Sejak mami patah tulang karena jatuh, blio tidak berani naik sepeda lagi walaupun jatuhnya bukan dari sepeda. Keadaan ini mengganggu aktivitas mami, mobilitas agak terhambat. Mami tidak mau selalu tergantung pada anak-anak. Mami tetap pengin mandiri, pengin tetap bisa melakukan kegiatan sendiri seperti ke dokter, ke rumah sakit, ke centrum, ke rumah teman, ke salon dll.
Alhamdulillah di desa kami ada pelayanan belbus. Bus ini dikhususkan untuk para senior (usia 60 tahun ke atas). Kebetulan mami sudah berusia 79 tahun, jadi blio berhak untuk memperoleh jasa pelayanan belbus ini. Untuk bisa menggunakan jasa pelayanan belbus, seseorang harus menjadi member. Biaya langganan tiap member adalah 5 Euro per bulan. Mau pake jasa belbus ini sekali atau 30 kali dalam sebulan, anggota tetap harus membayar uang bulanan.
Selain biaya langganan bulanan, para penumpang membayar biaya tambahan 50 cents per trip. Ini sangat murah mengingat angkot di Belanda muahalnya luar biasa. Aku aja kalau naik bis umum ke centrum desa harus keluar kocek 1 euro per trip (atau 2 euro pp), padahal jaraknya ngga terlalu jauh.
Uang 50 cents tersebut diperuntukkan buat sopir sebagai uang tip. Para sopir ini adalah volunteers. Mereka tidak digaji, sehingga pihak pengelola meminta penumpang untuk memberi tip 50 cents sekali jalan. Jadi kalau misalnya mami pergi ke centrum pp, blio membayar 1 euro selain uang langganan bulanan.
Kenapa disebut belbus? Karena penumpang diwajibkan untuk ngebel dulu sehari sebelum mereka melakukan perjalanan. Jadi misalnya mami pengin bertamu ke rumah teman, sehari sebelumnya mami harus menelpon pengelola bis, mau dijemput kapan, dimana, jam berapa, apakah perlu dijemput lagi dsb. Bener-bener kayak pesen taksi Bluebird ya. Oh ya, disini jangan sekali-sekali naik taksi kalau ngga pengin sakit jantung melihat argometer yang menunjukkan angka selangit.
Belbus ini cuma beroperasi di dalam desa saja, tidak sampai ke desa-desa atau kota-kota lainnya. Jadi kalau mami mau ke Rotterdam misalnya, mami cuma bisa diantar oleh belbus di autobusstation (bus station atau terminal bis) desa. Dari situ mami harus ganti bis umum arah Rotterdam. Walaupun harus ganti bis umum, lumayan juga kan. Paling ngga, mobilitas tetap berjalan.
Selain memperoleh uang langganan dari para anggota, belbus ini juga memperoleh bantuan dari para sponsor. Misalnya perusahaan pengelola shopping centre desa adalah salah satu donatur belbus ini. Sebagai imbalannya, perusahaan-perusahaan sponsor yang mendonasikan uangnya kepada belbus ini punya hak untuk memasang logo perusahaan mereka di permukaan bus. Logo bisa ditempel di permukaan bis bisa di permukaan samping, depan, ataupun belakang, yang penting kelihatan.
Pada 1 bus, bisa saja tertempel logo dari berbagai perusahaan donatur. Win-win situation lah ceritanya. Lumayan kan, belbus punya uang untuk biaya beroperasi, sedangkan perusahaan bisa memasarkan produknya.
Terus terang aku ngga tahu berapa jumlah belbus di desa kami. Tapi yang jelas kadang-kadang kami berpapasan dengan belbus-belbus ini. Warna belbus di desa kami adalah kuning gelap. Mungkin belbus desa lain punya warna lain.
Suatu kali ketika kami sedang naik mobil, kami berpapasan dengan salah satu belbus ini. Secara tidak sengaja kami membaca logo salah satu donatur yang tertera di belbus tersebut. Tiba-tiba tanpa sadar kami berdua tertawa bersamaan. Kenapa? Karena salah satu donatur belbus tersebut adalah rouwkamer (kamar berkabung atau mungkin kalau di Indonesia disebut rumah peristirahatan terakhir sebelum jenazah dimakamkan atau dikremasi).
Komentar Leo terhadap donatur tersebut adalah:
"Ini kok kayak mengingatkan calon customers mereka. Jangan lupa, di masa mendatang pakailah jasa kami....."
Para penumpang belbus memang biasanya sudah sepuh (tua). Walaupun ketentuan usia minimal adalah 60 tahun, tapi usia tersebut di Belanda masih termasuk "muda" karena pada umumnya dalam usia tersebut orang Belanda masih aktif naik sepeda dan masih belum membutuhkan belbus. Tanpa melihat data statistik, aku perkirakan anggota belbus desa kami di atas usia pensiun (diatas 65 tahun). Jadi komentar Leo kan tidak terlalu berlebihan kan?
Sejak saat itu kami malah kemudian mengamati logo-logo yang tertera di belbus. Kalau diamati dengan seksama, perusahaan-perusahaan sponsor tersebut adalah perusahaan-perusahaan yang memproduksi barang atau menyediakan jasa kebutuhan para oma dan opa. Misalnya:
1. Perusahaan Optik. Makin sepuh kan pasti makin butuh kaca mata baca ya.
2. Perusahaan yang memproduksi gigi palsu. Jadi inget mami kalau malem selalu mencopot gigi palsu blio.
3. Perusahaan yang menjual alat pendengaran. Kalau sudah makin sepuh kemungkinan kan pendengaran berkurang ya.
Memang betul sih ngga semua donatur tersebut menyediakan produk atau jasa yang berhubungan langsung dengan kebutuhan priyayi sepuh. Namun kan tidak bisa dipungkiri kalau para oma dan opa penumpang belbus tersebut adalah target yang tepat bagi produk mereka. Iya ngga?
Jadi jangan mengharap ada logo perusahaan yang memproduksi mainan anak atau peralatan perlengkapan bayi yang nempel di permukaan belbus desa kami. Iya to? Ha...ha..ha..
Note: I take the picture from here.