Friday, 18 May 2007

Mudik dulu ah....

Teman-teman yang baik, kami nanti malam mau mudik dulu ya. Kami akan mudik selama 3 minggu.


Mohon doa restu semoga perjalanan kami lancar, selamat dan sehat sampai di tempat tujuan dan kembali lagi ke Belanda dengan selamat dan sehat juga.


Mohon maaf kalau saya nggak bisa membaca posting-an teman-teman semua. Semoga teman-teman semua dalam keadaan sehat dan bahagia.


Sampai jumpa lagi, see you, tot ziens....

Rendang Den Haag diuji-coba di Indonesia

Aku pernah e-mail temanku di Jakarta tentang resep rendang daging. Tadi aku dapat e-mail dari dia. Katanya dia sudah mencoba resep rendang Den Haag yang dulu pernah aku pasang di sini. Rendang dengan resep sederhana tapi rasanya mantap. Resepnya sederhana, cuma pake sambel oelek dan boemboe boeboek serta santan kaleng, tapi dengan resep yang minimalis tersebut bisa memberikan hasil yang memuaskan. Resep ibunya Devi jadi mendunia nih....  


Komentar temanku adalah: "..... SUKSES! Ibuku bilang, uenak tenan.... and wangi! Kayaknya aku udah siap nih buka warung nasi padang hehehe..."


Mendengar temanku sukses, aku jadi pengin untuk mencoba. Lha gimana nggak pengin coba, wong temanku ini bekerja di sebuah majalah yang juga ngurusi perkulineran. Jadi ya tentu saja aku percaya sama lidahnya yang cukup canggih.


Dulu aku mencoba bikin rendang tuna, tapi kurang berhasil. Aku juga sudah kasih daftar kesahalanku mengapa rendang tunaku kurang berhasil. Pokoknya aku harus coba lagi tapi pake daging sapi, bukan tuna steak!!


"Deviiiiiiii....tolong kasih tahu ibumu ya: Terimakasih......." Hugggssss


 



 

Tuesday, 15 May 2007

Cooking stuff.......again?!?!?!




Judul aslinya sih "perempuan berhati baja" dalam artian berani dan siap untuk diledek. Gimana nggak disebut berani diledek, wong sudah punya rice cooker tapi tetap saja silap mata. Nggak bisa ngelihat rice cooker ini nganggur jadi pajangan di toko. Harga sekitar 7 Euro. Enteng karena terbuat dari plastik tahan panas. Rice cooker yang bisa masak nasi selama 7,5 menit dengan cuma memasukkannya ke magnetron (microwave). Bisa juga untuk masak sayur, tinggal kasih air 2-3 sendok air dan masukin 250 gram sayur kemudian pencet tombol microwave angka 3 atau 4 dan dalam 3-4 menit sudah mateng sayurnya. Aku sudah test, rasa sayurnya lebih enak daripada kalau direbus. Yang jelas vitaminnya nggak hilang. Halah alasan.....Dasar...dasar silap mata.


Tapi ada konsekuensinya beli rice cooker ini. Harus siap diledek. Untuk mempersiapkan diri, setelah bayar di kasa, aku sms Leo kalau aku nggak tahan untuk nggak beli cooking stuff. Aku nggak bilang kalau cooking stuff yang aku beli kali ini adalah rice cooker. Sampai di rumah, aku e-mail dia ke kantornya untuk memberi tahu hal yang sama (soalnya aku belum dapat komentar "miring" dari dia. Jadi mungkin dia belum sempat baca sms ku). Nggak berapa lama, aku dapat jawaban lewat e-mail:


"It's impossible...... kamu kan sudah punya banyak cooking stuffs kan?"


Aku nggak jawab e-mailnya. Tapi begitu dia pulang, hal pertama yang dia lihat dan amati adalah rice cooker baru. Mungkin saja dia sebetulnya "mengagumi" kepandaianku memilih barang, cuma nggak ngomong saja. Dan seperti biasa sambil mengamati barang baru........dia senyum-senyum menyebalkan, wis njelehi tenan pokoknya.


"So....cooking stuff again? New stuff again?" sambil tetap melanjutkan senyumannya. Ih nyebelin deh, soalnya senyuman tersebut paling tidak punya 3 arti yaitu:


1. Kan sudah punya rice cooker, kok beli lagi? (Jawab Sri dalam hati: kan yang ini lain)


2.  Terus mau disimpan dimana? (Jawab Sri dalam hati: yah....nanti dicarilah tempatnya. Wong ya cuma kecil gitu lho, kan bisa diselipin dimana gitu....halah alasan)


3. Setelah ini beli cooking stuff apa lagi? (Jawab Sri dalam hati: itu sih tergantung uang yang bisa dikucurkan oleh penyandang dana alias donatur yang dalam hal ini Meneer Leo)


Memang dia nggak ngomong apa-apa, tapi senyumannya malah terasa lebih "menusuk" daripada kata-kata.


Tanpa menunggu komando, aku sudah menyiapkan alasan mengapa beli rice cooker tersebut:


"Siapa tahu kita piknik dan nginep dimana gitu, kayak di apartemen atau bungalow. Jadi kan bisa masak nasi atau pasta, atau kentang atau sayur. Lihat saja petunjuknya bisa untuk masak apa saja"


"Lho kan tidak semua apartemen kayak gitu nyediain microwave"


"Ya cari yang nyediain microwave dong" Ada aja alasannya....he...he...he....


Setelah itu dia harus melakukan hal lainnya yang kelihatannya cukup urgent dan aku juga sibuk untuk mempersiapkan makan malam.


Ketika makan malam, Leo nggak tahan lagi untuk nggak nanya:


"Setelah ini, kamu sudah lengkap dong peralatan masakmu?"


"Ya belum.......kalau dibandingin bloggers lain sih peralatan yang kita punya masih belum ada apa-apanya. Kan kita cuma punya cetakan bolu kukus sama loyang persegi dan loyang bulet.  Belum punya cetakan putu mayang, cetakan pukis, cetakan serabi, cetakan ......."


Pokoknya aku sebut satu-satu semua peralatan dapur, loyang dan cetakan yang belum aku punya. Leo sampai bingung geleng-geleng kepala mendengarkanku mengabsen semua peralatan masak yang belum aku punya. Mungkin dalam hati dia bilang:


"O....begini to kalau punya istri orang Indonesia...."

Cooking stuff.......again?!?!?!




Judul aslinya sih "perempuan berhati baja" dalam artian berani dan siap untuk diledek. Gimana nggak disebut berani diledek, wong sudah punya rice cooker tapi tetap saja silap mata. Nggak bisa ngelihat rice cooker ini nganggur jadi pajangan di toko. Harga sekitar 7 Euro. Enteng karena terbuat dari plastik tahan panas. Rice cooker yang bisa masak nasi selama 7,5 menit dengan cuma memasukkannya ke magnetron (microwave). Bisa juga untuk masak sayur, tinggal kasih air 2-3 sendok air dan masukin 250 gram sayur kemudian pencet tombol microwave angka 3 atau 4 dan dalam 3-4 menit sudah mateng sayurnya. Aku sudah test, rasa sayurnya lebih enak daripada kalau direbus. Yang jelas vitaminnya nggak hilang. Halah alasan.....Dasar...dasar silap mata.


Tapi ada konsekuensinya beli rice cooker ini. Harus siap diledek. Untuk mempersiapkan diri, setelah bayar di kasa, aku sms Leo kalau aku nggak tahan untuk nggak beli cooking stuff. Aku nggak bilang kalau cooking stuff yang aku beli kali ini adalah rice cooker. Sampai di rumah, aku e-mail dia ke kantornya untuk memberi tahu hal yang sama (soalnya aku belum dapat komentar "miring" dari dia. Jadi mungkin dia belum sempat baca sms ku). Nggak berapa lama, aku dapat jawaban lewat e-mail:


"It's impossible...... kamu kan sudah punya banyak cooking stuffs kan?"


Aku nggak jawab e-mailnya. Tapi begitu dia pulang, hal pertama yang dia lihat dan amati adalah rice cooker baru. Mungkin saja dia sebetulnya "mengagumi" kepandaianku memilih barang, cuma nggak ngomong saja. Dan seperti biasa sambil mengamati barang baru........dia senyum-senyum menyebalkan, wis njelehi tenan pokoknya.


"So....cooking stuff again? New stuff again?" sambil tetap melanjutkan senyumannya. Ih nyebelin deh, soalnya senyuman tersebut paling tidak punya 3 arti yaitu:


1. Kan sudah punya rice cooker, kok beli lagi? (Jawab Sri dalam hati: kan yang ini lain)


2.  Terus mau disimpan dimana? (Jawab Sri dalam hati: yah....nanti dicarilah tempatnya. Wong ya cuma kecil gitu lho, kan bisa diselipin dimana gitu....halah alasan)


3. Setelah ini beli cooking stuff apa lagi? (Jawab Sri dalam hati: itu sih tergantung uang yang bisa dikucurkan oleh penyandang dana alias donatur yang dalam hal ini Meneer Leo)


Memang dia nggak ngomong apa-apa, tapi senyumannya malah terasa lebih "menusuk" daripada kata-kata.


Tanpa menunggu komando, aku sudah menyiapkan alasan mengapa beli rice cooker tersebut:


"Siapa tahu kita piknik dan nginep dimana gitu, kayak di apartemen atau bungalow. Jadi kan bisa masak nasi atau pasta, atau kentang atau sayur. Lihat saja petunjuknya bisa untuk masak apa saja"


"Lho kan tidak semua apartemen kayak gitu nyediain microwave"


"Ya cari yang nyediain microwave dong" Ada aja alasannya....he...he...he....


Setelah itu dia harus melakukan hal lainnya yang kelihatannya cukup urgent dan aku juga sibuk untuk mempersiapkan makan malam.


Ketika makan malam, Leo nggak tahan lagi untuk nggak nanya:


"Setelah ini, kamu sudah lengkap dong peralatan masakmu?"


"Ya belum.......kalau dibandingin bloggers lain sih peralatan yang kita punya masih belum ada apa-apanya. Kan kita cuma punya cetakan bolu kukus sama loyang persegi dan loyang bulet.  Belum punya cetakan putu mayang, cetakan pukis, cetakan serabi, cetakan ......."


Pokoknya aku sebut satu-satu semua peralatan dapur, loyang dan cetakan yang belum aku punya. Leo sampai bingung geleng-geleng kepala mendengarkanku mengabsen semua peralatan masak yang belum aku punya. Mungkin dalam hati dia bilang:


"O....begini to kalau punya istri orang Indonesia...."

Monday, 14 May 2007

Koleksiku lainnya

Kalau orang lain mengkoleksi perhiasan, aku malah mengkoleksi lainnya (yang seperti biasa nggak jauh-jauh dari makanan, wong mau ngoleksi perhiasan nggak punya duit. he...he...he...).


Selain cabe, koleksiku lainnya adalah tuna kalengan. Kebetulan Leo bukan meat eater, tapi lebih fish eater (walaupun dia makan daging sapi juga walaupun nggak banyak). Jadi aku harus cari alternatif untuk pengganti daging. Maka jatuhlah pilihanku pada tuna.


Setelah melakukan trial and error dari satu supermarket ke supermarket lain, dari satu merk tuna ke merk tuna lainnya, dari yang direndam in water, in sun flower oil sampai in olive oil (niat amat yaakkk?), akhirnya pilihan kami jatuh pada tuna merk ini. Menurut kami, merk ini yang terenak dari semua tuna yang sudah kami coba. Produk dari Equador, harganya 1,89 Euro per pak, isi 2 kaleng tiap pak, berat 2 x 160 gram. Dijual di supermarket Lidl (nggak promosi karena nggak dapat komisi).


Ternyata yang mengatakan enak bukan kami saja. Saudara sepupuku ketika mengunjungi kami di Belanda, kami suguhi tuna sandwich dengan tuna ini. Dia bilang tuna sandwich yang dia makan jauh lebih enak daripada tuna sandwich yang dia makan di Indonesia (kayak di O-la-la atau tempat lainnya). Adikku yang nggak suka makan (beda banget sama kakaknya yang suka banget makan) juga bilang kalau tuna ini enak. Ibuku yang tidak suka ikan, ketika mencoba tuna ini juga mengatakan enak. Malah komentar ibuku: "Aku kok doyan ikan ya ternyata". Jadi ya memang enak kan?


Tuna ini bisa dibikin atau dimasak macem-macem: oseng-oseng, tuna bumbu Menado, martabak, lumpia, nasi goreng, salad, sandwich, pizza, macaroni schotel, spaghetti dsb. Malah suatu kali aku pengin bikin lasagna tuna, siapa tahu enak. Yang penting sih menurutku harus pinter-pinter masaknya.  


Aku mengkoleksi ini karena kadang tuna merk ini bisa berbulan-bulan nggak nongol di Lidl. Begitu ada, langsung deh silap mata, kalap beli sampai berpak-pak. Leo sampai geleng-geleng kepala melihat kelakuanku. Tapi memang harus gitu, karena beberapa minggu kemudian, aku lihat persediaan di Lidl sudah menipis. Kalau pas persediaan di Lidl habis, aduh rasanya dunia nggak seindah tanpa tuna ini. he...he...he... maksudnya harus ganti merk lain gitu.     


Sekarang koleksi tunaku yang tersisa 11 pak, jadi ada 22 kaleng kan? Serasa punya harta karun euy.........   

Koleksiku lainnya

Kalau orang lain mengkoleksi perhiasan, aku malah mengkoleksi lainnya (yang seperti biasa nggak jauh-jauh dari makanan, wong mau ngoleksi perhiasan nggak punya duit. he...he...he...).


Selain cabe, koleksiku lainnya adalah tuna kalengan. Kebetulan Leo bukan meat eater, tapi lebih fish eater (walaupun dia makan daging sapi juga walaupun nggak banyak). Jadi aku harus cari alternatif untuk pengganti daging. Maka jatuhlah pilihanku pada tuna.


Setelah melakukan trial and error dari satu supermarket ke supermarket lain, dari satu merk tuna ke merk tuna lainnya, dari yang direndam in water, in sun flower oil sampai in olive oil (niat amat yaakkk?), akhirnya pilihan kami jatuh pada tuna merk ini. Menurut kami, merk ini yang terenak dari semua tuna yang sudah kami coba. Produk dari Equador, harganya 1,89 Euro per pak, isi 2 kaleng tiap pak, berat 2 x 160 gram. Dijual di supermarket Lidl (nggak promosi karena nggak dapat komisi).


Ternyata yang mengatakan enak bukan kami saja. Saudara sepupuku ketika mengunjungi kami di Belanda, kami suguhi tuna sandwich dengan tuna ini. Dia bilang tuna sandwich yang dia makan jauh lebih enak daripada tuna sandwich yang dia makan di Indonesia (kayak di O-la-la atau tempat lainnya). Adikku yang nggak suka makan (beda banget sama kakaknya yang suka banget makan) juga bilang kalau tuna ini enak. Ibuku yang tidak suka ikan, ketika mencoba tuna ini juga mengatakan enak. Malah komentar ibuku: "Aku kok doyan ikan ya ternyata". Jadi ya memang enak kan?


Tuna ini bisa dibikin atau dimasak macem-macem: oseng-oseng, tuna bumbu Menado, martabak, lumpia, nasi goreng, salad, sandwich, pizza, macaroni schotel, spaghetti dsb. Malah suatu kali aku pengin bikin lasagna tuna, siapa tahu enak. Yang penting sih menurutku harus pinter-pinter masaknya.  


Aku mengkoleksi ini karena kadang tuna merk ini bisa berbulan-bulan nggak nongol di Lidl. Begitu ada, langsung deh silap mata, kalap beli sampai berpak-pak. Leo sampai geleng-geleng kepala melihat kelakuanku. Tapi memang harus gitu, karena beberapa minggu kemudian, aku lihat persediaan di Lidl sudah menipis. Kalau pas persediaan di Lidl habis, aduh rasanya dunia nggak seindah tanpa tuna ini. he...he...he... maksudnya harus ganti merk lain gitu.     


Sekarang koleksi tunaku yang tersisa 11 pak, jadi ada 22 kaleng kan? Serasa punya harta karun euy.........   

Koleksiku lainnya

Kalau orang lain mengkoleksi perhiasan, aku malah mengkoleksi lainnya (yang seperti biasa nggak jauh-jauh dari makanan, wong mau ngoleksi perhiasan nggak punya duit. he...he...he...).


Selain cabe, koleksiku lainnya adalah tuna kalengan. Kebetulan Leo bukan meat eater, tapi lebih fish eater (walaupun dia makan daging sapi juga walaupun nggak banyak). Jadi aku harus cari alternatif untuk pengganti daging. Maka jatuhlah pilihanku pada tuna.


Setelah melakukan trial and error dari satu supermarket ke supermarket lain, dari satu merk tuna ke merk tuna lainnya, dari yang direndam in water, in sun flower oil sampai in olive oil (niat amat yaakkk?), akhirnya pilihan kami jatuh pada tuna merk ini. Menurut kami, merk ini yang terenak dari semua tuna yang sudah kami coba. Produk dari Equador, harganya 1,89 Euro per pak, isi 2 kaleng tiap pak, berat 2 x 160 gram. Dijual di supermarket Lidl (nggak promosi karena nggak dapat komisi).


Ternyata yang mengatakan enak bukan kami saja. Saudara sepupuku ketika mengunjungi kami di Belanda, kami suguhi tuna sandwich dengan tuna ini. Dia bilang tuna sandwich yang dia makan jauh lebih enak daripada tuna sandwich yang dia makan di Indonesia (kayak di O-la-la atau tempat lainnya). Adikku yang nggak suka makan (beda banget sama kakaknya yang suka banget makan) juga bilang kalau tuna ini enak. Ibuku yang tidak suka ikan, ketika mencoba tuna ini juga mengatakan enak. Malah komentar ibuku: "Aku kok doyan ikan ya ternyata". Jadi ya memang enak kan?


Tuna ini bisa dibikin atau dimasak macem-macem: oseng-oseng, tuna bumbu Menado, martabak, lumpia, nasi goreng, salad, sandwich, pizza, macaroni schotel, spaghetti dsb. Malah suatu kali aku pengin bikin lasagna tuna, siapa tahu enak. Yang penting sih menurutku harus pinter-pinter masaknya.  


Aku mengkoleksi ini karena kadang tuna merk ini bisa berbulan-bulan nggak nongol di Lidl. Begitu ada, langsung deh silap mata, kalap beli sampai berpak-pak. Leo sampai geleng-geleng kepala melihat kelakuanku. Tapi memang harus gitu, karena beberapa minggu kemudian, aku lihat persediaan di Lidl sudah menipis. Kalau pas persediaan di Lidl habis, aduh rasanya dunia nggak seindah tanpa tuna ini. he...he...he... maksudnya harus ganti merk lain gitu.     


Sekarang koleksi tunaku yang tersisa 11 pak, jadi ada 22 kaleng kan? Serasa punya harta karun euy.........