. Rak yo cotho tenan aku.