Saturday, 14 July 2007

43 tahun yang lalu, aku divonis mati.....

Hari ini (14 Juli) 43 tahun yang lalu aku dilahirkan. Belum sebulan usiaku, aku terkena tetanus yang sangat parah.

Dokter pada waktu itu mengatakan kalau secara medis aku nggak akan bertahan lama (artinya aku divonis mati kan?). Bahkan kalau tidak salah almarhum ayahku pernah bercerita kalau menurut dokter secara medis, usiaku paling lama hanya sampai dengan jam 13.00. Tapi ternyata setelah lewat jam tersebut, aku bisa melewati masa-masa krisis. Ternyata Tuhan berkata lain....aku masih diberi berkah kehidupan....... 

Aku anak pertama dan ujian tersebut tentu sangat berat bagi kedua orang tuaku. Ibuku pada waktu itu juga sakit parah, tapi beliau tidak putus-putusnya berdoa memohon kepada Yang Maha Kuasa agar aku diberi umur panjang. Berkat doa keuda orang tuaku dan doa kerabat dan handai tolan ayah ibuku, aku diberi anugrah kehidupan.  Alhamdulillah.....terimakasih ya Allah atas semua berkahMu ini......

Sekarang bagaimana mengisi kehidupan tersebut kan? Semoga aku bisa melakukan yang terbaik. Amin....

PS. Kalau misalnya pada waktu itu aku bener mati, Leo kira-kira kawin nggak ya (nggak boleh ya nanya gini? Dosa ya?). Kalau kawin sama siapa ya? (hi...hi...hi...cemburu nih yƩ........)

Catatan: gambar aku ambil dari sini. Maklum aku saat ini sedang tergila-gila sama site free4uwallpapers ini. Gambar ini membuat aku berkhayal.....kapan ya aku kesana, melihat pemandangan alam yang indah ini........anugrah yang sangat mengagumkan.  

Friday, 13 July 2007

Room with boontjes view


Nggak hanya buncis saja sebetulnya. Ada tanaman talas juga kan?

Biasanya kamar hotel kan view nya adalah: swimming pool atau mountain atau beach dan sejenisnya. Waktu kami menginap di Hotel Pusako-Bukit Tinggi, kami memperoleh kamar dengan boontjes (buncis) view. Kata Leo: "baru kali ini aku dapat kamar dengan boontjes view" Dia menganggap unik pemandangan tersebut.

Kamarnya lumayan. Yang jelas ada kursi di teras yang bisa digunakan untuk menikmati boontjes view ini sepuasnya. Kayaknya sih tanaman buncis tersebut milik penduduk karena ada pembatas antara hotel dan kebun buncis tersebut.

Pada waktu kami di sana, tidak terlalu banyak tamu. Hanya hari kedua saja kami melihat ada rombongan dari Belanda. Kami tahu ini karena ada board yang mengucapkan selamat datang di lobby untuk rombongan dari salah satu travel agent Belanda. Heran....dimana-mana di daerah wisata di Indonesia kok banyak orang Belanda.......

Monday, 9 July 2007

Ini summer atau autumn sih?

Ini summer atau autumn sih kok dingin dan windy.........

Waktu itu kami merencanakan mudik pada waktu spring dengan tujuan ketika balik, sudah summer. Jadi kami bisa menikmati kehangatan musim panas dan hari yang panjang. Bayangan kami, ketika balik lagi ke Belanda kami bisa bersepeda sampai puas paling enggak pada waktu weekend. Maklum kalau summer kan maghrib jam 22.00, jadi enak mau kluyuran sampai malampun,  matahari masih bersinar.

Tapi ternyata sejak kami balik dari mudik, perasaan nggak pernah ada hari yang tidak rainy dan cloudy. Kadang masih ditambah windy. Belum lagi kadang gemuruh guntur disertai kilat. Suhu selama summer ini berkisar antara 17-18 derajat Celcius, cukup dingin untuk ukuran summer. Kadang malah lebih rendah dari itu. Suhu ruangan berkisar antara 22-22,5 derajat Celcius.

Kalau tinggal di rumah sih nggak masalah ya, tapi kalau harus keluar rumah dan naik sepeda. Aduh.......harus berjuang nggenjot sepeda dalam guyuran air hujan, melawan arus angin yang luar biasa beratnya, ditambah dingin..... sampai di tempat tujuan basah kuyub dan brrrr dingin............

Nggak tahu kenapa, summer kali ini kok dingin ya padahal spring lalu bisa mencapai 25 derajat Celcius. Tahun lalu bahkan kami bisa menikmati summer yang hangat dan indah. Mungkin karena global warming atau apa ya, kok semuanya berubah.

Yah...begitulah kalau merantau, harus bisa menerima keadaan lingkungan setempat. Harus pandai-pandai beradaptasi. Harus bisa tetap bersyukur. Alhamdulillah menurut ramalan cuaca kabarnya weekend mendatang suhu sudah menghangat sampai dengan 25 derajat Celcius. Suhu ideal bagiku. Asyikkkk...... semogalah karena Leo sudah nggak sabar untuk ngajak bersepeda.....

Catatan: gambar yang aku pasang adalah gambar summer tahun lalu (diambil awal Juli 2006) ketika kami bersepeda ke Kinderdijk, hanya dengan menggunakan t-shirt saja. Leo yang motret, jadi dia nggak kelihatan.   

   

Friday, 6 July 2007

Mengapa masakan Padang rasanya pedas?




Pasti jawabannya karena dikasih cabe giling atau cabe iris. Nggak cuma itu jawabannya. Ayo apa??????

Ternyata, ikan yang akan dimasak sudah dimarinate pake cabe ketika ikan itu masih hidup di kolam. Nggak hanya direndam aja sama cabe, bahkan ikannya juga dikasih makan cabe. Jadi jangan kaget ya kalau ikan yang dibuat masakan Padang hasilnya puedes banget. Lha wong masih idup aja sudah dikasih makan cabe......

Ini foto yang aku ambil di Pande Sikek. Sebetulnya waktu itu kami diajak ke sini untuk melihat kerajinan tenun, tapi Leo malah lebih tertarik dengan pemandangan ini.

Thursday, 5 July 2007

HP ku ilang.....diganti asuransi, tapi....hiks...hiks...hiks...

Rasanya nggak percaya kalau HP kesayanganku ilang waktu kami di Jakarta. Kemungkinan besar ilang di BSD, mungkin jatuh, mungkin lupa naruh waktu beli sesuatu atau mungkin dicuri orang. Sampai-sampai semua orang dikerahkan untuk mencari termasuk ibu, adik, mbak Ine dan lain-lain. Tapi tetap saja nggak ketemu. Terimakasih ya bagi yang sudah berusaha nyariin HP ku.

Merk Siemens tipe ME45. Warna orange. HP tersebut memang sebetulnya sudah agak rusak. Pernah screen displaynya nggak jalan. Jadi aku memang harus ganti HP, tapi kenapa harus ilang. Aku beli sekitar tahun 2002. Nggak ada fasilitas MMS. Yang aku sukai adalah selain phone book, tipe tersebut punya address book 500 yang multiply. Jadi 1 address book bisa untuk nyimpen nomor telpon rumah, nomor telpon kantor, nomor HP, nomor fax, alamat, e-mail, dan url.

Sampai di Belanda, Leo berusaha mengajukan claim ke asuransi. Siapa tahu diganti. Kami sih nggak terlalu optimis karena nggak ada bukti, nggak pake surat dari polisi segala. Lha mau ke polisi juga males. Paling HP tersebut kalau dijual nggak bakalan laku Rp. 500 ribu, wong yang tipe baru saja  yang fasilitasnya jauh lebih lengkap harganya sekitar Rp. 900 ribu-an. Kalau ke polisi, selain hilang waktu dan energi, bisa juga mengeluarkan biaya (paling enggak biaya transport kalaupun nggak pake biaya "administrasi")

Leo menulis ke asuransi kalau HPku yang ilang bernilai 40 Euro dan masih ada pulsa di dalamnya sebesar 40 Euro. Kami sudah sepakat kalau nggak diganti ya sudah, namanya nasib. Eh....lha kok nggak sampai 2 minggu kami diganti 80 Euro walaupun nggak pake surat kehilangan dari polisi segala. Horeeeee........lumayan....alhamdulillah.....

Walaupun sudah diganti, tetap saja aku masih merasa kehilangan. Pertama aku kehilangan HP kesayanganku, walaupun kuno tapi tetap saja berjasa sudah menghubungkan aku dengan belahan dunia lain. Kedua, aku kehilangan semua data. hiks...hiks...hiks..., jadi harus mulai lagi dari awal.

Kehilangan HP bisa beli baru lagi, data-data nomor telpon dan sejenisnya bisa diganti, bisa tanya lagi ke keluarga dan teman-teman. Tapi ada satu yang sampai sekarang masih aku sesali karena HP tersebut ilang. Data itu adalah pesan terakhir dari almarhum Munir yang tersimpan dalam inbox.

Sehari sebelum Munir berangkat ke Belanda, aku telpon dia meminta dia untuk mengirim sms tentang no penerbangan pesawat Garuda yang akan ditumpangi. Nggak beberapa lama, dia kirim sms ke aku. Keesokan harinya aku menjemput dia di Schiphol airport, dan aku masih ingat betapa histerisnya aku ketika mendapati dia terbaring di mortuarium dalam keadaan tidak bernyawa lagi.

Pesan Munir tersebut masih tersimpan di HPku, sampai kapanpun aku nggak akan hapus. Tapi kenapa HP tersebut harus ilang? Kenapa aku nggak upload ke komputer, kenapa aku dulu nggak sempat menulis ulang pesannya. Kenapa aku nggak sempat menuliskan peristiwa itu. Dan banyak "kenapa" yang muncul di kepalaku. Rasa sesal itu masih aku rasakan.  

Seorang teman menasihatiku: "Mungkin sudah saatnya kamu melepaskan. Kamu tulis saja peristiwa itu langsung dari pengalaman. Dan itu penting" 

Aku pikir temanku benar. Aku harus menulis apa yang aku alami waktu itu kalau tidak, aku nggak akan punya tulisan tentang Munir, seorang sahabat bagi mereka yang teraniaya dan terpinggirkan. Sudah bertahun-tahun aku cuma bermimpi untuk menuliskan pengalaman tersebut, tapi nggak pernah terjadi. Sekarang saatnya aku harus menulis tentang seorang Munir dari sudut pandangku, dari pengalamanku bergaul dengan dia. Selamat jalan Munir.....

Catatan: gambar yang aku posting adalah HP baruku yang beli di Indonesia. Kalau ada yang nemuin HPku yang ilang dulu, tulung ya, kabari aku (masih berharap juga nih....)....terimakasih.......... 

 

Monday, 2 July 2007

Siapa tahu ada yang membutuhkan.....

Ketika kami berpesiar di Sumatera Barat, kami dibantu oleh seorang guide (pak Mahyuddin) dan seorang sopir (pak Zulkifli atau pak Jun). Mereka berdua baik dan sopan. Ketika aku sakit, mereka berdua (malampun) menawari aku untuk diantar ke dokter, tapi aku tolak karena aku cuma kena masuk angin (muntah-muntah dan diare). Berdasarkan pengalaman, mereka tipe orang yang bertanggung jawab.  

Pak Mahyuddin mempunyai pengetahuan yang luas tentang wisata dan budaya Sumatera Barat. Pak Mahyuddin ini suka banget sama nature, jadi kalau pengin didampingi blio untuk camping, naik turun gunung, blio bilang OK.

Pak Jun sangat mahir menyopir. Selama blio menyopir, kami nggak pernah mengeluh dengan sopiran blio soalnya alus, nggak ugal-ugalan dan tahu jalan. Mobil yang dipegang blio juga bagus kok (lupa aku merknya apa, tapi kalau nggak salah Kijang). AC nya juga dingin.    

Mereka berdua mengatakan, kalau ada teman-teman yang membutuhkan jasa mereka, bisa menghubungi mereka langsung. Siapa tahu ada yang membutuhkan, silahkan kontak mereka di:

Pak Mahyuddin:

HP:+6281363320415 atau +6285835111007

Email: mahyuddin_algis@yahoo.com

Pak Zulkifli (pak Jun):

HP:+628126762542

E-mail: jun_rental@yahoo.com

Pak Jun mengatakan kalau mau sewa mobil (biasanya sih dengan sopir supaya nggak capek ya) tidak harus untuk wisata saja. Bisa saja untuk urusan kantor, bisnis dsb.  

Pak Mahyuddin juga bisa menyopir, jadi kalau pengin blio yang nyopir juga OK. Blio bilang biasa juga mendampingi turis asing yang tidak bisa berbahasa Indonesia.

Catatan: foto diambil di kaki Gunung Merapi Sumatera Barat. Dari kiri ke kanan: pak Mahyuddin, Leo dan pak Jun.

Siapa tahu ada yang membutuhkan.....

Ketika kami berpesiar di Sumatera Barat, kami dibantu oleh seorang guide (pak Mahyuddin) dan seorang sopir (pak Zulkifli atau pak Jun). Mereka berdua baik dan sopan. Ketika aku sakit, mereka berdua (malampun) menawari aku untuk diantar ke dokter, tapi aku tolak karena aku cuma kena masuk angin (muntah-muntah dan diare). Berdasarkan pengalaman, mereka tipe orang yang bertanggung jawab.  

Pak Mahyuddin mempunyai pengetahuan yang luas tentang wisata dan budaya Sumatera Barat. Pak Mahyuddin ini suka banget sama nature, jadi kalau pengin didampingi blio untuk camping, naik turun gunung, blio bilang OK.

Pak Jun sangat mahir menyopir. Selama blio menyopir, kami nggak pernah mengeluh dengan sopiran blio soalnya alus, nggak ugal-ugalan dan tahu jalan. Mobil yang dipegang blio juga bagus kok (lupa aku merknya apa, tapi kalau nggak salah Kijang). AC nya juga dingin.    

Mereka berdua mengatakan, kalau ada teman-teman yang membutuhkan jasa mereka, bisa menghubungi mereka langsung. Siapa tahu ada yang membutuhkan, silahkan kontak mereka di:

Pak Mahyuddin:

HP:+6281363320415 atau +6285835111007

Email: mahyuddin_algis@yahoo.com

Pak Zulkifli (pak Jun):

HP:+628126762542

E-mail: jun_rental@yahoo.com

Pak Jun mengatakan kalau mau sewa mobil (biasanya sih dengan sopir supaya nggak capek ya) tidak harus untuk wisata saja. Bisa saja untuk urusan kantor, bisnis dsb.  

Pak Mahyuddin juga bisa menyopir, jadi kalau pengin blio yang nyopir juga OK. Blio bilang biasa juga mendampingi turis asing yang tidak bisa berbahasa Indonesia.

Catatan: foto diambil di kaki Gunung Merapi Sumatera Barat. Dari kiri ke kanan: pak Mahyuddin, Leo dan pak Jun.