Thursday, 31 January 2008

Menyimpan tauge

Aku demen banget makan tauge. Di pasar harganya 1 euro per kilo tapi di supermarket harganya hampir 9 euro per kilo. Penginnya beli tauge banyak-banyak di pasar sehingga selalu punya stock di koelkast. Tapi kan nggak mungkin karena tauge nggak awet kalau disimpan terlalu lama.

Setelah bolak-balik melakukan percobaan (kayak profesor aja), akhirnya aku memperoleh cara menyimpan tauge di koelkastku. Ternyata penyimpanan terbaik di rumahku adalah sebagai berikut:

1. Simpan tauge di dalam plastik, dan plastiknya ditutup rapat (pokoknya dibundeli ujungnya). Kalau dibuka plastiknya malah taugenya cepet busuk.

2. Kalau perlu dikasih keukenpapier (kitchen towel) di dalam plastik tersebut untuk menyerap kelembaban.

3. Jangan disimpan di lantai koelkast yang paling atas, justru harus disimpan di lantai paling bawah dan dalam keadaan tertutup rapat dalam plastik. Koelkastku pake suhu 6 derajat celcius. Mungkin kalau lantai teratas lebih dingin kali ya....

4. Jangan disimpan di bagian belakang atau terkena dinding koelkast belakang, karena tauge akan cepat membeku dan malah cepat busuk.

Dengan cara tersebut, aku bisa simpan tauge hampir seminggu. Gambar yang aku pasang adalah tauge yang aku beli hari Sabtu yang lalu dan aku potret hari Kamis kemarin. Kenapa nggak aku potret hari ini? Soalnya sebagian besar tauge tersebut sudah masuk perut. he...he...he... 

Apakah ada cara lain penyimpanan tauge yang biasanya dilakukan oleh teman-teman? Siapa tahu ada penyimpanan tauge yang lebih awet. Terimakasih sebelumnya....

 

 

Wednesday, 30 January 2008

MFM#11: Tortilla Kefefet


Description:
Disebut kefefet karena sudah diuber-uber Sulis, penyelenggara MFM#11 yang bertemakan beans and nuts. Pake bahan yang ada. Supaya segar, aku pake nanas. Pokoknya kreasi suka-suka.

Leo sedikit nggrundel. So...you cook this because of assignment....not because of me. Halah...wong dia makan paling buanyak. Dia ngabisin 4 padahal aku makan 1 biji sudah kuenyang.

Ingredients:
6 lembar tortilla (beli di supermarket)
190 gram daging cincang (punyanya segitu)
200 gram kacang merah kaleng, tiriskan
150 gram jagung manis kaleng, tiriskan
125 gram jamur merang, iris
75 gram soun, rebus, ditiriskan
100 gram paprika, iris
1/2 buah nanas, kupas, potong kotak-kotak
1 genggam buncis, potong 2-3 cm
1 buah wortel, iris korek api
1 buah tomat, iris dadu
1 buah bawang bombay, iris atau cincang
3 siung bawang putih, cincang
2 cabe merah, iris
2 sdm saus tomat
2 batang daun bawang, iris
1 sdt munjung oregano bubuk
1 sdt munjung basilicum bubuk
1/2 sdt merica bubuk
1/2-1 sdt bubuk kare
1/2 sdt garam (atau sesuai selera)
1 sdt gula
1/2 kaldu blok
Minyak untuk menumis (aku pake olive oil)




Directions:
Membuat Isi (cara gue):

1. Panaskan minyak dan tumis bawang putih dan bawang bombay sampai harum

2. Masukkan cabe dan tumis sampai layu

3. Masukkan daging cincang dan tumis sampai coklat

4. Masukkan buncis, tumis sampai setengah matang

5. Masukkan wortel dan tumis lagi

6. Masukkan paprika

7. Masukkan jamur

8. Masukkan tomat, nanas dan bumbu-bumbu (garam, gula, kaldu bubuk, oregano, basilicum, bubuk kare, merica bubuk, saus tomat) dan aduk rata

9. Masukkan kacang merah, jagung, soun dan aduk rata. Setelah api dimatikan masukkan daun bawang dan aduk rata.

Penyelesaian (cara Sri):

1. Letakkan 2 sdm isi pada tortilla. Letakkan isi agak di pinggir. Lipat (dari bawah ke atas, lipat bagian kanan ke kiri dan bagian kiri ke kanan). Semat pake tusuk gigi atau lidi. Setelah jadi kayak contong, bisa diisi lagi dari atasnya.

2. Letakkan pada pinggan tahan panas yang sudah diolesi minyak atau margarine. Panggang 15 menit pada suhu 160 derajat Celcius. Kalau pengin kulitnya lebih renyah lagi, bisa panggang lebih lama. Tapi ati-ati, jangan sampai gosong!

Ini gambar isi:




Untuk Sulis: Aku sudah ngumpulin pe-er. Yang penting pake beans and nuts to? Aku pake kacang merah, buncis dan soun (dari kacang ijo kan?). Sulis, thanks for organizing this event.

MFM#11: Tortilla Kefefet


Description:
Disebut kefefet karena sudah diuber-uber Sulis, penyelenggara MFM#11 yang bertemakan beans and nuts. Pake bahan yang ada. Supaya segar, aku pake nanas. Pokoknya kreasi suka-suka.

Leo sedikit nggrundel. So...you cook this because of assignment....not because of me. Halah...wong dia makan paling buanyak. Dia ngabisin 4 padahal aku makan 1 biji sudah kuenyang.

Ingredients:
6 lembar tortilla (beli di supermarket)
190 gram daging cincang (punyanya segitu)
200 gram kacang merah kaleng, tiriskan
150 gram jagung manis kaleng, tiriskan
125 gram jamur merang, iris
75 gram soun, rebus, ditiriskan
100 gram paprika, iris
1/2 buah nanas, kupas, potong kotak-kotak
1 genggam buncis, potong 2-3 cm
1 buah wortel, iris korek api
1 buah tomat, iris dadu
1 buah bawang bombay, iris atau cincang
3 siung bawang putih, cincang
2 cabe merah, iris
2 sdm saus tomat
2 batang daun bawang, iris
1 sdt munjung oregano bubuk
1 sdt munjung basilicum bubuk
1/2 sdt merica bubuk
1/2-1 sdt bubuk kare
1/2 sdt garam (atau sesuai selera)
1 sdt gula
1/2 kaldu blok
Minyak untuk menumis (aku pake olive oil)




Directions:
Membuat Isi (cara gue):

1. Panaskan minyak dan tumis bawang putih dan bawang bombay sampai harum

2. Masukkan cabe dan tumis sampai layu

3. Masukkan daging cincang dan tumis sampai coklat

4. Masukkan buncis, tumis sampai setengah matang

5. Masukkan wortel dan tumis lagi

6. Masukkan paprika

7. Masukkan jamur

8. Masukkan tomat, nanas dan bumbu-bumbu (garam, gula, kaldu bubuk, oregano, basilicum, bubuk kare, merica bubuk, saus tomat) dan aduk rata

9. Masukkan kacang merah, jagung, soun dan aduk rata. Setelah api dimatikan masukkan daun bawang dan aduk rata.

Penyelesaian (cara Sri):

1. Letakkan 2 sdm isi pada tortilla. Letakkan isi agak di pinggir. Lipat (dari bawah ke atas, lipat bagian kanan ke kiri dan bagian kiri ke kanan). Semat pake tusuk gigi atau lidi. Setelah jadi kayak contong, bisa diisi lagi dari atasnya.

2. Letakkan pada pinggan tahan panas yang sudah diolesi minyak atau margarine. Panggang 15 menit pada suhu 160 derajat Celcius. Kalau pengin kulitnya lebih renyah lagi, bisa panggang lebih lama. Tapi ati-ati, jangan sampai gosong!

Ini gambar isi:




Untuk Sulis: Aku sudah ngumpulin pe-er. Yang penting pake beans and nuts to? Aku pake kacang merah, buncis dan soun (dari kacang ijo kan?). Sulis, thanks for organizing this event.

MFM#11: Tortilla Kefefet


Description:
Disebut kefefet karena sudah diuber-uber Sulis, penyelenggara MFM#11 yang bertemakan beans and nuts. Pake bahan yang ada. Supaya segar, aku pake nanas. Pokoknya kreasi suka-suka.

Leo sedikit nggrundel. So...you cook this because of assignment....not because of me. Halah...wong dia makan paling buanyak. Dia ngabisin 4 padahal aku makan 1 biji sudah kuenyang.

Ingredients:
6 lembar tortilla (beli di supermarket)
190 gram daging cincang (punyanya segitu)
200 gram kacang merah kaleng, tiriskan
150 gram jagung manis kaleng, tiriskan
125 gram jamur merang, iris
75 gram soun, rebus, ditiriskan
100 gram paprika, iris
1/2 buah nanas, kupas, potong kotak-kotak
1 genggam buncis, potong 2-3 cm
1 buah wortel, iris korek api
1 buah tomat, iris dadu
1 buah bawang bombay, iris atau cincang
3 siung bawang putih, cincang
2 cabe merah, iris
2 sdm saus tomat
2 batang daun bawang, iris
1 sdt munjung oregano bubuk
1 sdt munjung basilicum bubuk
1/2 sdt merica bubuk
1/2-1 sdt bubuk kare
1/2 sdt garam (atau sesuai selera)
1 sdt gula
1/2 kaldu blok
Minyak untuk menumis (aku pake olive oil)




Directions:
Membuat Isi (cara gue):

1. Panaskan minyak dan tumis bawang putih dan bawang bombay sampai harum

2. Masukkan cabe dan tumis sampai layu

3. Masukkan daging cincang dan tumis sampai coklat

4. Masukkan buncis, tumis sampai setengah matang

5. Masukkan wortel dan tumis lagi

6. Masukkan paprika

7. Masukkan jamur

8. Masukkan tomat, nanas dan bumbu-bumbu (garam, gula, kaldu bubuk, oregano, basilicum, bubuk kare, merica bubuk, saus tomat) dan aduk rata

9. Masukkan kacang merah, jagung, soun dan aduk rata. Setelah api dimatikan masukkan daun bawang dan aduk rata.

Penyelesaian (cara Sri):

1. Letakkan 2 sdm isi pada tortilla. Letakkan isi agak di pinggir. Lipat (dari bawah ke atas, lipat bagian kanan ke kiri dan bagian kiri ke kanan). Semat pake tusuk gigi atau lidi. Setelah jadi kayak contong, bisa diisi lagi dari atasnya.

2. Letakkan pada pinggan tahan panas yang sudah diolesi minyak atau margarine. Panggang 15 menit pada suhu 160 derajat Celcius. Kalau pengin kulitnya lebih renyah lagi, bisa panggang lebih lama. Tapi ati-ati, jangan sampai gosong!

Ini gambar isi:




Untuk Sulis: Aku sudah ngumpulin pe-er. Yang penting pake beans and nuts to? Aku pake kacang merah, buncis dan soun (dari kacang ijo kan?). Sulis, thanks for organizing this event.

Saturday, 26 January 2008

Gimana kalau Londo ngimpor jengkol? Ruwet kali yé....

Dalam bahasa Inggris dikenal artikel "the". Dalam bahasa Belanda dikenal "de" dan "het. Yang menjengkelkan buat orang asing yang mempelajari bahasa Belanda adalah nggak ada aturan yang jelas kapan pake "de" dan kapan pake "het".

Setiap kali nanya orang Belanda (dari yang namanya guru bahasa Belanda sampai dengan dengan sopir bus), mereka nggak tahu mengapa satu benda atau kata dikasih "de" dan kata atau benda lain dikasih "het".

Pemakaian "de" dan "het" nggak tergantung gede atau kecilnya sebuah benda. Misalnya:

de deur (pintu), het raam (jendela), het huis (rumah).

Nggak peduli apakah countable atau uncountable:

het ziekenhuis (rumah sakit), de lucht (udara), het water (air)

Satu-satunya saran mereka dalam belajar bahasa Belanda adalah disuruh menghafalkan. Lha kan puyeng, padahal di dunia ini kan banyak banget benda dan kata.

Komentarku pada Leo adalah:  

"Lha kalian ini kok nggak punya rumus baku gitu sih. Kan susah jadinya buat orang asing kayak aku........"

"Karena aku belajar bahasa Belanda dari kecil, maka nggak terlalu masalah. Jadi nggak  perlu mikir dulu apakah sebuah kata pake de atau pake het....."

"Lha kalau ada kata atau benda baru terus gimana? Misalnya komputer pake de atau het atau internet pake de atau het"

"Kalau komputer pake de, jadi 'de computer'. Tapi jangan tanya aku, mengapa pake 'de', bukan 'het'. Kalau internet pake 'het', jadi 'het internet'. Ini karena kata 'internet' kan asalnya dari kata 'net, dan kata 'net' sendiri pake 'het', jadi internet menjadi 'het internet'. Tapi jangan tanya mengapa, net pake 'het' bukan pake 'de'...."

Lha kan ini sama aja dia ngomong, emang dari sononya gitu, jangan nanya gue kenapa gitu.

Leo terus menambahkan:

"Kalau ada kata-kata baru, maka ada komisi bahasa gabungan antara Belanda dan Belgia yang akan memutuskan apakah kata atau benda baru tersebut dikasih artikel de atau het"

Weleh...weleh...lha kok ruwet gitu ya. Pikiran jahilku terus keluar. Selama di Belanda  aku kan belum pernah lihat jengkol (eh...djengkol karena 'j' dalam bahasa Belanda ditulis 'dj'). Lha kalau Londo ngimport djengkol terus apa ya komisi gabungan Belanda Belgia tersebut harus mengadakan rapat puenting untuk memutuskan apakah djengkol sebaiknya pake 'de' atau pake 'het'.

Yang namanya eksport import kan urusannya panjang, ada fakturnya, ada urusan pajak, ada distribusi dll. Kalau nggak ada keputusan djengkol pake 'de' atau 'het' terus kan nanti repot kalau seandainya pihak belastingsdienst (tax office) harus tanya importir apakah 'de djengkol' atau 'het djengkol' yang diimport bulan kemarin sudah bayar pajak belum. Iya kan? he...he...he...

Tapi Belanda ternyata sudah ngimport pete. Aku lihat di wikipedia di sini, mereka menterjemahkan pete menjadi peteh atau petehboon (boon = bean) dan kalau jamak menjadi petehbonen (bonen = beans). Karena boon menggunakan artikel "de" maka petehboon menggunakan 'de' juga sehingga menjadi 'de petehboon' atau 'de petehbonen'.

Jadi kira-kira djengkol kemungkinan besar akan dikasih artikel 'de' menjadi 'de djengkol'. Bener nggak? Atau siapa deh yang kebetulan sudah mengimpor djengkol ke Belanda kasih tahu aku, djengkol itu pake 'de' atau pake 'het'. he....he....he....

Catatan: gambar jengkol diambil dari wikipedia di sini.

 

 

Gimana kalau Londo ngimpor jengkol? Ruwet kali yé....

Dalam bahasa Inggris dikenal artikel "the". Dalam bahasa Belanda dikenal "de" dan "het. Yang menjengkelkan buat orang asing yang mempelajari bahasa Belanda adalah nggak ada aturan yang jelas kapan pake "de" dan kapan pake "het".

Setiap kali nanya orang Belanda (dari yang namanya guru bahasa Belanda sampai dengan dengan sopir bus), mereka nggak tahu mengapa satu benda atau kata dikasih "de" dan kata atau benda lain dikasih "het".

Pemakaian "de" dan "het" nggak tergantung gede atau kecilnya sebuah benda. Misalnya:

de deur (pintu), het raam (jendela), het huis (rumah).

Nggak peduli apakah countable atau uncountable:

het ziekenhuis (rumah sakit), de lucht (udara), het water (air)

Satu-satunya saran mereka dalam belajar bahasa Belanda adalah disuruh menghafalkan. Lha kan puyeng, padahal di dunia ini kan banyak banget benda dan kata.

Komentarku pada Leo adalah:  

"Lha kalian ini kok nggak punya rumus baku gitu sih. Kan susah jadinya buat orang asing kayak aku........"

"Karena aku belajar bahasa Belanda dari kecil, maka nggak terlalu masalah. Jadi nggak  perlu mikir dulu apakah sebuah kata pake de atau pake het....."

"Lha kalau ada kata atau benda baru terus gimana? Misalnya komputer pake de atau het atau internet pake de atau het"

"Kalau komputer pake de, jadi 'de computer'. Tapi jangan tanya aku, mengapa pake 'de', bukan 'het'. Kalau internet pake 'het', jadi 'het internet'. Ini karena kata 'internet' kan asalnya dari kata 'net, dan kata 'net' sendiri pake 'het', jadi internet menjadi 'het internet'. Tapi jangan tanya mengapa, net pake 'het' bukan pake 'de'...."

Lha kan ini sama aja dia ngomong, emang dari sononya gitu, jangan nanya gue kenapa gitu.

Leo terus menambahkan:

"Kalau ada kata-kata baru, maka ada komisi bahasa gabungan antara Belanda dan Belgia yang akan memutuskan apakah kata atau benda baru tersebut dikasih artikel de atau het"

Weleh...weleh...lha kok ruwet gitu ya. Pikiran jahilku terus keluar. Selama di Belanda  aku kan belum pernah lihat jengkol (eh...djengkol karena 'j' dalam bahasa Belanda ditulis 'dj'). Lha kalau Londo ngimport djengkol terus apa ya komisi gabungan Belanda Belgia tersebut harus mengadakan rapat puenting untuk memutuskan apakah djengkol sebaiknya pake 'de' atau pake 'het'.

Yang namanya eksport import kan urusannya panjang, ada fakturnya, ada urusan pajak, ada distribusi dll. Kalau nggak ada keputusan djengkol pake 'de' atau 'het' terus kan nanti repot kalau seandainya pihak belastingsdienst (tax office) harus tanya importir apakah 'de djengkol' atau 'het djengkol' yang diimport bulan kemarin sudah bayar pajak belum. Iya kan? he...he...he...

Tapi Belanda ternyata sudah ngimport pete. Aku lihat di wikipedia di sini, mereka menterjemahkan pete menjadi peteh atau petehboon (boon = bean) dan kalau jamak menjadi petehbonen (bonen = beans). Karena boon menggunakan artikel "de" maka petehboon menggunakan 'de' juga sehingga menjadi 'de petehboon' atau 'de petehbonen'.

Jadi kira-kira djengkol kemungkinan besar akan dikasih artikel 'de' menjadi 'de djengkol'. Bener nggak? Atau siapa deh yang kebetulan sudah mengimpor djengkol ke Belanda kasih tahu aku, djengkol itu pake 'de' atau pake 'het'. he....he....he....

Catatan: gambar jengkol diambil dari wikipedia di sini.

 

 

Thursday, 24 January 2008

Londo nyonto kita atau kita nyonto Londo?

Suatu hari aku ngomong sama Leo:

"My body is not delicious......"

"Excuse me............?"

"My body is not yummy....."

"Not yummy? What do you mean? Too salty, or too sweet, or too sour, or to bitter?"

"O, sorry, you are not Indonesian. Jadi nggak ngerti joke kami...."

Terus aku terangin, di Indonesia orang kadang bikin joke yang membuat sebuah bahasa jadi salah kaprah. Misalnya menterjemahkan "badanku tidak enak" menjadi "my body is not yummy" instead of "I am not feeling good"

Tapi Leo bilang, dalam bahasa Belanda juga sama kok terjemahannya seperti dalam bahasa Indonesia. Jadi kalau dalam bahasa Indonesia kita ngomong:

"Saya (merasa) tidak enak badan"

Dalam bahasa Belanda, mereka mengatakan:

"Ik voel me niet lekker"

yang kalau diterjemahkan satu-per satu dalam bahasa Inggris menjadi

"I feel myself not "yummy"

atau

"Ik ben niet lekker" (I am not "yummy").

Jadi ternyata, kata "lekker" tidak saja ditujukan untuk makanan, tetapi juga untuk sakit (atau lebih tepatnya kesehatan kali ya). Jadi sama to kayak kita? Terus Londo nyonto kita, atau kita nyonto Londo? Atau kebetulan saja kita punya rasa bahasa yang sama.

Tambahan: kalau terjemahan dalam bahasa Jawa: "awakku ora enak". Iyo to?