Saturday, 16 June 2007

Membunuh waktu dengan menonton souvenirs...


Selain Asterix, Tintin adalah favoritku. Makanya aku nggak menyia-nyiakan kesempatan untuk potret di dekat Tintin.

Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Untuk membunuh waktu sambil menunggu keberangkatan, masuklah kami dari satu shop ke shop lainnya di Schiphol airport.

Leo lebih tertarik pada toko-toko elektronik. Setelah muter-muter melihat kamera dan sebagainya aku pergi sendiri ke toko-toko souvenirs. Dia memilih duduk membaca majalah tentang komputer yang dia bawa dari rumah.

Aku selalu tertarik melihat-lihat souvenirs yang cantik-cantik yang dipajang di toko-toko. Sayang mahal-mahal padahal sih pengin. Terus terang aku nggak pernah tertarik dengan toko-toko kosmetik dimanapun. Mbuh aku ini normal atau enggak sebagai perempuan. he...he...he...

Akhirnya aku nggak beli apa-apa di Schiphol (wong ya mahal) daripada kalau beli nanti pasti diledek Leo. Kata dia, wong koper sudah penuh souvenirs kok masih saja kurang. Kalau punya teman banyak kan pengin juga ya ngasih sesuatu buat mereka walaupun itu cuma gantungan kunci atau magnet kulkas. Untuk teman-teman ex-kantor aku ngasih coklat saja kemudian mereka potong-potong dan bagi-bagi sendiri.

Sehari sebelumnya kami sudah berantem masalah berat koper. Dia ini jan wong Londo tenan yang taat peraturan, kalau ketentuan 20 kilo per orang ya harus 20 kilo, nggak boleh lebih bahkan se-ons pun. Nyebelin bener. Dia nggak mudeng cara pikirku sebagai orang Indonesia yang lebih fleksibel. Kalau lebih sekilo dua kilo kan nggak apa-apalah ya. Tapi dia ngotot harus kurang atau paling enggak maksimum 20 kilo. Karena nggak puas dengan perdebatan tersebut maka tanpa setahu dia, aku tambahi koperku lagi (padahal sejam sebelumnya sudah dia timbang koperku beratnya 19,5 kilo. he...he...he...).

Waktu di timbang di airport total bawaan kami berdua adalah 41 kg dan diloloskan oleh petugas KLM. Tuh kan boleh...... aku bilang juga apa.....tapi aku yakin, waktu pulangnya pasti dia ngomel-ngomel lagi. Dan kenyataannya memang begitu. Tapi karena sudah langganan, maka aku sudah kebal. Next trip pasti berantem lagi masalah berat koper.

Ini adalah sebagian foto-foto yang aku ambil di Schiphol.....ngambilnya juga pake nyuri-nyuri, takut ketahuan. hi...hi...hi....

Friday, 15 June 2007

Lembah Anai




Dari Kiambang, kami menuju lembah Anai. Di situ ada air terjun. Seneng juga ngelihat air jernih.

Di seberangnya ada rel kereta api yang dibangun pada jaman Belanda dulu. Terlihat masih kokoh. Heran ya, banyak rel dan bangunan jaman Belanda masih kelihatan kuat. Bandingkan dengan bangunan jalan atau sekolah yang dibangun sekarang, kok cepet banget rusaknya.

Kalau nggak salah guide kami mengatakan kalau rel ini sudah tidak digunakan lagi beberapa tahun belakangan ini. Dulu digunakan untuk mengangkut batu bara, tapi berhubung persediaan batu bara sudah tinggal sedikit, maka pengangkutan batu bara hanya menggunakan truk dan bukan menggunakan kereta lagi.

Kabarnya untuk menggalakkan pariwisata, rel ini akan digunakan lagi. Akan ada kereta wisata yang menggunakan rel tersebut. Aku bisa bayangkan pemandangan sepanjang rel tersebut akan cantik sekali. Kita bisa lihat pemandangan Bukit Barisan yang cantik dari jendela kereta. Apalagi kalau keretanya nyaman. Aduh....jadi pengin naik kereta nih....

Thursday, 14 June 2007

Melepas lelah di Kiambang




Ini foto-foto kami di Kiambang (perjalanan antara airport Padang dan Bukit Tinggi). Kami diajak mampir oleh guide kami di sebuah warung untuk memotret pemandangan. Mata sebetulnya masih ngantuk karena kami bangun jam 03.00 untuk mengejar penerbangan Air Asia jam 06.35. Tapi melihat pemandangan yang indah, membuat mata kami terbuka, rasanya segar.

Kami memesan kelapa muda. Enak seger sekali. Nggak pake es, langsung diminum dari buah kelapanya. Terasa manisnya air kelapa murni. Daging kelapanya juga masih muda. Segar rasanya.

Di sepanjang perjalanan kami lihat banyak sekali pohon kelapa. Jadi nggak heran kalau masakan mereka biasanya pake santen yang sangat kental (maklum kelapa buanyak sekali). Guide kami bercerita kalau kelapa tersebut dipetik oleh monyet besar. Mereka memang betul-betul dilatih untuk itu. Sayang kami tidak sempat melihat mereka beraksi.

Kebetulan di depan warung ada monyet. Leo gatel rasanya kalau nggak motret monyet. Jadilah ada potret monyet di sini

Wednesday, 13 June 2007

KLM jan nggak kreatif babar pisan......

Ini pengalaman naik KLM waktu balik ke Belanda. Wis jan makanannya jan blas nggak kreatif. Lha piye, dari Jakarta ke Kuala Lumpur dikasih bakmi goreng. Setelah transit di Kuala Lumpur selama 30 menit kemudian kami terbang lagi ke Amsterdam, mosok disuguhi bakmi goreng lagi. Biasanya rak yo ada menu pilihan ya. Lha ini kok bakmi goreng lagi. Wis jan KLM dalam hal makanan ora kreatif blas babar pisan!!!!! Lha itu yang salah cateringnya atau KLM nya mbuh nggak ngerti.

Sudah gitu teh yang disajikan wis adem (dingin). Sebelumnya minta teh dikasih kopi. Ronde selanjutnya malah dikasih teh wis adem. Mau protes gimana, wong pramugarinya sudah sibuk melayani penumpang lain. Kalau dipikir, gitu aja kok protes. Baru waktu breakfast ada pilihan antara pancake atau telur dadar. Minumannya kali ini yo lumayan anget.

Geblegnya lagi, aku waktu sampai di rumah makan Indomie. Lha gimana, tiba di rumah hari Minggu, supermarket di Belanda kan nggak ada yang buka kalau hari Minggu (wis norak tenan). Sebelum berangkat waktu itu ditanya sama mami (ibu mertua), pengin dibeliin apa nanti waktu pulang. Aku bilang cuma minta melk dan roti. Aku pikir cukuplah buat ngganjel perut sehari sampai hari Senin menunggu supermarket buka. Akhirnya mami memang beliin melk dan brown bread sesuai pesananku dan sudah ditaruh beliau di kulkas kami. Thanks to mami yang sudah susah payah membelikan makanan buat kami.

Tapi ternyata, pulang dari Indonesia, perutku kolokan, roti saja nggak nendang, masih terasa laper. Dasar perut Jowo! Leo nggak masalah wong dia nggak pengin makan sama sekali (maklum dia kan kena diare). Akhirnya karena masih laper, bikinlah aku Indomie. Wis jan....rasanya kriting bener tubuhku, makan bakmi terus-terusan..... tapi apapun aku masih menganggap KLM nggak kreatif dalam hal makanan! 

Sebetulnya penginnya naik SQ, tapi Singapore Airlines muahal banget waktu kami search harga. Pokoknya waktu itu SQ paling muahal diantara maskapai penerbangan lainnya. Waktu itu harga tiket SQ lebih dari 1300 Euro per orang sedangkan KLM waktu itu paling murah (900 Euro per orang sudah termasuk pajak, dan menurut kami itu saja sudah mahal). Lha kok 2 minggu sebelum kami berangkat, kami lihat ada special offer, tiket SQ cuma 700 Euro sudah termasuk pajak. Sialan betul. Tapi ya gimana lagi, wong sudah kadung. Kami nggak bisa menunggu special offer karena Leo harus mengajukan cuti bulan Januari paling lambat. Jadi saat itu kami sudah harus mengambil keputusan. Ya sudahlah, sing penting slamet!

Catatan: gambar diambil di KL airport pada waktu berangkat (perjalanan Amsterdam-KL). Lha nggak tahu itu, catering yang dipake pada waktu balik ke Amsterdam apakah catering dari JKT atau dari KL, kok nggak kreatif sama sekali. Atau memang KLM yang nggak kreatif, ngasih makanan kok bakmi melulu.

Tuesday, 12 June 2007

Naik Air Asia......Leo: "is this a good sign or a bad sign?" (Part 2)

Karena pesawat murah, maka perusahaan ingin menekan semua biaya serendah mungkin. Misalnya untuk tiket, penumpang bisa pesen lewat internet. Ini artinya mereka tidak perlu menyediakan orang khusus untuk melayani pemesanan tiket. Walaupun sebetulnya kalau mau pesan tiket ke sana juga bisa, tapi ngapain susah-susah telpon atau pergi ke sana segala kalau sudah bisa dilakukan secara online. Setelah pesan lewat internet, beberapa detik kemudian kami mendapat konfirmasi lewat e-mail yang dilampiri dengan itinerary travel. Itinerary travel ini dapat diprint sendiri di rumah. Jadi kalau suatu kali ilang, masih bisa nge-print lagi beberapa kali sak sukanya.  

Dengan menunjukkan itinerary travel dan identitas diri waktu check in, kami memperoleh boarding pass. Waktu itu aku sudah membayangkan boarding pass yang akan kami terima kayak boarding pass pesawat-pesawat lain yaitu dicetak di sebuah kertas tebal kayak karton, terus di belakangnya ada block item memanjang kayak yang ada di credit card atau ATM.

Lha ternyata boarding pass yang kami terima cuma selembar kertas tipis, kayak struk supermarket. Itu saja di-jegleg sama petugasnya di itinerary travel yang kami print dari rumah. Wis jan pengiritan habis-habisan. hi...hi...hi... Yo wis lah, wong namanya tiket murah kok minta macem-macem. Yang penting slamet, mau boarding pass nya dicetak di kertas mewah ataupun di kertas koran, yang penting ada. Cuma kalau dicetak di kertas tipis kayak struknya supermarket, rak yo bisa cepet ilang ya tulisannya.

Karena nggak ada nomor seat, maka setiap penumpang harus mencari seat yang diinginkan. Waktu itu adikku sudah kasih tahu, kalau naik pesawat murah, orang akan rebutan untuk naik pesawat. Lha yo mungkin pake sikut-sikutan segala kali ya kayak mau naik KRL (sudah bayangin yang terjelek. he...he...he...).

Ternyata kenyataannya tidak sejelek itu. Walaupun penumpang buru-buru (takut ketinggalan pesawat kali ya?), tapi nggak pake sampai sikut-sikutan dan rebutan yang keterlaluan. Menurutku sih cukup tertiblah. Mungkin karena sebagian penumpang sudah sepuh (tua) jadi lebih kalem, mungkin karena nggak semua seat terisi jadi penumpang lebih leluasa memilih, mungkin masih terlalu pagi (wong terbangnya saja jam 06.35 dari Jakarta) apalagi ditambah belum sarapan jadi belum ada tenaga untuk dorong-dorongan, mungkin ada yang baru kali itu naik pesawat (lha gimana mau rebutan wong ngelihat dalamnya pesawat saja belum pernah), mungkin karena kami naik dari belakang dan memilih duduk di belakang sementara orang lain maunya duduk di depan jadi kami nggak tahu bagaimana orang lain berebutan tempat duduk. Tapi yang jelas semua penumpang dapat tempat duduk, kalau perlu malah dobel kalau seat sebelahnya kosong. 

Ada beberapa hal unik yang saya temui di Air Asia yang belum pernah saya temui di pesawat lain. Misalnya sandaran tempat duduknya rendah. Buat orang Indonesia atau Asia lainnya sih nggak masalah karena masih bisa menyandarkan punggung sampai dengan kepala. Tapi bagi Leo yang tinggi, dia tidak bisa menyandarkan seluruh punggungnya. Aku pengin ketawa melihat dia duduk di seat Air Asia, kayak duduk di bis kota PPD saja. he....he....he.... Tapi untungnya perjalanan cuma memakan waktu 1 jam 40 menit, jadi ya tidak terlalu masalah buat dia. 

Hal lain lagi adalah pengumuman tentang pentingnya mematikan pesawat seluler. Perasaan naik pesawat-pesawat lain, nggak pernah pramugarinya mengumumkan sampai berkali-kali supaya penumpang mematikan mobile phone atau HP nya. Biasanya pengumuman cuma sekali to, apalagi kalau ada videonya. Tapi kalau naik Air Asia, pengumuman ini akan terus diulang berkali-kali, bosan atau tidak bosan ya harus didengar wong kita punya kuping. Pengumuman berulang kali ini nggak hanya terjadi pada waktu perjalanan Jakarta-Padang, tapi juga waktu baliknya. Waktu itu aku sampai berpikir, apakah orang Indonesia begitu tidak disiplinnya, sampai-sampai pengumuman untuk mematikan HP diulang berkali-kali.

Karena saking kepinginnya mereka menekankan segi keselamatan, sampai-sampai di tersedia kartu tentang bagaimana prosedur check dan re-check mesin dsb dilakukan. Biasanya kan yang tersedia cuma kartu tentang prosedur penyelamatan dalam keadaan darurat. Di sini tersedia juga kartu check dan re-check mesin dan peralatan lainnya yang diletakkan di kantong di depan tempat duduk. Aku ya baca juga walaupun sekilas, panjang banget jé. 

Yang paling unik dari semuanya dan belum pernah aku alami di pesawat lain adalah pengumuman yang disampaikan oleh pramugari sebelum tinggal landas. Seperti yang terjadi di pesawat lain kan ada demo tentang petunjuk tentang apa yang harus dilakukan dalam keadaan darurat. Pake bahasa Indonesia dan kemudian diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Tapi kalimat terakhir yang diucapkan oleh pramugari sebelum take off, belum pernah aku dengar di pesawat lainnya.

Waktu pramugari mengucapkan dalam bahasa Indonesia, Leo masih tidak bergeming, dia pikir biasa saja kayak pengumuman di pesawat-pesawat lainnya. Tapi begitu pramugari mengucapkan dalam bahasa Inggris yang bunyinya kira-kira begini:

"Ladies and gentlemen, let's pray together based on your religion and belief"

Langsung Leo nengok ke aku. Dia tanya: 

"Is this a good sign or a bad sign?"

Waduh...ya nggak tahu aku mau jawab apa, wong namanya baru kali ini naik Air Asia. Terus terang baru kali itu aku mendengar pengumuman seperti ini. Aku pernah naik berbagai macam pesawat termasuk Malaysian Airlines tapi nggak pernah mereka mengumumkan seperti ini. Mungkin maksudnya baik, tapi terus terang orang kan jadi punya pikiran macem-macem, ini pesawat aman atau enggak ya.....

Yang membuat suasana sendu adalah sebelum ada pengumuman yang meminta penumpang untuk berdoa, ada seorang penumpang yang mengaji (membaca Al Qur'an) di pesawat yang gaungnya terdengar oleh setiap orang. Waktu itu suasana pesawat sendu dan sepi. Lha setelah selesai ngaji, kok ada pengumuman untuk berdoa sebelum pesawat tinggal landas. Bisa dibayangin to suasananya, gimana gitu.

Waktu aku cerita ke adik, dia malah nanya:

"Terus setelah itu ada lagu gugur bunga?"

"Ah...kamu ini nakut-nakutin aja...."

Waktu aku cerita ke teman-teman, mereka nggak bisa menahan tawa.

Mereka bilang:

"Orang nggak usah disuruh berdoa, pasti sudah berdoa...."

Mungkin mereka mau menambahkan: "apalagi naik pesawat murah....harus ekstra doanya...."

Ternyata pengumuman untuk berdoa ini diulang lagi pada waktu kami balik dari Padang ke Jakarta. Jadi cuma faktor kebiasaan saja.

Tapi yang jelas adalah tinggal landas dan mendarat dilakukan secara mulus. Bahkan aku bisa merasakan landing nya di Padang alus sekali. Waktu landing di Jakarta, aku tidak terlalu memperhatikan apakah landingnya alus sekali atau tidak. Wong kami berdua waktu itu sama-sama terserang diare, jadi ya kami lebih memikirkan perut daripada halus-kasarnya landing.

Catatan: tulisan ini saya revisi sedikit soalnya tulisan sebelumnya rancu antara e-ticket dan itinerary travel. Yang bisa diprint berkali-kali di rumah adalah itinerary travel. Menurut Leo, e-ticket adalah tiket yang ada didalam komputer (bukan tiket fisik dalam bentuk karton ataupun kertas). Yang menghubungkan antara e-ticket dan kita adalah nomor passport karena pada waktu kita pesan e-ticket, kita ditanya nomor identitas kita. Jadi logikanya, kalau kita setor muka di airport dengan membawa passport sudah cukup untuk memperoleh boarding pass. Ini menurutku lho ya. Itinerary kan cuma sekedar jadwal bepergian saja walaupun di dalamnya memuat hal-hal seperti booking number, nama, alamat, tujuan, jadwal keberangkatan dan kepulangan, no flight, pembayaran dsb. Itinerary travel ini bisa kita print berkali-kali di rumah (atau di tempat lain) sesuka kita.  

 

 

   

 

Naik Air Asia.....aman atau tidak aman? (Part 1)

Ini pengalaman kami naik Air Asia Indonesia. Sebetulnya pemilihan Air Asia berawal dari kebingungan kami memilih pesawat yang aman. Lha gimana, Adam Air pernah kecelakaan. Garuda yang harga tiketnya mahalpun pernah juga kebakaran, jadi nggak ada jaminan kan? Makanya pusing juga memilih pesawat untuk ditumpangi. Masak mau naik pesawat telpon?

Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya kami memilih Air Asia dalam perjalanan kami dari Jakarta ke Padang pp. Kalau dari websitenya sih kelihatan profesional (www.airasia.com). Mereka katanya mementingkan keselamatan walaupun tiket yang mereka jual harganya murah. Apakah betul mereka aman atau tidak, yang tahu kan mereka, dan Tuhan tentu saja. Kalau pengin tahu, ya silahkan saja coba sendiri. Iya to?

Pertimbangan lainnya adalah bahwa penumpang bisa memesan tiket lewat internet. Bahkan Garudapun belum punya fasilitas ini. Terus terang aku heran, perusahaan sebesar Garuda masih belum bisa melayani konsumennya melalui internet. Kalah jauh dibandingkan dengan KLM atau Singapore Airlines atau pesawat-pesawat internasional lainnya.  

Pemesanan lewat internet betul-betul memudahkan bagi kami yang tidak tinggal di Indonesia tapi ingin melakukan perjalanan domestik. Tinggal klak-klik, bayar dengan credit card, nggak ada semenit sudah ada konfirmasi melalui alamat e-mail kami. Itenerary sekalian dilampirkan dan bahkan sudah ada bar code nya segala. Cara ini betul-betul menghemat waktu dan energi. Biasanya untuk pemesanan tiket domestik, kami harus minta tolong keluarga atau teman untuk menghubungi travel agent, minta mereka untuk transfer uang dulu untuk pembayaran dsb. Pokoknya selain merepotkan kami, juga merepotkan mereka.

Harga tiket juga relatif nggak mahal. Sebagai gambaran. Kami membayar Rp.884.600,- untuk dua orang untuk perjalanan Jakarta-Padang pp. Harga ini sudah termasuk tiket, pajak, VAT,  dan insurance. Bandingkan dengan Garuda yang dengan harga segitu hanya untuk 1 orang saja. Harga tiket Garuda tersebut sudah kami cek baik lewat website mereka maupun 2 buah travel agent di Indonesia. Apakah dengan harga lebih mahal, Garuda lebih aman? Silahkan analisis sendiri, ambil kesimpulan sendiri. Yang jelas di negara-negara EU, pesawat-pesawat murah seperti Transavia, Air Berlin dll harus tetap mematuhi standard keselamatan internasional otherwise mereka nggak boleh beroperasi. Nah kalau di Indonesia, aku nggak tahu, apakah makin mahal harga tiket, akan makin slamet.

Untuk sementara, bagian 1 ini saya akhiri dulu. Gambar yang aku pasang adalah potret Leo di depan Air Asia waktu kami mendarat di Padang.

         

Sunday, 10 June 2007

I am back....

Akhirnya saya balik lagi. Apa kabar teman-teman? Semoga dalam keadaan sehat dan bahagia. Saya baru balik kemarin. Masih lumayan capek, tapi seneng rasanya mudik. Cerita menyusul ya.

Yang jelas seneng sekali bisa ketemu keluarga dan teman-teman di tanah air. Rasanya terharu, teman-teman yang sudah lama tidak bertemu mengorbankan waktu mereka untuk sekedar bertemu kami. Diantara kesibukan mereka, kami masih bisa bertemu mereka di saat lunch atau dinner. Sampai-sampai Leo bilang: "Orang Indonesia kalau ketemu artinya makan-makan ya?" Lha kalau bukan itu, terus apa lagi coba?

Ada juga teman-teman MP yang belum pernah ketemu, tapi menyediakan waktu untuk ketemu. Terimakasih saya ucapkan untuk mbak Ine, Jo beruang, MonicaNining, Stella dan teman-teman lainnya. Rasanya senang bisa berkunjung ke pasar tradisional modern BSD bersama mbak Ine and the gank, belajar bikin roti dari Jo, belajar bikin bakpao dari Stella, tour kuliner di Asemka dll. Pokoknya nggak pernah akan terlupakan kenangan tersebut.

Terimakasih untuk mbak Ine yang sudah kasih cetakan putu mayang dan loyang hati (itu cetakan kue kering atau apa mbak? Maaf baru pertama kali ngelihat, belum tahu kegunaannya). Terimakasih untuk Haley yang sudah bersusah payah khusus dari Solo mengirim cangkir dan teko ndeso yang saya idam-idamkan dari dulu. Selain cangkir dan teko, Haley juga kirim serbat dan teh untuk mat-matan. Thanks to Jo yang sudah berat-berat bawain titipannya Haley dan juga bawain bumbu pecel Madiun dan kerupuk gendar. Aku akan goreng tuh Jo krupuknya. Bumbu pecelnya mau aku eman-eman, wong namanya pecel Madiun asli.

Terimakasih juga untuk Ayu yang sudah menyediakan waktu untuk ketemu. Ayu beserta suaminya (Stephen) dan putra mereka (Connor) sempat ketemu menjelang saat-saat terakhir kami di Indonesia. Mereka merencanakan untuk ke Belanda tahun depan. Ditunggu ya kedatangannya. 

Walaupun nggak sempat ketemu, tapi masih sempat telpon-telpon an dengan Fitri Rahmani yang kebetulan juga mudik. Seperti biasa blio didampingi oleh baby Anissa. Sempat ngobrol panjang lebar dari mulai loyang sampai dengan green card dan visa.

Sayang kami nggak sempat ketemu Andra. Tapi siapa tahu lain kali kita bisa bertemu ya. 

Pokoknya intinya seneng walaupun kami kena diare dan saya ketambahan muntah-muntah. Mungkin Belanda sudah terlalu steril atau karena memang kami terlalu capek, jadilah kami kena diare. Sampai sekarang Leo masih diare. Kalau aku sih sudah sembuh dari dulu.

Oh ya, satu lagi. Aku kehilangan HP, sampai-sampai semua orang dikerahkan untuk mencari termasuk mbak Ine. Sebetulnya mobile phone tersebut sudah agak rusak, kadang screen display nya nggak nampak. Memang harus diganti. Terus terang aku sayang banget sama hp ku itu, walaupun model kuno, tapi bisa menyimpan data banyak. Tapi kok ya harus hilang sebelum aku pindahin semua datanya. Akhirnya aku kehilangan data yang cukup banyak termasuk nomor telpon mbak Esther, Upi dan Devi. Akhirnya aku nggak bisa kontak-kontak mereka. Maaf ya teman-teman.  

Terimakasih atas doa teman-teman semua sehingga kami tiba selamat sampai tujuan dan kembali lagi ke Belanda dengan selamat pula. Cerita lainnya menyusul ya....