Rasanya nggak percaya kalau HP kesayanganku ilang waktu kami di Jakarta. Kemungkinan besar ilang di BSD, mungkin jatuh, mungkin lupa naruh waktu beli sesuatu atau mungkin dicuri orang. Sampai-sampai semua orang dikerahkan untuk mencari termasuk ibu, adik, mbak Ine dan lain-lain. Tapi tetap saja nggak ketemu. Terimakasih ya bagi yang sudah berusaha nyariin HP ku.
Merk Siemens tipe ME45. Warna orange. HP tersebut memang sebetulnya sudah agak rusak. Pernah screen displaynya nggak jalan. Jadi aku memang harus ganti HP, tapi kenapa harus ilang. Aku beli sekitar tahun 2002. Nggak ada fasilitas MMS. Yang aku sukai adalah selain phone book, tipe tersebut punya address book 500 yang multiply. Jadi 1 address book bisa untuk nyimpen nomor telpon rumah, nomor telpon kantor, nomor HP, nomor fax, alamat, e-mail, dan url.
Sampai di Belanda, Leo berusaha mengajukan claim ke asuransi. Siapa tahu diganti. Kami sih nggak terlalu optimis karena nggak ada bukti, nggak pake surat dari polisi segala. Lha mau ke polisi juga males. Paling HP tersebut kalau dijual nggak bakalan laku Rp. 500 ribu, wong yang tipe baru saja yang fasilitasnya jauh lebih lengkap harganya sekitar Rp. 900 ribu-an. Kalau ke polisi, selain hilang waktu dan energi, bisa juga mengeluarkan biaya (paling enggak biaya transport kalaupun nggak pake biaya "administrasi")
Leo menulis ke asuransi kalau HPku yang ilang bernilai 40 Euro dan masih ada pulsa di dalamnya sebesar 40 Euro. Kami sudah sepakat kalau nggak diganti ya sudah, namanya nasib. Eh....lha kok nggak sampai 2 minggu kami diganti 80 Euro walaupun nggak pake surat kehilangan dari polisi segala. Horeeeee........lumayan....alhamdulillah.....
Walaupun sudah diganti, tetap saja aku masih merasa kehilangan. Pertama aku kehilangan HP kesayanganku, walaupun kuno tapi tetap saja berjasa sudah menghubungkan aku dengan belahan dunia lain. Kedua, aku kehilangan semua data. hiks...hiks...hiks..., jadi harus mulai lagi dari awal.
Kehilangan HP bisa beli baru lagi, data-data nomor telpon dan sejenisnya bisa diganti, bisa tanya lagi ke keluarga dan teman-teman. Tapi ada satu yang sampai sekarang masih aku sesali karena HP tersebut ilang. Data itu adalah pesan terakhir dari almarhum Munir yang tersimpan dalam inbox.
Sehari sebelum Munir berangkat ke Belanda, aku telpon dia meminta dia untuk mengirim sms tentang no penerbangan pesawat Garuda yang akan ditumpangi. Nggak beberapa lama, dia kirim sms ke aku. Keesokan harinya aku menjemput dia di Schiphol airport, dan aku masih ingat betapa histerisnya aku ketika mendapati dia terbaring di mortuarium dalam keadaan tidak bernyawa lagi.
Pesan Munir tersebut masih tersimpan di HPku, sampai kapanpun aku nggak akan hapus. Tapi kenapa HP tersebut harus ilang? Kenapa aku nggak upload ke komputer, kenapa aku dulu nggak sempat menulis ulang pesannya. Kenapa aku nggak sempat menuliskan peristiwa itu. Dan banyak "kenapa" yang muncul di kepalaku. Rasa sesal itu masih aku rasakan.
Seorang teman menasihatiku: "Mungkin sudah saatnya kamu melepaskan. Kamu tulis saja peristiwa itu langsung dari pengalaman. Dan itu penting"
Aku pikir temanku benar. Aku harus menulis apa yang aku alami waktu itu kalau tidak, aku nggak akan punya tulisan tentang Munir, seorang sahabat bagi mereka yang teraniaya dan terpinggirkan. Sudah bertahun-tahun aku cuma bermimpi untuk menuliskan pengalaman tersebut, tapi nggak pernah terjadi. Sekarang saatnya aku harus menulis tentang seorang Munir dari sudut pandangku, dari pengalamanku bergaul dengan dia. Selamat jalan Munir.....
Catatan: gambar yang aku posting adalah HP baruku yang beli di Indonesia. Kalau ada yang nemuin HPku yang ilang dulu, tulung ya, kabari aku (masih berharap juga nih....)....terimakasih..........