Sunday, 18 April 2010

Moca Chiffon Cake Tanpa Minyak


Description:
Ini resepnya mbak Esther yang aku contek dari Ienas. Makasih mbak Esther dan Ienas.

Waktu itu Ienas posting resep tentang Pandan Chiffon Cake Berlapis Keju di fesbuk. Resep ini unik karena tidak menggunakan minyak. Berhubung (pengin) diet, aku ngga pake mentega, margarine maupun keju untuk lapisan atasnya. Jadi bener-bener polos, tapi menurutku sih sudah enak. Kalau mau lebih jos lagi tentu saja dikasih keju yak.

Aku ganti pasta pandan dengan pasta mocca. Biar berasa coklat, maka aku ganti sebagian tepung dengan coklat bubuk. Kebetulan kok punya susu bubuk, custard dan maizena, akhirnya (daripada kadaluwarsa), sebagian tepung juga aku ganti dengan bahan-bahan ini. Oh ya, resep yang ditulis Ienas menggunakan 6 telur. Aku konversikan menjadi 4 telur.

Bagi yang mau diet, ini resep yang bagus. Satu loyang aku habiskan sendiri dalam waktu seminggu (untuk sarapan dan ngeteh). Paling ngga, makan cake ini merasa ngga terlalu berdosa. he..he..he..(sambil ngelihat badan yang makin melar...hi..hi...hi...).

Yang mau resep asli silahkan google sendiri ya, soalnya cara yang aku pake rada sesat. he..he..he.. untung ngga ambleg...


Ingredients:
BAHAN A:

4 putih telur

1/4 sdt cream of tartar

35 gram gula halus


BAHAN B:

Bahan tepung:
40 gram tepung terigu, 7 gram chocolate powder, 7 gram milk powder, 7 gram custard, 7 gram maizena (kalau mau praktis, pake saja 67 gram tepung terigu atau 60 gram tepung terigu dan 7 gram chocolate powder).

75 gram gula halus

1/4 sdt baking powder dan 1/4 sdt soda kue (resep asli hanya pake baking powder).


BAHAN C:

4 kuning telur

2 sdm air

1 sdt pasta mocca


Directions:
1. Kocok putih telur (BAHAN A) dan tambahkan gula halus sedikit demi sedikit sampai soft peak.


2. Campur BAHAN B dan BAHAN C, kemudian dikocok dengan mixer agar tercampur rata. Aku menggunakan hand mixer (bekas untuk mengocok BAHAN A, tanpa dicuci dulu) dan aku kocok dengan kecepatan tinggi selama 3 menit.

3. Campur BAHAN A ke dalam campuran BAHAN A dan BAHAN B sedikit demi sedikit, aduk sampai tercampur rata.

4. Tuang adonan ke dalam loyang chiffon yang alasnya sudah dialasi kertas roti dan sudah dipanasi di dalam oven.

5. Panggang sampai matang. Aku panggang dengan suhu 130 derajat (with hot air) selama 45 menit.

6. Setelah matang, keluarkan dari oven dan loyang dibalikkan.

7. Setelah dingin, keluarkan cake dari loyang.

Thursday, 15 April 2010

Tips Nyimpen Jahe ala Leo....

Suatu kali seorang bakul di pasar kebanjiran jahe. Harganya sangat murah, seplastik cuma 1 Euro. Padahal seplastik mungkin beratnya sekitar 2 kilo (mungkin malah lebih). Beli sedikit ngga boleh. Puyeng juga, padahal tidak setiap hari butuh jahe. Akhirnya dibeli juga (dasar kemaruk, begitu harga korting langsung borong. he..he..he..).

 

Sampai di rumah bingung mau disimpen dimana (jadi bukan loyang aja yang bingung nyimpennya. he..he..he..). Sudah disimpen di kulkas dan di freezer, masih sisa juga. Padahal freezer sudah penuh cabe. he..he..he.. Padahal jahé kan rowa (apa bahasa Indonesianya rowa? Makan tempat?). Sudah dipotong-potong tetep aja ngga cukup, akhirnya disesel-seselin ke kulkas. hi..hi..hi...tapi tetep aja beberapa lama kemudian ada yang jamuran. hiks....yang disimpen di luar kalau ngga kering ya jamuran. hiks...hiks...

 

Ternyata yang bisa memecahkan masalah justru Leo. Dia bilang kenapa ngga dibikin pasta jahe saja. Dia bersedia untuk membantu dari mulai ngalusin sampai dengan masukkin ke plastik. Makasih Leo. Aku padamu pokoknya.

 

Jadi caranya:

1. Jahe dikupas.

2. Setelah dikupas, kemudian dihaluskan, mau diparut (kalau pengin babak bundas tangannya marut 2 kilo jahe), atau diblender (jangan pake air), atau pake food processor canggih juga boleh.

3. Masukkan ke dalam plastik. Kebetulan aku kok bawa plastik yang biasa untuk bikin es. Beli waktu mudik.

4. Ujungnya kemudian diikat. Aku ngiketnya pake tali plastik kecil yang biasanya buat ngiket plastik sandwich.

5. Simpan di freezer.

Dengan cara tersebut yang jelas tidak memakan tempat di freezer. Kalau mau pake, tinggal keluarin dari freezer, diamkan sebentar (ngga perlu sampai meleleh), potong jahe pasta yang sudah beku ini secukupnya dengan pisau. Sisanya masukkan freezer lagi.

 

Dengan cara ini aman deh, jahe ngga bakalan jamuran ataupun kering. Lebih praktis dan tidak memakan tempat. Selamat mencoba...siapa tahu ada yang kebanjiran jahé....

 

Gambar yang aku posting adalah contoh jahé yang sudah beku. Terus terang, aku bingung, wong waktu itu perasaan disimpen dalam beberapa plastik, kok nemunya cuma 3 biji yak. Mungkin yang lainnya tenggelam dalam lautan cabe di freezer, wah harus kerja keras nih....digging....hi...hi...hi...

Thursday, 1 April 2010

Menciptakan monster...

Waktu itu aku kayak orang kurang kerjaan nonton tayangan MTV berjudul My Super Sweet 16. Leo paling suebel banget dengan program ini. Aku sendiri pengin tahu kelakuan anak orang kaya itu kayak apa.

 

Inti ceritanya adalah bagaimana anak-anak orang kaya di Amrik dan Enggres merayakan ultah mereka yang ke 16 (waktu aku baca di wikipedia, ternyata ada juga tayangan tentang anak kaya Canada). Yang jelas adalah perayaan tersebut jor-joran, menelan biaya yang sak ho-hah (saking guedenya). Dengan duit segitu sebetulnya bisa menghidupi ratusan keluarga di negara-negara miskin selama setahon atau bahkan lebih. Lha wong baju dan sepatu untuk merayakan ultahnya aja bisa ribuan dollar kok harganya, itu belum biaya pestanya.

 

Pada umumnya yang ditayangkan adalah ultahnya anak-anak perempuan. Aku lihat kalaupun ada tayangan ultahnya laki-laki kok biasanya mereka gay yo. Dari gerak-gerik mereka kan kelihatan mereka ini gay atau ngga. Aku ngga tahu kenapa kok hampir selalu anak perempuan, apakah kalau anak perempuan suka pamer hal-hal seperti itu.

 

Lama-lama aku bisa menebak plot ceritanya. Selalu diawali dengan pamer barang-barang mewah yang dimiliki gadis-gadis ini. Misalnya koleksi tas, sepatu, baju dan sebagainya. Pokoknya branded semua dari mulai Gucci, Louis Vuitton dsb (you name it lah). Harga sebiji saja bisa mencapai ratusan sampai ribuan dollars atau poundsterlings.

 

Sambil nonton kan biasanya berkomentar (walaupun komentar atau ngomel bedanya sangat tipis). Komentar Sri:

 

"Uedan......tas aja harganya sampai ribuan dollars....padahal tas ku aja beli di pasar Rotterdam harganya cuma 5 Euro. Celana jeans ku beli di pasar harga 10 Euro......Barang milikku yang paling mahal cuma BH, karena harus beli di Mangga Dua, harus naik KLM dari ngAmsterdam ke nJakarta...." 

 

Setelah pamer tas, baju, dan pernak-pernik lainnya kemudian ditayangkan hobby mereka yang super duper muahal seperti naik kuda (yang tentunya harus punya ranch). Komentar Sri:

 

"Lha jangankan kok beli kuda yang harganya mahal, Leo beliin aku sepeda aja yang tweede hand, harga 100 Euro, awet sudah lebih 5 tahun masih belum rusak. Lagian kalau bisa beli kuda, terus mau disimpen dimana kudanya, wong nyimpen loyang aja sudah puyeng kok ngga ada tempat....."    

 

Sambil memamerkan kekayaan mereka (yang sebenernya kekayaan orang tuanya), para gadis ini SELALU mengatakan:

"IT'S ALL ABOUT ME......." atau

"I ALWAYS GET WHAT I WANT....."

 

Terus setelah itu ditayangkan bagaimana mereka merencanakan ultah mereka. Dari mulai nyari baju sampai dengan bagaimana men-design pesta yang se-perfect mungkin. Karena moto 'It's all about me' dan 'I always get what I want...." bisa ditebak kan arah pesta ini akan kemana? Pasti super duper muahal. Lha wong nyari baju aja harus yang muahal, pindah dari satu butik ke butik lainnya.

 

Kalau orang tua mereka tidak setuju dengan pilihan anak gadisnyanya, si gadis akan berteriak. Yang aku benci adalah "screaming" menjadi senjata yang ampuhnya luar biasa. Si orang tua akhirnya memenuhi juga. Kalau gue jadi emaknya, gue tabok pantatnya. Seandainya gue jadi emaknya, mbok ya mereka mau nangis sampai urat putus, ngga bakalan gue penuhi. Mereka kan harusnya dilatih bahwa semuanya ada batasnya.

 

Gadis-gadis yang luarnya cantik, ternyata sangat self-centric. Mereka tidak peduli dengan perasaan orang lain. Jadi misalnya gini, untuk menyelenggarakan pesta, mereka kan selalu merekrut party planner. Si gadis biasanya akan ditanya oleh si planner ini, maunya pestanya model seperti apa. Kalau seandainya idenya si gadis ini ngga masuk akal atau akan mengganggu kenyamanan orang lain, si planner akan mengingatkan dan memberi masukan atau perbaikan. Tapi apa jawaban si gadis?

 

"Kalau kamu ngga bisa melaksanakan, aku akan pecat kamu dan ganti dengan orang lain...."

 

Weleh...weleh sampai segitunya. Anak kecil sak gede Ucrit sudah berani maen pecat. Gimana kalau nanti dia jadi nyonya besar coba.

 

Setelah merancang pesta, mereka akan menyebar undangan. Cara nyebarin undangan juga macem-macem. Salah satunya misalnya mengumpulkan teman-temannya di suatu lapangan. Terus si gadis datang ke lapangan dengan kereta kuda ala jaman baheula. Dia berdandan kayak Maria Antoinette atau bergaun ala para bangsawan Eropa jaman dulu. Para pengawalpun juga akan berbaju model Eropa kuno.

 

Komentar Sri:

"Lha itu kalau terjadi di Jawa...apa ya kemudian mereka akan berbaju model Kethoprak Mataram yo, terus ditarik dokar atau andong ........tapi mestiné gerobaknya....eh....keretanya ditarik kuda, bukan ditarik sapi.....nanti dikira habis angon sapi......"

 

Kemudian akan diumumkan siapa saja yang boleh datang dan siapa yang tidak boleh datang ke pesta. Pokoknya pesta ini harus bener-bener eksklusif. Ini kan seperti mengisyaratkan kayak gini, buat yang diundang: "you belong to my group...." sedangkan bagi yang ngga diundang: "Loe mah bukan lepel gue....." Iya ngga?

 

Yang memperoleh undangan akan berteriak histeris karena saking suenengnya. Yang ngga dapat undangan akan kecewa kalau perlu menguras air mata sampai berember-ember. Weleh...weleh.....

 

Komentar Sri:

"Lha kalau diundang, gue juga ngga bakalan dateng kok (emang sapa yang mau ngundang, kok ge-er). Kalau diundang terus nyumbang apa coba. Ngado orang kaya kan lebih susah to, wong mereka sudah punya semua. Lha kalau di Jawa, kita masih bisa nyumbang gulo, kopi, beras kalau ada perhelatan. Lha kalau pesta kayak gini, apa ya mau nyumbang gulo Jowo?....."

 

Terus kemudian datanglah hari H. Sering disertai kekisruhan sebelum pesta diselenggarakan (kayak sudah diskenario gitu lho), misalnya party planner nya datang telat, atau pacarnya ngga bisa datang dsb. Terus para gadis ini akan sutris, tereak-tereak lagi sampai memekakkan telinga.

 

Terus sesuai rencana, pesta akhirnya bisa dilaksanakan. Kalau tema pestanya model Cinderella, maka semua (termasuk undangan) akan berpakaian model Eropa kuno. Bisa juga pestanya bertemakan circus. Jadi si gadis akan naik gajah ke tempat pesta (itu pinjem gajah dari bonbin mana yak, kok bisa dapet gajah). Tempat pestanya sudah bener-bener di-design seperti tempat circus. Maklum mereka kan orang kaya, jadi punya rumah aja halamannya luas banget, wong lapangan sepak bola aja kalah kok. Jadi kalau cuma sekedar dipasang draaimolen (komedi puter) aja masih berlebih tempatnya. Pokoknya setiap pesta selalu ada temanya, ngga pernah ngga ada tema.

 

Yang paling bikin "surprise" adalah kado ulang tahun dari orang tua. Kata "surprise" aku kasih tanda petik karena sudah bisa ditebak, wong dari satu tayangan ke tayangan lain kok kadonya sama walaupun merknya berbeda. Selalu begini, babe atau emaknya atau party planner ngumumin supaya gadis keluar ruangan karena akan ada "surprise". Kemudian si gadis akan lari-lari diiringi oleh tamu-tamu lainnya. Atau tamu-tamu sudah berjajar di luar. Kemudian.....tadaaaaaaa.....

 

Muncul sebuah mobil yang diiket pake pita guede bianget. Merk nya bisa cem macem. Pokoknya kemudian si gadis tereak kegirangan, kemudian duduk di belakang setir mobil baru super uanyar kinyis-kinyis bau pabrik. Lha wong yo usia masih belum boleh nyopir kok sudah dikasih kado mobil ki piyé.....

 

Komentar Sri: "Lha kok yo gampang men dapat mobil. Lha wong aku aja mintak kado Actifry harus nunggu berbulan-bulan supaya swami bisa nabung dulu....." 

 

Setelah nonton beberapa tayangan, yang jelas pasti akan bosen kan? Kalau Leo sih baru ngelihat sekilas sudah muak. Lha MTv ini bikin tayangan kok yang ngga mendidik gini, menstimulir para gadis lain untuk bersifat konsumtif dan egois. Biasanya kan yang nonton beginian kan gadis to? (lha itu buktinya yang nonton aku bukan Leo. he..he..he..). Lha wong ratusan juta orang di dunia kelaparan, menghadapi bencana alam, menghadapi kekeringan yang berkepandangan, kekurangan air bersih, bayi-bayi meninggal karena kurang gizi, malah banyak juga orang-orang terancam nyawanya karena berada dalam situasi perang dan lain-lain. Eh...lha kok malah di sisi lain ada segelintir orang yang jor-joran kayak gini. Gatel kalau ngga komentar.

 

Sri: "Aku bingung ngelihat orang tua kayak gitu. Mereka ini sadar ngga sih kalau sebenernya mereka sudah menciptakan seorang monster yang egois, ngga punya perasaan, semua kemauan harus dituruti, tidak pernah merasa puas, tidak pernah bersyukur, seolah-olah dunia harus melayani dia dan bukan sebaliknya? Orang tua model kayak gini bener-bener ngga bisa mendidik anak, akhirnya lahirlah seorang monster....."

 

Leo (sambil ngeloyor pergi): "Sebenernya anak-anak seperti ini yang membuat 99 persen dunia menjadi sengsara...."

 

Mungkin apa yang dikatakan Leo ada benernya ya. Orang tua model kayak gini kan penginnya memenuhi nafsu hidup mewah anaknya yang tidak pernah terpuaskan. Akhirnya dia akan melakukan apapun untuk memenuhinya, kalau perlu mengeksploitasi pegawe-pegawenya. Kalau mereka investasi di negara-negara miskin tapi kaya sumberdaya alam apalagi dibumbui dengan korupsi, mereka akan habis-habisan mengeksploitasi kekayaan negara tersebut tanpa memperhatikan kemakmuran rakyat setempat.

 

Sebelum Leo menghilang dari hadapanku, aku cepat-cepat ngomong...

 

Sri: "Tapi aku heran lho. Dari satu tayangan ke tayangan lain, ngga pernah sama sekali membicarakan tentang hidangan apa yang harus disediakan dalam pesta. Yang dibacarakan selalu tema pesta yang Cinderella lah atau circus lah atau rock and roll lah atau lainnya lah. Tapi kan ngga pernah dibicarakan makanan apa yang harus dihidangkan, apakah itu tumpengan, nasi uduk, nasi rames, soto, saté, gado-gado, stamppot, lasagna atau lainnya....."

 

Leo: "Kamu ini bener-bener Jowo...jan Indonesia tenan. Yang diomongin kok ujung-ujungnya selalu makanan.......hua....ha....ha...."     

 

Sri: "Lha lihat aja kalau ngga percaya. Kalau kamu amati kan makanan ngga pernah disinggung sama sekali. Yang dilihatin kan selalu para tamu yang jingkrak-jingkrak bawa botol bir (atau apa ya? Mosok orang kaya nyuguhnya bir). Atau gelas-gelas isi wine, champagne atau mbuh minuman apa lagi......Ngga pernah to makanannya di-shoot....kamu sih ngga pernah nonton tayangan ini.....jadi ngga ngerti......"

 

Leo: "Lha ya buat apa aku nonton tayangan kayak gitu....kayak orang kurang kerjaan...."

 

Sri: "Lho ini nothing to do dengan kurang kerjaan.....kalau di Indonesia nih kalau bikin pesta......masalah catering itu ya puenting......buffet nya kayak apa....... Apalagi pestanya orang kaya....wow...bisa-bisa gubug makanannya macem-macem, mbok ya selapangan bola aja ada....kalau perlu nih (sok tahu), semua bakul (penjual) makanan paling top se-nusantara diundang semua. Empek-empek aja harus didatengken langsung dari Palembang, ayam bakar harus diimport langsung dari Klaten, kalau perlu diimport sak tenong-tenongnya ke nJakarta, itu belum ngomong tentang coto Makasar.....sosis So..."

 

Belum sampai aku selesai ngomong, lha kok...

 

Leo: "hua.....ha.....ha......"

 

Lha kok malah ketawa nih piyé to, lha wong aku serius jé. Tapi bagiku tayangan My Super Sweet 16 masih belum kreatip, masih belum perfect...lha wong ngga ada tayangan makanannya....mosok ultah kok ngga ada pastel gorengnya, mosok ultah ngga ada ayam mbok Bereknya.....wis ngga jos tenan, belum lulus....!!!!!

 

Note: The picture is taken from here.

 

Tuesday, 30 March 2010

Hirarki anak laki-laki...

Terus terang aku mulai memahami tentang cara atau pola pikir anak laki-laki setelah menikah. Aku lahir empat bersaudara yang tiga diantaranya perempuan. Adikku laki-laki meninggal ketika masih kecil. Ayah meninggal ketika aku remaja. Dari TK sampai dengan SMP, kebetulan teman-temanku sekolah kok ya kebanyakan perempuan. Teman maen juga kebanyakan perempuan. Waktu kuliah, teman-teman kost juga perempuan. Jadi aku terbiasa dengan lingkungan perempuan.

 

Di tempat kerja memang banyak laki-laki, tapi yang kami bicarakan ya tentang kerja. Kalaupun berbicara tentang keluarga, kok ya kebetulan kami jarang memfokuskan diri membicarakan tentang perbedaan antara cara pola pikir antara anak laki-laki dan anak perempuan.

 

Walaupun aku pernah mempelajari teori tentang gender dan sejenisnya, tapi tetap saja aku menemui hal-hal baru ketika aku membandingkan antara masa kecilku dan masa kecilnya Leo. Ternyata memang ada perbedaan pola pikir antara keduanya. Perkara perbedaan itu disebabkan oleh perbedaan budaya, lingkungan, konstruksi sosial dsb tapi tetep aja ada perbedaan.

 

Misalnya begini. Setahuku seorang anak perempuan pada umumnya akan seneng (or at least ngga sebel) kalau disebut "cute" oleh tantenya. Tapi ternyata hal ini tidak berlaku untuk anak laki-laki. Kata Leo, ketika dia berusia 8 tahun dia paling sebel kalau tante-tantenya menyebut dia cute. Apalagi kalau mami memasangkan topi di atas kepalanya, kemudian para tante ini akan mengomentari:

 

"Aduh....kamu cute sekali dengan topi itu......."

 

Kata Leo: "Paling sebel kalau tante-tante ngomong kalau aku cute. Kalau kedengaran teman-temanku, bisa-bisa hirarki ku akan langsung drop........"

 

Sri: "Lha memang kenapa kok bisa jatuh?"

 

Leo: "A boy is supposed not to be cute.....you will loose all respects from your friends if they know that your aunts call you as a cute boy......"

 

Sri (masih tetep ngga mudeng, wong yo cuma disebut cute aja kok yo sampai kehilangan harga diri segala):

"Lha terus kalau anak laki-laki harusnya seperti apa supaya tetap menempati hirarki tinggi?"

 

Leo: "A boy is supposed to be naughty.....then you will get more respect from your friends.....your friends will admire you........that's the way you get high positon in your group......"

 

Sri (tetep ngga mudeng, wong nakal kok malah dikagumi): 

"Terus yang disebut nakal itu kayak apa supaya kamu disebut hebat oleh teman-temanmu?"

 

Leo: "Misalnya, kamu mencet bel rumah orang, terus kamu cepet lari bersembunyi.....ketika pemilik rumahnya keluar, dia akan marah-marah karena ngga menemui siapapun........terus kamu bisa tertawa-tawa....."

 

Sri (makin ngga mudeng): "Lha wong bikin orang marah kok malah bisa menaikkan hirarki"

 

Leo: "Ya memang gitu kalau anak laki-laki....kalau yang keluar buka pintu adalah laki-laki badannya tinggi besar dan kemudian dia marah-marah....hirarkimu makin naik.....teman-teman akan makin mengagumimu karena kamu dianggap berani menghadapi pria dewasa yang tinggi gede.....tapi kalau yang keluar adalah nenek-nenek tua....wah hirarkimu masih belum bisa naik di mata teman-teman......"

 

Sri: "Lha tapi kenapa kamu sekarang ngga masalah kalau aku bilang kamu cute....."

 

Leo: "O...kalau itu lain. Ketika anak laki-laki beranjak remaja dan mulai tertarik pada gadis, maka being cute is very important......Soalnya gadis kan suka sama pemuda yang cute...."

 

Sri (dalam hati): "Lha kok ngga konsisten....."

 

Masa kecilku kok beda ya sama masa kecilnya Leo. Aku malah kemudian berusaha mengingat-ingat, apakah ada hirarki di kalangan gadis kecil di lingkunganku dulu. Disadari atau tidak, dulu hirarki lebih berdasar pada kelas sosial (yang aku yakin di Belanda waktu itu juga begitu) yaitu ada anak orang kaya, ada anak klas menengah dan ada anak orang miskin. 

 

Namun demikian hirarki dengan karakteristik yang disebutkan oleh Leo kok ngga aku temui ya dulu di kalangan gadis kecil. Mungkin dulu makin pinter main bekel atau main dakon atau loncat tali maka makin banyak anak yang mengagumi (atau makin banyak yang iri?), jadi makin tinggi hirarkinya. he..he..he..

 

Aku jadi ingat gadis kecil tetangganya mami yang memperoleh sticker dari orang tuanya. Apakah makin banyak perolehan sticker bisa meningkatkan hirarki seorang gadis kecil? hi...hi...hi...Soalnya penasaran juga bagaimana ukuran hirarki gadis kecil di Belanda....he...he..he..

 

Leo tiba-tiba nyeletuk: "Sekarang yang hobbynya mencet bel rumah orang kemudian cepat-cepat sembunyi kok malah gadis-gadis kecil ya. Ketika pintu aku buka, ternyata ngga ada orang....aku ngomel-ngomel....tahu-tahu di kejauhan ada gadis-gadis kecil tertawa-tawa.......Mungkin mereka mikir kamu yang buka pintu, eh...ternyata yang keluar malah aku yang badannya tinggi....."

 

Sri (dalam hati): "Kena hukum karma.....he...he...he......makanya jangan nakal......"

 

Note: The picture is taken from here.

 

Monday, 29 March 2010

Mengeluh atau pamer?

 

Ini postingan ngga penting. Waktu itu Leo baru pulang dari kantor. Belum juga istirahat dia sudah bikin laporan (maksudnya cerita sama istri tercintah. he..he..he..). Ini ceritanya:

 

Leo: "Tadi di kantor ada teman mengeluh. Katanya istrinya punya sepatu 37 pasang.....dia sampai bingung, perempuan kok demen banget ya sama sepatu, memang betul ngga sebanyak jumlah sepatunya Imelda Marcos, tapi kata dia 37 pasang kan sudah terlalu banyak........"

 

Sri: "Terus apa komentarmu?"

 

Leo (ngga jelas nadanya apakah mengeluh atau pamer): "Aku bilang sama dia. O......itu belum seberapa.....kalau istriku lain....Koleksi loyang istriku, jauh lebih banyak daripada jumlah sepatu istrimu......ha...ha...ha..."

 

Sri (sambil menahan tawa): "Excuse meeeeeeee?!?!?!?!?!"

 

Leo: "Lha kan memang bener, koleksi loyangmu banyak banget sampai kamu bingung gimana cara nyimpennya......masak setiap kali mudik, separo koper isinya loyang.....Belum lagi kalau ada korting harga loyang di toko atau supermarket, langsung kamu borong......ha...ha...ha..."

 

Jangan percaya sama Leo, dia terlalu melebih-lebihkan. Sebenernya sih kalau dibanding dengan teman-teman Indonesia pencinta per-baking-an, koleksi loyangku belum seberapa. Masalahnya kan rumah kami kecil, jadi bingung kalau mau nyimpen alat dapur. he..he..he..halah alasan....

 

Note: Picture is taken from here

Sunday, 28 March 2010

Banana Cheese Chiffon Cake


Description:
Mumpung ada korban, maka praktek bikin cake ini. Selama ini kalau bikin chiffon cake kok selalu mlethek (pecah) atasnya dan kalau pake loyang chiffon cake ini selalu bocor padahal sudah dilapisi kertas roti. Ternyata setelah baca resepnya mbok Piti, loyang harus dipanasi dulu di oven dan ngga boleh pake suhu terlalu tinggi. Tips ini berhasil. Horeeeee......adonan tetap mengembang dan ngga mlethek, rasanya lembut kapes-kapes....

Oh ya, aku bikinnya pake cara gabungan yaitu antara resep mbok Piti dan Yasa Boga. Karena rasa pisangnya ngga gitu terasa (kulitnya sudah besem-besem coklat tapi ternyata dalemnya belum mateng), maka aku tambahkan keju di atasnya. Mumpung ada korban yang makan. he..he..he..

Ini pake loyang chiffon ukuran 22 cm (diameter atas) dan aku pake 5 butir telur. Resep asli 8 telur karena untuk 2 loyang diameter 14 cm.

Terimakasih kepada mbok Piti yang sudah berbagi resep dan Yanti yang sudah kasih loyang chiffon cake. Kalau pengin tahu resepnya mbok Piti, silahkan mampir ke Facebook blio ya....



Ingredients:
Adonan A:

5 butir putih telur
1/4 sdt cream of tartar
63 gram brown sugar


Adonan B

5 kuning telur
75 gram brown sugar
1/8 sdt garam
113 gram tepung terigu
1/2 sdt baking powder
1/4 sdt soda kue (resep mbok Piti ngga pake soda kue)
110 gr pisang dihaluskan
1/4 sdt ekstrak vanila
65 ml minyak


Adonan pengoles:

30 gram butter
15 gram keju tua parut (aku pake brokkelkaas)
Keju muda yang diparut untuk taburan (boleh Gouda, boleh Edam, suka-suka deh).




Directions:
1. Kocok putih telur dan cream of tartar sambil sekali-sekali ditambahi gula sedikit demi sedikit. Aku menggunakan hand mixer Phillip kecepatan sedang selama 10 menit.

2. Masukkan semua bahan adonan B ke dalam sebuah baskom dan kocok dengan mixer. Aku pake mixer yang habis dipake untuk ngocok telur putih. Ngga perlu dicuci langsung buat ngoocok bahan B selama 5 menit dengan kecepatan tinggi. Untung ngga bantat. he..he..he..

3. Masukkan kocokan putih telur ke adonan B, aduk balik pelan-pelan sampai tercampur rata.

4. Tuangkan adonan ke loyang chiffon (diameter 22 cm) yang sudah dilapisi kertas roti dan dipanasi. Loyang jangan dioles mentega maupun ditaburi tepung terigu.

5. Panggang di oven. Menurut resep asli adonan dipanggang dengan suhu 150 derajat. Aku memanggang dengan suhu 130 derajat Celcius (with hot air) selama 65 menit.

6. Setelah mateng, keluarkan dari oven dan balikkan (kebetulan loyangku ada kakinya).

7. Setelah dingin, keluarkan dari loyang. Bisa dioles pake keju atau lainnya.


Membuat adonan olesan keju:

1. Kocok butter dan keju tua
2. Oleskan adonan pada permukaan cake yang sudah dingin
3. Taburi dengan keju parut.

Note: sorry ngga bisa motret. Cakenya sebenernya ngga item lho....

Wednesday, 24 March 2010

Belbus langganan mami...

Sejak mami patah tulang karena jatuh, blio tidak berani naik sepeda lagi walaupun jatuhnya bukan dari sepeda. Keadaan ini mengganggu aktivitas mami, mobilitas agak terhambat. Mami tidak mau selalu tergantung pada anak-anak. Mami tetap pengin mandiri, pengin tetap bisa melakukan kegiatan sendiri seperti ke dokter, ke rumah sakit, ke centrum, ke rumah teman, ke salon dll.

 

Alhamdulillah di desa kami ada pelayanan belbus. Bus ini dikhususkan untuk para senior (usia 60 tahun ke atas). Kebetulan mami sudah berusia 79 tahun, jadi blio berhak untuk memperoleh jasa pelayanan belbus ini. Untuk bisa menggunakan jasa pelayanan belbus, seseorang harus menjadi member. Biaya langganan tiap member adalah 5 Euro per bulan. Mau pake jasa belbus ini sekali atau 30 kali dalam sebulan, anggota tetap harus membayar uang bulanan.

 

Selain biaya langganan bulanan, para penumpang membayar biaya tambahan 50 cents per trip. Ini sangat murah mengingat angkot di Belanda muahalnya luar biasa. Aku aja kalau naik bis umum ke centrum desa harus keluar kocek 1 euro per trip (atau 2 euro pp), padahal jaraknya ngga terlalu jauh.  

 

Uang 50 cents tersebut diperuntukkan buat sopir sebagai uang tip. Para sopir ini adalah volunteers. Mereka tidak digaji, sehingga pihak pengelola meminta penumpang untuk memberi tip 50 cents sekali jalan. Jadi kalau misalnya mami pergi ke centrum pp, blio membayar 1 euro selain uang langganan bulanan.

 

Kenapa disebut belbus? Karena penumpang diwajibkan untuk ngebel dulu sehari sebelum mereka melakukan perjalanan. Jadi misalnya mami pengin bertamu ke rumah teman, sehari sebelumnya mami harus menelpon pengelola bis, mau dijemput kapan, dimana, jam berapa, apakah perlu dijemput lagi dsb. Bener-bener kayak pesen taksi Bluebird ya. Oh ya, disini jangan sekali-sekali naik taksi kalau ngga pengin sakit jantung melihat argometer yang menunjukkan angka selangit.

 

Belbus ini cuma beroperasi di dalam desa saja, tidak sampai ke desa-desa atau kota-kota lainnya. Jadi kalau mami mau ke Rotterdam misalnya, mami cuma bisa diantar oleh belbus di autobusstation (bus station atau terminal bis) desa. Dari situ mami harus ganti bis umum arah Rotterdam. Walaupun harus ganti bis umum, lumayan juga kan. Paling ngga, mobilitas tetap berjalan.

 

Selain memperoleh uang langganan dari para anggota, belbus ini juga memperoleh bantuan dari para sponsor. Misalnya perusahaan pengelola shopping centre desa adalah salah satu donatur belbus ini.  Sebagai imbalannya, perusahaan-perusahaan sponsor yang mendonasikan uangnya kepada belbus ini punya hak untuk memasang logo perusahaan mereka di permukaan bus. Logo bisa ditempel di permukaan bis bisa di permukaan samping, depan, ataupun belakang, yang penting kelihatan.

Pada 1 bus, bisa saja tertempel logo dari berbagai perusahaan donatur. Win-win situation lah ceritanya. Lumayan kan, belbus punya uang untuk biaya beroperasi, sedangkan perusahaan bisa memasarkan produknya.

 

Terus terang aku ngga tahu berapa jumlah belbus di desa kami. Tapi yang jelas kadang-kadang kami berpapasan dengan belbus-belbus ini. Warna belbus di desa kami adalah kuning gelap. Mungkin belbus desa lain punya warna lain.  

 

Suatu kali ketika kami sedang naik mobil, kami berpapasan dengan salah satu belbus ini. Secara tidak sengaja kami membaca logo salah satu donatur yang tertera di belbus tersebut. Tiba-tiba tanpa sadar kami berdua tertawa bersamaan. Kenapa? Karena salah satu donatur belbus tersebut adalah rouwkamer (kamar berkabung atau mungkin kalau di Indonesia disebut rumah peristirahatan terakhir sebelum jenazah dimakamkan atau dikremasi).

 

Komentar Leo terhadap donatur tersebut adalah:

"Ini kok kayak mengingatkan calon customers mereka. Jangan lupa, di masa mendatang pakailah jasa kami....."

 

Para penumpang belbus memang biasanya sudah sepuh (tua). Walaupun ketentuan usia minimal adalah 60 tahun, tapi usia tersebut di Belanda masih termasuk "muda" karena pada umumnya dalam usia tersebut orang Belanda masih aktif naik sepeda dan masih belum membutuhkan belbus. Tanpa melihat data statistik, aku perkirakan anggota belbus desa kami di atas usia pensiun (diatas 65 tahun). Jadi komentar Leo kan tidak terlalu berlebihan kan?

 

Sejak saat itu kami malah kemudian mengamati logo-logo yang tertera di belbus. Kalau diamati dengan seksama, perusahaan-perusahaan sponsor tersebut adalah perusahaan-perusahaan yang memproduksi barang atau menyediakan jasa kebutuhan para oma dan opa. Misalnya:

1. Perusahaan Optik. Makin sepuh kan pasti makin butuh kaca mata baca ya.

2. Perusahaan yang memproduksi gigi palsu. Jadi inget mami kalau malem selalu mencopot gigi palsu blio.

3. Perusahaan yang menjual alat pendengaran. Kalau sudah makin sepuh kemungkinan kan pendengaran berkurang ya.  

 

Memang betul sih ngga semua donatur tersebut menyediakan produk atau jasa yang berhubungan langsung dengan kebutuhan priyayi sepuh. Namun kan tidak bisa dipungkiri kalau para oma dan opa penumpang belbus tersebut adalah target yang tepat bagi produk mereka. Iya ngga? 

 

Jadi jangan mengharap ada logo perusahaan yang memproduksi  mainan anak atau peralatan perlengkapan bayi yang nempel di permukaan belbus desa kami. Iya to? Ha...ha..ha.. 

 

Note: I take the picture from here.