Showing posts with label trip. Show all posts
Showing posts with label trip. Show all posts

Monday, 11 January 2010

Paris, 9 Januari 2010




Hari kedua turun salju basah. Dingin sekaleee. Jalanan lumayan licin. Kami berjalan dengan sangat hati-hati takut kepleset. Hari itu kami memutuskan untuk mengunjungi Museum Louvre. Kegiatan indoor ini, selain untuk menikmati karya-karya para maestro, juga sekalian menghangatkan badan.

Setelah dari Louvre, kami ke Notre Dame. Kebetulan salju sudah berhenti mengguyur Paris. Tapi tetep duingin euy....Udara yang dingin membuat kami kelaparan dan akhirnya kami makan di Greek restaurant. Malamnya kami jalan-jalan di sepanjang Montmatre.

Kalau kurang gede ngelihat gambarnya, tinggal di zoom in ya...

Paris, 8 Jan 2010


Terlihat kecil di bawah Eiffel yang tinggi menjulang

Ini bener-bener kurang kerjaan, dingin-dingin, turun salju, jalan licin malah jalan-jalan. Kebetulan dapat tiket kereta murah karena pesennya sudah lama. Hotel juga sudah dipesen. Ngga mengira kalau Januari ini Europe is frozen.

Tapi yang jelas asyik banget menjelajahi kota tua ini bersama teman-teman. Sayang Upi ngga bisa ikutan karena blio sakit. Makasih Upi for your support.

Thursday, 3 July 2008

Ke Maastricht


Seperti biasa norak di depan stasiun

Ini kelakuan ibu-ibu kalau sedang jalan meninggalkan bapak-bapak di rumah. Waktu itu ada aanbieding (speical offer) tiket kereta yang harganya relatif murah (10 Euro per tiket). Tiket ini bisa digunakan untuk naik kereta di seluruh Belanda pada selama satu hari pada periode tertentu tapi hanya bisa digunakan pada waktu weekend.

Akhirnya kami menggunakannya ke Maastricht (yang penting jauh). Dasar nggak mau rugi. hi...hi...hi...

Maastricht kota tua yang cantik. Sayang sekali waktu itu mendung. Malahan sempat hujan segala.

Ekani dan aku naik kereta dari Rotterdam Centraal sedangkan Dyah naik dari Den Bosch.

Ke Maastricht


Seperti biasa norak di depan stasiun

Ini kelakuan ibu-ibu kalau sedang jalan meninggalkan bapak-bapak di rumah. Waktu itu ada aanbieding (speical offer) tiket kereta yang harganya relatif murah (10 Euro per tiket). Tiket ini bisa digunakan untuk naik kereta di seluruh Belanda pada selama satu hari pada periode tertentu tapi hanya bisa digunakan pada waktu weekend.

Akhirnya kami menggunakannya ke Maastricht (yang penting jauh). Dasar nggak mau rugi. hi...hi...hi...

Maastricht kota tua yang cantik. Sayang sekali waktu itu mendung. Malahan sempat hujan segala.

Ekani dan aku naik kereta dari Rotterdam Centraal sedangkan Dyah naik dari Den Bosch.

Ke Maastricht


Seperti biasa norak di depan stasiun

Ini kelakuan ibu-ibu kalau sedang jalan meninggalkan bapak-bapak di rumah. Waktu itu ada aanbieding (speical offer) tiket kereta yang harganya relatif murah (10 Euro per tiket). Tiket ini bisa digunakan untuk naik kereta di seluruh Belanda pada selama satu hari pada periode tertentu tapi hanya bisa digunakan pada waktu weekend.

Akhirnya kami menggunakannya ke Maastricht (yang penting jauh). Dasar nggak mau rugi. hi...hi...hi...

Maastricht kota tua yang cantik. Sayang sekali waktu itu mendung. Malahan sempat hujan segala.

Ekani dan aku naik kereta dari Rotterdam Centraal sedangkan Dyah naik dari Den Bosch.

Monday, 5 May 2008

Ngabur bentar ke Alpen


Sungai es

Minggu lalu kami ngabur bentar ke Alpen. Kebetulan bukan peak season, jadi dapat hotel yang relatif murah. Beberapa tahun aku tinggal di Belanda, baru kali ini kami bisa liburan berdua seperti ini. Maklum, semuanya serba mahal.

Cuma memang banyak tempat yang masih tutup (untuk alasan keamanan dan maintanance), jadi harus pinter nyari lokasi untuk dinikmati. Kami datang ketika winter sudah berlalu (salju sudah banyak yang leleh, tapi kami masih sempat naik ke atas untuk menikmati warna putihnya Alpen), musim semi belum begitu mulai (masih banyak pohon yang gundul), summer masih beberapa bulan lagi. Ketika kami meninggalkan Alpen, baru deh mulai terlihat hijau.

Buat kami, itu pengalaman yang sangat mengagumkan bisa menikmati ciptaan Yang Maha Agung. Rasanya kita amat sangat kecil diantara pegunungan yang luar biasa gedenya....

Ini beberapa foto diantaranya....Alpen memang sangat mengagumkan, dilihat dari dekat maupun jauh....

Sunday, 2 December 2007

Ketemu Zwarte Piet di Den Bosch


Cafenya laris banget, sampai banyak orang bela-belain ngantri untuk masuk dapat giliran...

Kemarin sebelum ke Utrecht, Ekani dan aku ke Den Bosch dulu untuk maen ke tempat Dyah. Kami bertiga kemudian ke centrum. Karena Sabtu kebetulan hari pasar, jadi lihat-lihat pasar dulu. Pengin cari tas tapi nggak ada yang cocok.

Kebetulan ketemu Zwarte Pieten yang sedang bagi-bagi hadiah untuk anak-anak. Tapi...kami nggak ikut kebagian. hiks...hiks...hiks.... Sinterklaas nya kebetulan nggak ada...mungkin masih sibuk di Spanyol. he....he...he...

Kebetulan Zwarte Pietennya kecil-kecil (untuk ukuran Belanda). Kami kemudian berfoto bersama mereka.

Selain ketemu Zwarte Pieten, kami ketemu Amnesty International. Mereka sedang mengumpulkan tanda tangan untuk mengirimkan petisi kepada pemerintah China. Ada seorang penduduk di sana yang dipenjara dan dipukuli karena menentang regulasi aborsi yang dijalankan oleh pemerintah (kan regulasinya katanya 1 keluarga cuma boleh punya 1 anak kan?). Petisi tersebut sebagai tanda protes supaya pemerintah menghentikan penyiksaan dan melepaskan orang tersebut. Nggak pake mikir lagi, langsung aja tanda-tangan...setelah itu, potret deh sama Mevrouw Amnesty International yang cantik.....

Setelah itu ke rumah Dyah dan disuguh mie ayam dengan bakso....aduh...sedap banget....uenak pokoknya, apalagi sudah lama nggak makan mie bakso kayak gitu....Jam 2 kami berangkat ke stasiun menuju Utrecht.

Ketemu Zwarte Piet di Den Bosch


Cafenya laris banget, sampai banyak orang bela-belain ngantri untuk masuk dapat giliran...

Kemarin sebelum ke Utrecht, Ekani dan aku ke Den Bosch dulu untuk maen ke tempat Dyah. Kami bertiga kemudian ke centrum. Karena Sabtu kebetulan hari pasar, jadi lihat-lihat pasar dulu. Pengin cari tas tapi nggak ada yang cocok.

Kebetulan ketemu Zwarte Pieten yang sedang bagi-bagi hadiah untuk anak-anak. Tapi...kami nggak ikut kebagian. hiks...hiks...hiks.... Sinterklaas nya kebetulan nggak ada...mungkin masih sibuk di Spanyol. he....he...he...

Kebetulan Zwarte Pietennya kecil-kecil (untuk ukuran Belanda). Kami kemudian berfoto bersama mereka.

Selain ketemu Zwarte Pieten, kami ketemu Amnesty International. Mereka sedang mengumpulkan tanda tangan untuk mengirimkan petisi kepada pemerintah China. Ada seorang penduduk di sana yang dipenjara dan dipukuli karena menentang regulasi aborsi yang dijalankan oleh pemerintah (kan regulasinya katanya 1 keluarga cuma boleh punya 1 anak kan?). Petisi tersebut sebagai tanda protes supaya pemerintah menghentikan penyiksaan dan melepaskan orang tersebut. Nggak pake mikir lagi, langsung aja tanda-tangan...setelah itu, potret deh sama Mevrouw Amnesty International yang cantik.....

Setelah itu ke rumah Dyah dan disuguh mie ayam dengan bakso....aduh...sedap banget....uenak pokoknya, apalagi sudah lama nggak makan mie bakso kayak gitu....Jam 2 kami berangkat ke stasiun menuju Utrecht.

Ketemu Zwarte Piet di Den Bosch


Cafenya laris banget, sampai banyak orang bela-belain ngantri untuk masuk dapat giliran...

Kemarin sebelum ke Utrecht, Ekani dan aku ke Den Bosch dulu untuk maen ke tempat Dyah. Kami bertiga kemudian ke centrum. Karena Sabtu kebetulan hari pasar, jadi lihat-lihat pasar dulu. Pengin cari tas tapi nggak ada yang cocok.

Kebetulan ketemu Zwarte Pieten yang sedang bagi-bagi hadiah untuk anak-anak. Tapi...kami nggak ikut kebagian. hiks...hiks...hiks.... Sinterklaas nya kebetulan nggak ada...mungkin masih sibuk di Spanyol. he....he...he...

Kebetulan Zwarte Pietennya kecil-kecil (untuk ukuran Belanda). Kami kemudian berfoto bersama mereka.

Selain ketemu Zwarte Pieten, kami ketemu Amnesty International. Mereka sedang mengumpulkan tanda tangan untuk mengirimkan petisi kepada pemerintah China. Ada seorang penduduk di sana yang dipenjara dan dipukuli karena menentang regulasi aborsi yang dijalankan oleh pemerintah (kan regulasinya katanya 1 keluarga cuma boleh punya 1 anak kan?). Petisi tersebut sebagai tanda protes supaya pemerintah menghentikan penyiksaan dan melepaskan orang tersebut. Nggak pake mikir lagi, langsung aja tanda-tangan...setelah itu, potret deh sama Mevrouw Amnesty International yang cantik.....

Setelah itu ke rumah Dyah dan disuguh mie ayam dengan bakso....aduh...sedap banget....uenak pokoknya, apalagi sudah lama nggak makan mie bakso kayak gitu....Jam 2 kami berangkat ke stasiun menuju Utrecht.

Saturday, 1 December 2007

Siapa mau nebeng limousine saya??????




Proyek Mega Berlian saja belum berhasil, berani-beraninya bergaya kayak gini. Sampai-sampai Leo geleng-geleng kepala sambil....ck....ck....ck....

Tadi Ekani, Dyah dan aku pergi ke Utrecht. Kebetulan ada wedding party di sana. Mungkin yang nikahan orang kaya karena banyak limousine di sana (walaupun sih biasanya sewaan, bukan punya sendiri).

Banyak orang ngerubungi mobil-mobil mewah ini, dan malah ada satu atau dua ada yang motret segala (ternyata bule sama juga noraknya kayak kita. he...he...he...). Waktu aku coba nyuri-nyuri motret, eh...lha kok malah dipanggil sama sopirnya. Disuruh foto bareng. Akhirnya jadilah fotoku nyender di Rolls-Royce. Sudah cocok belum aku jadi orang kaya? ha...ha...ha...

Setelah puas ngelihat mobil mewah (maklum nggak punya, jadi harus puas dengan ngelihat en nyender doang), kami meneruskan jalan-jalan. Ini beberapa gambar yang sempat dijepret.

Thursday, 29 November 2007

Panas nih dipamerin mulu.....


Ini di Asemka Petak Sembilan

Beberapa hari ini dipamerin gambar-gambar oleh bu Ine, bu Welly en bu Haley ...panas nih jadinya....(hi...hi..hi...emang dasarnya panasan). Gue juga punya foto-foto mirip gitu. Ini buktinya kalau nggak percaya (dasar tukang pamer....he...he...he...).

Ini foto-foto waktu mudik dulu. Dikomandoi oleh bu lurah aka bu Ine (terimakasih ya mbak Ine). Waktu itu rutenya BSD, terus ke Titan untuk belajar bakpao diajari oleh bu guru Stella dan belajar roti oleh bu guru Joice. Besoknya ke Asemka Petak Sembilan dan Mangga Dua.

Terimakasih teman-teman semua....that was one of the most wonderful mudiks I have ever had, walaupun sempat kecopetan juga....he...he...he...

Thursday, 22 November 2007

Wis jan nggak khidmat blas....




Bersama Upi, kami ke museum Louvre. Kalau nggak salah Louvre merupakan salah satu museum terbesar dan terlengkap di dunia karena guede banget dan koleksinya buanyak banget.

Waktu itu kebetulan memang hari libur, jadi banyak sekali pengunjung ke sana. Yang mengherankan bagiku adalah di sana orang boleh menjepret seenaknya bahkan dengan menggunakan blitz. Terus terang baru sekali ini aku mengunjungi museum dimana pengunjung boleh jeprat-jepret seenaknya menggunakan flash. Biasanya kan nggak boleh to karena untuk melindungi karya-karya yang sudah ratusan tahun usianya.

Karena pengunjungnya banyak, rasanya nggak khidmat menikmati lukisan-lukisan yang dipajang. Walaupun aku nggak mudeng masalah lukisan, tapi biasanya setiap kali masuk museum keren kayak gini, aku pura-pura pasang aksi: manggut-manggut....terus mundur...melihat dari jarak tertentu, kalau perlu pake memiring-miringkan kepala segala. Terus bergaya kayak orang sedang berpikir...supaya orang tahu aku bener-bener serius menikmati lukisan. ha...ha...ha...

Lha berhubung waktu itu pengunjungnya penuh....boro-boro pasang aksi. Wong bisa ngelihat lukisan Monalisa dari jauh saja sudah sokur kok. Pokoknya penuh deh pengunjungnya, wis jan nggak khidmat blas menikmati karya-karya maestro pelukis dunia.

Tapi yang penting aku sudah bisa ambil gambar (ini untungnya bisa motret di sini). Dan beli buku yang isinya lukisan-lukisan cuanteeeekkk-cuanteek. Puas aku sama buku yang aku beli. Daripada motret sendiri, mendingan beli bukunya karena jauh lebih bagus gambarnya daripada hasil potretanku.

Terimakasih Upi sayang, sudah memberiku kesempatan untuk melihat karya-karya indah ini....

Wednesday, 7 November 2007

Should I blame the Indonesian copet?

Sebagai orang Indonesia, kita ini selalu merasa beruntung. Sudah kecopetan di Paris (mungkin dicopet di metro), tetap saja bilang: untung yang dicopet bukan passport.... untung cuma dicopet, nggak sampai dilukai.....untung cuma uang 35 euro...untung etc etc.

Mungkin karena filosofi yang "serba untung" inilah yang menyebabkan aku nggak cepat frustrasi, wong kalau sudah ilang mau diapain. Disesali mati-matian ya percuma, wong nggak bakalan mbalik lagi. Yang penting bagiku adalah lain kali harus lebih berhati-hati (walaupun waktu itu juga sudah ati-ati). Aku harus selalu ingat copet ada dimana saja, nggak hanya di Pulo Gadung, tapi di Rotterdam, di Paris, pokoknya banyak tempat ada copet. Bahkan di gedung parlemen yang hebatpun copetnya jauh lebih berbahaya karena yang dicopet uang rakyat yang jumlahnya milyaran rupiah. Copetnya berjas, berdasi, dan berbatik. Cuma nama mereka lebih keren: instead of copet, mereka disebut koruptor.

Ketika sadar kalau aku kecopetan, aku langsung telpon Leo. Dia langsung tanya apakah passport dan verblijfsvergunning (stay permit) ku ilang enggak. Aku bilang enggak, kalau itu aman karena aku simpan di dompet yang talinya aku gantung di leher dan tertutup di balik t-shirt yang aku pake. Leo langsung lega. Kedua dokumen itu sudah kayak nyawa bagiku. Kalau sampai ilang.....aduh...ngurusnya bisa setengah mati. Ingat ceritanya Ekani, gimana sulitnya ngurus verblijsvergunning nya yang ilang ketika dicopet di pasar Afrikaanderplein Rotterdam.  

Waktu aku ditanya Leo, aku bilang yang ilang adalah: uang kertas 30 euro, koin-koin sekitar 5 euro, kartu korting kereta (NS), OV-Chipkaart (kartu metro), Chippas, ATM dari 2 bank di Indonesia, travel insurance card, health insurance card dan KTP.

Akhirnya aku dibawa Upi ke kantor polisi. Blio membantuku untuk ngomong sama pak polisi Perancis yang masih muda belia (aduh...polisinya imut. Walaupun kehilangan dompet masih juga sempat-sempatnya perhatiin keimutan mas polisi). Polisi bilang bahwa mereka cuma bisa memberikan surat keterangan kalau yang ilang passport Perancis dan KTP Perancis. Selebihnya, untuk passport warga negara lain, harus lapor ke kedutaan masing-masing.

Reaksi pertamaku ketika tahu info ini....alhamdulilah passport dan stay permitku nggak ilang. Tapi matilah aku harus ngurus dokumen-dokumen lainnya. Mungkin yang di Belanda lebih gampang, tapi yang dokumen Indonesia ini yang sulit karena mereka selalu minta surat keterangan dari polisi. Lha kalau polisi nggak bisa kasih keterangan terus gimana coba. Aku waktu itu menyesali, kenapa nggak aku tinggal di rumah saja kartu-kartu dari Indonesia ini, wong biasanya juga aku tinggal di rumah. Cuma setelah pulang mudik dulu, lupa mulu (atau males mulu).

Seperti dugaanku, untuk urusan yang di Belanda memang gampang. Sebelum aku pulang, Leo sudah telpon berbagai tempat untuk minta diblokir dan minta kartu baru. Bahkan travel insurance company segera mengirim formulir deklarasi yang bisa aku isi tentang apa saja yang ilang (semoga mereka mau ganti uang yang ilang dan biaya-biaya pembuatan kartu baru).

ATM dari bank di Indonesia sudah aku blokir. Mereka minta surat keterangan kepolisian, tapi kalau nggak bisa mau apa? Tapi yang jelas uang masih bisa diambil kalau masih punya buku tabungan. Nah yang bingung nih KTP. Untuk bikin baru kan harus minta surat keterangan dari polisi. Apa ya aku harus bohong kalau aku kecopetan di Pulo Gadung? Sampai-sampai aku bilang sama Leo:

"Should I blame the Indonesian pickpocket?"

Leo tertawa dan bilang: "Poor Indonesian pickpockets....mereka harus bertanggung jawab terhadap perbuatan kolega mereka di Perancis....."

Lha ya gimana, wong birokrasi mengharuskan begitu. Lha wong yang nyopet copet metro Paris kok aku lapor dicopet di Pulogadung....kasihan banget deh copet Pulogadung....

Tapi kalau dipikir-pikir juga bener lho, ngapain kita harus lapor polisi, wong selama ini kalau lapor polisi kan nggak bakalan to polisi terus berusaha nyari? Coba saja kalau kita lapor kehilangan di Pulogadung atau di KRL Jabotabek, apa ya kemudian polisi akan nguber copetnya? Nggak kan? Lha terus buat apa coba harus lapor polisi segala? Cuma nambah-nambahin panjangnya birokrasi.

Tiba-tiba aku teringat, kalau aku ninggalin KTPku di Depok. Langusung begitu sampai rumah, aku telpon ibu. Dan ternyata memang betul, aku nggak perlu khawatir. Ibu menyimpan KTPku. Alhamdulillah.....aku nggak perlu mengkambing hitamkan copet Indonesia untuk sesuatu yang tidak mereka lakukan. Horeeee.....KTP ku nggak ilang.

Catatan: gambar di atas adalah gambar masuk stasiun metro bawah tanah di Paris. Aku ambil foto ini ketika dulu mengantar adikku ke Paris tahun lalu.   

 

 

  

 

Sunday, 4 November 2007

Discover Paris in four days and three nights......




Keren banget yak judulnya. hi...hi..hi...

Emangnya kalau Upi dan aku nggak "discover" Paris, apa terus Paris does not exist? he...he...he... tapi saat ini aku sedang pengin pinjam slogannya para travel agents yang suka banget memakai kata "ontdekken" (discover) untuk memasarkan dagangannya, misalnya ontdekt Parijs in drie dagen (discover Paris in three days) atau ontdekt Spanje in twaalf dagen (discover Spain in 12 days) dsb. Jadi perjalanan kali ini aku beri judul: "DISCOVER PARIS IN FOUR DAYS" Nggak tahu Upi mau kasih judul apa, wong bebas kok boleh milih judul sak sukanya.

Ini beberapa foto yang diambil di Paris waktu acara discovery tersebut. Dari yang foto norak sampai dengan yang serius ada semua....

Sayang dua hari di sana mendung, jadi gambar kurang tajam. Tapi alhamdulillah tidak hujan, jadi asyik jalan-jalan di sana sampai gempor.

Kegembiraan dan keharuan di Paris.....

Upi, sahabatku tercinta, mengundangku ke Paris. Terimakasih ya say....aku nggak akan melupakan kebaikan dan keikhlasanmu. Hanya Allah yang bisa membalas ya....

Sebelum berangkat rasanya sueneng sekali sampai-sampai Leo rada ngomel (walaupun aku tahu dia cuma bercanda): "Suami kerja berat, istri bersenang-senang di Paris....jalan-jalan di Paris, belanja di Paris...." he...he...he....Ah...biasalah, dia memang suka begitu.

Rasanya seneng banget ketika hari Rabu lalu aku ketemu Upi. Dia menjemputku di stasiun kereta Paris Nord (Gare du Nord). Begitu turun dari kereta, aku celingukan mencari Upi dan ketika kami saling melihat akhirnya kami berlarian menghampiri dan berpelukan sambil tertawa. Sayang nggak ada yang mengabadikan pertemuan tersebut, pasti kalau dibikin film dan diputer slow motion, akan kayak film-film Hollywood (wong kami kan sebenernya punya bakat jadi bintang pelem, cuma nggak ada aja sutradara yang tahu. he...he...he....). Hati kami bernyanyi ketika menuju hotel tempat kami menginap.

Di Paris 4 hari 3 malam. Begitu kami harus mengakhiri liburan, rasanya terharu banget ketika kami harus berpisah di stasiun Gare du Nord (coba waktu itu diiringi lagu "Berpisah di St. Carolus" nya Lilis Suryani, pasti tambah syahdu kali ya. hi...hi...hi...mengkhayal). Ketika kereta bergerak, kami masih berkaca-kaca. Kami kembali ke keluarga masing-masing. Aku sudah rindu dengan Leo, dan Upi pasti sudah kangen berat sama keluarga.  

Tapi yang jelas kami bisa menikmati liburan di Paris. Alhamdulillah tidak hujan walaupun mendung. Pokoknya asyik banget, jalan sampai gempor, kadang desak-desakan di metro, bahkan aku sempat kecopetan segala. Baru tidur ketika sudah malem banget, biasa...ngrumpi eh...diskusi berbagai hal dari mulai resep, agama sampai dengan politik......

Pokoknya seru dan asyikkkkk......ikuti kisah dan foto-fotonya yak.

Catatan: gambar diambil di halaman menara Eiffel. Kami minta seorang pengunjung untuk menjepret kami berdua.

 

 

  

Saturday, 25 August 2007

Bunyi Sirene di Tangkuban Prahu.....




Waktu mudik lalu, kami diajak adikku dan suaminya ke Bandung dan sekalian ke Tangkuban Prahu. Kata adikku:

"Aku kalau nggak sama kalian, kali juga nggak bakalan nginjak di sini ya...." Maklum, kadang karena dekat, malah kita nggak pernah nyambangin, selalu bilang: Nanti saja kan bisa, gampanglah itu....tapi akibatnya malah nggak pernah ke sana.

Menurut kami Tangkuban Prahu OK, tapi Gunung Bromo jauh lebih mengagumkan. Tapi untuk sekedar melepas lelah juga lumayanlah.

Yang bikin kami kaget adalah sedang asyiknya motret-motret, tiba-tiba ada suara: "NGUING.....NGUING.....NGUING......" Aduh....apalagi ini....kebakaran atau apa ya? Tangkuban Prahu memang berasap, tapi kan asap belerang, bukan karena kebakaran.

Eh....tahunya ada rombongan pejabat yang berkunjung ke daerah wisata rakyat tersebut. Suara nguing-nguing adalah suara sirene mobil polisi yang mengawal mereka. Aku katakan daerah wisata rakyat karena untuk memasuki daerah ini, harga karcisnya masih terjangkaulah untuk rakyat (walaupun aku lupa berapa harga karcisnya).

Nah ternyata, para abdi rakyat ini pengin juga berbaur dengan rakyat di daerah wisata rakyat dengan dikawal oleh polisi yang bernguing-nguing supaya rakyat minggir karena abdi rakyat mau lewat.....

Aku tanya sama adik iparku:

"Itu siapa?"

"Mungkin anggota DPRD tingkat II"

"Weleh-weleh.....kalau betul mereka anggota DPRD (tingkat II lagi), kok lewat saja harus pake nguing-nguing segala. Bikin kaget, untung nggak punya penyakit jantung....."

Waktu Leo tanya siapa mereka, aku coba jelaskan. Leo nggak mudeng, soalnya di Belanda yang namanya minister-president (prime minister alias perdana mentri) saja pengawalannya nggak sampai kayak gitu. PM Jan Peter Balkenende tinggal di Capelle aan den Ijssel, sebuah kota kecil yang bertetangga dengan desa kami.

Dulu waktu aku masih kursus bahasa Belanda (tempat kursusnya kebetulan di Capelle), teman-teman kursusku bahkan guru Bahasa Belandaku yang tinggal di Capelle cerita kalau mereka kadang melihat PM Balkenende ngantri di supermarket atau kiosk dengan istrinya tanpa penjagaan sama sekali. Leo juga pernah cerita kalau rumah blio nggak gede, besarnya nggak jauh beda dengan rumah mungil kami. Pokoknya biasa sajalah rumah blio itu. Kalau untuk ukuran pejabat Indonesia bahkan terlalu biasa.

Jangan kaget kalau ada mentri Belanda ke kantor naik sepeda. Atau ketua partai politik bersepeda juga pemandangan yang normal. Beda kan dengan Indonesia? Mungkin Indonesia jauh lebih berbahaya, jadi harus ada pengawalan yang ketat untuk para abdi rakyat tersebut. Lha kalau terjadi apa-apa dengan mereka, hayo...gimana coba? Siapa yang akan memimpin dan me-manage negara ini? Repot kan kalau nggak ada mereka.....

Suara nguing-nguing itu mungkin digunakan supaya para pejabat tidak mengalami kemacetan di jalan. Lha kalau macet, rapat parlemen, rapat kabinet dan rapat-rapat penting lainnya kan bisa tertunda. Kalau sampai mundur, ya repot karena semua proyek pembangunan bisa tertunda semua atau bahkan gagal. Iya to?

Lha mungkin saja dari derah wisata rakyat tersebut, para anggota parlemen akan mengadakan rapat penting pada hari libur (wong kami ke sana hari Minggu kok)......




Sunday, 19 August 2007

I am very popular......

Waktu itu kami diajak Mbak Niek (saudara sepupuku) dan mas Han (suaminya) makan malam di Pasaraya Manggarai. Sedang enak-enaknya makan, mbak Niek bilang:

"Aduh aku lupa Sri......... tadi Rauf dan anak-anak pengin potret sama Leo. Aku lupa banget. Kalau habis makan kita balik lagi ke rumah gimana? Kira-kira Leo mau enggak?"

Rauf adalah sopirnya mbak Niek sedangkan yang dimaksud anak-anak adalah para pembantunya mbak Niek.

Leo waktu itu sedang asyik ngobrol dengan mas Han. Tapi aku menyela sebentar. Leo bilang OK saja.

Sebelum kami ke Pasaraya, kami memang sudah ke rumah sepupuku ini di Tebet. Setelah sholat magrib, mbak Niek ngajak kami untuk makan malam di Pasaraya Manggarai diantar oleh Rauf. Dia sudah menelpon suaminya supaya jangan pulang dulu tapi langsung saja makan di Pasaraya. Akhirnya berangkatlah kami ke Pasaraya. Rencana semula adalah setelah makan malam, mereka akan pulang ke Tebet dan kami akan pulang ke Depok. Tapi ternyata apa yang terjadi tidak sesuai rencana karena kami akhirnya balik lagi ke Tebet karena Rauf dan anak-anak pengin potret bareng Leo.

Mbak Niek bilang:

"Maaf ya, aku tadi jan lupa beneran. Lha kalau kamu lihat, anak-anak tadi kan sudah dandan, pake baju baru segala karena pengin dipotret bareng sama Leo......"

Aku jadi pengin ketawa. Heran banget, Leo memang laris dalam urusan potret-memotret kayak artis saja. Nggak hanya di sini tapi juga di Borobudur dan daerah-daerah wisata lainnya (kecuali di Bali dan Yogya dia nggak laku. hi...hi...hi...).

"Rauf pengin dipotret bareng Leo karena ketika dia nganterin kalian ke rumah Kokok (catatan: Kokok adalah adiknya mbak Niek), dia cuma disuruh motret doang, nggak diajak potret. Kata dia: 'Bu, ketika saya nganterin pak Leo ke rumah pak Kokok, saya cuma disuruh motret saja, malah nggak dipotret. Nanti kalau pak Leo ke sini, saya minta dipotret sama pak Leo ya bu'.... Lha ternyata nggak hanya Rauf yang minta dipotret sama Leo tapi juga anak-anak lainnya..... Makanya kamu tadi lihat to, anak-anak sudah rapi dandan cantik karena pengin dipotret sama bule......."

Aku bener-bener nggak bisa menahan tawa.

"Lha kok niat amat to mbak anak-anak ini pengin dipotret sama Leo...."

"Lha ini kan gara-gara kamu kirim foto dulu. Ingatkan, waktu kalian ke Kediri dulu, waktu nginep di tempat budhe (maksudnya ibunya mbak Niek), Leo potret sama 2 orang pembantunya budhe. Potret itu kan kamu kirim ke aku supaya aku bisa kirim ke budhe. Anak-anak melihat potret tersebut, mereka berangan-angan.....kapan ya pak Leo ke Jakarta supaya bisa potret bareng......"

Waktu aku cerita itu ke Leo, dia bilang:

"My God.......I am very popular among the pembatus......... Maybe my photo is in every bed room of pembantu........."

Ha....ha....ha......... 

Catatan: gambar yang aku pasang adalah gambar Leo bersama Rauf dan anak-anak. Aku memotret mereka beberapa kali......bahkan ada potret masing-masing orang dengan Leo....

 

Thursday, 28 June 2007

Melihat rumah gadang....


Di jembatan gantung menuju ke rumah gadang

Di Padang Panjang, kami dibawa oleh guide kami ke Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau. Kami di-drop oleh pak Jun (sopir yang membawa kami) di suatu tempat, kemudian kami berjalan ke pusat kebudayaan tersebut sambil menikmati pemandangan yang indah dan segar.

Pusat kebudayaan yang kami temui berbentuk rumah gadang. Ibu petugas (lupa aku nggak tanya nama blio) memberi informasi tentang adat istiadat Minang termasuk fungsi rumah gadang. Dari keterangan yang aku peroleh, ternyata rumah gadang ini sama seperti balai atau rumah panjang dalam adat Dayak dimana satu rumah dihuni oleh lebih dari satu keluarga inti (sedikit banyak aku mempelajari budaya Dayak, jadi bisa melihat perbedaan dan persamaannya). Dalam rumah gadang terdapat beberapa kamar dan satu kamar dihuni oleh sebuah keluarga inti. Biasanya dalam kamar tersebut dihuni oleh ayah, ibu dan anak balita. Anak laki-laki yang sudah berumur 10 tahun atau lebih harus keluar dari rumah dan tidur di surau untuk belajar agama dan pencak silat. Anak gadis yang sudah beranjak remaja akan berkumpul menjadi satu untuk belajar menjahit dsb. Semoga apa yang aku tangkap tidak salah.

Di depan rumah gadang ada beberapa lumbung, ada yang berkaki 4, 6 dan 9. Terus terang aku lupa kegunaan tiap lumbung ini berdasarkan kakinya. Yang jelas ada lumbung yang padinya digunakan untuk kepentingan sehari-hari, ada yang digunakan untuk menghadapi masa paceklik, dan ada yang digunakan untuk kepentingan komunitas.

Sekarang orang pada umumnya tinggal di rumah biasa, bukan berkumpul di rumah gadang. Terus terang aku tidak tanya sampai mendetil sampai seberapa jauh orang Minang sekarang memiliki keterikatan dengan rumah gadang ini.

Banyak informasi menarik lain yang kami peroleh, misalnya tentang budaya matrelineal. Tahu kan artinya matrilineal? Pasti tahu dong....

Yang sangat menarik adalah banyak buku-buku tentang budaya Minang yang tersimpan di tempat tersebut ditulis oleh orang-orang Belanda. Banyak juga foto-foto tentang Minang yang juga dibuat oleh orang Belanda dan diambil pada jaman Belanda. Kalau nggak salah ada yang kasih tahu kalau buku-buku tersebut memang diimport dari Belanda. Ada lagi yang nyeletuk.....mungkin karena kemampuan dokumentasi kita kan lemah, jadi ya buku saja harus diimport dari sana. Apakah betul kalau kemampuan dokumentasi kita lemah? Silahkan berkaca pada diri sendiri.....

Setelah itu kami berpotret-potret pake baju pengantin Minang. Foto-foto sudah kami posting sebelumnya disini: http://cutyfruty.multiply.com/photos/album/25.

Setelah puas berfoto-foto, kami meneruskan perjalanan. Pak Jun sudah menunggu di halaman pusat kebudayaan tersebut dengan mobilnya.

Sunday, 17 June 2007

Iri tanda tak mampu....

Kami membuat album foto untuk ibu. Kami perlihatkan album tersebut kepada teman-teman kami waktu kami mudik dulu sekedar untuk memperlihatkan apa saja kegiatan kami sejak spring 2006 sampai dengan spring 2007.
 
Ada satu kelompok teman yang suka banget usil menggoda kami dengan komentar-komentar miring mereka. Kami sudah tahu itu cuma bercanda, jadi nggak pernah kami anggap serius.
 
Salah satu adalah komentar mereka tentang Kinderdijk. Kita bisa melihat kincir-kincir angin yang usianya sudah ratusan tahun di Kinderdijk. Kincir-kincir ini masuk dalam daftar warisan dunia versi UNESCO. Jadi semacam Borobudurnya Belanda lah kira-kira. Ketika melihat foto-foto Kinderdijk, komentar mereka adalah:

"Lha kalau ini sih Holland Bakery. Kalau cuma lihat Holland Bakery nggak perlu jauh-jauh ke Belanda mbak. Di sini juga banyak. Itu lho di Kampung Melayu juga ada....."

Dalam hati aku juga ngedumel: "lha wong Kinderdijk kok cuma disamain sama Holland Bakery....." Aku langsung bilang:

"Kalian ini pada sirik. Tahu enggak....iri tanda tak mampu!!!!!"

Sebelnya mereka malah cuma ketawa.......ha.....ha.....ha.... sialan mereka bisa bikin aku kesal. Kena deh gue......

 

Friday, 15 June 2007

Lembah Anai




Dari Kiambang, kami menuju lembah Anai. Di situ ada air terjun. Seneng juga ngelihat air jernih.

Di seberangnya ada rel kereta api yang dibangun pada jaman Belanda dulu. Terlihat masih kokoh. Heran ya, banyak rel dan bangunan jaman Belanda masih kelihatan kuat. Bandingkan dengan bangunan jalan atau sekolah yang dibangun sekarang, kok cepet banget rusaknya.

Kalau nggak salah guide kami mengatakan kalau rel ini sudah tidak digunakan lagi beberapa tahun belakangan ini. Dulu digunakan untuk mengangkut batu bara, tapi berhubung persediaan batu bara sudah tinggal sedikit, maka pengangkutan batu bara hanya menggunakan truk dan bukan menggunakan kereta lagi.

Kabarnya untuk menggalakkan pariwisata, rel ini akan digunakan lagi. Akan ada kereta wisata yang menggunakan rel tersebut. Aku bisa bayangkan pemandangan sepanjang rel tersebut akan cantik sekali. Kita bisa lihat pemandangan Bukit Barisan yang cantik dari jendela kereta. Apalagi kalau keretanya nyaman. Aduh....jadi pengin naik kereta nih....