Waktu itu kami sedang membicarakan tentang kopi. Ingatan kami melayang pada kunjungan kami ke Portofino Itali beberapa tahun yang lalu. Waktu itu kami bertemu dengan seorang Belanda yang mengeluh tentang mahalnya harga kopi yang mencapai 6 Euro secangkir kuecil. Sampai-sampi dia tanya ke pelayan cafe:
"Are you kidding?"
"No ma'am...it is true...6 euro per cup..."
Portofino memang daerah mahal karena banyak sekali yachts dan kapal layar yang berlabuh di sana. Saking mahalnya sampai-sampai sulit mencari restaurant yang memasang tarif. Jadi kalau nggak punya kantong tebal, jangan sok gaya masuk ke restaurant dan pesen macem-macem. Buat pemilik yacht yang harganya ratusan ribu sampai jutaan euro, harga secangkir kopi yang cuma 6 euro nggak ada artinya.
Kami sendiri nggak pusing dengan harga kopi karena kami nggak minum kopi.
Aku bilang sama Leo:
"Even if we are rich....we will never ever buy a cup of coffee there....First, because we don't drink coffee..."
Belum sempat aku ngomong second, Leo sudah ketawa ngakak.
"Kok ketawa sih?"
"Lha gimana nggak ketawa. Alasanmu nggak beli kopi di Portofino kok karena we don't drink coffee..."
"Lho kan betul, kita kan memang nggak minum kopi...anytime we drink coffee, we have 'maag' problem. So, we have decided not to drink coffee. Ja, toch?"
"Iya betul, we don't drink coffee. Tapi walaupun nggak di Portofino, kita kan tetap saja nggak minum kopi...."
"So.............?!?!?!?!"
"Itu kan sama saja kamu ngomong, you become a vegetarian because you don't like meat, not because you want to protect animal rights. In this context, you are not an activist but an opportunist....."
Lho kok malah menuduhku sebagai seorang opportunist, wong dia belum dengar my second, third, forth, fifth reasons.....
Second....we don't like the taste of coffee...it is bitter....
Third.......we are Dutch...so, we have to be stingy...ha....ha...ha...just kidding
Fourth....
Catatan: gambar yang aku pasang adalah salah satu sudut Portofino