Saturday, 30 June 2007

Cake Jerman.........

Kemarin ketika aku sedang membaca resep-resep cake yang diberi oleh teman-teman (terimakasih ya teman-teman, aku rencananya pengin coba tuh satu-per satu, wish me luck ya. Doain juga ya semoga aku nggak males dan tetap semangat untuk mencoba dan tidak cepat menyerah ya.....), kebetulan mbak Agnes kontak aku lewat skype.

Akhirnya kami ngobrol tentang resep. Mbak Agnes memberikan aku 3 resep dari buku resep yang dia punyai. Aku lupa tanya nama cake ini. Anggap saja cake Jerman ya, soalnya kan resepnya pake boso Jerman.

Akhirnya semalam aku coba 1 resep yang kayaknya gampang (maklum aku kan nggak bisa bikin cake sulit). Resepnya pake ukuran sendok. Ini nih resepnya (aku bikin 3 resep karena kalau 1 resep, aku takut terlalu tipis untuk loyangku walaupun sebetulnya loyangku nggak terlalu gede juga):

Bahan:

1 butir telur

2 sdm gula

2 sdm margarin (aku pake metega karena di rumah adanya itu)

4 sdm terigu (aku pake zelfreizen bakmeel)

1 1/2 - 2 sdm coklat bubuk

baking powder (aku nggak pake karena sudah pake zelfreizen bakmeel) 

Cara:

1. Campur terigu, baking powder dan coklat bubuk. Setelah itu aku langsung ayak 2 kali (maksudnya sih biar alus. Ini sesuai petunjuk mbak Agnes, kalau perlu tepung diayak 2 kali supaya halus).

2. Kocok jadi satu: telur, mentega dan gula. Aku kocok campuran ini selama 10 menit.

3. Masukkan campuran terigu (no. 1 di atas) dan aduk

4. Panggang 25 menit dengan suhu 200 derajat C. Aku pake suhu 180 derajat selama 25 menit. Pake suhu segini juga sudah mateng kok.

Hasilnya:

1. Adonan sangat kental, dan cukup berat ngaduknya. Apakah kebanyakan terigu dan bubuk coklat? Mungkin aku mengukur terigu dan bubuk coklatnya terlalu munjung. Maklum, terlalu semangat pengin bikin cake. hi...hi...hi...

2. Yang jelas nggak ambleg walaupun nggak terlalu mengembang.

3. Permukaan nggak bisa alus karena adonan terlalu kental

4. Rasa sih enak walaupun padat. Di luar kelihatan keras tapi dalamnya lumayan empuk, dan yang jelas nggak seret. Maklum, menteganya kan cukup banyak. Kalau mau empuk lagi, tinggal masukkin microwave setiap kali mau makan.

5. Terus terang, cake ini mengingatkanku pada roti-roti Jerman yang padat.

6. Kalau aku rasa-rasain, rasanya kayak brownies.

7. Aku amati resep-resep cake Jerman biasanya irit telur tapi royal mentega. Betul ya?

Teman-teman, aku mau aku tanya nih, sebelumnya terimakasih ya:

1. Apakah telur harus dalam suhu ruangan? Aku kemarin enggak. Aku langsung kocok begitu keluar dari kulkas.

2. Apakah mentega atau margarin harus dalam suhu ruangan sebelum dikocok? Aku kemarin enggak.

Thanks ya mbak Agnes. Lain kali kalau bikin lagi, aku tahu kesalahanku.

Bulan depan ganti resep lagi.....satu resep per bulan cukuplah....soalnya badan sudah makin melar saja.....minggu depan harus makin rajin ke sport centre!!!!

 

 

Friday, 29 June 2007

Aku prihatin.......daftar hitam lagi.....

Gimana aku nggak prihatin, wong ya nggak ada to pesawat dari Indonesia yang terbang ke Eropa (apa malah ada?). E....lha kok malah dimasukkan dalam black list-nya EU.

 

Berita ini aku ketahui ketika Leo membaca berita dari situs planet disini dan disini.  Intinya adalah terhitung sejak minggu depan, tidak ada sebuahpun pesawat dari Indonesia yang boleh terbang di negara-negara EU. Jadi artinya kan pesawat-pesawat kita masuk dalam daftar hitamnya EU karena dianggap tidak laik terbang, diragukan faktor keselamatannya.

 

Lha padahal Garuda pun sudah nggak terbang ke negara-negara Uni Eropa sejak beberapa tahun yang lalu to? Bahkan aku lihat di situsnya, Garuda sudah nggak terbang ke Amerika, terbangnya yang dekat-dekat saja. Paling jauh kayaknya cuma ke Tokyo ya? Lha kok sekarang malah di-black list. Padahal di-black list atau nggak di-black list kan nggak ngaruh ya, wong nggak terbang ke sini?

 

Aku jadi mikir, kapan ya kita punya pesawat yang aman dan tidak memperpanjang daftar hitamnya EU di sini.

 

Catatan: gambar yang aku pasang adalah miniatur Garuda di Madurodam-Den Haag. Sampai dengan tahun 2004 kan Garuda masih mendarat tuh di Schiphol, walaupun sekarang sudah nggak mendarat lagi, tetap saja Madurodam nggak memindahkan pesawat Garuda dari sana......

 

Bagi yang pengin tahu beritanya, aku copy paste kan dan bisa dibaca di bawah ini:

 

EU weert alle vliegtuigen uit Indonesië

Gepubliceerd op donderdag 28 juni 2007

 

Geen enkele Indonesische luchtvaartmaatschappij mag nog naar de Europese Unie vliegen. De EU verbiedt dat met ingang van volgende week.

 

De Europese Commissie heeft donderdag de nieuwe zwarte lijst voor luchtvaartmaatschappijen openbaar gemaakt.

 

De Angolese maatschappij TAAG en een maatschappij uit Oekraïne zijn ook niet meer welkom in de EU-landen. Een aantal maatschappijen uit Rusland, Bulgarije en Moldavië staan niet op de zwarte lijst, maar zijn wel onderhevig aan bepaalde beperkingen.

 

De EU houdt een zwarte lijst bij om de veiligheid van luchtvaartverkeer binnen de Unie te waarborgen, maar ook om Europese burgers te informeren over de veiligheid van vluchten buiten Europa. De lijst is tevens een stok achter de deur om vliegmaatschappijen veilig te houden

 

Catatan dariku: Ayo sekarang milih mana, naik KLM yang nggak kreatif babar pisan dalam hal catering (cuma disuguhi bakmi goreng melulu, sampai kriting tubuhku) tapi slamet, atau naik pesawat yang diragukan keselamatannya?

 

Thursday, 28 June 2007

Melihat rumah gadang....


Di jembatan gantung menuju ke rumah gadang

Di Padang Panjang, kami dibawa oleh guide kami ke Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau. Kami di-drop oleh pak Jun (sopir yang membawa kami) di suatu tempat, kemudian kami berjalan ke pusat kebudayaan tersebut sambil menikmati pemandangan yang indah dan segar.

Pusat kebudayaan yang kami temui berbentuk rumah gadang. Ibu petugas (lupa aku nggak tanya nama blio) memberi informasi tentang adat istiadat Minang termasuk fungsi rumah gadang. Dari keterangan yang aku peroleh, ternyata rumah gadang ini sama seperti balai atau rumah panjang dalam adat Dayak dimana satu rumah dihuni oleh lebih dari satu keluarga inti (sedikit banyak aku mempelajari budaya Dayak, jadi bisa melihat perbedaan dan persamaannya). Dalam rumah gadang terdapat beberapa kamar dan satu kamar dihuni oleh sebuah keluarga inti. Biasanya dalam kamar tersebut dihuni oleh ayah, ibu dan anak balita. Anak laki-laki yang sudah berumur 10 tahun atau lebih harus keluar dari rumah dan tidur di surau untuk belajar agama dan pencak silat. Anak gadis yang sudah beranjak remaja akan berkumpul menjadi satu untuk belajar menjahit dsb. Semoga apa yang aku tangkap tidak salah.

Di depan rumah gadang ada beberapa lumbung, ada yang berkaki 4, 6 dan 9. Terus terang aku lupa kegunaan tiap lumbung ini berdasarkan kakinya. Yang jelas ada lumbung yang padinya digunakan untuk kepentingan sehari-hari, ada yang digunakan untuk menghadapi masa paceklik, dan ada yang digunakan untuk kepentingan komunitas.

Sekarang orang pada umumnya tinggal di rumah biasa, bukan berkumpul di rumah gadang. Terus terang aku tidak tanya sampai mendetil sampai seberapa jauh orang Minang sekarang memiliki keterikatan dengan rumah gadang ini.

Banyak informasi menarik lain yang kami peroleh, misalnya tentang budaya matrelineal. Tahu kan artinya matrilineal? Pasti tahu dong....

Yang sangat menarik adalah banyak buku-buku tentang budaya Minang yang tersimpan di tempat tersebut ditulis oleh orang-orang Belanda. Banyak juga foto-foto tentang Minang yang juga dibuat oleh orang Belanda dan diambil pada jaman Belanda. Kalau nggak salah ada yang kasih tahu kalau buku-buku tersebut memang diimport dari Belanda. Ada lagi yang nyeletuk.....mungkin karena kemampuan dokumentasi kita kan lemah, jadi ya buku saja harus diimport dari sana. Apakah betul kalau kemampuan dokumentasi kita lemah? Silahkan berkaca pada diri sendiri.....

Setelah itu kami berpotret-potret pake baju pengantin Minang. Foto-foto sudah kami posting sebelumnya disini: http://cutyfruty.multiply.com/photos/album/25.

Setelah puas berfoto-foto, kami meneruskan perjalanan. Pak Jun sudah menunggu di halaman pusat kebudayaan tersebut dengan mobilnya.

Tanya dong...........

Teman-teman, tanya dong. Berhubung sudah beli loyang dari Indonesia, aku pengin belajar bikin cake (atau bolu? bedanya apa sih?). Mau tanya nih, enaknya bikin cake apa ya yang sederhana tapi enak? Harap dimaklumi, aku jarang banget bisa bikin cake yang bagus alias selalu ambleg! So, ada yang punya resep? Kalau bisa cake atau bolunya syaratnya kayak gini (sudah minta tolong, pake syarat lagi. he...he...he...):

1. Putih telur nggak dikocok terpisah sama kuning telur. Pokoknya kalau ngocok kuning dan putih telur harus barengan.

2. Nggak pake digulung

3. Nggak pake acara api atas api bawah, wong ovenku sederhana

4. Nggak pake dilapis-lapis (wong selapis saja masih belum becus)

5. Nggak pake whipped cream, walaupun di sini ada whipped cream tapi aku nggak pinter ngocok whipped cream.

6. Nggak pake ditim dan dikukus, yang penting di-oven dan nggak pake pasir segala ngovennya.

7. Nggak pake susu bubuk, tapi kalau susu segar boleh karena susah banget cari susu bubuk di tempatku ini

8. Nggak pake terigu protein tinggi, rendah dan sedang. Pokoknya yang ada all purpose flour

9. Nggak pake tape, ubi, singkong, santan dan sejenisnya (daripada susah nyarinya dan harus bikin dulu kalau pake tape atau gampang cari santen, tapi paling juga kalengan, males mau buka kelapa sendiri)

10. Bahan yang bisa aku cari di sini secara gampang adalah: terigu (all purpose), gula, butter, margarine, cheese, susu segar, coklat bubuk, kopi, custard, maizena, baking powder

11. Kebetulan aku punya emulsifier (Ovalet, TBM walaupun kalau pake ini gagal juga. hi...hi..hi...)

Itu saja syaratnya. Kalau punya resep yang sederhana, tolong dong aku dikasih. Aku sudah buka-buka resepnya MPers, tapi kok masih terlalu canggih buatku. Aku penginnya yang sederhana tapi enak, nggak bantat, nggak padet, moist (pengin mudah tapi maunya buanyak. he...he...he...). Kalau perlu semua bahan dicampur jadi satu dan dikocok. he...he...he....  

Terimakasih ya sebelumnya.....

Wednesday, 27 June 2007

100 persen Halal

Ini kejadian sewaktu kami berada di ruang tunggu di Padang airport. Waktu itu kami sedang menunggu pesawat yang akan membawa kami ke Jakarta. Seperti biasa Leo suka banget mengamati keadaan sekelilingnya. Salah satu yang dia amati adalah kardus-kardus yang dibawa oleh para calon penumpang.

Maklum dari Padang, jadi tentu saja banyak orang yang membawa oleh-oleh makanan Padang. Sebelum balik ke Jakarta banyak orang pergi ke toko-toko tempat jual makanan yang ada di kota Padang. Si pemilik atau pelayan toko akan mengepak barang belanjaan pembeli dalam kardus-kardus secara rapi. Isinya mulai dari rendang, singkong balado, kering kentang, kerupuk kulit dsb. Pokoknya semua makanan Padang ada di situ deh. 

Kami juga beli tapi kami males untuk membawa kardus kami ke cabin. Kami masukkan kardus kami ke bagasi saja (wong ternyata juga nggak rusak kok). Banyak orang yang tidak memasukkan kardus-kardus oleh-oleh tersebut ke bagasi tapi membawanya ke cabin yang artinya mereka harus membawanya juga ke ruang tunggu sebelum naik pesawat.

Salah satu yang menarik perhatian Leo adalah sebuah kardus yang dibawa oleh seorang bapak-bapak tua. Tulisannya: 100 % halal. Komentar Leo adalah:

"Lho...kalau halal bukankah artinya pasti halal? Apa ada sih yang 99,99999999% halal?"

Dalam hati aku juga pengin ketawa mendengar komentarnya. Sampai saat ini aku nggak pernah kepikiran sampai kesitu. Dia menambahkan:

"Kan itu ibaratnya kayak pregnant. You are pregnant or not pregnant. You cannot 50% pregnant, toch?" Dia kemudian meneruskan lagi:

"Sama kan dengan halal? You cannot say 50% halal......" 

Aku pikir-pikir bener juga ya jalan pikiran dia. Kalau halal ya halal. Dia kan ngomongin halal, bukan haram, bukan makruh, bukan mubah dan bukan lainnya.

Waktu aku cerita sama teman tentang hal ini, temanku tertawa. Komentarnya:

"Orang Indonesia itu dikasih tahu halal saja kadang nggak yakin dan nggak percaya, maka harus ditambah 100 persen, supaya yakin betul kalau itu halal............"    

Catatan: logo diambil dari wikipedia disini

Nasi goreng bumbu iris....

Ini nyontek Primarasa Femina lagi, seri jajanan Jakarta. Judul aslinya sih "Nasi goreng tabur rawit". Berhubung nggak punya cabe rawit (wong mahal), akhirnya aku pake cabe merah dan ijo. Yang penting puedes!!!

Resep asli pake ayam goreng, aku nggak pake soalnya Leo nggak makan daging ayam. Aku ganti pake daging sapi cincang, biar cepet dan gampang (dasar muales. he...he...he...). Resep ini sudah aku modifikasi sesukaku. Tapi yang jelas semuanya diiris, nggak ada yang diuleg (wong resep aslinya juga gitu kok). Jadi judul yang paling tepat adalah "NASI GORENG MUALES!!!" 

Bahan:

600 gram nasi (resep asli 800 gram), 125 gram daging cincang (resep asli 2 potong ayam goreng yang disuwir-suwir), minyak untuk menumis, 8 siung bawang putih dicincang, 3 butir telur kocok lepas (aku malah lupa nggak aku kocok. Resep asli 4 butir telur), 5 cm prei (karena nggak punya daun bawang), 3 cabe merah dan 3 cabe hijau dipotong-potong (resep asli 10-12 cabe rawit hijau diiris tipis untuk taburan)

Saus: campur jadi satu

2 sdm kecap asin/kecap ikan, 1 sdm kecap manis, 1 sdt merica bubuk, 1/2 sdt garam, 50 ml air/kaldu (aku pake 1/2 kaldu blok ditambah air).

Cara:

1. Uraikan butiran nasi menggunakan garpu agar tidak bergumpal.

2. Panaskan minyak goreng dan tumis bawang putih sampai harum dan matang.

3. Masukkan cabe merah dan hijau dan aduk sampai layu (kalau sesuai resep yaitu pake cabe rawit, nggak perlu dimasukkan karena cabe rawit hanya untuk taburan)

4. Masukkan daging cincang dan aduk sampai matang (kalau menurut resep pake daging ayam goreng suwiran, dimasukkan setelah telur, bukan tahap ini)

5. Masukkan saus, aduk sampai harum

6. Masukkan nasi, aduk-aduk sampai rata

7. Sisihkan nasi ke pinggir wajan dan tuang telur kocok di tengah wajan. Tunggu sebentar sampai mulai membeku, langsung aduk-aduk hingga berbutir-butir kecil.

8. Aduk seluruh isi wajan hingga telur orak-arik dan nasi tercampur rata. Masukkan daun bawang (aku pake prei karena nggak punya daun bawang, itu aja hampir kelupaan) dan ayam suwiran (aku nggak pake). Aduk hingga nasi berasap.

9. Pindahkan ke piring saji. Aku taburi brambang goreng dan irisan sledri mentah. Kalau menurut resep asli nggak dikasih brambang goreng dan sledri tapi ditaburi irisan cabe rawit.

10. Kami makan pake salad, rasanya jadi seger. Kalau di resep dilengkapi dengan acar mentimun dan emping goreng.

Catatan: dengan porsi segini, kami makan dua kali (karena terlalu banyak untuk dimakan sekali. Itu saja masih sisa untuk breakfast ku. Maklum summer, jadi selera makan berkurang). Yang penting puedes. Leo yang punya masalah dengan perut, masih nekat makan ini, katanya siapa tahu cabe bisa membunuh bakteria di perut.

 

Tuesday, 26 June 2007

Bluderku gosong!!!!! Tolongggggg......


Kelihatan pecah-pecah kan di bawahnya....

Hari ini aku bikin bluder Manado, pake resep yang diposting oleh jeng Riana di http://pennylanekitchen.blogsome.com/2005/10/15/bluder-the-classic-one. Thanks ya jeng Riana. Juga thanks to ibu Jane Sipasulta karena ini resep keluarga beliau.

Aku sudah pernah 2 atau 3 kali bikin dengan resep ini tetapi selalu gagal alias ambleg, padahal kayaknya gampang. Aku biasanya bikin 1/2 resep. Hari ini aku nekad bikin 1 resep karena pengin tahu hasilnya, pokoknya penasaran banget deh. Dulu selalu pake gist keluaran Dr. Oetker, sekarang pake gist Fermipan.

Berhubung disini sulit cari susu bubuk, maka aku pake bubuk creamer (?). Aku ganti air hangat dengan susu segar yang dihangatkan.

Hasilnya nggak ambleg. Cuma aku terlalu panas manggangnya. Aku stel oven 200 derajat C. Karena terlalu panas, di bagian luar sudah gosong dan keras, tapi bagian dalamnya masih ada yang belum mateng. Tapi paling enggak sudah nggak ambleg lah. Lain kali kalau bikin lagi aku akan kecilkan suhunya. Mungkin 180 derajat Celcius?

Lain kali aku kalau bikin mau aku tambah butter (eh nggak boleh ya, katanya sedang diet....hi...hi...hi....) dan garam supaya rasanya lebih pas, nggak terlalu tawar. Walaupun nggak ambleg, rasanya masih bantat nggak kayak gambar aslinya. Salahnya dimana lagi ya? Oh ya, bluderku juga masih pecah-pecah. Salah apanya ya?

Tapi kemajuan kan..........masak most of the time ambleg melulu. Sekali-sekali dong nggak ambleg.

Tolong teman-teman, apa yang harus aku perbaiki lagi selain mengurangi suhu? Terimakasih sebelumnya ya........