Showing posts with label indonesia. Show all posts
Showing posts with label indonesia. Show all posts

Wednesday, 1 July 2009

Seri Mudik-2009: Garut




Ini foto-foto di hotel Danau Dariza Garut. Kampung Sampireun mahal euy....

Tuesday, 16 June 2009

MFM #2 Edisi Juni 2009 : Indonesian Cuisine - Serundeng (Dendeng Ragi)


Description:
Beginilah kalau ngga ada tukang sayur lewat. Bikin serundeng pake kelapa parut kering. Rasanya lumayanlah. Paling engga buat obat kangen. Lumayan buat stock disimpan di freezer, siapa tahu ada MPers yang bertamu, tinggal aku hidangkan.

Resep ini aku setor ke Pepy. Ini untuk meramaikan ajang MFM#2 Edisi Juni 2009 dengan tema Indonesian Cuisine. Thank you Pepy for organizing this event.

Aku menggunakan bumbu yang tersedia di dapur.

Ingredients:
500 gram kelapa parut kering (yang ada itu, dilarang protes)

968 gram daging sapi (dibuletin sekilo juga boleh)

500 cc air

70 gram gula Jawa (disisir)

1 sdm gula pasir

500 cc air (soalnya ngga ada air kelapa)

5 lembar daun jeruk purut

2 lembar daun salam

1 ruas lengkuas digeprak

10 sdm air asem (kalau air asemnya kental, bisa dikurangi)

1 genggam brambang (bawang merah) goreng

2 sdm minyak untuk menumis bumbu halus

Bumbu halus:

125 gram bawang merah

5 siung bawang putih

3 sdt ketumbar bubuk

1,5 sdt garam (atau sesuai selera)



Directions:
1. Tumis bumbu halus sampai harum. Tambahkan daun jeruk, daun salam dan lengkuas dan tumis lagi. Angkat.

2. Dalam satu wajan besar, campur semua bahan (termasuk bumbu halus
yang sudah ditumis) keculai brambang goreng. Pokoknya dicampur rata.

3. Masak sampai daging empuk dan kelapa menjadi kering kecoklatan. Diungkep ya, sekali-sekali diaduk supaya ngga gosong.

Kalau daging masih belum empuk, bisa tambahkan air panas dan kemudian dimasak sampai empuk dan kelapa kering kecoklatan.

4. Kalau sudah kering, masukkan brambang goreng, aduk rata kemudian angkat.

Hidangkan dengan nasi anget, sambal dan lalap. Atau dimakan pake pecel yo enak. Buat teman makan nasi uduk juga oke. Pokoknya suka-suka deh, sesuai selera.

Image Hosted by ImageShack.us

Thursday, 11 December 2008

Seri mudik: Sapa sih dia?

Waktu itu kami sedang nonton TV. Kebetulan kok ya tentang infotainment. Di layar tivi ditayangkan seorang artis yang sedang diwawancarai wartawan. Leo berkomentar:

"Who is she? Her Bahasa Indonesia is so terrible......I don't speak Bahasa Indonesia tapi aku bisa lihat kalau Bahasa Indonesianya jelek sekali...."

Lha wong Leo sendiri ngga bisa berbahasa Indonesia kok berani-beraninya mengomentari Bahasa Indonesianya orang yang separo Indonesia. Sebelum menikah, Leo dulu pernah belajar bahasa Indonesia pake sistem jarak jauh. Tapi begitu menikah, dia sudah malas belajar Bahasa Indonesia. Alasan utamanya karena sudah terlalu capek untuk belajar setelah pulang dari kantor. Padahal aku lihat nilai-nilainya cukup bagus (minimal 8 dan biasanya 9 atau 10).   

Kembali ke pokok awal. Aku jawab pertanyaan Leo:

"Namanya Cinta Laura. Dia itu artis, pokoknya dari kalangan selebritis....."

"Lha kok bisa jadi seleb, wong bahasa Indonesianya jelek gitu......."

He...he...he...belum tahu dia kalau aksennya si seleb tersebut ngetrend, walaupun sebenarnya aku juga ngga tahu secara persis, ngetrend nya karena pemujaan para penggemar kepada artis atau justru memperolok-olok sang artis. Lagian emang ada test bahasa Indonesia untuk jadi artis?

 

Sunday, 2 March 2008

Air Goreng

Ketika pulang, aku sodori sepiring makanan buat Leo. Dia tanya:

"What is this?"

"Just taste it...."

Dia kemudian mengambil satu biji dan mencicipi.

"The taste is like kering kentang. So, what is this?" Dia bener-bener penasaran.

"Penne goreng"

"Penne goreng? Penne the pasta?"

"Yes, penne the pasta. Niet slecht, toch (not bad, isn't it?)"

"Unbelievable.....it is miracle....I am always amazed how Indonesian invents new recipes....."

Dia geleng-geleng kepala, nggak mudeng. Setahu dia yang namanya pasta ya dimasak sesuai pakem: direbus terus ditiriskan, terus dikasih saus merah atau putih atau ijo, terus atasnya ditaburi keju. Atau kalau nggak ya dipangganglah kayak bikin macaroni schotel atau dibikin salad. Pokoknya nggak pernah dia makan pasta goreng. Lha ini kok malah digoreng dibumbui kayak kering kentang.

Waktu itu aku baca postingan Mama Hanna tentang macaroni goreng. Resep asli ada di sini. Terimakasih Mama Hanna for sharing the recipe. Kebetulan punya bumbu kering kentang sisa. Daripada buang bumbu sedangkan males nggoreng kentang, aku bikinlah penne goreng karena kebetulan nggak punya macaroni. Seperti kata Mama Hanna, rasanya lumayan. Renyah juga kok. Cuma memang nggak aku kasih teri ataupun kacang. Bagi yang males bikin kering kentang, pasta goreng ini menjadi salah satu alternatif, mudah, cepat bikinnya, nggak susut dan rasanya lumayanlah. Selain itu juga renyah.  

Leo selalu mengatakan bahwa orang Indonesia sangat kreatif dalam memodifikasi resep, bermain dengan resep, dan menciptakan resep baru. Bahkan dia bilang kadang kita ini terlalu kreatif. Buktinya? ya pasta goreng ini. ha...ha...ha...  

Dia bilang:

"One day when I get home, I am not surprised if my wife makes air goreng for me......"

Ha...ha...ha...

 

Wednesday, 6 February 2008

Aku masih tetap orang Indonesia...

Ketika Leo pulang kantor, dia ngelihat aku sedang mengupas kentang. Dia senyum-senyum:

"Home industry?"

Aku jawab iya. Maklum...pengin mencari sesuap berlian yang dulu pernah aku ceritakan di sini. Kali ini eksperimen lagi karena dulu sempat gagal. Dia bilang:

"I never realize kalau di rumahku akan ada home industry......"

"I am still an Indonesian.....ha...ha...ha..."

"That was what I wanted to say......."

Ingatan kami back to several years ago ketika Leo pertama kali mengunjungiku di Indonesia. Waktu itu kami belum menikah. Dia terkagum-kagum dengan banyaknya tenda-tenda makanan di sepanjang jalan Margonda Raya Depok.

"My God....unbelievable......is this Indonesia? Tiap 10 meter kok ada tenda makanan. No wonder you cannot loose weight.....it is so easy for you to get food here......food....food....food everywhere..."

Emangnya Londo yang harus semuanya serba tertata, semua harus jadi anggota KvK (Kadinnya Belanda) bahkan untuk sektor informal di pasar, semua harus serba higienis, semua harus bayar pajak, buka warung harus ada ijin, buka warung harus punya diploma atau sertifikat tertentu, semua harus mengikuti peraturan, kalau nggak ngikutin peraturan kena denda.

Aku bilang sama Leo, kalau Indonesia harus ngikuti carané Londo, banyak orang akan kelaparan. Peraturan kok kaku banget, nggak fleksibel.

Yang bikin dia heran lagi adalah setiap kali ketemu teman, kerabat, sanak saudara pasti acaranya makan. Ketemu di Pasaraya makan, ketemu di rumah saudara disuguhi makan, ketemu di Sarinah makan lagi. Pokoknya makan, en makan, en makan nggak peduli lunch atau dinner. Sampai-sampai dia ngomong:

"Orang Indonesia kalau ketemu selalu acaranya makan-makan ya....."

"Lha kalau enggak, terus ngapain coba?....." Iya to?

Catatan: gambar yang aku pasang adalah gambaran sektor informal makanan yang aku ambil ketika kami ke Bandung.

 

Saturday, 26 January 2008

Gimana kalau Londo ngimpor jengkol? Ruwet kali yé....

Dalam bahasa Inggris dikenal artikel "the". Dalam bahasa Belanda dikenal "de" dan "het. Yang menjengkelkan buat orang asing yang mempelajari bahasa Belanda adalah nggak ada aturan yang jelas kapan pake "de" dan kapan pake "het".

Setiap kali nanya orang Belanda (dari yang namanya guru bahasa Belanda sampai dengan dengan sopir bus), mereka nggak tahu mengapa satu benda atau kata dikasih "de" dan kata atau benda lain dikasih "het".

Pemakaian "de" dan "het" nggak tergantung gede atau kecilnya sebuah benda. Misalnya:

de deur (pintu), het raam (jendela), het huis (rumah).

Nggak peduli apakah countable atau uncountable:

het ziekenhuis (rumah sakit), de lucht (udara), het water (air)

Satu-satunya saran mereka dalam belajar bahasa Belanda adalah disuruh menghafalkan. Lha kan puyeng, padahal di dunia ini kan banyak banget benda dan kata.

Komentarku pada Leo adalah:  

"Lha kalian ini kok nggak punya rumus baku gitu sih. Kan susah jadinya buat orang asing kayak aku........"

"Karena aku belajar bahasa Belanda dari kecil, maka nggak terlalu masalah. Jadi nggak  perlu mikir dulu apakah sebuah kata pake de atau pake het....."

"Lha kalau ada kata atau benda baru terus gimana? Misalnya komputer pake de atau het atau internet pake de atau het"

"Kalau komputer pake de, jadi 'de computer'. Tapi jangan tanya aku, mengapa pake 'de', bukan 'het'. Kalau internet pake 'het', jadi 'het internet'. Ini karena kata 'internet' kan asalnya dari kata 'net, dan kata 'net' sendiri pake 'het', jadi internet menjadi 'het internet'. Tapi jangan tanya mengapa, net pake 'het' bukan pake 'de'...."

Lha kan ini sama aja dia ngomong, emang dari sononya gitu, jangan nanya gue kenapa gitu.

Leo terus menambahkan:

"Kalau ada kata-kata baru, maka ada komisi bahasa gabungan antara Belanda dan Belgia yang akan memutuskan apakah kata atau benda baru tersebut dikasih artikel de atau het"

Weleh...weleh...lha kok ruwet gitu ya. Pikiran jahilku terus keluar. Selama di Belanda  aku kan belum pernah lihat jengkol (eh...djengkol karena 'j' dalam bahasa Belanda ditulis 'dj'). Lha kalau Londo ngimport djengkol terus apa ya komisi gabungan Belanda Belgia tersebut harus mengadakan rapat puenting untuk memutuskan apakah djengkol sebaiknya pake 'de' atau pake 'het'.

Yang namanya eksport import kan urusannya panjang, ada fakturnya, ada urusan pajak, ada distribusi dll. Kalau nggak ada keputusan djengkol pake 'de' atau 'het' terus kan nanti repot kalau seandainya pihak belastingsdienst (tax office) harus tanya importir apakah 'de djengkol' atau 'het djengkol' yang diimport bulan kemarin sudah bayar pajak belum. Iya kan? he...he...he...

Tapi Belanda ternyata sudah ngimport pete. Aku lihat di wikipedia di sini, mereka menterjemahkan pete menjadi peteh atau petehboon (boon = bean) dan kalau jamak menjadi petehbonen (bonen = beans). Karena boon menggunakan artikel "de" maka petehboon menggunakan 'de' juga sehingga menjadi 'de petehboon' atau 'de petehbonen'.

Jadi kira-kira djengkol kemungkinan besar akan dikasih artikel 'de' menjadi 'de djengkol'. Bener nggak? Atau siapa deh yang kebetulan sudah mengimpor djengkol ke Belanda kasih tahu aku, djengkol itu pake 'de' atau pake 'het'. he....he....he....

Catatan: gambar jengkol diambil dari wikipedia di sini.

 

 

Gimana kalau Londo ngimpor jengkol? Ruwet kali yé....

Dalam bahasa Inggris dikenal artikel "the". Dalam bahasa Belanda dikenal "de" dan "het. Yang menjengkelkan buat orang asing yang mempelajari bahasa Belanda adalah nggak ada aturan yang jelas kapan pake "de" dan kapan pake "het".

Setiap kali nanya orang Belanda (dari yang namanya guru bahasa Belanda sampai dengan dengan sopir bus), mereka nggak tahu mengapa satu benda atau kata dikasih "de" dan kata atau benda lain dikasih "het".

Pemakaian "de" dan "het" nggak tergantung gede atau kecilnya sebuah benda. Misalnya:

de deur (pintu), het raam (jendela), het huis (rumah).

Nggak peduli apakah countable atau uncountable:

het ziekenhuis (rumah sakit), de lucht (udara), het water (air)

Satu-satunya saran mereka dalam belajar bahasa Belanda adalah disuruh menghafalkan. Lha kan puyeng, padahal di dunia ini kan banyak banget benda dan kata.

Komentarku pada Leo adalah:  

"Lha kalian ini kok nggak punya rumus baku gitu sih. Kan susah jadinya buat orang asing kayak aku........"

"Karena aku belajar bahasa Belanda dari kecil, maka nggak terlalu masalah. Jadi nggak  perlu mikir dulu apakah sebuah kata pake de atau pake het....."

"Lha kalau ada kata atau benda baru terus gimana? Misalnya komputer pake de atau het atau internet pake de atau het"

"Kalau komputer pake de, jadi 'de computer'. Tapi jangan tanya aku, mengapa pake 'de', bukan 'het'. Kalau internet pake 'het', jadi 'het internet'. Ini karena kata 'internet' kan asalnya dari kata 'net, dan kata 'net' sendiri pake 'het', jadi internet menjadi 'het internet'. Tapi jangan tanya mengapa, net pake 'het' bukan pake 'de'...."

Lha kan ini sama aja dia ngomong, emang dari sononya gitu, jangan nanya gue kenapa gitu.

Leo terus menambahkan:

"Kalau ada kata-kata baru, maka ada komisi bahasa gabungan antara Belanda dan Belgia yang akan memutuskan apakah kata atau benda baru tersebut dikasih artikel de atau het"

Weleh...weleh...lha kok ruwet gitu ya. Pikiran jahilku terus keluar. Selama di Belanda  aku kan belum pernah lihat jengkol (eh...djengkol karena 'j' dalam bahasa Belanda ditulis 'dj'). Lha kalau Londo ngimport djengkol terus apa ya komisi gabungan Belanda Belgia tersebut harus mengadakan rapat puenting untuk memutuskan apakah djengkol sebaiknya pake 'de' atau pake 'het'.

Yang namanya eksport import kan urusannya panjang, ada fakturnya, ada urusan pajak, ada distribusi dll. Kalau nggak ada keputusan djengkol pake 'de' atau 'het' terus kan nanti repot kalau seandainya pihak belastingsdienst (tax office) harus tanya importir apakah 'de djengkol' atau 'het djengkol' yang diimport bulan kemarin sudah bayar pajak belum. Iya kan? he...he...he...

Tapi Belanda ternyata sudah ngimport pete. Aku lihat di wikipedia di sini, mereka menterjemahkan pete menjadi peteh atau petehboon (boon = bean) dan kalau jamak menjadi petehbonen (bonen = beans). Karena boon menggunakan artikel "de" maka petehboon menggunakan 'de' juga sehingga menjadi 'de petehboon' atau 'de petehbonen'.

Jadi kira-kira djengkol kemungkinan besar akan dikasih artikel 'de' menjadi 'de djengkol'. Bener nggak? Atau siapa deh yang kebetulan sudah mengimpor djengkol ke Belanda kasih tahu aku, djengkol itu pake 'de' atau pake 'het'. he....he....he....

Catatan: gambar jengkol diambil dari wikipedia di sini.

 

 

Thursday, 24 January 2008

Londo nyonto kita atau kita nyonto Londo?

Suatu hari aku ngomong sama Leo:

"My body is not delicious......"

"Excuse me............?"

"My body is not yummy....."

"Not yummy? What do you mean? Too salty, or too sweet, or too sour, or to bitter?"

"O, sorry, you are not Indonesian. Jadi nggak ngerti joke kami...."

Terus aku terangin, di Indonesia orang kadang bikin joke yang membuat sebuah bahasa jadi salah kaprah. Misalnya menterjemahkan "badanku tidak enak" menjadi "my body is not yummy" instead of "I am not feeling good"

Tapi Leo bilang, dalam bahasa Belanda juga sama kok terjemahannya seperti dalam bahasa Indonesia. Jadi kalau dalam bahasa Indonesia kita ngomong:

"Saya (merasa) tidak enak badan"

Dalam bahasa Belanda, mereka mengatakan:

"Ik voel me niet lekker"

yang kalau diterjemahkan satu-per satu dalam bahasa Inggris menjadi

"I feel myself not "yummy"

atau

"Ik ben niet lekker" (I am not "yummy").

Jadi ternyata, kata "lekker" tidak saja ditujukan untuk makanan, tetapi juga untuk sakit (atau lebih tepatnya kesehatan kali ya). Jadi sama to kayak kita? Terus Londo nyonto kita, atau kita nyonto Londo? Atau kebetulan saja kita punya rasa bahasa yang sama.

Tambahan: kalau terjemahan dalam bahasa Jawa: "awakku ora enak". Iyo to?   

 

What is masuk angin?

Bagi yang pinter coro Enggres, tolong dunk diterjemahin apa "masuk angin" dalam bahasa Inggris. Menurutku having cold ataupun flu bukan terjemahan dari terkena masuk angin.

Ketika awal kami menikah dulu, aku bilang sama Leo supaya dia pake kaos kaki, nanti masuk angin. Eh...dia malah balik nanya:

"What is masuk angin?"

Waduh...apa ya masuk angin coro Enggresnya. Akhirnya aku terangin gejalanya.

"It usually starts with 'nggregesi'....then you feel....." (belum sampai habis ngomong, dia nanya lagi)

"So...what is nggregesi???????....."

Aduh...susah lagi. Harus diterangin lagi kalau nggregesi itu rasa tubuh nggak enak, panas dingin gitu lho. Terus terang aku sekarang ragu, apakah nggregesi adalah gejala masuk angin atau gejalan flu.

Aku berusaha menjelaskan se-detil mungkin what masuk angin is. Dari mulai kaki dingin, sering juga disertai diare, punggung kadang terasa dingin, perut kembung (ini harus diperagakan walaupun dia tetep aja nggak mudeng apa itu kembung) dll. Pokoknya masuk angin itu ya angin yang masuk di dalam tubuh, mungkin melalui pori-pori.

Aku bilang, kata budheku, kalau nggak sarapan bisa kena masuk angin. Makin bingung dia, lha wong selama 30 tahun terakhir dia tidak pernah sarapan dan merasa baik-baik saja, kok tiba-tiba ada teori yang mengatakan ada hubungan antara sarapan dan masuk angin.

"European doesn't recognize masuk angin. Is this a Javanese desease?"

Lha yo nggak tahu apakah penyakit ini monopoli orang Indonesia ataukah orang Asia pada umumnya. Yang jelas, salah satu obatnya kerokan, minum tolak angin dsb. Kerokan pun kan katanya berasal dari China.

Karena dia nggak pernah masuk angin, dia nggak bisa membayangkan sama sekali penyakit ini. Suatu kali kami mudik. Dia kena diare yang cukup parah. Tiap malam dia harus ke wc setiap lima menit. Aku bingung mau diobati apa karena dia diajak ke dokter nggak mau. Norit dan teh pahit sudah nggak mempan. Aku takut ngasih obat yang diminum. Setiap kali ketemu teman dan saudara dan tanya kabar kami, aku harus menerangkan kondisi Leo. Komentar mereka selalu:

"O.....masuk angin......"

Aku kasih tahu Leo: 

"Everybody says that you get masuk angin...."

"I don't care about the name but it feels terrible....." dengan wajah capek dan badan lemas karena tidak bisa istirahat tiap malam.

Leo sangat percaya kalau apa yang dideritanya itu adalah disebabkan karena bakteria. Dia bilang bakteria Eropa berbeda dengan bakteri Indonesia, maka dia bisa kena diare.

Karena saking bingungnya (wong diobati daun jambu ya nggak mampet tuh), aku kasih entrostop. Eh...lha kok mampet. Ternyata perutnya perut kampung, cukup diobati dengan obat warung. he...he...he...

Mudik berikutnya dia kena diare lagi. Yang bikin aku puyeng adalah entrostop sudah nggak mempan lagi. Jadi selama kami di Indonesia selama 3 minggu, dia terus-terusan kena diare kalau malem hari (herannya cuma kambuh waktu malem hari dan tiap 3 sd 5 menit dia harus ke wc). Setelah makin parah, dia cuma mau makan biscuit, pisang dan makanan bule (pizza, french fries dan sejenisnya yang nggak spicy).

Karena belum sembuh juga ketika kami meninggalkan Indonesia, penyakit ini dibawa ke Belanda. Dia harus ke lab beberapa kali, dikasih anti biotik yang dosis rendah nggak mempan, akhirnya dokter kasih dosis yang lebih tinggi. Setelah 3 bulan menjalani pemeriksaan dan trial and error anti biotik, baru deh kemudian dia sembuh. 

Aku sudah khawatir saja, dia nggak mau diajak ke Indonesia lagi. Tapi katanya sih dia masih pengin ke Indonesia tahun ini. Jadi belum kapok menginjakkan kaki di Indonesia. 

Sekarang setiap kali dia merasa aneh dengan tubuhnya, dia langsung minta aku mengetuk-ngetuk perutnya.

"Is this kembung? It sounds like: pung...pung...pung, toch? Do you think I get masuk angin?"

PS. Gambar Tolak angin, obat masuk angin diambil dari sini. Ini jamu yang dicoba oleh Leo, tapi nggak mempan. Mungkin terlalu sophisticated?

 

 

 

   

Wednesday, 23 January 2008

Mengapa lapis legit disebut spekkoek?

Atau malah kebalikan ya? he...he...he...tapi kata Leo, spekkoek berasal dari kata "spek" dan "koek". Huruf "e" dalam kata "spek" dibaca seperti huruf "e" dalam kata "ember", bukan huruf "e" dalam kata "Medan". Sedangkan koek dibaca "kuk". Jadi sekarang tahu kan bagaimana mengucapkan kata "spekkoek"? Dan jangan lupa pula kalau kata "spekkoek" mengandungi 2 huruf "k" yaitu dari kata "spek" dan kata "koek". Jadi yang betul penulisannya adalah spekkoek bukan spekoek.

Spek sendiri artinya bacon. Kalau dari wikipedia di sini, disebutkan kalau spek artinya daging babi yang banyak mengandung lemak, biasanya bagian perut dan punggung. Tapi spekkoek memang tidak mengandung pork. Tapi kemudian mengapa disebut spekkoek? Ini karena kemasan spek biasanya disusun berlapis-lapis. Misalnya seperti pada gambar di bawah ini:

Ini adalah spek yang kebetulan sudah di-marinate

  

 

 

 

 

 

 

 

atau seperti ini:

 

 

 

 

 

 

 

Koek artinya adalah cake. Karena lapis legit penampakannya juga berlapis-lapis (kalau nggak berlapis-lapis kan nggak bakalan disebut lapis legit yak?), maka dalam bahasa Belanda, lapis legit disebut spekkoek. Jadi sekarang tahu kan kenapa lapis legit disebut spekkoek? Atau malah spekkoek disebut lapis legit?

Catatan: gambar aku ambil dari supermarket Albert Heijn. Cuma ngambil gambar doang, karena kami nggak makan pork, maka nggak beli. Ini ngambilnya juga pake HP dan nyolong-nyolong, takut ketangkep. he...he...he....

 

Mengapa lapis legit disebut spekkoek?

Atau malah kebalikan ya? he...he...he...tapi kata Leo, spekkoek berasal dari kata "spek" dan "koek". Huruf "e" dalam kata "spek" dibaca seperti huruf "e" dalam kata "ember", bukan huruf "e" dalam kata "Medan". Sedangkan koek dibaca "kuk". Jadi sekarang tahu kan bagaimana mengucapkan kata "spekkoek"? Dan jangan lupa pula kalau kata "spekkoek" mengandungi 2 huruf "k" yaitu dari kata "spek" dan kata "koek". Jadi yang betul penulisannya adalah spekkoek bukan spekoek.

Spek sendiri artinya bacon. Kalau dari wikipedia di sini, disebutkan kalau spek artinya daging babi yang banyak mengandung lemak, biasanya bagian perut dan punggung. Tapi spekkoek memang tidak mengandung pork. Tapi kemudian mengapa disebut spekkoek? Ini karena kemasan spek biasanya disusun berlapis-lapis. Misalnya seperti pada gambar di bawah ini:

Ini adalah spek yang kebetulan sudah di-marinate

  

 

 

 

 

 

 

 

atau seperti ini:

 

 

 

 

 

 

 

Koek artinya adalah cake. Karena lapis legit penampakannya juga berlapis-lapis (kalau nggak berlapis-lapis kan nggak bakalan disebut lapis legit yak?), maka dalam bahasa Belanda, lapis legit disebut spekkoek. Jadi sekarang tahu kan kenapa lapis legit disebut spekkoek? Atau malah spekkoek disebut lapis legit?

Catatan: gambar aku ambil dari supermarket Albert Heijn. Cuma ngambil gambar doang, karena kami nggak makan pork, maka nggak beli. Ini ngambilnya juga pake HP dan nyolong-nyolong, takut ketangkep. he...he...he....