Wednesday, 23 June 2010

Leo: "Aku kok dibohongi....."

Lha wong sudah habis kok baru komplen ki piyé to. Ya telat....Ini cerita seputar lasagna yang aku bikin. Waktu itu aku bikin lasagna isi tempe dan kentang, bukan lasagna daging. Aneh to? he..he..he..namanya juga kreatip.

 

Jadi ceritanya gini. Suatu kali ada korting ikan sardine dalam kaleng. Karena sudah lama banget ngga makan ikan sardine, maka belilah aku. Sampai di rumah aku masak sambal goreng sardine tapi ngga pake santen soalnya Leo ngga suka santen. Aku bumbuin brambang, bawang, cabe, jahe, tomat dll. Aku tambahin juga kentang goreng dalam masakan tersebut. Ternyata Leo ngga suka. Yo wis, alamat aku yang harus makan karena dia makan cuma sedikit. Mana banyak lagi. hiks....

 

Kebetulan dua hari sebelumnya aku bikin kering tempe. Leo ngga suka tempe, gara-gara waktu pertama kali dia makan tempe, kok yo kebetulan tempenya kecut (bukan karena basi, tapi ya memang rasanya rada kecut. Dicampuri apa ya bikinnya kok bisa kecut). Akhirnya sejak itu kalau aku masak tempe, dia jarang banget ikut makan. Pokoknya njelehi (nyebelin) tenan, kalau pertama kali makan dia ngga suka, langsung ngga suka seterusnya. Tapi herannya kalau di Indonesia, dia mau makan tempe karena menurut dia tempe Indonesia lebih enak daripada bikinan di sini.

 

Menurutku kering tempe buatanku yo enak (muji diri sendiri, soale ngga ada yang muji. hi..hi...hi...). Sebelum dimasak, tempenya diiris tipis-tipis kemudian digoreng kering. Kering tempenya aku kasih udang dan dibumbui brambang, bawang, cabe, salam, laos, kecap manis dll. Tapi tetep aja terlalu banyak kalau harus aku makan sendirian. Lha piyé wong sak papan tempe. Sudah gitu Leo ngga ikutan makan. hiks....

 

Berhubung sisa makanan masih banyak, semua aku daur ulang. Kebetulan punya lembaran lasagna, akhirnya aku bikin lasagna. he..he..he..Aku tambahi bumbu lagi, mirip bumbu lasagna di sini. Tidak pake daging sama sekali. Sambal goreng kentang sardine dan kering tempe aku sulap menjadi saos merah, yang berarti pake tomat, pasta tomat, basilicum, oregano dsb. Pokoknya mirip bumbu lasagna Jowo di sinilah. Yang jelas sih tetap pake keju seperti ubo rampenya lasagna.

 

Selain saos merah, aku buat juga saos putih. Hasilnya sih menurutku enak, walaupun ingredients acak-acakan. he..he..he..

 

Aku uji cobakan makanan ini ke Leo. Aku ngga bilang kalau itu lasagna mengandungi sambal goreng sardine kentang dan kering tempe. Dia makannya cukup banyak. Bahkan nambah.

 

Aku tanya:

 

"Gimana rasa lasagna nya? Enak?"

"Enak....I like it...."

 

Ketika masih sisa, aku bilang:

 

"Kalau kamu masih mau, habisin aja. Aku sudah kenyang...."

"Jadi boleh nih dihabisin? Bener kamu sudah kenyang?"

"Habisin aja...aku sudah cukup kok....."

 

Dia bener-bener menikmati lasagna nyleneh buatanku. Aku tanya lagi:

 

"Enak bener ya?"

 

"Iya, enak.....enak banget......kamu memang pinter kalau bikin Italian food....."

 

Dalam hati aku pengin ketawa ngakak. Ketika semua lasagna acak kadul sudah habis, aku tanya dia.

 

"Kamu tahu apa isi lasagna yang kamu makan?"

"Ada saus merah dan putih kan? Kayaknya aku juga ngarasain ada kentang juga. Bener ada kentangnya? Kamu kan biasanya kalau masak Italian food pasti melenceng dari resep aslinya......selalu aja fantasri"

 

Leo selalu menganggap "kreativitas" ku sebagai fantasri instead of fantasy.

 

"Bener, memang ada kentangnya.......ada taste lain ngga selain kentang?"

"Apa ya..........ngga tahu......"

"Yang jelas itu lasagna tanpa daging sama sekali. Isinya tempe. Itu kan sisa-sisa makanan yang aku daur ulang. Sisa sambal goreng kentang sardine dan kering tempe....he..he..he...jadi itu lasagna Jowo banget, wong sebelum dibuat lasagna, tempenya aku bikin kering kentang pake kecap manis cap Bango. ha...ha...ha,,,,,,"

"You are cheatinggggggg......curang.........aku kok dibohongi......"

"Ha...ha...ha...."

 

Lha wong komplen kok setelah piring licin tandas. Makanya, jangan anti dulu sama tempe. he..he..he..

 

Pernah ngicipin lasagna tempe yang sebelumnya dikecapin? he..he..he..Yang jelas sih waktu itu rasa kecapnya sudah tidak terlalu tajam karena sudah disulap menjadi saos merah pake tomat, pasta tomat dan saus tomat. Apalagi karena ditambah basilicum, oregano dll, rasa kecapnya cuma samar-samar. Hanya yang masak yang tahu kalau lasagna itu mengandungi kecap cap Bango. he..he..he..

 

Leo tahu kalau aku demen ngaduk-aduk resep. Tapi dia ngga ngira kalau waktu itu "kreativitas" ku sudah kebablasan. he..he..he..

 

Ssssssttttttttt....jangan kasih tahu orang Itali ya kalau resepnya aku perkosa abis-abisan: Lasagna yang ngga sesuai dengan pakem.   

 

Oh ya, gambar lasagna yang dari sini, aku pasang lagi. Soalnya aku ngga sempat motret lasagna tempe karena sudah diembat abis oleh Leo. he..he..he..

 

 

 

Monday, 21 June 2010

Lasagna pedes ala Sri


Description:
Janji sama Dyah sudah lama untuk menulis resep, tapi baru sekarang sempat. Maaf ya Dyah.

Ini lasagna ala Sri, soalé pedes dan pake brambang goreng. Lasagna Jowo kali ya namanya. he..he..he..Kata Leo ini Indo Dutch Italian food. hi..hi..hi.. tapi menurut kami yo enak. Supaya bener-bener miroso, harus pake keju tua.

Oh ya, Dyah, yang aku bawa dulu ke Rosmalen less spicy daripada resep ini. Maklum kami doyan makan cabe. Jadi kalau bikin silahkan dikurangi cabenya kalau bojo ngga suka masakan yang pedes. Ini juga untuk porsi gede, jadi kalau mau bikin hanya untuk berdua, bisa seperempat resep saja.

Ingredients:
18 lembar lasagna (aku pake merk Honig, jadi ngga perlu ngrebus dulu)

Saus merah:

600 gram daging sapi cincang
1 buah paprika besar, potong kotak-kotak
250 gram champignon (jamur merang), potong-potong
1 buah bawang bombay besar, cincang
8 siung bawang putih, cincang
6 buah cabe merah (atau sesuai selera), iris
2 buah tomat besar, potong-potong
5 sdm saus tomat
4 sdm pasta tomat
1 sdm basilicum bubuk
1 sdm oregano bubuk
1 sdt lada bubuk
1 sdt garam
2 sdt gula pasir
2 batang daun bawang, rajang
1 kaldu bubuk
2 sdm brambang goreng (optional)
100 gram keju tua (aku pake brokkelkaas yang sudah diparut. Bisa juga pake parmesan atau keju tua lainnya)
100 ml air
2 sdm minyak untuk menumis.


Saus Putih:
4 - 5 sdm terigu
2 sdm minyak
1/2 sdt lada bubuk
1 sdt gula pasir
1 liter susu
100 gram keju tua (aku pake brokkelkaas yang sudah diparut. Bisa juga pake parmesan atau keju tua lainnya).

Taburan:
Keju parut.


Directions:
Saus Merah:

1. Panaskan minyak dan tumis bawang bombay dan bawang putih sampai harum.

2. Masukkan cabe dan tumis lagi sampai layu.

3. Masukkan daging cincang dan tumis sampai kecoklatan.

4. Masukkan tomat dan tumis lagi.

5. Masukkan paprika dan jamur, aduk lagi.

6. Masukkan bumbu lain (saus tomat, pasta tomat, lada, garam, gula, kaldu bubuk, basilicum dan oregano, brambang goreng). Kemudian tumis lagi sampai rata.

7. Masukkan air dan tunggu sampai mendidih.

8. Masukkan keju tua dan aduk sampai meleleh.

9. Uji rasa. Bisa tambahkan gula atau garam kalau kurang manis atau asin.

10. Matikan api. Tuang daun bawang dan aduk sampai rata. Sisihkan.


Saus Putih:

1. Panaskan minyak dan masukkan terigu dan aduk cepat.

2. Masukkan susu.

3. Masukkan garam, lada dan gula.

4. Kalau sudah mendidih, masukkan keju dan biarkan sampai meleleh.

5. Ketika kekentalan sesuai dengan yang diinginkan, matikan api. Sisihkan.


Lasagna:

1.Tuang saus merah pada dasar loyang. Jangan banyak-banyak, selapis aja.

Aku pake loyang ukuran 30x23x6 cm untuk resep di atas. Biasanya sih pake pirex.

2. Basahi 6 lembar lasagna (basahinya satu-satu ya, jangan ditumpuk karena akan lengket dan susah dilepas).

Setelah basah, tata lembaran lasagna di atas saus merah.

3. Tuang saus merah di atas lembaran lasagna tersebut. Ratakan. Kemudian tuang saus putih di atas saus merah. Ratakan.

4. Basahi lagi 6 lembaran lasagna dan tata di atas lapisan saus putih. Tuang lagi saus merah di atasnya. Tuang saus putih. Pokoknya ulangi sampai semuanya habis. Usahakan saus putih adalah lapisan teratas.

5. Taburi keju di atas saus putih sebelum dipanggang.

6. Panggang sampai matang. Aku biasanya manggang dengan suhu 200 derajat Celcius (with hot air) selama 40 sd 45 menit.


Sorry gambarnya kuran bagus. Waktu itu juga kurang rata mengguyur sausnya. he..he..he..jadi kurang rapi....

Kalau ngga aku kasih brambang goreng di dalam lasagna, Leo akan menaburkan brambang goreng di atas lasagna sebelum dimakan. he..he..he..

Sunday, 30 May 2010

Cheese Muffin


Description:
Waktu mudik lalu dapat resep cheese muffin dari Nining. Makasih ya Ning. Menurut kami muffin ini enak, tidak keras. Bikinnya mudah, malah ngga perlu mengeluarkan mixer karena cukup diaduk pake spatula. Yang jelas ngembang bagus, ngga ambleg blas. he..he..he..

Rasanya ngeju sekali. Aku menggunakan keju tua karena Leo ngga doyan cheddar. Kata dia, makan cheddar kayak makan plastik. he..he..he..

Ingredients:
Bahan Kering:

300 gram tepung terigu
100 gram gula
2 sdt baking powder
1 sdt baking soda
1/2 sdt garam (menurutku bisa dihilangkan kalau pake keju tua)
100-150 gram keju parut. Aku pake keju tua.


Bahan Kering:

100 cc susu cair
100 cc minyak (aku pake zonnebloemolie atau sunflower oil)
2 buah telur


Directions:
1. Campurkan semua bahan kering dan aduk rata. Sisihkan

2. Kocok lepas telur, tambahkan bahan cair lainnya dan aduk lagi.

3. Tambahkan semua bahan cair ke dalam campuran bahan kering kemudian aduk sampai rata

3. Tuang adonan pada cetakan muffin.

4. Panggang sampai matang. Aku pake suhu 160 derajat (hot air) selama 25 menit.

Sunday, 23 May 2010

Foto-foto untuk jeng Evia....


Bukan Popeye lho ya...

Waktu itu mbokné Menik nanya tentang boneka sailors dari keramik yang aku beli di Volendam. Ini lho jeng fotonya.

Boneka sailors ini titipan adikku karena boneka yang dia punya retak. Aku kalau ngga kopdar ke Volendam muales beli ini, wong jauh dan angkotnya mahal. Perasaan belum pernah lihat boneka kayak gini di toko supenir lainnya. Kok yo aku nih beli cuma 1,5 pasang, bukan 2 pasang sekalian.

Selain itu, blio juga nanya tentang hasil gorengan actifry. Ini tak fotokan pisan. Ada krupuk udang, tahu dan lumpia. Yang jelas ngga bisa buat nggoreng risoles, kroket, bitterballen apalagi silken tofu kecuali kalau pengin ancur. he..he..he..

Sebelum digoreng, krupuk udangnya dipatah-patahkan dulu. Lumayan kok bisa mengembang walaupun irit banget minyak.

Saturday, 22 May 2010

Cumi Tahu Gongso


Description:
Ini nyontek bu lurah gara-gara tiap hari dipamerin babat gongso oleh emaknya si Alex. Dasar yo panasan, jadi kemropok diiming-imingi babat gongso tiap hari. he..he..he..

Resep asli memang menggunakan babat, tapi aku ganti dengan cumi. Leo paling ngga bisa makan jerohan, sudah jijik duluan. Dia juga ngga suka cumi, katanya rasanya seperti karet. he..he..he..tapi dia ngga masalah kalau aku masak cumi. Jadi yang makan ya cuma aku.

Aku tambahin tahu karena kebetulan punya tahu enak. Aku goreng tahunya pake actifry supaya ngga menggunakan banyak minyak. Enak juga tahu dimasak gongso gini, jadi resep ini bisa untuk hidangan vegan tanpa meat atau seafood sama sekali.

Resep asli ada disini. Terimakasih bu lurah resepnya...

Ingredients:
350 gram cumi-cumi
2 buah tahu besar, potong-potong dan goreng (bisa setengah mateng gorengnya)
1 butir bawang bombay (wong ngga punya bawang merah), dicincang
2 sdt jahe parut
4 siung bawang putih, uleg halus, campur dengan 50 cc air
4 sdm cabe giling
4 sdm kecap manis
1 sdt garam
1/2 sdt gula
Minyak untuk menumis


Directions:
1. Panaskan minyak dan tumis bawang bombay dan jahe sampai harum.

2. Masukkan cabe giling dan tumis lagi sampai cabe matang

3. Masukkan cumi-cumi dan aduk sampai berubah warna

4. Masukkan bawang putih, kecap, garam, gula dan oseng lagi

5. Masukkan tahu dan aduk sampai tercampur rata.

6. Kalau cumi sudah matang dan rasa sudah pas, angkat dan sajikan.

Ayo makan cumi gongso internasional. he..he..he...disebut internasional karena cuminya dari California Amrik, bawang putihnya dari Spanyol, garam dan gula produk Belanda, kecap import dari Indonesia, tahu dibuat di Belanda tapi mungkin kedelainya import. Oh ya, cumi California itu kok cepet empuk ya, dan ngga terlalu berasa kayak karet. Mari makan......

Thursday, 20 May 2010

Seri Terdampar di New York City: A New Yorker (Bagian 2)

Menyambung cerita disini.  Dalam keadaan capek, aku harus putar otak apa yang harus kulakukan. Cari hotel di sekitar situ? Waktu itu herannya aku kok ya ngga panik ya walaupun juga rada sutris karena harus mencari penyelesaian. Sudah capek, loyo, ngantuk, di tempat asing, ngga tahu arah tapi masih harus mikir. Tapi herannya aku juga ngga nangis sama sekali.  

 

Ketika sedang termenung-menung memutar otak, tiba-tiba ada seorang laki-laki datang dari arah belakangku. Dia aku taksir paling pol usianya 30 tahun, kayaknya sih ngga beda jauh dengan usiaku waktu itu. Mungkin dia baru saja pulang dari cafe. Kabarnya kan New York kota yang ngga pernah tidur. Dia tanya:

 

"Kamu mencari siapa?"

"Aku cari doorman gedung ini, tapi nampaknya dia sudah pergi"

 

Dia melirik jamnya.

 

"O..dia sudah pulang, sekarang sudah lebih dari jam 1. Dia biasanya pulang jam 11...."

 

Dalam hati, lha rak tenan to sudah pulang. Aku tanya dia:

 

"Kamu tinggal di sini ya, kok tahu kalau doorman biasanya pulang jam 11....."

"Iya, aku tinggal di lantai atas....." 

 

Dia tanya aku lagi:

 

"Kamu dari mana asalnya?"

"Aku dari Indonesia"

"Sebetulnya kamu mau kemana?"

"Aku seharusnya beberapa jam yang lalu harus sudah berada di dalam gedung ini, tapi aku ngga bisa masuk karena datang terlambat. Aku dikasih tahu oleh pengelola flat ini untuk minta kunci dari doorman dan sekarang dia sudah tidak ada di tempat...."

"Kamu baru dari airport?" sambil melihat koper-koper di sampingku.

"Iya, tadi pesawat yang aku tumpangi dari Amsterdam terlambat. Akibatnya aku terlambat tiba di flat ini....."

"Terus sekarang kamu mau kemana?"

"Terus terang aku juga masih belum tahu apa yang harus aku lakukan...."

 

Ada jeda beberapa saat. Otakku waktu itu berpikir untuk cari taksi dan  hotel. Aduh sudah lebih dari jam 1 pagi, masih juga belum dapat tempat menginap.

 

Dia berkata lagi:

 

"Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal malam ini di tempatku......Besok pagi aku antar kamu ke doorman untuk mengambil kunci......."

 

Aku ternganga mendengar tawarannya. Seseorang yang baru beberapa menit aku kenal  menawarkan tempat untuk menginap. Dan aku memperoleh tawaran ini di sebuah kota besar yang judulnya: NEW YORK!!!!! New York lho saudara-saudara, bukan Ngaglik atau ngGenuk sana. Kalau yang nawarin nginep adalah warga desa mBringin-Solotigo kemringet (soale dari Solotigo harus ngepit sampai keringatnya dredesan), mungkin masih bisa dimengerti. Lha ini bayangkan saja, seorang New Yorker yang tinggal di kota metropolitan (yang kabarnya individualis) kok menawari tempat menginap di flatnya kepada orang asing yang baru saja dikenalnya. Lha wong kalau peristiwa ini terjadi di Jakarta saja belum tentu orang mau mengulurkan tangan untuk membantu.  

 

"Are you serious?"

"Yes, off course....but it's up to you......"

 

Aku lihat penampilannya sopan. Bajunya juga kelihatan cukup bersih dan rapi. Bukan tampang pemabok ataupun drugs user. Aku lihat dia orang baik dan kelihatan tawarannya juga betul-betul tulus.

 

"Do you live with your wife?"

"Yes....."

 

Aku waktu itu berpikir, kalau bisa memilih rasanya kok lebih nyaman menginap di rumah pasangan yang sudah menikah daripada di tempat seorang laki-laki single. Kok ya ngga kepikir ya waktu itu, ngapain dia pergi malem-malem sendirian kalau dia sudah menikah. Kan mendingan di rumah sama istrinya. Tapi waktu itu aku betul-betul sudah terlalu capek dan ngantuk, dan sudah tidak mampu lagi untuk berpikir lebih lanjut. Akhirnya aku terima tawarannya.

 

Dia membukakan pintu dan membantuku untuk membawa koper ke flatnya. Kebetulan flatnya terletak di atas, jadi kami menggunakan lift.

 

Begitu tiba di rumahnya, dia menunjukkan kamar kosong untukku. Memberiku handuk bersih, memberi tahu dimana letak kamar mandi dan wc. Kami kemudian mengenalkan nama kami masing-masing. Lha wong belum tahu nama kok sudah mau nginep. Kalau ngga salah namanya Michael.  

 

Aku tanya:

"Where is your wife? Is she sleeping?"

"She is out of town....."

 

O MY GOD......ternyata dia seorang suami yang sedang home alone, pantesan malem-malem kluyuran. Lha tadi di bawah, dia kok yo ngga ngomong kalau istrinya pergi ke luar kota. Lha tapi yo salahnya sendiri tadi kok ngga nanya. Kan tadi nanyanya 'do you live with your wife' Kalau dia jawab 'yes' yo bener karena pertanyaannya kan bukan 'is your wife at home'.   

 

Tapi aku sudah terlalu capek untuk berpikir lebih lanjut. Yang penting mandi dan cepat tidur. Sebelum masuk kamar tidur, aku sempat bertemu dia di gang dan memberikan salam: good night. Setelah itu aku naik ke tempat tidurku dan langsung aku ngorok dalam sekejap karena saking capek dan ngantuknya. Aku waktu itu merasa lega dan bersyukur tinggal di tempat yang aman.

 

Keesokan harinya, aku bangun dan segera mandi karena pengin cepat dianter ke doorman. Sambil menunggu tuan rumah bangun, aku mengamati rumah tersebut. Perabotannya sederhana, tidak terlalu istimewa. Kalau ngga salah ada juga foto dia dan istrinya terpajang di meja. Di salah satu tembok di sebuah ruangan, terpampang sebuah pigura yang memajang ijazah tuan rumah. Lha aku nih kok malah ngga pernah bikin pigura untuk ijazahku yo, apalagi kok masang di tembok.

 

Ternyata Michael lulusan PhD atau doktor dari fakultas hukum (pokoké law schoolnya) Columbia University. Kalau melihat umurnya, apalagi dia harus menyelesaikan dulu post graduate nya, mungkin dia seorang lawyer yang baru memulai karir.

 

Ketika tuan rumah bangun, kami ngobrol sebentar. Dia bercerita kalau dia seorang New Yorker sejati bahkan lahir di New York. Dia tanya aku:

 

"Tujuanmu ke New York ini sebenarnya mau apa?"

"Aku sebenernya mau ketemu LSM HAM di New York"

 

Aku sebutkan nama salah satu LSM yang akan aku kunjungi, yaitu sebuah LSM yang menyediakan bantuan hukum kepada para kaum marjinal atau mereka yang lemah.

 

Kata Michael:

 

"Aku salah satu volunteer LSM tersebut.....Paling ngga seminggu sekali aku membantu mereka untuk menangani kasus"

 

Walah....lha kok ternyata lingkaranku kok yo itu-itu juga ya, kenalan baru saja kok ngga jauh-jauh dunianya.....apa memang dunia itu sempit? baru aja aku selesai kursus HAM di Belanda, eh.....lha kok penolongku di NYC juga seorang aktivis HAM.....Seingatku dia bercerita bahwa dia juga bekerja di sebuah law office komersial tapi dia juga menyempatkan waktu untuk bekerja sebagai volunteer di sebuah LSM.

 

Michael kemudian mengantarku ke bawah menemui doorman dengan kedua koperku yang berat. 

 

"Aku semalam menunggu kamu sampai dengan jam 12 malam, tapi kamu ngga datang. Aku pikir kamu batal, jadi aku pulang...."

      

Aku minta maaf pada doorman. Aku jelaskan kalau pesawatku terlambat berjam-jam, jadi aku terlambat tiba di tempat penginapan. Michael memberi tahu kalau aku semalam menginap di tempatnya. Kemudian doorman memberiku kunci dan mereka berdua mengantarkan aku ke kamarku. Aku mengucapkan terimakasih kepada mereka berdua.

 

Aku waktu itu merasa bersyukur bertemu Michael. Mbok ya orang mau bilang apa terserah, aku justru merasa Tuhan menolongku dengan mengirim dia. Buatku pengalaman ini sangat amazing.  

 

Ketika aku cerita tentang pengalamanku ini kepada kenalan-kenalanku orang Amerika, mereka selalu tanya:

 

"A New Yorker?"

"Yes, he is a New Yorker"

"Are you sure he is a New Yorker?"

"I am sure he is a New Yorker. He told me that he was even born in New York"

 

Mereka terkagum-kagum karena banyak banget New Yorkers yang ngga peduli dengan masalah orang lain. Lha ini kok spesial banget.

 

Aku tidak pernah menghubungi Michael lagi setelah itu. Eh pernah ding, nelpon dia sekali sebelum aku meninggalkan New York. Kebetulan dia ngga di rumah, jadi aku cuma meninggalkan pesan di answering machine. Aku mengucapkan terimakasih atas pertolongannya. Itu saja, aku tidak mengirim kartu atau apapun kepadanya. Lha aku nanti kirim kartu malah ketahuan  istrinya kalau dia memasukkan perempuan ke flatnya pada waktu istrinya tidak ada di rumah. Serba salah to. Akhirnya yo wis ngga ngirim kartu, ngga nelpon, dan ngga kontak lagi. Titik.   

 

Itu pengalamanku di New York. Aku melihat bahwa di sebuah kawasan metropolis seperti itupun, masih ditemui seorang humanis, seorang yang mau mengulurkan tangannya ketika aku dalam kesulitan.

 

Bagaimana petualanganku selanjutnya di New York? Nek ora males, aku nulis lagi. Kalau males, yo wis mungkin nunggu 2 tahun lagi baru nerusin. hi..hi...hi...

 

Catatan: Gambar yang aku pasang adalah foto salah satu gedung di Columbia University. The photo is taken from here.  Kebetulan flat yang aku tempati tersebut letaknya dekat Columbia University.

 

Informasi puenting yang perlu dicatat: Eh...tapi terus terang, si Michael itu cakep lho. Tenan iki. he..he...he...baru ngaku setelah cerita panjang lebar. Kalau bintang film, paling ngga setaraf Tom Cruise atau Brad Pitt atau you name it lah. he..he..he...Aku dulu menerima tawarannya jangan-jangan karena dia cakep yo. hi..hi..hi...wis ah....