Sunday, 29 April 2007

Skype-an sama mbak Theresa

Tadi mbak Theresa dan aku ber-skype-an. Seru pokoknya. Malah ngobrol sama mbak Ratri juga. Leo juga ikutan ngobrol sambil nunggu brambang yang masih dia jemur (Leo hari ini nggoreng brambang lagi, soalnya brambang yang dulu dia goreng sudah abis. Cepet ya abisnya, padahal belum ada sebulan yang lalu dia nggoreng brambang 2 kilo).


Obrolannya mulai dari Londo (malah Enggres barang yang dibahas) sampai dengan Australi. Dari autumn di Australi sampai spring di Belanda (wong kuwalikan alias terbalik to musim Londo en Australi). Dari Euro sampai Australian dollar. Dan tidak ketinggalan ada obrolan tentang makanan (apa lagi kalau bukan).  Wis lengkap pokoknya.


Mbak Theresa itu ternyata suaranya lembut. Kosok balen (kebalikan) dengan suaraku yang kayak halilintar. he...he...he...


OK mbak, nanti kapan-kapan kita sambung lagi ya. Siapa tahu kalau mbak Theresa ke Belanda kita bisa kopdaran atau kalau kami ada rejeki (ya siapa tahu to) kami bisa ke Australia dan kita bisa ketemu.   

Saturday, 21 April 2007

Hari ini dapat kejutan dari mbak Atik

Hari ini pulang dari pasar dapat kejutan. Ada kiriman untukku dari mbak Atik. Setelah aku buka.....HORE BIJI KEMANGI!!!!!!! 


Terimakasih ya mbak Atik. Seneng banget aku. Aku akan tanem mumpung sudah mulai lente (spring). Nanti kalau sudah panen, mau mepes atau bikin ikan rica-rica sudah ada kemanginya.


Terimakasih sekali lagi ya mbak Atik. Muaachh....muaaachh.... huggsssss.....

Monday, 16 April 2007

Bersepeda ke Gouda




Hari Sabtu lalu kebetulan cuaca bagus. Leo ngajak bersepeda. Sebetulnya sih nggak ada tujuan tertentu, tapi ketika Leo ngambil jalan ke arah Gauda, akhirnya aku nanya gimana kalau ke Gouda sekalian. Dia setuju. Akhirnya kami bersepeda ke Gouda.

Jarak dari rumah ke perbatasan Gouda sih cuma 15 km, jadi pp 30 km. Tapi kemudian kami ke centrum. Pulangnya nggak lewat jalan yang sama, tapi muter. Akhirnya memang lebih jauh lagi jarak yang kami tempuh. Kami perkirakan hari Sabtu lalu kami menempuh 40 km dengan bersepeda.

Sampai rumah rasanya gempor. Maklum sudah lama nggak bersepeda sejauh itu sejak herfst (autumn) yang lalu. Jadi memang perlu latihan lagi.

Yang bikin lama memang jeprat-jepret foto. Maklum memang tujuan utama waktu itu ambil foto mumpung cuaca bagus. Waktu masuk Gouda kami melihat balapan sepeda amatir. Seamatir-amatir mereka, masih lebih profesional dariku.

Yang bikin lama lagi adalah aku nggak bisa bersepeda cepat karena punya masalah dengan lutut, apalagi waktu baliknya jalan agak naik turun. Kata Leo:

"Ayo....aku yang sudah setengah abad saja bisa, masak kamu yang 8 tahun lebih muda nggak bisa. Ayo....kamu pasti bisa...."

Maklum bersepeda memang bagian hidup orang Belanda. Jadi nggak kaget kalau mereka jago dalam bersepeda.

Sampai di Gouda kami baru sadar kalau hari Sabtu adalah hari pasarnya Gouda. Akhirnya kami malah lihat pasar di sekitar stadhuis (town hall) nya. Alun-alun yang biasanya kosong disulap menjadi pasar kaget. Lumayanlah lihat-lihat pemandangan pasar. Walaupun kalau dibanding pasar tradisional Rotterdam masih kalah besarnya.

Ini beberapa foto yang aku pasang di sini. Urutannya agak lupa-lupa ingat. Males nyocokin lagi.

Friday, 13 April 2007

Foodprocessor - Multisystem keukenmachine: Alat ngrajang brambang

http://www.allesover-keukens.nl/pg/Producten/Foodprocessor/Multisystem+keukenmachine
Waktu itu pak Yanuar nanya alat ngrajang brambang yang kami gunakan kayak apa, kok Leo bisa bikin rajangan brambang sangat tipis dan bagus. Banyak lagi porsinya. Aku sudah foto-in tapi kebetulan nggak tahu kenapa nggak bisa di up load.

Tapi paling enggak, bisa dilihat alatnya seperti pada link tersebut di atas. Food processor ini merk Braun. Awalnya kami beli karena kami nggak punya blender, padahal kan perlu tuh bikin bumbu halus segala. Belum lagi butuh bikin sambel.

Akhirnya kami beli alat ini. Dikirain isinya cuma blender doang, soalnya waktu itu kami cuma terfokus pada gelas blender yang dipajang. Gelas blendernya nggak gitu gede, cocoklah buat kami kalau cuma mau bikin bumbu atau jus. Tapi ternyata baru tahu kalau ada berbagai macam alat lainnya dalam satu set tersebut. Makanya bengong waktu pelayan tokonya ngeluarin kotak lumayan gede dan cukup berat dari gudang berupa satu set keukenmachine (kitchen mechine atau food processor) ini.

Isinya macem-macem. Ada alat untuk ngocok telur kalau mau bikin cake dan roti, ada alat untuk merajang berbagai macam (kentang untuk french fries, timun, menyerut wortel secara kasar untuk bikin salad dsb). Dan ternyata salah satu pisaunya bisa juga untuk ngrajang brambang. Cepet banget, 1 menit bisa untuk ngrajang sekilo. Bahkan ada juga pisau untuk memarut kelapa.

Tapi terus terang aku belum pernah memaksimalkan penggunaan alat ini. Lha gimana, wong penduduk di rumah cuma dua orang, jadi pake alat ini kalau betul-betul butuh misalnya untuk ngrajang brambang, bikin bumbu pecel kering. Pokoknya untuk bikin porsi gede.

Semoga info ini bermanfaat bagi yang membutuhkan. Ups....lupa, aku bukan pegawai pemasaran Braun lho ya. Nggak dapat komisi walaupun sudah promosiin alat mereka.

Wednesday, 11 April 2007

Ketika berat badan menjadi masalah dalam sebuah perkawinan...

Tadi aku menonton tayangan ulang program Dr. Phil yang membahas tentang operasi plastik, berat badan dan sejenisnya. Salah satu tamunya adalah sepasang suami istri.


Sang istri bertubuh endut walaupun dia sudah berusaha mati-matian untuk menurunkan berat badannya. Dia sudah capek berkonsultasi dengan berbagai dokter, ahli gizi, instruktur olah raga dan sebagainya tapi berat badannya tidak turun-turun juga.


Dia ingin membahagiakan suaminya yang menuntut dia untuk bertubuh langsing kayak bintang film. Apapun dia lakukan untuk memperoleh tubuh yang langsing seperti yang diinginkan suaminya. Bahkan kalau ibaratnya makan rumput bisa menurunkan berat badannya, dia akan melakukannya. Tapi tetap saja dia tidak memperoleh hasil yang diharapkan.


Yang jadi masalah adalah kata-kata suaminya yang sangat menyakitkan. Sudah tahu istrinya setengah mati berusaha, tetapi tetap saja kritikannya sangat pedas menyakitkan. Dalam tayangan ini si suami bilang kalau baru sadar bahwa apa yang diucapkan terhadap istrinya sangat menyakitkan. Dia tidak sadar bahwa selama ini si istri sudah invest begitu besar untuk membahagiakan suaminya tetapi tidak ada timbal balik yang membesarkan hati istrinya.


Melihat tayangan tersebut, aku menjadi sangat bersyukur punya suami yang penuh pengertian dengan diriku. Dalam hal fisik, Leo dan aku memang seperti langit dan bumi. Dia tinggi 192 cm sedangkan berat cuma 88 kg. Sedangkan aku dengan tinggi kurang dari 150 cm tetapi beratku tidak berbeda jauh dengan dia.


Aku sudah melakukan berbagai hal tetapi sulit sekali berhasil. Aku sudah bosan kalau harus disuruh ke lab lagi, ngomong sama berbagai dokter dan ahli nutrisi yang sebetulnya aku sudah tahu isinya, aku sudah ke sport centre dan konsultasi dengan para trainers tapi tetap saja hasilnya nggak memuaskan. Biasanya yang kaget dengan hasilnya adalah mereka, bukan aku karena aku tahu tubuhku yang bandel banget turunnya. Makan sedikit atau banyak nggak ada bedanya, tidak berpengaruh nyata. Bahkan kalau makin sedikit makan akan makin efisien kerja tubuhku.


Akhirnya aku melakukan apa yang bisa aku lakukan. Misalnya kalau mudik aku pengin makan apa yang tidak bisa aku temukan di sini, aku tetap makan. Tapi sebelum dan sesudah balik ke Belanda aku harus ke sport centre lebih aktif.


Ketika aku merasa capek dengan usahaku, aku mengeluh ke Leo. Dialah yang selalu menenangkanku, dialah yang selalu mengatakan bahwa yang penting aku sehat dan aku tidak boleh terlalu menyiksa tubuhku. Dia bilang:


"I love you the way you are....."


Aku selalu menitikkan air mata ketika dia bilang seperti itu. Artinya dia bisa menerima aku apa adanya. Ya Allah, terimakasih atas anugrahmu ini, memberikan seorang suami yang bisa memahamiku. Inilah salah satunya yang menyebabkan aku mencintai dia.  


PS. Ini gambar aku dan Leo, begitu kontras ya....   


 

Monday, 9 April 2007

Londo nggoreng brambang....


Niat amat ya dia ngupas sampai nggoreng brambang.

Aku ini heran banget, Leo itu kok suka banget sama brambang (bawang merah) goreng. Memang betul makanan akan lebih enak kalau dikasih brambang goreng, tapi kadang dia juga nyomot sedikit dan dimakan begitu saja.

Dia baru tahu kalau brambang goreng does exist ketika menikah gara-gara aku pernah bikin brambang goreng. Sebelumnya dia malah nggak tahu sama sekali kalau barang itu ada. Waktu itu aku memang kerajinan, bikin brambang goreng cukup banyak supaya bisa disimpan lama. Jadi kalau bikin nasi goreng, atau bakmi goreng atau gado-gado atau masakan lainnya sudah tersedia brambang goreng untuk ditaburkan di atasnya. Sedangkan kalau dia yang ditaburi bukan saja masakannya tapi juga nasinya (jadi kayak makan nasi uduk). Padahal hampir tiap hari aku masak masakan Indonesia yang artinya dimakan pake nasi kan, jadi bisa dibayangkan dia selalu mengkonsumsi brambang goreng hampir tiap hari. Memang tidak banyak sih naburinnya karena brambang goreng kan untuk penyedap rasa saja.

Kalau kebetulan persediaan brambang goreng habis, dia pasti nanya. Aku juga kasihan, wong ya cuma brambang goreng saja kok aku nggak sediain. Pernah karena males nggoreng brambang, aku belikan saja gebakken uitjes (bawang bombay goreng) yang dijual di supermarket. Begitu dia icipi, komentarnya: "Het is niet lekker" (nggak enak). Akhirnya dia nggak mau makan uitjes tersebut sama sekali.

Yang jadi masalah adalah aku ini paling sebel nggoreng brambang. Ngupasnya masih OK, ngrajangnya masih OK karena ada kitchen mechine, tapi yang paling menyebalkan adalah menggorengnya karena selain oily juga butuh waktu cukup lama dan butuh ketrampilan tersendiri. Terlalu lama 10 detik bisa gosong, terlalu cepet 5 detik masih belum kemripik (crispy). Maunya kan bikin brambang goreng yang kuning kecoklatan dan kemripik.

Secara bercanda aku bilang sama dia kalau orang Jawa itu gampang nge-test apakah mantu perempuannya bisa masak atau enggak (maklum secara tradisional kan dulu perempuan yang di dapur, jadi yang di-test masak adalah calon mantu perempuan, bukan laki-laki. he...he...he...). Tinggal suruh saja dia nggoreng brambang dan kacang tanah. Kalau berhasil bikin brambang goreng yang tidak gosong tapi kemripik maka lulus deh ujiannya.

Dia juga suka mengamati aku bagaimana bikin brambang goreng. Lama-lama dia bantuin. Kemarin malah ajaib sekali. Dari mulai ngupas sampai nggoreng dia lakukan sendiri. Aku cuma bantuin ngupas dan menjemur (karena kebetulan ada sinar matahari kemarin). Sebelum dijemur, dia kasih garam.

Selama dijemur, aku ngempi. Tapi aku nggak sadar, tiba-tiba aku bau brambang goreng. Ternyata dia sudah mulai nggoreng sendiri. Niat banget ya. Akhirnya aku ke dapur dan bantuin dia untuk mengeringkan hasil gorengan dengan keuken papier (kitchen towel?) supaya minyaknya terserap. Aku cuma bantuin itu saja karena aku harus nyiapin untuk makan malam.

Hasilnya tidak terlalu jelek. Yang pertama agak gosong tapi sangat kemripik. Yang kedua dan selanjutnya makin bagus. Dia bahkan lebih cepat karena pake minyak yang panas sekali (aku biasanya pake minyak panas tetapi nggak berani sepanas dia). Kemarin dia goreng 2 kg brambang segar dan hasilnya diwadahi dalam 4 stoples (walaupun kata dia dalam bahasa Belanda namanya bukan stopfles tapi pot).

Setelah selesai dia bilang kalau dia bangga sekali bisa nggoreng brambang. Bahkan dia nanya:

"So...dou you think I can get my diploma? I have passed the test of making brambang goreng"

"Iya betul kamu sudah lulus. I am proud of you...."

Dulu dan sekarang


Kebetulan mami (ibu mertua) masih punya foto ini, jadi aku bisa potret ulang.

Foto ini ketika Leo masih kecil usia 3 tahunan. Cute kan? Aku gemes ngelihatnya, pengin aku cubit saja.

Dia sebetulnya nggak suka mainan kayak boneka dan sejenisnya. Tapi mami kayaknya pengin dia difoto bareng teddy bear.

Ini foto Leo ketika masih kecil (usia sekitar 3 tahun) dan sekarang (usia setengah abad). Dulu dia sangat mollig dengan kaki yang endut. Tapi menurutku sih cute. Setelah gede dia ceking banget tapi dengan berjalannya waktu dia sudah agak lumayan nggak terlalu ceking.

Dia kecewa sekali karena aku nggak punya foto masa kecil. Memang dulu aku nggak suka di-foto karena aku endut banget (sekarang malah makin mekar. he...he...he....).