Showing posts with label belanda. Show all posts
Showing posts with label belanda. Show all posts

Monday, 31 January 2011

Kagum......

Sebagai kontraktor (maksudnya pengontrak rumah), kami diberi tahu oleh pihak landlord kalau semua kompleks perumahan milik mereka akan dipasangi decoder box. Kebetulan kompleks perumahan tersebut dimiliki oleh lembaga semacam koperasi. Pokoknya nanti telpon, internet, dan TV sistemnya jadi satu. Mbuh apa itu namanya.

 

Untuk mempermudah pekerjaan pemasangan, Leo memindahkan semua isi lemari ke dalam kardus-kardus besar. Maksudnya nanti kalau tukang mau nggeser lemari kan gampang dan ngga berat.

 

Lemari tersebut berisi harta karunku. Apalagi kalau bukan loyang, piring, gelas, cangkir dan segala tetek bengek lainnya.

 

Pemindahan tersebut dia lakukan sendirian. Waktu itu aku sedang kopdar ketemu teman-teman di Drenthe. Begitu tiba di rumah, aku melongo karena isi lemari sudah kosong dan sudah pindah ke dalam box-box dan diletakkan di ruang tamu.

 

"Lho sudah dipindahin semua to? Aku pikir kita akan mindahin barengan..."

 

"Iya aku pindahin sendiri. Gile dah....buanyak banget harta karunmu......masak sampai 6 kardus......"

 

Ealahhhhhhh.......wong ya sudah tahu kalau hobi istrinya koleksi loyang kok yo masih kaget to....he..he..he..

 

Terus dia menambahkan:

 

"Lha semua isi Blokker kok pindah, kamu angkut semua ke rumah......."

 

Blokker adalah toko peralatan rumah tangga.

 

Sri dalam hati: he..he..he..

 

Sebenernya sih bukan hanya dari Blokker aja. Wong kalau pulang kampung, separo isi koper isinya peralatan rumah tangga...he..he..he..

 

Leo lagi: "Tapi terus terang aku kagum padamu....kok bisa memasukkan semua barang sebanyak itu ke dalam sebuah lemari......"

 

He..he..he..ya tentu aja bisa, wong ya disesel-seselin sampai kebak (penuh) mencep-mencep. hi...hi...hi...

 

Catatan: gambar yang aku pasang aku ambil dari Blokker. Waktu itu puingin banget punya loyang silikon (karena belum pernah punya). Tapi ternyata loyang silikon kok meyat-meyot yo. Jarang digunakan. Paling digunakan untuk bikin romantic pasta. Akhirnya beli lagi loyang tulband model yang sama tapi dari bahan metal. Lha nambah lagi to koleksinya....he..he..he..pantesan Leo komplen.... 

Wednesday, 23 June 2010

Leo: "Aku kok dibohongi....."

Lha wong sudah habis kok baru komplen ki piyé to. Ya telat....Ini cerita seputar lasagna yang aku bikin. Waktu itu aku bikin lasagna isi tempe dan kentang, bukan lasagna daging. Aneh to? he..he..he..namanya juga kreatip.

 

Jadi ceritanya gini. Suatu kali ada korting ikan sardine dalam kaleng. Karena sudah lama banget ngga makan ikan sardine, maka belilah aku. Sampai di rumah aku masak sambal goreng sardine tapi ngga pake santen soalnya Leo ngga suka santen. Aku bumbuin brambang, bawang, cabe, jahe, tomat dll. Aku tambahin juga kentang goreng dalam masakan tersebut. Ternyata Leo ngga suka. Yo wis, alamat aku yang harus makan karena dia makan cuma sedikit. Mana banyak lagi. hiks....

 

Kebetulan dua hari sebelumnya aku bikin kering tempe. Leo ngga suka tempe, gara-gara waktu pertama kali dia makan tempe, kok yo kebetulan tempenya kecut (bukan karena basi, tapi ya memang rasanya rada kecut. Dicampuri apa ya bikinnya kok bisa kecut). Akhirnya sejak itu kalau aku masak tempe, dia jarang banget ikut makan. Pokoknya njelehi (nyebelin) tenan, kalau pertama kali makan dia ngga suka, langsung ngga suka seterusnya. Tapi herannya kalau di Indonesia, dia mau makan tempe karena menurut dia tempe Indonesia lebih enak daripada bikinan di sini.

 

Menurutku kering tempe buatanku yo enak (muji diri sendiri, soale ngga ada yang muji. hi..hi...hi...). Sebelum dimasak, tempenya diiris tipis-tipis kemudian digoreng kering. Kering tempenya aku kasih udang dan dibumbui brambang, bawang, cabe, salam, laos, kecap manis dll. Tapi tetep aja terlalu banyak kalau harus aku makan sendirian. Lha piyé wong sak papan tempe. Sudah gitu Leo ngga ikutan makan. hiks....

 

Berhubung sisa makanan masih banyak, semua aku daur ulang. Kebetulan punya lembaran lasagna, akhirnya aku bikin lasagna. he..he..he..Aku tambahi bumbu lagi, mirip bumbu lasagna di sini. Tidak pake daging sama sekali. Sambal goreng kentang sardine dan kering tempe aku sulap menjadi saos merah, yang berarti pake tomat, pasta tomat, basilicum, oregano dsb. Pokoknya mirip bumbu lasagna Jowo di sinilah. Yang jelas sih tetap pake keju seperti ubo rampenya lasagna.

 

Selain saos merah, aku buat juga saos putih. Hasilnya sih menurutku enak, walaupun ingredients acak-acakan. he..he..he..

 

Aku uji cobakan makanan ini ke Leo. Aku ngga bilang kalau itu lasagna mengandungi sambal goreng sardine kentang dan kering tempe. Dia makannya cukup banyak. Bahkan nambah.

 

Aku tanya:

 

"Gimana rasa lasagna nya? Enak?"

"Enak....I like it...."

 

Ketika masih sisa, aku bilang:

 

"Kalau kamu masih mau, habisin aja. Aku sudah kenyang...."

"Jadi boleh nih dihabisin? Bener kamu sudah kenyang?"

"Habisin aja...aku sudah cukup kok....."

 

Dia bener-bener menikmati lasagna nyleneh buatanku. Aku tanya lagi:

 

"Enak bener ya?"

 

"Iya, enak.....enak banget......kamu memang pinter kalau bikin Italian food....."

 

Dalam hati aku pengin ketawa ngakak. Ketika semua lasagna acak kadul sudah habis, aku tanya dia.

 

"Kamu tahu apa isi lasagna yang kamu makan?"

"Ada saus merah dan putih kan? Kayaknya aku juga ngarasain ada kentang juga. Bener ada kentangnya? Kamu kan biasanya kalau masak Italian food pasti melenceng dari resep aslinya......selalu aja fantasri"

 

Leo selalu menganggap "kreativitas" ku sebagai fantasri instead of fantasy.

 

"Bener, memang ada kentangnya.......ada taste lain ngga selain kentang?"

"Apa ya..........ngga tahu......"

"Yang jelas itu lasagna tanpa daging sama sekali. Isinya tempe. Itu kan sisa-sisa makanan yang aku daur ulang. Sisa sambal goreng kentang sardine dan kering tempe....he..he..he...jadi itu lasagna Jowo banget, wong sebelum dibuat lasagna, tempenya aku bikin kering kentang pake kecap manis cap Bango. ha...ha...ha,,,,,,"

"You are cheatinggggggg......curang.........aku kok dibohongi......"

"Ha...ha...ha...."

 

Lha wong komplen kok setelah piring licin tandas. Makanya, jangan anti dulu sama tempe. he..he..he..

 

Pernah ngicipin lasagna tempe yang sebelumnya dikecapin? he..he..he..Yang jelas sih waktu itu rasa kecapnya sudah tidak terlalu tajam karena sudah disulap menjadi saos merah pake tomat, pasta tomat dan saus tomat. Apalagi karena ditambah basilicum, oregano dll, rasa kecapnya cuma samar-samar. Hanya yang masak yang tahu kalau lasagna itu mengandungi kecap cap Bango. he..he..he..

 

Leo tahu kalau aku demen ngaduk-aduk resep. Tapi dia ngga ngira kalau waktu itu "kreativitas" ku sudah kebablasan. he..he..he..

 

Ssssssttttttttt....jangan kasih tahu orang Itali ya kalau resepnya aku perkosa abis-abisan: Lasagna yang ngga sesuai dengan pakem.   

 

Oh ya, gambar lasagna yang dari sini, aku pasang lagi. Soalnya aku ngga sempat motret lasagna tempe karena sudah diembat abis oleh Leo. he..he..he..

 

 

 

Tuesday, 18 May 2010

Kopdar Akbar Eropah (Bagian 3B - Beneran Tamat): Kopdar Balik Modal.

Meneruskan cerita disini. Keesokan harinya sebelum berangkat ke Keukenhof aku siapin bekal. Puyeng lagi ketika melihat jumlah mie yang banyak banget. Akhirnya aku masukkan mie ke dalam 2 buah kotak plastik disposable, yang satu kotak rada gede yang satunya rada kecil. Dalam tiap kotak, aku kepyuri brambang goreng dan seledri serta aku beri glundungan cabe rawit. Itu aja sudah berat euy. Sebetulnya masih sisa banyak, tapi sudah ngga mampu bawanya. Jadi yo wis, sisanya aku simpan di kulkas lagi.   

 

Selain bakmi goreng 2 kotak, bekal lain lagi adalah chiffon cake (yang aku potong-potong supaya gampang makannya. Hampir seloyang karena 2 potong aku tinggalin buat Leo), rempeyek bingung, pizza tuna (mintak tolong Leo beliin di supermarket sehari sebelumnya dan malam sebelumnya sempat aku panggang). Semuanya aku masukkan di sebuah tas plastik. Ngga lupa aku masukkan juga beberapa garpu plastik (aku punya feeling kalau panitia akan bawa piring atau mangkok plastik dan ternyata bener karena mereka ternyata bawa empek-empek, walaupun aku ngga kebagian. he..he..he..).

 

Bisa bayangin kan beratnya. Belum lagi aku bawa backpack isi air minum dan sebagainya. Aku cuma berharap cepet makan siang, jadi cepat habis supaya ngga terlalu berat bawaanku.

 

Aku diantar Leo ke stasiun metro dan kemudian meneruskan perjalanan naik kereta ke Leiden Centraal. Kebetulan janjian sama Yanti naik kereta bareng, jadi kami ketemu di stasiun. Yanti sampai terkagum-kagum melihat bekal yang aku bawa. Niat amat yak, ini mau kopdar apa mau camping, berat banget bawaannya. Dalam hati aku juga mikir, ngapain coba aku bawa pizza segala, kan sudah ada bakmie goreng. Kurang kerjaan, bikin berat aja.

 

Dari Leiden kami masih melanjutkan perjalanan dengan bus. Tiba di Keukenhof, rombongan dari Amsterdam belum datang, jadi kami putar-putar duluan. Gembolan masih berat menemaniku.

 

Sekitar pukul 12, rombongan datang. Begitu ketemu Elly, langsung deh kami bertransaksi. Dapat dari Elly duit 15 Euro. Kemudian berusaha mencari Henny. Aku serahkan chiffon cake pada Henny.

 

Sri: "Maaf ya Hen, aku ngga sempat bikin. Ini kebetulan ada chiffon cake di rumah. Kamu bagi-bagi aja ya dimakan bareng sama teman-teman....."

 

Eh....lha kok Henny ngotot mau bayar. Katanya dia janji sudah pesen, jadi harus bayar. Aku harus menyebut harga. Lha kan ya susah to, wong aku ngga siap dagang kok. Habisnya bahan berapa aja aku ngga tahu. Kami waktu itu yo sempat otot-ototan. Akhirnya aku nyerah.

 

Sri: "Ya sudah Hen, kamu bayar biaya bahan aja sekitar 5 sampai 7 Euro...."    

 

Padahal aku juga cuma njeplak, wong aku ngga ngitung keluar biaya berapa. Henny ngasih aku 8 Euro dan aku harus terima. Aku terima, alhamdulillah.

 

Begitu selesai transaksi, eh lha kok aku didekati oleh Rani dari Itali.

 

Rani: "Jualan apa?"

Sri: "Ngga jualan. Tahu ngga siapa yang kemarin ngga kebagian arem-arem? Ini aku bawain mie goreng karena aku ngga sempat bikin arem-arem......Kalau ngga salah Tyas ya kemarin yang ngga kebagian......Kalau bisa aku mau kasih ke dia sekarang supaya aku ngga berat....."

 

Rani: "Sudah gini aja, aku beli aja. Nanti kalau ketemu dia, kami makan bareng....."

Sri: "Lho wong ini ngga dijual kok.....ambil sajalah nanti makan sama yang lainnya......"

Rani: "Ngga bisa....harus bayar. Sudah keluar tenaga kok......Jadi berapa aku bayar?"

Sri: "Lha wong ngga dijual kok mau bayar......."

Rani: "Ngga bisa, harus bayar....ini ya aku kasih duitnya......"

Dengan cueknya Rani mengambil kotak mie dan menyerahkan 5 Euro. Aku ketawa ngakak.

 

Belum sampai habis tertawa, Lysa dari Swedia mendekati aku.

 

Lysa: "Jualan apa nih? Beli dong......"

Sri: "Ngga jualan. Ini lho, kemarin aku bikin arem-arem gagal....malah jadi mie goreng....."

Lysa: "Masih ada kan? Aku beli aja deh......Berapa?"

 

Kebetulan Lysa melihat kotak yang lebih kecil dari kotak mie gorengnya Rani. Isinya kira-kira separonya.

 

Sri: "Ini ngga dijual kok, wong buat makan rame-rame...."

Rani (kepada Lysa): "Sudah kamu bayar aja 3 Euro....."

Aku ketawa ngakak.....yang menentukan harga malah Rani, bukan bakulnya....ha...ha..ha...

 

Akhirnya Lysa ambil kotak dengan menyerahkan uang 3 Euro. Aku serahkan garpu-garpu plastik.

 

Sri: "Lha ini aku kok malah jadi dibayar, wong niatnya mau dimakan rame-rame....."

Lysa: "Ya harus bayar kan sudah keluar bahan dan tenaga......."

 

Aku ngga bisa nahan tawa. Mau kopdaran kok malah ngasong ki piye. ha..ha..ha..Eh...baru selesai bertransaksi sama Lysa, ada beberapa teman yang mendatangi:

 

"Eh...jualan apa? Jual arem-arem ya?"

Ha...ha...ha...ternyata aku terkenal sebagai bakul arem-arem. Mereka kecewa ketika tahu "jualan"ku sudah habis.

 

Berhubung "barang dagangan" sudah habis, aku masukkan rempeyek bingung dan pizza ke backpack supaya lebih ringkes. Jadi itulah kenapa foto-foto Keukenhof selanjutnya ngga ada tas plastik yang mejeng.

 

Ketika aku cerita sama Yanti, dia juga ngga bisa nahan tawa.

Yanti: "Namanya rejeki, diterima aja mbak.....ha...ha...ha..."

Sri: "Alhamdulillah, rejeki dadakan........Lha tahu gitu, mie goreng yang masih nongkrong di kulkas aku bawa ke sini Yan, buat ngasong di Keukenhof.....ha...ha...ha..."  

 

Ketika ketemu Ari untuk melakukan transaksi rempeyek bingung, aku juga ceritakan proyek ngasong dadakan ini. Ari ngga bisa nahan tawa.

 

Ari: "Wah kalau gitu kopdaran ke Keukenhof balik modal.......ha...ha...ha.......Uang hasil jualan bisa untuk beli tiket masuk Keukenhof....."

 

Malah ngga hanya untuk bayar tiket masuk, bisa untuk naik angkot pp dari rumah ke Keukenhof. ha..ha..ha..

 

Itulah kisah Kopdar balik modal. Kalau orang-orang kopdaran keluar biaya, tapi aku kopdaran malah balik modal. Ngasong dadakan....

 

Ketika tiba di rumah, aku ceritakan pengalamanku ini ke Leo, dia geleng-geleng kepala.

 

Leo (dengan nada acussing): "You sold my food......."

Sri: "ha...ha...ha...tahu gitu mie goreng di kulkas aku jual juga ya....."

Dasar matreeeeeeeekkkkkk....hi...hi...hi... 

 

Catatan: Kenapa aku masang gambar di atas? Karena di tas plastik Lidl itulah berisi "barang dagangan" he..he..he......Kebetulan Yanti kasih foto ini, eh...lha kok tas plastik ikut mejeng ki piye. Makasih ya Yan fotonya.

 

Daripada diprotes mboné Menik lagi (kok crito panganan ngga ada gambar makanannya) maka penampilan mie goreng yang aku bawa kopdar bisa dilihat disini. Pokoké kiro-kiro kayak gitu (disebut kiro-kiro karena ngga sempat motret), cuma mienya lebih alus dan vegetarian ngga pake daging sama sekali. Selain itu juga masih ditambah glundungan cabe rawit yang montok-montok kayak bakulnya. hi...hi...hi...

Oh ya, satu lagi. Akhirnya pizza yang aku bawa malah menjadi makan siangku. Rani yang dari Itali makan mie goreng, sedangkan aku yang bikin mie goreng malah makan pizza. he..he..he..

 

TAMAT - TENANAN SAIKI 

 

 

  

 

 

 

Monday, 17 May 2010

Seri Kopdar Akbar Eropah (Bagian 3A - Hampir Tamat): Chiffon Cake dan Kisah Mie yang Bikin Puyeng

Waktu hari pertama kopdar di Alkmaar, Henny dari kontingen Swedia rasan-rasan kalau blio ini pengin bawa chiffon cake pulang jadi pengin pesen kalau ada yang bisa bikin. Lha Hen, kok yo baru ngomong sekarang. Tahu gitu kan aku bikinin to. Kebetulan aku sehari sebelumnya bikin chiffon cake dan masih utuh. Aku pikir kalau aku ngga sempat bikin. Aku kasih aja buat Henny untuk sekedar icip-icip.

 

Di stasiun Alkmaar, aku keluarkan bekalku yaitu arem-arem mie. Maklum ngga sempat sarapan karena harus berangkat dari rumah jam 06:15 supaya bisa tiba di Amsterdam sebelum jam 9 pagi. Kenapa ngga bawa roti? Males soalnya ngga nendang...maklum perut Jowo. he..he..he..Lha mau bawa setampah nasi tumpeng juga susah to, jadi mendingan bawa arem-arem aja, lebih praktis.

 

Sambil minta maaf karena makan sendiri, aku makan sarapanku daripada semaput kelaparan. Teman-teman ngelihat dan tanya itu apa. Aku bilang arem-arem mie. Isinya tahu, wortel dan kentang, pokoknya vegetarian tapi dibumbu puedes biar terasa. Kebetulan di rumah punya sisa mie wonton yang enak, jadi rasané jan mantep tenan (muji diri sendiri. hi...hi...hi...). Karena males mbungkus pake daun pisang, arem-arem mie aku bungkus dengan aluminium foil sebelum dikukus. Bentuknya kayak lontong yang gede, bukan kecil mungil kayak lemper. he..he..he..Jadi makan sebiji sudah puas.

 

Melihat mata teman-teman yang penasaran, aku keluarkan arem-arem mie satunya lagi. Siapa tahu ada yang pengin nyicipin. Aku pikir satu atau dua orang aja yang pengin. Eh lha kok ternyata arem-arem ini dibagi buat rame-rame. Mungkin secuwil-secuwil kali ya. Malah ada yang ngga kebagian. Aku terus terang nyesel banget, lha tahu gitu tadi yang satu ngga aku makan tapi buat rame-rame. Mana bawa cuma 2 biji lagi. Kalau perkara sarapan aku kan bisa beli sandwich. Tapi ya gimana, arem-arem sudah ada di perutku. Tapi yang jelas kata teman-teman arem-arem mie nya enak dan mereka suka.  

 

Dari pengalaman itu, aku pengin bikin arem-arem lagi supaya keesokan harinya bisa aku bawa ke kopdar di Keukenhof. Kebetulan aku sudah titip Leo untuk beli mie di supermarket. Biasanya kami belanja ke supermarket bareng, tapi berhubung aku ikut kopdar, hari itu Leo ke supermarket sendiri. Cuma sayang, mie yang dijual di supermarket ngga seenak mie kering dari toko Asia. Tapi yo ora opo-opolah.

 

Hari itu aku tiba di rumah jam 9 malam. Capek sekali, tapi tetep pengin bikin arem-arem mie. Kebetulan masih punya tahu enak dari toko Asia. Setelah ngrebus mie, bikin isi, nyampur telur dsb...eh lha kok tiba-tiba aku sakit kepala. Mungkin kecapaian atau mungkin ketularan Leo yang hari itu memang sedang sakit. Akhirnya mie ngga jadi aku bungkus dan kukus, tapi langsung aku masukkan ke wajan, aku goreng. Aku tambah bumbu-bumbu lagi karena mie supermarket ngga sejos mie toko Asia. Setelah mateng, aku masukkan ke kotak plastik gede dan setelah agak dingin aku masukkan ke kulkas.

 

Dalam hati aku bilang, aduh kok banyak banget ya jadinya, berat euy...hiks gimana nanti bawanya. Terus kalau ngga jadi dibawa siapa yang makan segitu banyaknya. Mana Leo sakit, jadi ngga ada korban untuk ngabisin. Kepala makin puyeng. Akhirnya sudahlah, apa kata besok. Yang penting aku mandi, sholat dan tidur serta nguntal Paracetamol supaya besok pagi bisa sembuh dan bisa ikut kopdar acara puncak di Keukenhof. Sebelum tidur aku ingat-ingat supaya besok jangan lupa minta maaf sama Henny karena ngga sempat bikinin chiffon cake pesenannya.

 

Bagaimana kisah mie ini keesokan harinya? Ikutilah cerita selanjutnya (kayak sinetron aja pake bersambung, wong yo cuma crito arem-arem mie yang gagal lho).  

 

Catatan: gambar yang aku pasang adalah pandan chiffon cake yang aku bikin baru-baru ini. Lha timbang ngga ada gambarnya, yo aku pasang ini aja. he..he..he..

 

(Bersambung lageeeee.....)   

 

 

Saturday, 15 May 2010

Seri Kopdar Akbar Eropah (Bagian 2): Kisah Rempeyek Bingung

Masih soal rempeyek lanjutan cerita kopdar sebelumnya.  Pelanggan kadang yo gitu, mencari yang tidak ada. Dulu ketika aku woro-woro di fesbuk siapa yang mau ikutan pesen rempeyek karena ada teman yang pesen (maksudnya sekalian bikin), ngga ada seorangpun yang pesen. Eh giliran aku cuma buat sesuai pesanan, pada nanyain.

 

Hari H-1, aku ditelpon Ari. Kebetulan ada beberapa teman peserta kopdar yang menginap di rumah Ari. Ternyata teman-teman ini pengin makan rempeyek bikinanku lagi. Mereka dulu memang pernah nyicipin rempeyekku waktu kopdar di Stockholm. Katanya kangen. Lha yo ngga ada wong ngga pesen. Maklum bakul rempeyek cuma bikin sesuai pesenan, wong bukan pabrik yang produksi sepanjang tahun. he..he..he..

 

Aku bilang memang ada sisa, se plastik, mbuh berapa gram, mungkin seprapat kilo-an. Tadinya aku pikir, lumayan ada rempeyek sisa buat icip-icip dimakan bareng teman-teman lain di kereta. Tapi teman-teman yang nginep di rumah Ari ini bilang mau seplastik, dua plastik, atau berapa plastik pengin dibeli mau dimakan rame-rame. Akhirnya aku sanggupi bawain untuk mereka. Cuma ketemunya gimana, wong mereka belum jelas mau kemana. Selain itu rumahnya Ari juga jauh dari rumahku. Lha susah to.

 

Keesokan harinya aku ke Amsterdam untuk ikutan kopdar. Aku bawa rempeyek pesenannya Elly dan juga rempeyek sisa. Siapa tahu mereka akan ikut rombongan kopdar lainnya. Aku drop rempeyek pesenan Elly di youth hostel, tempat sebagian besar peserta kopdar menginap. Aku sms Ari nanya apakah rempeyeknya aku drop saja di youth hostel. Ari ngga bisa memutuskan wong dia juga belum tahu tamunya akan kemana. Wah tambah angel iki.

 

Akhirnya aku memutuskan untuk membawa rempeyek ini untuk kopdar mengikuti rombongan besar ke Alkmaar. Aku taruh rempeyek ini di backpack, wong yo masih muat ranselku. Di Alkmaar ngga ketemu mereka. Jadi mereka ngga ke Alkmaar. Dari Alkmaar kami ke Volendam. Rempeyek masih duduk manis di dalam tas punggungku. Sapa tahu ketemu di Volendam....eh kok ya ngga ketemu sampai sore hari kami di sana. Kami balik lagi ke Amsterdam, tetep juga ngga ketemu. Yo wis, akhirnya aku bawa pulang lagi. Aku ngga ikut rombongan lagi yang mau menghabiskan malam menjajahi Amsterdam. Di dalam kereta menuju Amsterdam, aku sms Ari:

 

"Ari, rempeyeknya bingung diajak muter-muter....jadi ya ancur....."

 

Keesokan harinya adalah acara puncak yaitu ke Keukenhof. Aku bawa lagi itu rempeyek soalnya sudah kadung janji. Kalau ngga janji, sudah aku bagi-bagi di kereta kemarin dalam perjalanan Alkmaar-Amsterdam. Sudah gitu aku sudah kena sogok Ari pake kata "ai lop yu.....", dasar ngga tahan rayuan, jadi yo rempeyek tetep diotong-otong ngalor ngidul.

 

Ketika di Keukenhof, Ari nelpon katanya dia dan rombongan baru akan tiba jam 1 siang. Aku bilang:

"Rempeyeké sudah ancur....lha wong bingung kok diajak muter-muter......"

"Lha malah enak to mbak kalau ancur, ngga perlu ngunyah....ha..ha..ha.."

 

Sekitar jam 3 sore barulah terjadi transaksi. Maklum Keukenhof kan guede sekali, jadi ya tidak bisa langsung ketemu. Belum lagi ibu-ibu kalau ketemu pasti klangenan duluan, terus poto-poto-an. Rempeyek tetap setia nongkrong di tas punggungku.  

 

Ketika aku serahkan rempeyek ke Ari, dia nanya.

Ari: "Piro? limo opo enem? (berapa? lima atau enam?)....."

 

Ari nih putri Bali tapi aku kalau ngobrol sama dia malah pake boso Jowo. Lha wong dia bisa coro Jowo kok, jadi malah gayeng kalau ngobrol pake coro Jowo sama dia.  

Sri: "Papat (empat)......."

Ari: "Mosok ming papat.....limo yo....(masak cuma empat (maksudnya empat euro)), lima ya....."

Sri: "Papat waé......"

Ari: "Limo......"

Sri: "Papat, wong yo rodo ketebelan dan rada ancur wong dibawa muter-muter...."

Ari: "Limo....yang satu euro buat upah bawa rempeyek muter-muter......he..he..he.."

 

Lho ini yang jualan siapa, kok malah yang ngotot ngatur yang beli. he..he..he..Akhirnya aku terima uang 5 euro dari Ari. Makasih ya Ar. Rempeyek kemudian dimakan rame-rame, diserbu peserta lainnya. Lha kalau bakul sih ngga ikutan nyerbu, wong wis mblenger rempeyek. Mosok iyo, bakulan ikutan nyerbu.

 

Ari: "Wong yo ngga tebel gitu lho ya. Aku malah suka yang seperti ini. Nanti kalau aku pesen, tebelnya yang seperti ini ya mbak. Enak rempeyeknya.....ngga ancur banget gitu lho ya......"

Sri: "Lha wong itu rempeyek mengandung platokan kloponya Leo kok...."

 

Ari ketawa ngakak ketika aku ceritain Londo mlathok klopo. Yang jelas, rempeyek diserbu peserta sampai licin tandas. Malah ada seorang peserta dari Belgia yang datang kopdar bersama suaminya. Ternyata Londo Belgi satu ini demen banget rempeyek bikinanku ini, sampai remah-remah terakhirpun dia kunyah....he..he..he..

 

Begitulah kisah rempeyek bingung yang dibawa muter-muter dari mulai rumah ke stasiun Rotterdam (dianter oleh Leo), kemudian naik sepur ke Amsterdam Centraal station, dari sana ke youth hostel (pake acara kesasar), kemudian balik ke Amsterdam Centraal station, terus numpak sepur ke Alkmaar. Dari stasiun Alkmaar jalan kehujanan ke cheese market, dari sana balik ke Alkmaar station lagi, terus mbalik lagi ke Amsterdam Centraal. Dari sini naik bis ke Volendam. Jalan kehujanan lagi, diajak ke photo studio dan nyari supenir. Setelah itu naik lagi bis balik ke Amsterdam, ke youth hostel lagi. Setelah ngobrol di youth hostel, pulang lewat Amsterdam Centraal. Di Rotterdam dijemput Leo. 

 

Itu baru hari pertama. Hari kedua diantar Leo ke stasiun metro, terus naik metro ke stasiun Rotterdam, dari sana naik sepur ke Leiden Centraal stasiun. Dari sini naik lagi bis ke Keukenhof. Di kebon tulip ini diajak jalan muter-muter sebelum akhirnya ketemu Ari. 

        

Gambar yang aku pasang adalah tas isi rempeyek yang dibawa ngalor ngidul. Sebelum diprotes lagi sama mbokné Menik, kok ngga ada gambar rempeyeknya, dengan ini bakul memberi pernyataan kalau rempeyeknya sudah kadung laku sebelum dipoto.

 

Eh jadi malah sekarang baru inget. Teman-teman yang nginep di rumah Ari akhirnya kebagian rempeyek apa ngga ya. Lha wong mereka yang tadinya ngebet mau beli. Lha kalau ngga kebagian, yo muhun maap.

 

Cerita masih bersambung dan bagian ketiga nanti yang paling bikin ger-ger-an (ngakak?).

 

(Bersambung lageeeeee).

 

Thursday, 13 May 2010

Kopdar akbar Eropah: Alkmaar dan Volendam....


Sama nonik Londo yang kasih tahu arah cheese market.

Ini kopdar di Alkmaar ngelihat cheese market dan kemudian dilanjutkan poto-poto di Volendam pake baju tradisional Volendam. Baju ini perasaan bikin badan kelihatan tambah melar euy...he..he..he..tapi yang penting asyiiiiikkkkk walaupun kehujanan....

Monday, 10 May 2010

Seri Kopdar Akbar Eropah (Bagian 1): Transaksi Rempeyek di Keukenhof & Londo mlathok klopo

Jadi ceritanya kan gini. Sebelum kopdar ada seorang peserta kopdar kontingen Perancis yang pesen rempeyek sekilo dan aku sanggupi. Blio ini pernah nyicipin rempeyek bikinanku waktu kopdar pertama di Stockholm tahun lalu. Dulu waktu kopdar di Stockholm memang ada peserta dari kontingen Swedia yang pesen rempeyek (ini mau kopdar apa mau ngasong ceritanya. hi...hi...hi....). Kalau dipikir niat amat yak, pesenan sekilo disanggupi. Soalnya mau eksperimen bikin rempeyek pake cetakan. Itung-itung eksperimen ada yang bayarin. he..he..he..


Tapi berhubung hasilnya belum sempurna (menurutku kok rada tebal ya bikin rempeyek pake cetakan, dibandingkan kalau bikin dengan cara tradisional), aku minta maaf sama blio. Pokoknya aku korting deh harganya.


Hari pertama aku drop rempeyek blio ini di youth hostel Amsterdam, tempat menginap para peserta. Karena blio belum check in, aku titipin rempeyek tersebut ke peserta dari Swedia. Kemudian aku ikutan jalan-jalan dengan peserta kopdar lainnya yaitu pagi ke ke Alkmaar dan siang ke Volendam. Blio baru bisa ikut acara yang di Volendam.   


Hari kopdar kedua kami ke Keukenhof. Disini blio mbayar. Maklum hari pertama kami ketemunya ngga bisa intensif, jadi baru hari kedua ini bisa melakukan transaksi bisnis. he..he..he..kayak apa aja, wong yo cuma jualan rempeyek sekilo aja lho, kok istilahnya transaksi bisnis. 


Blio (namanya Elly) nanya: "Berapa mbak jadinya?"

Sri: "Sudah kasih aja 14 Euro, harga korting. Maaf ya rada tebal.....padahal resepnya sama lho...."

Elly: "O ngga papa.....asal masih bisa dipatahin....."

Sri: "O...kalau itu sih bisa, jangan khawatir, renyah kok....."


Eh blionya malah bayar 15 Euro ngga mau dikembalikan. Yo wis namanya juga rejeki. Itung-itung buat transport. Iya ngga? Makasih ya Elly....


Sri: "Ini sebenernya malah pake santen dari kelapa segar lho. Kebetulan ada kelapa segar di pasar, kok harganya murah. Langsung deh aku beli. Kebetulan suamiku kan pinter mlathok batok kelapa. Bahkan kadang dagingnya ngga pecah sama sekali, bener-bener daging kelapanya bulet let, air kelapanya masih utuh di dalam. Aku minta tolong dia mlathokin kelapa, terus dia kupas kulit arinya dan dia parut dengan food processor. Jadi rempeyek yang aku bikin kali ini ya bener-bener pake santen dari kelapa segar, bukan dari santen kaleng....."


Masih terbayang diingatanku, Leo mlathok kelapa, kemudian nyukil daging kelapa dari batoknya karena kali ini daging kelapanya pecah dan masih nempel di batoknya, ngga bisa bulet let seperti biasanya. Kebayang kan susahnya. Lha wong klopo saja ngga bisa tumbuh di tanah Londo, eh...malah nyuruh dia mlathok klopo. 


Sambil mlathok dia ngomong begini:

Leo: "Aku dulu sebelum nikah, ngga pernah kok mlathok klopo, eh...sekarang nikah malah salah satu job description ku mlathok klopo....."

Sri: "Ya itulah konsekuensinya nikah sama perempuan Indonesia, harus mau mlathok klopo....he...he...he..."

Sri (dalam hati): "Padahal mana ada coba suami Indonesia mau mlathok klopo? Lagian ngapain mlathok klopo, wong beli klopo yang sudah plathokan di tukang sayur bisa kok. hi...hi...hi..."


Off the record...ssstttt...jangan bilang siapa-siapa, sebelum bikin rempeyek, aku mintak petunjuk bu lurah bagaimana caranya bikin rempeyek pake cetakan. Bu lurah kemudian memberikan petunjuk dengan saksama. Makasih ya bu lurah. 


Kalau meminjam istilahnya jeng Evia, rempeyek yang aku jual sangat internasional, kloponya dari Suriname (kata pedagang pasar), yang jual klopo orang Maroko, tepung beras dan tapioka serta bumbu-bumbu beli di toko oriental, glepung nya diimport dari Thailand, bawang putihnya produksi Spanyol, garamnya produk Belanda, kacangnya impor embuh dari mana, minyaknya beli dari supermarket Lidl (supermarketnya Jerman), yang kasih petunjuk dari Indonesia, yang bikin orang Indonesia, dibikin di Belanda, rempeyeknya dititipin sementara ke kontingen Swedia kemudian diekspor ke Prancis. hua...ha...ha...kurang internasional apa coba????   

 

Kembali ke Elly lagi.   

Elly: "Wah jadi penasaran nih.....jadi pengin nyicipin rempeyek pake santen segar....."

Sri: "Lha wong ini sebenernya eksperimen kok, Elly. Jadi aku yang eksperimen, tapi Elly yang bayarin eksperimenku.....ha...ha...ha..."

Elly: "Wah tahu gitu ngga aku bayar.....mana uangnya kembaliin....ha...ha...ha..."

Sri: "O...ya sudah telat....wong duit sudah di tanganku.....ha...ha...ha..."


Gambar yang aku pasang adalah potoku waktu kopdar di Keukenhof. Bakul rempeyek bawa payung pinjaman dari teman (kebetulan ada teman bawa payung ungu, jadi penginnya nampang pake payung ungu diantara tulip ungu. Tapi kok payungnya jadi berwarna biru ya ketika disotret...eh dipotret. Arep kemayu wae kok yo angel (mau genit aja kok yo susah). he..he..he..).  


(Bersambung) 

 

 

Kopdar akbar Eropah: Keukenhof-2010


Cantik kan bunganya....

Ini foto-foto kopdar akbar Eropah yang tahun ini diselenggarakan di Belanda. Acara puncak diselenggarakan di kebon tulip Keukenhof. Yang jelas kalau emak-emak ketemu, pasti seru, heboh sureboh, ketika dipoto ngga pernah mati gaya en sadar kamera.

Ini ajang ketemu teman-teman Indonesia yang tinggal dari berbagai negara di Eropah. Tahun ini pesertanya dari Swedia, Jerman, Italia, Spanyol, Perancis, Belanda, dan Belgia (malah ada 1 peserta dari Amrik).

Peserta dari luar Belanda pada umumnya menginap di youth hostel di Amsterdam. Emak-emak nginepnya di youth hostel. he..he...he...Lha piye, wong hotel di Amsterdam muahalnya luar biasa jé, jadi ya cari penginapan yang murah meriah. Tapi pengalamanku malah seru lho. Dulu waktu kopdar di Stockholm, kami menginap di youth hostel juga. Sekamar bisa ber 10, kayak pindang. he..he..he..tapi yang penting kan seru bisa kopdar, wong ya cuma 3 malam doang.

Yang jelas kopdar ini diharapkan untuk saling bersilaturahmi, kangen-kangenan dengan teman lama, berkenalan dengan teman baru, mempererat persahabatan. Pokoknya memperluas jaringan, ngga pake bumbu konflik. he..he..he..maklum orang Indonesia di rantau kadang juga ada kok yang konflik.

Terimakasih kepada panitia yang sudah bekerja keras mensukseskan acara ini.

Sunday, 2 May 2010

Horeeee...dapat kado kecepetan.....langsung deh "diperbudak"


Jamur tiram digoreng...lumayan enak digoreng pake actifry...

Posting di bagian foto karena aku ngga bisa posting di bagian "BLOG". Mbuh ngga tahu kenapa. Sudah bolak-balik dicoba, error mulu.


Aku pernah menulis tentang keinginanku dapat actifry. Ocehan sebelumnya bisa dilihat disini:
disini.



Waktu itu Leo janji akan memberikan kado ini untuk ultahku. Tapi akhirnya dia memutuskan untuk memberikan kado ini sebelum hari H.



Kado ini diberikan kecepetan, gara-gara pengalaman dia nggoreng brambang memakan waktu berjam-jam. Waktu itu aku belikan dia brambang 12 kilo. Ternyata untuk menggoreng saja butuh waktu 6 jam. Belum termasuk mengupas dan membersihkan dapur. Rasanya ruangan semuanya berminyak. Maklum rumah kami kan dapur tidak terpisah dari ruang tamu dan ruang makan. Jadi walaupun minyak tidak tumpah, tetep saja bekas minyak menempel dimana-mana, di dinding, lukisan dll. Maklum kami ngga punya alat penyedot asap untuk kompor.



Akhirnya dia memutuskan untuk beli alat dapur ini. Tanpa ba bi bu dia langsung pesen online. Ketika sudah pesen, dia bilang kalau actifry akan tiba 3 hari hari lagi. Aku tanya:


"Lha terus kamu pesen tipe yang mana?"

"Lho emang ada berapa tipe?"



Lho iki piye to. Wong pesen kok ya ngga nanya dulu ke aku. Dia baru tahu kalau ada 2 tipe yaitu yang untuk kapasitas 1 kg dan 1,5 kg. Dia ternyata pesen yang untuk kapasitas 1 kg. Cukuplah untuk kami yang cuma 2 orang.



Akhirnya tiap hari deg-degan menanti tukang pos nganterin actifry. Begitu dapet, sueneng banget. Makasih, Leo. Dikau memang baeeeeeekkkkk. Pokoknya aku padamuuuuuuu.......



Mulai deh memperbudak alat ini, langsung uji coba. Karena alatnya rada gede, ngga disimpen di lemari (wong yo lemari sudah penuh loyang. hi..hi..hi..). Kami taruh di meja sehingga kapanpun bisa digunakan.


Nyoba nggoreng frozen vegetarian loempia, tapi hasilnya gosong karena kelamaan. he..he..he..



Yang jelas untuk nggoreng tahu hasilnya bagus, cuma ngga sempat difoto karena sudah keburu di-emplok.



Alat ini memang irit minyak, cuma butuh 1/2 sd 1 sendok makan minyak. Kami memperkirakan alat ini bisa untuk menggoreng brambang. Lha kalau untuk nggoreng lumpia aja bisa renyah, berarti nggoreng brambang pasti ya bisa.



Bagaimana rasa hasil gorengan dengan actifry? Secara jujur lidah kami mengatakan bahwa hasil gorengan dengan minyak banyak atau deep fry, hasilnya lebih enak. Tapi untuk kesehatan, alat ini sangat membantu buat mereka yang sedang diet tapi tetap pengin makan gorengan. Lama-lama lidah kami juga terbiasa kok.

Thursday, 15 April 2010

Tips Nyimpen Jahe ala Leo....

Suatu kali seorang bakul di pasar kebanjiran jahe. Harganya sangat murah, seplastik cuma 1 Euro. Padahal seplastik mungkin beratnya sekitar 2 kilo (mungkin malah lebih). Beli sedikit ngga boleh. Puyeng juga, padahal tidak setiap hari butuh jahe. Akhirnya dibeli juga (dasar kemaruk, begitu harga korting langsung borong. he..he..he..).

 

Sampai di rumah bingung mau disimpen dimana (jadi bukan loyang aja yang bingung nyimpennya. he..he..he..). Sudah disimpen di kulkas dan di freezer, masih sisa juga. Padahal freezer sudah penuh cabe. he..he..he.. Padahal jahé kan rowa (apa bahasa Indonesianya rowa? Makan tempat?). Sudah dipotong-potong tetep aja ngga cukup, akhirnya disesel-seselin ke kulkas. hi..hi..hi...tapi tetep aja beberapa lama kemudian ada yang jamuran. hiks....yang disimpen di luar kalau ngga kering ya jamuran. hiks...hiks...

 

Ternyata yang bisa memecahkan masalah justru Leo. Dia bilang kenapa ngga dibikin pasta jahe saja. Dia bersedia untuk membantu dari mulai ngalusin sampai dengan masukkin ke plastik. Makasih Leo. Aku padamu pokoknya.

 

Jadi caranya:

1. Jahe dikupas.

2. Setelah dikupas, kemudian dihaluskan, mau diparut (kalau pengin babak bundas tangannya marut 2 kilo jahe), atau diblender (jangan pake air), atau pake food processor canggih juga boleh.

3. Masukkan ke dalam plastik. Kebetulan aku kok bawa plastik yang biasa untuk bikin es. Beli waktu mudik.

4. Ujungnya kemudian diikat. Aku ngiketnya pake tali plastik kecil yang biasanya buat ngiket plastik sandwich.

5. Simpan di freezer.

Dengan cara tersebut yang jelas tidak memakan tempat di freezer. Kalau mau pake, tinggal keluarin dari freezer, diamkan sebentar (ngga perlu sampai meleleh), potong jahe pasta yang sudah beku ini secukupnya dengan pisau. Sisanya masukkan freezer lagi.

 

Dengan cara ini aman deh, jahe ngga bakalan jamuran ataupun kering. Lebih praktis dan tidak memakan tempat. Selamat mencoba...siapa tahu ada yang kebanjiran jahé....

 

Gambar yang aku posting adalah contoh jahé yang sudah beku. Terus terang, aku bingung, wong waktu itu perasaan disimpen dalam beberapa plastik, kok nemunya cuma 3 biji yak. Mungkin yang lainnya tenggelam dalam lautan cabe di freezer, wah harus kerja keras nih....digging....hi...hi...hi...

Tuesday, 30 March 2010

Hirarki anak laki-laki...

Terus terang aku mulai memahami tentang cara atau pola pikir anak laki-laki setelah menikah. Aku lahir empat bersaudara yang tiga diantaranya perempuan. Adikku laki-laki meninggal ketika masih kecil. Ayah meninggal ketika aku remaja. Dari TK sampai dengan SMP, kebetulan teman-temanku sekolah kok ya kebanyakan perempuan. Teman maen juga kebanyakan perempuan. Waktu kuliah, teman-teman kost juga perempuan. Jadi aku terbiasa dengan lingkungan perempuan.

 

Di tempat kerja memang banyak laki-laki, tapi yang kami bicarakan ya tentang kerja. Kalaupun berbicara tentang keluarga, kok ya kebetulan kami jarang memfokuskan diri membicarakan tentang perbedaan antara cara pola pikir antara anak laki-laki dan anak perempuan.

 

Walaupun aku pernah mempelajari teori tentang gender dan sejenisnya, tapi tetap saja aku menemui hal-hal baru ketika aku membandingkan antara masa kecilku dan masa kecilnya Leo. Ternyata memang ada perbedaan pola pikir antara keduanya. Perkara perbedaan itu disebabkan oleh perbedaan budaya, lingkungan, konstruksi sosial dsb tapi tetep aja ada perbedaan.

 

Misalnya begini. Setahuku seorang anak perempuan pada umumnya akan seneng (or at least ngga sebel) kalau disebut "cute" oleh tantenya. Tapi ternyata hal ini tidak berlaku untuk anak laki-laki. Kata Leo, ketika dia berusia 8 tahun dia paling sebel kalau tante-tantenya menyebut dia cute. Apalagi kalau mami memasangkan topi di atas kepalanya, kemudian para tante ini akan mengomentari:

 

"Aduh....kamu cute sekali dengan topi itu......."

 

Kata Leo: "Paling sebel kalau tante-tante ngomong kalau aku cute. Kalau kedengaran teman-temanku, bisa-bisa hirarki ku akan langsung drop........"

 

Sri: "Lha memang kenapa kok bisa jatuh?"

 

Leo: "A boy is supposed not to be cute.....you will loose all respects from your friends if they know that your aunts call you as a cute boy......"

 

Sri (masih tetep ngga mudeng, wong yo cuma disebut cute aja kok yo sampai kehilangan harga diri segala):

"Lha terus kalau anak laki-laki harusnya seperti apa supaya tetap menempati hirarki tinggi?"

 

Leo: "A boy is supposed to be naughty.....then you will get more respect from your friends.....your friends will admire you........that's the way you get high positon in your group......"

 

Sri (tetep ngga mudeng, wong nakal kok malah dikagumi): 

"Terus yang disebut nakal itu kayak apa supaya kamu disebut hebat oleh teman-temanmu?"

 

Leo: "Misalnya, kamu mencet bel rumah orang, terus kamu cepet lari bersembunyi.....ketika pemilik rumahnya keluar, dia akan marah-marah karena ngga menemui siapapun........terus kamu bisa tertawa-tawa....."

 

Sri (makin ngga mudeng): "Lha wong bikin orang marah kok malah bisa menaikkan hirarki"

 

Leo: "Ya memang gitu kalau anak laki-laki....kalau yang keluar buka pintu adalah laki-laki badannya tinggi besar dan kemudian dia marah-marah....hirarkimu makin naik.....teman-teman akan makin mengagumimu karena kamu dianggap berani menghadapi pria dewasa yang tinggi gede.....tapi kalau yang keluar adalah nenek-nenek tua....wah hirarkimu masih belum bisa naik di mata teman-teman......"

 

Sri: "Lha tapi kenapa kamu sekarang ngga masalah kalau aku bilang kamu cute....."

 

Leo: "O...kalau itu lain. Ketika anak laki-laki beranjak remaja dan mulai tertarik pada gadis, maka being cute is very important......Soalnya gadis kan suka sama pemuda yang cute...."

 

Sri (dalam hati): "Lha kok ngga konsisten....."

 

Masa kecilku kok beda ya sama masa kecilnya Leo. Aku malah kemudian berusaha mengingat-ingat, apakah ada hirarki di kalangan gadis kecil di lingkunganku dulu. Disadari atau tidak, dulu hirarki lebih berdasar pada kelas sosial (yang aku yakin di Belanda waktu itu juga begitu) yaitu ada anak orang kaya, ada anak klas menengah dan ada anak orang miskin. 

 

Namun demikian hirarki dengan karakteristik yang disebutkan oleh Leo kok ngga aku temui ya dulu di kalangan gadis kecil. Mungkin dulu makin pinter main bekel atau main dakon atau loncat tali maka makin banyak anak yang mengagumi (atau makin banyak yang iri?), jadi makin tinggi hirarkinya. he..he..he..

 

Aku jadi ingat gadis kecil tetangganya mami yang memperoleh sticker dari orang tuanya. Apakah makin banyak perolehan sticker bisa meningkatkan hirarki seorang gadis kecil? hi...hi...hi...Soalnya penasaran juga bagaimana ukuran hirarki gadis kecil di Belanda....he...he..he..

 

Leo tiba-tiba nyeletuk: "Sekarang yang hobbynya mencet bel rumah orang kemudian cepat-cepat sembunyi kok malah gadis-gadis kecil ya. Ketika pintu aku buka, ternyata ngga ada orang....aku ngomel-ngomel....tahu-tahu di kejauhan ada gadis-gadis kecil tertawa-tawa.......Mungkin mereka mikir kamu yang buka pintu, eh...ternyata yang keluar malah aku yang badannya tinggi....."

 

Sri (dalam hati): "Kena hukum karma.....he...he...he......makanya jangan nakal......"

 

Note: The picture is taken from here.

 

Monday, 29 March 2010

Mengeluh atau pamer?

 

Ini postingan ngga penting. Waktu itu Leo baru pulang dari kantor. Belum juga istirahat dia sudah bikin laporan (maksudnya cerita sama istri tercintah. he..he..he..). Ini ceritanya:

 

Leo: "Tadi di kantor ada teman mengeluh. Katanya istrinya punya sepatu 37 pasang.....dia sampai bingung, perempuan kok demen banget ya sama sepatu, memang betul ngga sebanyak jumlah sepatunya Imelda Marcos, tapi kata dia 37 pasang kan sudah terlalu banyak........"

 

Sri: "Terus apa komentarmu?"

 

Leo (ngga jelas nadanya apakah mengeluh atau pamer): "Aku bilang sama dia. O......itu belum seberapa.....kalau istriku lain....Koleksi loyang istriku, jauh lebih banyak daripada jumlah sepatu istrimu......ha...ha...ha..."

 

Sri (sambil menahan tawa): "Excuse meeeeeeee?!?!?!?!?!"

 

Leo: "Lha kan memang bener, koleksi loyangmu banyak banget sampai kamu bingung gimana cara nyimpennya......masak setiap kali mudik, separo koper isinya loyang.....Belum lagi kalau ada korting harga loyang di toko atau supermarket, langsung kamu borong......ha...ha...ha..."

 

Jangan percaya sama Leo, dia terlalu melebih-lebihkan. Sebenernya sih kalau dibanding dengan teman-teman Indonesia pencinta per-baking-an, koleksi loyangku belum seberapa. Masalahnya kan rumah kami kecil, jadi bingung kalau mau nyimpen alat dapur. he..he..he..halah alasan....

 

Note: Picture is taken from here

Wednesday, 24 March 2010

Belbus langganan mami...

Sejak mami patah tulang karena jatuh, blio tidak berani naik sepeda lagi walaupun jatuhnya bukan dari sepeda. Keadaan ini mengganggu aktivitas mami, mobilitas agak terhambat. Mami tidak mau selalu tergantung pada anak-anak. Mami tetap pengin mandiri, pengin tetap bisa melakukan kegiatan sendiri seperti ke dokter, ke rumah sakit, ke centrum, ke rumah teman, ke salon dll.

 

Alhamdulillah di desa kami ada pelayanan belbus. Bus ini dikhususkan untuk para senior (usia 60 tahun ke atas). Kebetulan mami sudah berusia 79 tahun, jadi blio berhak untuk memperoleh jasa pelayanan belbus ini. Untuk bisa menggunakan jasa pelayanan belbus, seseorang harus menjadi member. Biaya langganan tiap member adalah 5 Euro per bulan. Mau pake jasa belbus ini sekali atau 30 kali dalam sebulan, anggota tetap harus membayar uang bulanan.

 

Selain biaya langganan bulanan, para penumpang membayar biaya tambahan 50 cents per trip. Ini sangat murah mengingat angkot di Belanda muahalnya luar biasa. Aku aja kalau naik bis umum ke centrum desa harus keluar kocek 1 euro per trip (atau 2 euro pp), padahal jaraknya ngga terlalu jauh.  

 

Uang 50 cents tersebut diperuntukkan buat sopir sebagai uang tip. Para sopir ini adalah volunteers. Mereka tidak digaji, sehingga pihak pengelola meminta penumpang untuk memberi tip 50 cents sekali jalan. Jadi kalau misalnya mami pergi ke centrum pp, blio membayar 1 euro selain uang langganan bulanan.

 

Kenapa disebut belbus? Karena penumpang diwajibkan untuk ngebel dulu sehari sebelum mereka melakukan perjalanan. Jadi misalnya mami pengin bertamu ke rumah teman, sehari sebelumnya mami harus menelpon pengelola bis, mau dijemput kapan, dimana, jam berapa, apakah perlu dijemput lagi dsb. Bener-bener kayak pesen taksi Bluebird ya. Oh ya, disini jangan sekali-sekali naik taksi kalau ngga pengin sakit jantung melihat argometer yang menunjukkan angka selangit.

 

Belbus ini cuma beroperasi di dalam desa saja, tidak sampai ke desa-desa atau kota-kota lainnya. Jadi kalau mami mau ke Rotterdam misalnya, mami cuma bisa diantar oleh belbus di autobusstation (bus station atau terminal bis) desa. Dari situ mami harus ganti bis umum arah Rotterdam. Walaupun harus ganti bis umum, lumayan juga kan. Paling ngga, mobilitas tetap berjalan.

 

Selain memperoleh uang langganan dari para anggota, belbus ini juga memperoleh bantuan dari para sponsor. Misalnya perusahaan pengelola shopping centre desa adalah salah satu donatur belbus ini.  Sebagai imbalannya, perusahaan-perusahaan sponsor yang mendonasikan uangnya kepada belbus ini punya hak untuk memasang logo perusahaan mereka di permukaan bus. Logo bisa ditempel di permukaan bis bisa di permukaan samping, depan, ataupun belakang, yang penting kelihatan.

Pada 1 bus, bisa saja tertempel logo dari berbagai perusahaan donatur. Win-win situation lah ceritanya. Lumayan kan, belbus punya uang untuk biaya beroperasi, sedangkan perusahaan bisa memasarkan produknya.

 

Terus terang aku ngga tahu berapa jumlah belbus di desa kami. Tapi yang jelas kadang-kadang kami berpapasan dengan belbus-belbus ini. Warna belbus di desa kami adalah kuning gelap. Mungkin belbus desa lain punya warna lain.  

 

Suatu kali ketika kami sedang naik mobil, kami berpapasan dengan salah satu belbus ini. Secara tidak sengaja kami membaca logo salah satu donatur yang tertera di belbus tersebut. Tiba-tiba tanpa sadar kami berdua tertawa bersamaan. Kenapa? Karena salah satu donatur belbus tersebut adalah rouwkamer (kamar berkabung atau mungkin kalau di Indonesia disebut rumah peristirahatan terakhir sebelum jenazah dimakamkan atau dikremasi).

 

Komentar Leo terhadap donatur tersebut adalah:

"Ini kok kayak mengingatkan calon customers mereka. Jangan lupa, di masa mendatang pakailah jasa kami....."

 

Para penumpang belbus memang biasanya sudah sepuh (tua). Walaupun ketentuan usia minimal adalah 60 tahun, tapi usia tersebut di Belanda masih termasuk "muda" karena pada umumnya dalam usia tersebut orang Belanda masih aktif naik sepeda dan masih belum membutuhkan belbus. Tanpa melihat data statistik, aku perkirakan anggota belbus desa kami di atas usia pensiun (diatas 65 tahun). Jadi komentar Leo kan tidak terlalu berlebihan kan?

 

Sejak saat itu kami malah kemudian mengamati logo-logo yang tertera di belbus. Kalau diamati dengan seksama, perusahaan-perusahaan sponsor tersebut adalah perusahaan-perusahaan yang memproduksi barang atau menyediakan jasa kebutuhan para oma dan opa. Misalnya:

1. Perusahaan Optik. Makin sepuh kan pasti makin butuh kaca mata baca ya.

2. Perusahaan yang memproduksi gigi palsu. Jadi inget mami kalau malem selalu mencopot gigi palsu blio.

3. Perusahaan yang menjual alat pendengaran. Kalau sudah makin sepuh kemungkinan kan pendengaran berkurang ya.  

 

Memang betul sih ngga semua donatur tersebut menyediakan produk atau jasa yang berhubungan langsung dengan kebutuhan priyayi sepuh. Namun kan tidak bisa dipungkiri kalau para oma dan opa penumpang belbus tersebut adalah target yang tepat bagi produk mereka. Iya ngga? 

 

Jadi jangan mengharap ada logo perusahaan yang memproduksi  mainan anak atau peralatan perlengkapan bayi yang nempel di permukaan belbus desa kami. Iya to? Ha...ha..ha.. 

 

Note: I take the picture from here.

       

Monday, 22 March 2010

Kebablasen....

Aku mungkin sudah bisa dianggap lulus dalam menyulap Leo dari Londo menjadi Jowo. Buktinya? Leo ngga pernah mengeluh walaupun tiap hampir tiap hari aku kasih nasi. he..he..he..

 

Kebetulan dia memang tidak suka makanan tradisional Belanda seperti stamppot (kentang direbus,  diancurin kemudian dicampur dengan sayuran) baik itu stamppot boerenkool, stamppot zuurkool, stamppot andaijvie dan stamppot-stamppot lainnya. Kalau pengin tahu bentuk taneman-tanemen boerenkool, andaijvie dan sebagainya bisa lihat di wikipedia.

 

Sebetulnya dia tidak masalah makan kentang asalkan bukan berupa stamppot yang sudah dicampur dengan boerenkool, andaijvie dan sejenisnya. Pokoké emoh-emoh tenan disuruh makan stamppot. Dia memang ngga suka makanan ini sejak kecil. Buat dia mendingan dikasih sepiring gado-gado yang dikepyuri brambang goreng daripada harus makan stamppot spinazie (stamppot bayem).

 

Sejak menikah Leo jarang makan kentang sebagai makanan utama. Kentang biasanya aku masak sebagai sup atau perkedel atau gado-gado, atau semur. Maklum aku kan Jowo, jadi masih menganggap kentang sebagai sayur, bukan menempatkan kentang sebagai makanan pokok pengganti nasi. he..he..he.. Paling puol, kentang aku bikin pastel tutup atau direbus (atau panggang) dan diguyur mushroom sauce. Kami juga jarang makan french fries. Bikin kroket aja baru sekali. Jarang bianget aku masak kentang sebagai makanan pokok (sebagai pengganti nasi) yang dihidangkan bersama daging, sayur dan saus seperti pada umumnya masakan-masakan keluarga Belanda.

 

Alhamdulillah Leo ngga pernah protes walaupun hampir tiap hari dicekokin nasi. Padahal teman-temannya paling tidak 5 hari dalam seminggu makan kentang. Kami sebaliknya 5 hari dalam seminggu makan nasi (kadang diselingi bakmi atau mihoen), sedangkan 2 hari selebihnya makan Italian food atau Mexican food atau foreign food lainnya. Pokoknya makan kentang sebagai makanan pokok paling sekitar 2 kali.....dalam setahun. he..he..he..

 

Suatu hari tiba-tiba hati dan pikiranku terbuka. Aku tahu Leo suka banget makanan Asia, tapi rasanya kok ngga adil buat dia kalau hampir tiap hari aku masak makanan Asia. Rasanya tidak adil kalau hampir tiap hari dia aku cekokin dengan nasi. Aku merasa sudah menjauhkan dia dari akar budayanya. Aku merasa sudah memisahkan dia dari kentang, makanan pokoknya. Aku merasa bahwa selama ini dalam hal makanan dia mengikuti budaya makanku sedangkan aku jarang mengadaptasi budayanya. Terus terang aku merasa bersalah walaupun dia tidak keberatan makan nasi.

 

Dengan kesadaran tersebut, akhirnya hari itu aku merebus kentang dan aku hidangkan kentang tersebut sebagai makanan pokok. Kentang cuma aku rebus, tidak aku bikin stamppot. Aku juga masak daging, sayur dan saus secara terpisah. Pokoknya sekali-sekali kami dinner kayak Londo.

 

Keesokan harinya sebelum berangkat ke kantor, dia bilang sama aku begini

 

Leo: "Is it possible if this evening you don't cook potato for our dinner?"

Sri: "Why?"

Leo: "Last night I could not sleep. I was still hungry because you gave me potato for my dinner. I need rice....."

 

Hua....ha......ha.....aku ngga bisa menahan tawa......ternyata Leo sudah berubah menjadi Jowo. Kalau ngga makan nasi masih laper.....kalau belum makan nasi berarti belum makan. Ternyata aku nyulapnya sudah kebablasan...... 

 

Note: I take the picture from here.    

   

Sunday, 21 March 2010

Seumur hidup dia akan menyesal habis-habisan....

Ketika Leo keluar dari rumah mami menuju tempat parkir dimana dia memarkir mobilnya, seorang gadis kecil berusia sekitar 2,5 atau 3 tahun berlari-lari menghampiri dirinya. Dia adalah anak tetangga mami. Dengan memperlihatkan punggung tangannya yang kecil mungil, si gadis kecil dengan bangga berkata:

"Lihat apa yang aku peroleh.......Hari ini aku memperoleh sebuah sticker"

Leo memperhatikan memang ada sebuah sticker yang menempel di punggung tangan si kecil.

Leo: "Wah bagus sticker nya...."

Gadis kecil: "Tahu ngga kenapa aku hari ini dapat sticker?"

Leo: "Kenapa?"

Gadis kecil (dengan bangga): "Karena hari ini aku sudah bisa membersihkan sendiri pantat kecilku....Jadi aku memperoleh sticker ini......"

Leo (dengan susah menahan tawa): "Wah bagus itu....berarti sekarang kamu sudah pintar....."

Ketika tiba di rumah, Leo langsung menceritakan peristiwa ini kepadaku. Kami berdua ngakak ngga bisa nahan tawa.

Leo: "Lima belas tahun lagi, kalau seamdainya aku ingatkan dia tentang peristiwa itu, seumur hidup dia akan menyesal habis-habisan.....ha...ha...ha...."

Aku juga bisa bayangkan, 15 tahun lagi dia akan malu luar biasa ketika tahu dia menceritakan kebanggaannya kepada setiap orang karena sudah bisa membersihkan sendiri pantat kecilnya. he..he..he..kenapa dulu cerita-cerita yak. hi..hi..hi..

Note: gambar yang aku pasang aku ambil dari sini. Ini untuk screenserver, soalnya aku ngga punya sticker buat dipasang.

 

   

 

 

Tuesday, 16 March 2010

I know what I want...

Sri: "I think I know what I want for my birthday....."

 

Leo bingung, wong ultah masih lama sudah nagih kado, tapi tetep nanya.

 

Leo: "What?"

 

Sri: "Actifry"

 

Diteruskan dengan pertanyaan klasik.

 

Leo: "Can you store it?"

 

Ini bener-bener pertanyaan klasik setiap kali aku menginginkan alat masak atau alat baking. Selalu deh: "Where are you going to store it?" atau "Do you still have a space to store it?" atau sejenisnya.

 

Sri: "Beliin duluuuuuuu....baru mikir gimana nyimpennya......"

 

Terus terang Leo juga bener. Tiap kali aku beli alat masak, puyeng nyimpennya. Rumah kuecil tapi barang banyak sampai bingung mau nyimpen loyang dimana. Tapi kok ya ngga pernah kapok. he..he..he..

 

Tiap kali aku kemecer ngelihat peralatan dapur di toko, langsung deh Leo senyum-senyum nyebelin. Dia sudah tahu gelagatku kalau aku pengin ngangkut loyang atau alat dapur lainnya yang dipajang di sebuah toko ke rumah.

 

Terus seperti biasa:

 

"Terus mau disimpan dimana?"

 

"Beli dululah, baru mikir nanti mau nyimpen dimana. Ini juga buat kamu kok....." Halah alasan. he..he..he.. 

 

Aku bener-bener kesengsem actifry ini setelah ngelihat blog nya mbak Esther yang membahas tentang alat ini. Makasih mbak Esther infonya. 

 

Kabarnya alat ini bisa untuk menggoreng 1 kg kentang hanya dengan 1 sendok makan minyak. Mbak Esther malah sudah mencoba menggoreng macam-macam dengan alat ini.

 

Selama ini aku berusaha memasak dengan cara dipanggang, di-grill, ditumis dan dikukus. Kadang pengin juga kan sekali-sekali makan gorengan. Tapi begitu inget kalori minyak tinggi sekali (1 cup minyak kalorinya lebih dari 1900 kcal), jadi ngeri juga euy. Maklum badan sudah makin bulet. Makanya pengin banget punya alat ini karena pemakaian minyaknya sangat sedikit. Cuma kok ya masih muahal ya. Aku lihat di internet harganya masih sekitar 170 an Euro atau bahkan lebih (tergantung tipe nya sih). Selain itu, energi nya kok gede juga, 1400 watt. hiks..hiks...  

 

Sri: "Alat ini ngga hanya buat nggoreng kentang lho....."

 

Mulai deh rayuan maut dilancarkan.....

 

Sri: "Bisa untuk nggoreng tahu, brambang goreng, lumpia dan lain-lain....malah katanya lebih enak dan gurih......"

 

Makin gencar tembakannya......belum menyerah soalnya....he...he..he..

 

Leo: "OK....I will give you an Actifry as your birthday present......"

 

Sri: "Thank you....thank you.....I love you......I love you....."

 

Sambil jingkrak-jingkrak kegirangan. Sekarang ngitungin hari menunggu ultah. he..he..he..semoga nanti malam ngga terbawa mimpi.

 

Catatan: Aku bukan pegawenya Tefal lho ya....

     

 

Wednesday, 13 January 2010

Punya suami kok kayak punya anak yo?

Ketika membaca tulisan bu Ine disini dan bu Evi disini tentang kesibukan blio-blio ini mempersiapkan lunch boxes untuk para putri mereka, lha kok malah mengingatkan aku pada pengalamanku yang hampir sama.

 

Bedanya adalah mereka harus kreatif untuk para princes mereka yang cantik-cantik, aku harus berjuang supaya ngga mati ide untuk menyiapkan menu makan siang buat bojo tercintah. he..he..he...

 

Sejak awal tahun ini, kantor Leo dipindah ke industrial area yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Dia harus menempuh perjalanan antara 45 sd 2 jam, tergantung macet tidaknya. Apalagi kalau sedang winter turun salju gini, wis alamat bisa lama di jalan. Padahal dulu kantornya yang lama cuma ditempuh dalam waktu 10 sampai dengan 15 menit.

Ternyata di kantornya yang baru, tidak ada kantin sama sekali.  Ini berarti dia dan seluruh teman-temannya harus membawa bekal makan siang sendiri dari rumah.

Sebetulnya sebagai orang Belanda, Leo tidak terlalu masalah untuk makan sandwich tiap hari. Wong teman-temannya juga gitu kok. Tiap hari mereka bawa roti isi keju atau selai atau hagelslag (chocolate sprinkles) atau tuna dan sejenisnya.

Terus terang aku juga heran, kok ya ngga bosen ya mereka ini makan roti tiap hari. Lha yo walaupun isinya diganti tiap hari, tapi kok yo ora bosen gitu lho. Lha wong perasaanku pilihané yo cuma itu-itu thok. Beda to sama lunch nya orang Indonesia, kemarin soto ayam, kemarin dulu oseng-oseng kangkung en ikan pepes, besok gado-gado, lusa nasi Padang, besoknya lagi nasi rawon, keesokan harinya lagi ketoprak dan seterusnya.

Suatu hari aku masak tuna bumbu Manado dan ikan goreng untuk makan malam kami (kebetulan ada sisa ikan fillet sedikit, jadi daripada ngendon lama di freezer, mendingan dimasak sekalian walaupun sudah masak tuna). Karena sisa, Leo bilang:

"Daripada sisa, ini aku bawa ya buat makan siang di kantor. Di kantor baru ada microwave. Kalau kulkas sih memang dari dulu ada..."

Aku langsung bilang:

"Bawa aja kalau mau. Sekalian aja pake nasi. Itu ada lunch box di lemari......"

Kebetulan kami punya lunch box yang ada sekat-sekatnya. Jadi gampang kalau mau bawa makanan yang berbeda. Nasi bisa dipisahkan dengan lauk dan sayur ataupun saus.

Dalam hati aku rada heran. Tumben Leo mau bawa nasi. Biasanya paling pol roti baguette atau pizza. Lha kok sekarang mau bawa bawa nasi.

Leo cerita, di kantor teman-temannya ngiri karena lunch box nya Leo beda sendiri. Baunya uenak begitu keluar dari microwave. he..he..he..

Sejak saat itu, tiap hari aku berusaha untuk masak rada sedikit banyak untuk dinner supaya keesokan harinya bisa dibawa Leo ke kantor untuk lunch. Mulai saat itu aku harus berpikir kreatif supaya menunya bisa ganti-ganti: pizza tuna, telor dadar saos asam manis, nasi goreng nanas, burger salmon, semur daging cincang dan setup sayuran, gado-gado, bakmi goreng, orak-arik, martabak dsb.  Pokoknya list nya sudah panjang. he..he..he..Aku berusaha menggunakan sayur yang tidak lembek seperti wortel, buncis dan sejenisnya. Kalau lagi males ya frozen vegetable. he..he..he..

Buku-buku masak yang aku borong dari Indonesia langsung aku keluarkan. Aku cari resep-resep praktis yang gampang buatnya. Kalau teman-temannya tambah iri ya jangan salahkan aku ya. he..he..he..

Kata Leo:

"Lha kamu kok malah nyulap aku jadi orang Jawa nih gimana?"

Jawabku:

"Lha wong kamu juga suka gitu lho ya........"

Leo cuma nyengir.

Kalau dipikir-pikir, punya suami kok kayak punya anak yo. Sama-sama harus kreatif menyiapkan bekal makan siang. Padahal sebenernya Leo sendiri ngga minta untuk dibawain makan siang. Kalau ada sukur, kalau ngga ada dia bawa roti juga cukup. Tapi kalau dia menyukai lunch yang aku siapkan, aku juga ikut puas.

Note: gambar yang aku pasang adalah beberapa buku resep masakan yang aku punya....masih ada buku-buku resep yang lain yang belum sempat aku foto..... 

Besok mau bikin lapis surabaya buat dibagikan ke teman-teman Leo. Kasihan kalau tiap hari mereka cuma bisa membaui makanan tanpa bisa mencicipi.