
Niat amat ya dia ngupas sampai nggoreng brambang.
Aku ini heran banget, Leo itu kok suka banget sama brambang (bawang merah) goreng. Memang betul makanan akan lebih enak kalau dikasih brambang goreng, tapi kadang dia juga nyomot sedikit dan dimakan begitu saja.
Dia baru tahu kalau brambang goreng does exist ketika menikah gara-gara aku pernah bikin brambang goreng. Sebelumnya dia malah nggak tahu sama sekali kalau barang itu ada. Waktu itu aku memang kerajinan, bikin brambang goreng cukup banyak supaya bisa disimpan lama. Jadi kalau bikin nasi goreng, atau bakmi goreng atau gado-gado atau masakan lainnya sudah tersedia brambang goreng untuk ditaburkan di atasnya. Sedangkan kalau dia yang ditaburi bukan saja masakannya tapi juga nasinya (jadi kayak makan nasi uduk). Padahal hampir tiap hari aku masak masakan Indonesia yang artinya dimakan pake nasi kan, jadi bisa dibayangkan dia selalu mengkonsumsi brambang goreng hampir tiap hari. Memang tidak banyak sih naburinnya karena brambang goreng kan untuk penyedap rasa saja.
Kalau kebetulan persediaan brambang goreng habis, dia pasti nanya. Aku juga kasihan, wong ya cuma brambang goreng saja kok aku nggak sediain. Pernah karena males nggoreng brambang, aku belikan saja gebakken uitjes (bawang bombay goreng) yang dijual di supermarket. Begitu dia icipi, komentarnya: "Het is niet lekker" (nggak enak). Akhirnya dia nggak mau makan uitjes tersebut sama sekali.
Yang jadi masalah adalah aku ini paling sebel nggoreng brambang. Ngupasnya masih OK, ngrajangnya masih OK karena ada kitchen mechine, tapi yang paling menyebalkan adalah menggorengnya karena selain oily juga butuh waktu cukup lama dan butuh ketrampilan tersendiri. Terlalu lama 10 detik bisa gosong, terlalu cepet 5 detik masih belum kemripik (crispy). Maunya kan bikin brambang goreng yang kuning kecoklatan dan kemripik.
Secara bercanda aku bilang sama dia kalau orang Jawa itu gampang nge-test apakah mantu perempuannya bisa masak atau enggak (maklum secara tradisional kan dulu perempuan yang di dapur, jadi yang di-test masak adalah calon mantu perempuan, bukan laki-laki. he...he...he...). Tinggal suruh saja dia nggoreng brambang dan kacang tanah. Kalau berhasil bikin brambang goreng yang tidak gosong tapi kemripik maka lulus deh ujiannya.
Dia juga suka mengamati aku bagaimana bikin brambang goreng. Lama-lama dia bantuin. Kemarin malah ajaib sekali. Dari mulai ngupas sampai nggoreng dia lakukan sendiri. Aku cuma bantuin ngupas dan menjemur (karena kebetulan ada sinar matahari kemarin). Sebelum dijemur, dia kasih garam.
Selama dijemur, aku ngempi. Tapi aku nggak sadar, tiba-tiba aku bau brambang goreng. Ternyata dia sudah mulai nggoreng sendiri. Niat banget ya. Akhirnya aku ke dapur dan bantuin dia untuk mengeringkan hasil gorengan dengan keuken papier (kitchen towel?) supaya minyaknya terserap. Aku cuma bantuin itu saja karena aku harus nyiapin untuk makan malam.
Hasilnya tidak terlalu jelek. Yang pertama agak gosong tapi sangat kemripik. Yang kedua dan selanjutnya makin bagus. Dia bahkan lebih cepat karena pake minyak yang panas sekali (aku biasanya pake minyak panas tetapi nggak berani sepanas dia). Kemarin dia goreng 2 kg brambang segar dan hasilnya diwadahi dalam 4 stoples (walaupun kata dia dalam bahasa Belanda namanya bukan stopfles tapi pot).
Setelah selesai dia bilang kalau dia bangga sekali bisa nggoreng brambang. Bahkan dia nanya:
"So...dou you think I can get my diploma? I have passed the test of making brambang goreng"
"Iya betul kamu sudah lulus. I am proud of you...."