Meneruskan cerita disini. Keesokan harinya sebelum berangkat ke Keukenhof aku siapin bekal. Puyeng lagi ketika melihat jumlah mie yang banyak banget. Akhirnya aku masukkan mie ke dalam 2 buah kotak plastik disposable, yang satu kotak rada gede yang satunya rada kecil. Dalam tiap kotak, aku kepyuri brambang goreng dan seledri serta aku beri glundungan cabe rawit. Itu aja sudah berat euy. Sebetulnya masih sisa banyak, tapi sudah ngga mampu bawanya. Jadi yo wis, sisanya aku simpan di kulkas lagi.
Selain bakmi goreng 2 kotak, bekal lain lagi adalah chiffon cake (yang aku potong-potong supaya gampang makannya. Hampir seloyang karena 2 potong aku tinggalin buat Leo), rempeyek bingung, pizza tuna (mintak tolong Leo beliin di supermarket sehari sebelumnya dan malam sebelumnya sempat aku panggang). Semuanya aku masukkan di sebuah tas plastik. Ngga lupa aku masukkan juga beberapa garpu plastik (aku punya feeling kalau panitia akan bawa piring atau mangkok plastik dan ternyata bener karena mereka ternyata bawa empek-empek, walaupun aku ngga kebagian. he..he..he..).
Bisa bayangin kan beratnya. Belum lagi aku bawa backpack isi air minum dan sebagainya. Aku cuma berharap cepet makan siang, jadi cepat habis supaya ngga terlalu berat bawaanku.
Aku diantar Leo ke stasiun metro dan kemudian meneruskan perjalanan naik kereta ke Leiden Centraal. Kebetulan janjian sama Yanti naik kereta bareng, jadi kami ketemu di stasiun. Yanti sampai terkagum-kagum melihat bekal yang aku bawa. Niat amat yak, ini mau kopdar apa mau camping, berat banget bawaannya. Dalam hati aku juga mikir, ngapain coba aku bawa pizza segala, kan sudah ada bakmie goreng. Kurang kerjaan, bikin berat aja.
Dari Leiden kami masih melanjutkan perjalanan dengan bus. Tiba di Keukenhof, rombongan dari Amsterdam belum datang, jadi kami putar-putar duluan. Gembolan masih berat menemaniku.
Sekitar pukul 12, rombongan datang. Begitu ketemu Elly, langsung deh kami bertransaksi. Dapat dari Elly duit 15 Euro. Kemudian berusaha mencari Henny. Aku serahkan chiffon cake pada Henny.
Sri: "Maaf ya Hen, aku ngga sempat bikin. Ini kebetulan ada chiffon cake di rumah. Kamu bagi-bagi aja ya dimakan bareng sama teman-teman....."
Eh....lha kok Henny ngotot mau bayar. Katanya dia janji sudah pesen, jadi harus bayar. Aku harus menyebut harga. Lha kan ya susah to, wong aku ngga siap dagang kok. Habisnya bahan berapa aja aku ngga tahu. Kami waktu itu yo sempat otot-ototan. Akhirnya aku nyerah.
Sri: "Ya sudah Hen, kamu bayar biaya bahan aja sekitar 5 sampai 7 Euro...."
Padahal aku juga cuma njeplak, wong aku ngga ngitung keluar biaya berapa. Henny ngasih aku 8 Euro dan aku harus terima. Aku terima, alhamdulillah.
Begitu selesai transaksi, eh lha kok aku didekati oleh Rani dari Itali.
Rani: "Jualan apa?"
Sri: "Ngga jualan. Tahu ngga siapa yang kemarin ngga kebagian arem-arem? Ini aku bawain mie goreng karena aku ngga sempat bikin arem-arem......Kalau ngga salah Tyas ya kemarin yang ngga kebagian......Kalau bisa aku mau kasih ke dia sekarang supaya aku ngga berat....."
Rani: "Sudah gini aja, aku beli aja. Nanti kalau ketemu dia, kami makan bareng....."
Sri: "Lho wong ini ngga dijual kok.....ambil sajalah nanti makan sama yang lainnya......"
Rani: "Ngga bisa....harus bayar. Sudah keluar tenaga kok......Jadi berapa aku bayar?"
Sri: "Lha wong ngga dijual kok mau bayar......."
Rani: "Ngga bisa, harus bayar....ini ya aku kasih duitnya......"
Dengan cueknya Rani mengambil kotak mie dan menyerahkan 5 Euro. Aku ketawa ngakak.
Belum sampai habis tertawa, Lysa dari Swedia mendekati aku.
Lysa: "Jualan apa nih? Beli dong......"
Sri: "Ngga jualan. Ini lho, kemarin aku bikin arem-arem gagal....malah jadi mie goreng....."
Lysa: "Masih ada kan? Aku beli aja deh......Berapa?"
Kebetulan Lysa melihat kotak yang lebih kecil dari kotak mie gorengnya Rani. Isinya kira-kira separonya.
Sri: "Ini ngga dijual kok, wong buat makan rame-rame...."
Rani (kepada Lysa): "Sudah kamu bayar aja 3 Euro....."
Aku ketawa ngakak.....yang menentukan harga malah Rani, bukan bakulnya....ha...ha..ha...
Akhirnya Lysa ambil kotak dengan menyerahkan uang 3 Euro. Aku serahkan garpu-garpu plastik.
Sri: "Lha ini aku kok malah jadi dibayar, wong niatnya mau dimakan rame-rame....."
Lysa: "Ya harus bayar kan sudah keluar bahan dan tenaga......."
Aku ngga bisa nahan tawa. Mau kopdaran kok malah ngasong ki piye. ha..ha..ha..Eh...baru selesai bertransaksi sama Lysa, ada beberapa teman yang mendatangi:
"Eh...jualan apa? Jual arem-arem ya?"
Ha...ha...ha...ternyata aku terkenal sebagai bakul arem-arem. Mereka kecewa ketika tahu "jualan"ku sudah habis.
Berhubung "barang dagangan" sudah habis, aku masukkan rempeyek bingung dan pizza ke backpack supaya lebih ringkes. Jadi itulah kenapa foto-foto Keukenhof selanjutnya ngga ada tas plastik yang mejeng.
Ketika aku cerita sama Yanti, dia juga ngga bisa nahan tawa.
Yanti: "Namanya rejeki, diterima aja mbak.....ha...ha...ha..."
Sri: "Alhamdulillah, rejeki dadakan........Lha tahu gitu, mie goreng yang masih nongkrong di kulkas aku bawa ke sini Yan, buat ngasong di Keukenhof.....ha...ha...ha..."
Ketika ketemu Ari untuk melakukan transaksi rempeyek bingung, aku juga ceritakan proyek ngasong dadakan ini. Ari ngga bisa nahan tawa.
Ari: "Wah kalau gitu kopdaran ke Keukenhof balik modal.......ha...ha...ha.......Uang hasil jualan bisa untuk beli tiket masuk Keukenhof....."
Malah ngga hanya untuk bayar tiket masuk, bisa untuk naik angkot pp dari rumah ke Keukenhof. ha..ha..ha..
Itulah kisah Kopdar balik modal. Kalau orang-orang kopdaran keluar biaya, tapi aku kopdaran malah balik modal. Ngasong dadakan....
Ketika tiba di rumah, aku ceritakan pengalamanku ini ke Leo, dia geleng-geleng kepala.
Leo (dengan nada acussing): "You sold my food......."
Sri: "ha...ha...ha...tahu gitu mie goreng di kulkas aku jual juga ya....."
Dasar matreeeeeeeekkkkkk....hi...hi...hi...
Catatan: Kenapa aku masang gambar di atas? Karena di tas plastik Lidl itulah berisi "barang dagangan" he..he..he......Kebetulan Yanti kasih foto ini, eh...lha kok tas plastik ikut mejeng ki piye. Makasih ya Yan fotonya.
Daripada diprotes mboné Menik lagi (kok crito panganan ngga ada gambar makanannya) maka penampilan mie goreng yang aku bawa kopdar bisa dilihat disini. Pokoké kiro-kiro kayak gitu (disebut kiro-kiro karena ngga sempat motret), cuma mienya lebih alus dan vegetarian ngga pake daging sama sekali. Selain itu juga masih ditambah glundungan cabe rawit yang montok-montok kayak bakulnya. hi...hi...hi...
Oh ya, satu lagi. Akhirnya pizza yang aku bawa malah menjadi makan siangku. Rani yang dari Itali makan mie goreng, sedangkan aku yang bikin mie goreng malah makan pizza. he..he..he..
TAMAT - TENANAN SAIKI